My Alter Ego Girl

My Alter Ego Girl
Keputusan Mark



-Sebulan Kemudian-


Akhirnya libur panjang Riana berakhir, sekarang Riana akhirnya naik kelas, ke kelas 2 SD, gadis kecil itu begitu semangat untuk berangkat sekolah, sebab ia akan memiliki kelas baru walaupun siswa-siswi di kelasnya masih sama seperti dulu.


Melihat abangnya sudah menunggu di depan rumah kakeknya, Riana dengan semangat pamit pada kakeknya.


"Riana pamit dulu ya kek, bang Mark sudah datang."


"Iya hati-hati, ya."


"Siap kek."


Melihat Riana pergi dengan riang, Ridam merasakan perasaan nyeri di ulu hatinya, Bu Tejo yang melihat itu segera memberikan majikannya obat.


"Tuan, sebaiknya Tuan istirahat, udara dingin membuat Tuan kambuh lagi." dengan ekspresi khawatir, Bu Tejo mengingatkan, lagipula menangani penyakit tuannya adalah hal terpenting sekarang.


Melihat hal itu, Ridam merasa getir, ia sepertinya tidak akan bisa menjaga cucunya lebih lama, sebab penyakitnya semakin kesini semakin menyerang.


"Baiklah, Tejo segera antar aku ke kamar."


"Baik Tuan."


Dengan wajah pucat, langkah pelan, badan yang tidak bisa tegak lagi, Ridam mengembuskan napasnya dengan pelan, ia merasakan kematiannya tidak akan lama lagi, saat itu belum tiba Ridam akan melakukan sesuatu untuk membimbing Riana menjadi lebih bisa mengendalikan kemampuannya, ia harus melakukan itu!


Kembali kearah Riana yang bahagia sedang naik motor dengan abangnya, padahal jika berjalan kaki itu tidak membutuhkan waktu lama tapi abangnya selalu kekeh mengantarnya seperti biasa, membuat Riana semakin bahagia.


"Riana kelihatan bahagia banget, dapat kelas baru atau karena kangen sama abang? kita udah lama gak ketemu selama seminggu loh."


Mark sangat sibuk akhir-akhir, jadi dia menghabiskan seminggu untuk menahan rindunya pada gadis kecilnya itu, matanya menggelap mengingat sesuatu, pada saat hari itu tiba, ntah apa reaksi gadis kecilnya.


Mendengar pertanyaan itu, Riana bingung sejenak, ia terdiam sampai tiba di sekolah, ia tidak menyadarinya.


"Ekhem, masih aja melamun udah sampai nih."


"Eh, udah sampai? kok Riana gak merasa ya."


"Yee, kamu itu melamunin apa?"


Setelah Riana turun dari motornya, Riana mendongak melihat abangnya tapi tidak butuh lama itu membuatnya merasa sakit di bagian tengkuk lehernya, abangnya terlalu tinggi!


"Issh, abang sini jongkok, leher Riana sakit nih."


"Emangnya kamu mau ngomongin apa sama abang hm?"


"Itu-itu, ekhem, Riana senang dapat kelas baru tapi Riana lebih senang ketemu abang lagi." setelah mengatakan itu, Riana mencium pipi abangnya, dan berlalu pergi dengan cepat.


Meninggalkan Mark yang terdiam sejenak, ia lalu mengelus pipinya, ia tersenyum sesaat, setelah itu ia menatap punggung Riana yang semakin menjauh.


Pada hari itu tiba, gadis kecilnya akan berlari sendiri seperti ini, dan melawan kejamnya dunia pada dirinya secara sendirian.


Mark kembali mengingat dimana keluarganya itu membebankan semua tanggung jawab kepada dirinya, yang notabenenya baru lulus sekolah, tapi Mark tidak mendapatkan nilai tinggi, itu hanya nilai sedikit diatas rata-rata pada umumnya.


-Flashback On-


Akhirnya Mark Alferd Sarendra dinyatakan lulus oleh sekolah menengahnya, atau biasa disebut SMA, ia lulus jurusan IPA, sebab laki-laki itu suka matematika.


Hanya nilai sedikit diatas rata-rata, tapi ia tidak peduli selagi ia bisa lulus tanpa ada masalah apapun, ia lebih lega.


Mark kembali ke rumahnya setelah bersenang-senang dengan para temannya, merayakan kelulusan mereka. akhirnya masa sma mereka berakhir dan akan terjun ke dunia kerja atau kuliah.


"Bagus, kamu kenapa pulangnya sangat malam? gak ingat orang tua khawatir?!" itu adalah suara yang Mark kira adalah pahlawan supernya, tapi ternyata suara itu juga yang menghancurkan pahlawan supernya.


Jonathan Nasution, seorang pria paruh baya berumur 42 tahun, usianya sudah tua tapi masih memiliki beberapa tenaga untuk bekerja.


Mark hanya tersenyum sinis, ia mencibir melihat ayahnya yang berpura-pura peduli kepada dirinya.


"Orang tua aja gak pernah peduli kapan, dimana, dan siapa yang disakiti ketika terjadi pertengkaran." Mark masih mengingat dimana gadis kecilnya disakiti oleh ayahnya, pergelangan tangan itu membiru akibat dari ayahnya.


Jonathan menatap nyalang kearah anak sulungnya, beraninya dia membantah ayahnya, semakin besar ternyata semakin berani kepada dirinya.


"Kalian tidak perlu bertengkar lagi, Mark dengarkan ibumu baik-baik." Ivanna segera menengahi pertengkaran keduanya, mereka sangat membuang-buang waktu berharganya!


"Ayahmu sudah dipecat dari pekerjaannya, sebab ia sudah tua, uang pensiunnya juga habis untuk membayar hutang, sekarang kami hanya bisa bergantung padamu Mark."


"Dan yang lebih menyakitkan lagi, uang itu tidak cukup untuk membayar hutang, tadi pagi rentenir sudah mulai menagih hutang, kami benar-benar tidak punya uang sekarang, Mark kami hanya bisa bergantung padamu."


Mendapatkan kabar yang tidak menggembirakan itu, Mark terdiam, ia padahal baru mendapatkan kebahagiaan karena sudah lulus, malam harinya ia mendapatkan kepahitan, ternyata benar ya, kebahagiaan dan kepahitan itu bisa saja datang bersamaan.


"Berapa sisa hutang kalian?" Mark berusaha menahan emosinya, dari yang dia analisis, kebutuhan mereka tidak terlalu banyak, hanya gaji dari uang ayahnya sudah cukup untuk membayar biaya kehidupan mereka sehari-hari, lalu kenapa mereka berhutang? buat apa uang itu?!


"Itu, 10 juta."


Bamm!


Suara meja dihancurkan oleh sebuah kepalan tangan sangat nyaring suaranya, Mark dengan emosi menatap kedua orangtuanya yang terdiam.


"Dulu uang itu bisa kita lunasi dengan mudah, tapi sekarang? apakah aku seorang anak yang baru lulus sekolah bisa mendapatkan uang sebanyak itu?!"


"Kau kan bisa meminta sahabatmu Jevano untuk melunasi, bukankah orangtuanya begitu kaya? bahkan mereka memiliki usaha di luar provinsi!"


"Iya benar Mark, dengarkan kata ayahmu."


Mendengar perkataan seperti itu dari ayah dan ibunya, Mark menatap mereka berdua tidak percaya, mereka yang merawat dan melahirkannya, ternyata punya pemikiran seperti ini? apakah ini benar-benar kedua orangtuanya? ini sifat asli mereka?


"Kalian bahkan menargetkan sahabatku? kalian begitu tidak tahu malu! ada apa dengan kalian?! kukira cuman pertengkaran biasa yang tidak akan merubah sifat orang, ternyata sifat kalian akan berubah! kalian dulu tidak seperti ini!"


Dulu orang tuanya tidak akan memiliki sifat seperti ini, dulu juga mereka merasakan kemiskinan, tapi setelah ayahnya Jonathan Nasution dapat diterima di sebuah perusahaan, kehidupan mereka berubah, tapi bahagia itu berubah sejak ibunya hamil anak keempat, itu adik bungsunya.


Sejak saat itu ia mengamati bahwa banyak yang berubah, dari kedua orangtuanya yang selalu bertengkar, menyakiti anaknya, bahkan mencampakkan sampai tidak memperdulikan, setelah itu ayahnya ia anggap pahlawan super, ternyata bukan pahlawan super sejati.


Mark menatap mereka berdua dengan kecewa, ia lalu meninggalkan kedua orangtuanya, ia tidak peduli dengan teriakan yang memanggil namanya.


-Flashback Off-


Mark melanjutkan motornya, ia telah lulus jadi tidak perlu pergi ke sekolah lagi, arah tujuannya adalah rumah Jevano.


"Yo bro, tumben lo pagi-pagi ke rumah gua, ada apa?"


Jevano yang mendapatkan kabar bahwa temannya Mark akan kesini, dengan kecepatan sepatu super, ia bersiap-siap dan menyiapkan makanan untuk menyambut Mark, mau bagaimanapun ia masih memiliki sopan santun untuk menyambut tamu walaupun temannya sendiri.


"Gua gak mau basa-basi lagi, gua setuju buat menerima bekerja di usaha keluarga lo."


"Serius? tapi itu di luar provinsi, lo yakin ninggalin Riana sama keluarga itu?"


"Gua yakin, tapi gua mau minta tolong sama lo pinjam uang 10 juta buat hutang keluarga gua, selama gua belum bisa melunasi hutangnya, lo boleh potong gaji gua berapapun, sampai hutang itu lunas."


Mark yakin bahwa ini sedikit lancang, tapi mau gimana lagi? ia tidak punya siapa-siapa untuk dimintai tolong, Keluarganya sudah tidak memiliki kerabat ataupun saudara.


Mendengar hal itu Jevano terkejut, ia lalu meraih bahu temannya dan menepuk-nepuk dengan pelan.


"Bro, gua akan selalu nolongin lo tanpa lo minta, lagipula itu duit cuman 10 juta pake tabungan gua juga bisa, gaji lo gak akan gua potong, yang gua harap suatu saat nanti lo bayar dengan kesuksesan lo."


Ini adalah teman masa kecilnya, bagaimana tega Jevano memiliki sikap tidak menolongnya? ia memahami sejak kecil, ia sangat mempercayai Mark, karena Jevano tahu selagi Mark ingin sukses ia bisa meraih hal itu cepat atau lambat, Mark adalah orang tipe pekerja keras.


"Makasih ya Jev, kalian bertiga Darka, Cakra, dan lo, selalu ada buat gua, Tuhan terlalu baik memberi kalian kepadaku."


"Jangan bikin gua nangis ya Mark, udah lo disini aja, Cakra dan Darka gua suruh kesini soalnya."


"Emangnya Cakra gak kerja?"


Memang diantara mereka berempat hanya Cakra yang bekerja, mereka bertiga masih sekolah di bangku yang sama dan sekolah yang sama, dan lulus bersama.


"Dia minta cuti, katanya hari ini spesial buat ngerayain hari kelulusan kita bertiga."


Mark mengangguk ringan, setelah itu terdengar suara motor, ia tahu Cakra dan Darka sudah datang.


Mereka berempat akhirnya merayakan kelulusan, Cakra yang paling tua disela-sela juga mulai menasehati sahabatnya, ntah mau yang bekerja ataupun kuliah, karena Cakra sudah merasakan kedua hal itu, jadi dia adalah paling berpengalaman disini.


Melihat ketiga sahabatnya bahagia, Mark berdoa dalam hatinya, semoga hubungan mereka bertiga bisa bertahan selama-lamanya.


...----------------...