
"Kamu kenapa?" tanya Sean, dia bahkan langsung mengangkat dagu Sherina agar wanita itu menunjukkan wajah yang sedang disembunyikannya.
Mereka memang duduk saling berdampingan, beberapa saat lalu ruang makan ini penuh dengan suara riang Sherina, namun dalam sekejap saja suara wanita itu menghilang dan diganti senyap, Karena itulah Sean langsung menoleh ke arah Sherina, dan melihat wanita itu menunduk seolah menyembunyikan wajah.
Dan Ariana tak bisa mengelak sentuhan Sean tersebut, akhirnya dia hanya bisa menggelengkan kepala dengan kedua mata yang sudah nampak berkaca-kaca.
Sungguh, Gadis itu tengah susah payah untuk meredam rasa sesak yang bersarang di dalam dadanya. Sesak yang sampai membuat tenggorokannya terasa tercekat.
Sup iga ini sangat enak, namun mengalirkan sebuah rasa yang tak bisa dia gambarkan dengan kata-kata. Seperti masakan yang sudah sangat lama ini dia nikmati, dan sekarang Ariana mampu merasakannya.
Dia bahagia sekali, sangat bahagia sampai rasanya ingin menangis.
"Hei, kamu kenapa?" tanya Sean lagi, dia tahu bahwa Sherina ingin menangis. Meski kepalanya menggeleng tanda tidak ada apa-apa, tapi sorot mata itu benar-benar menunjukkan bahwa sang calon istri seperti memendam sesuatu.
Pasti ada hal yang membuat Sherina sampai bersedih seperti itu.
"Apa supnya tidak enak? terlalu asin bagimu?" tanya Sean, dia bahkan menyentuh punggung Sherina dan dielus perlahan, ingin sang gadis tenang.
Lagi-lagi Ariana langsung menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, tapi sekarang dia juga buru-buru untuk menjawab ...
"Tidak Kak, Sup ini sangat enak, enak sekaliii," jawab Ariana.
"Lalu kenapa kamu ingin menangis?"
"Tidak, aku hanya ... hanya, tiba-tiba ingat mama," balas Ariana akhirnya, air mata ini sudah tidak bisa dia tahan, semakin menggenang dan akhirnya tumpah.
Dan satu-satunya yang bisa Ariana gunakan sebagai alasan adalah mama, dia dan Sherina yang sama-sama tidak memiliki ibu lagi.
Tanpa banyak kata lagi, Sean langsung menarik Sherina untuk di bawanya masuk ke dalam pelukan. Dia peluk erat, sampai tidak ada lagi cara yang tercipta di antara mereka berdua.
Untuk pertama kalinya, akhirnya Ariana pun membalas pelukan itu, dia peluk erat seperti sedang memeluk kakaknya sendiri.
Dia puaskan semua tangisnya di pelukan seseorang yang bisa memberikan pelukan hangat. Selama ini mana bisa Ariana menangis selepas ini, apapun kesedihan yang dia rasakan selalu dipendam sendirian.
Tapi malam ini tidak lagi, dia tumpahkan semua di hadapan kak Sean.
Sampai entah berapa lama waktu yang dia ambil untuk menangis, hingga akhirnya tangis itu reda dengan sendirinya.
Sean juga terus memeluk erat, tidak ingin melepaskan sebelum Sherina sendiri yang melepaskan pelukan itu.
Dan saat Ariana melepaskannya, kedua mata gadis itu sudah nampak sedikit bengkak. Sup di atas meja juga sudah berangsur dingin.
"Sudah ya, sekarang kita makan dulu, sebelum sup itu benar-benar dingin," ucap Sean, dia juga bantu untuk mengeringkan air mata sang calon istri menggunakan tangannya.
Ariana mengangguk patuh.
Dia tidak bisa bicara, suara sudah habis gara-gara menangis.
Akhirnya malam itu mereka menikmati sup iga tersebut, satu suap dua suap sampai akhirnya habis cukup banyak.
Hanya bersisa sedikit untuk disimpan lagi.
"Ini untukku ya? kak Sean jangan minta lagi," ucap Ariana posesif.
"Iya iya," balas pria itu seraya mengusap puncak kepala Sherina denga penuh kasih sayang.