
Bel pulang sekolah telah berlalu sejak lama tapi Lyandra jelas belum pulang, gadis itu walaupun tidak pernah mematuhi aturan, ia masih memiliki rasa tanggung jawab untuk mengerjakan tugas piketnya, beberapa teman sekelasnya hanya diam ketika Lyandra ikut piket.
Selesai mengerjakan tugasnya Lyandra mengambil jalan jauh untuk sampai di gerbang, jalan itu bisa melewati kelas-kelas 8 dan sebagian kelas 7, mungkin karena gabut atau ingin menikmati sensasi suasana sepi gadis itu berjalan pelan.
Tapi saat menuruni tangga Lyandra berpapasan dengan Galang, mereka saling berpandangan beberapa menit lalu saling mengabaikan satu sama lain, dan meneruskan perjalanan yang tertunda.
Sudah jelas diantara mereka sudah tidak ada rasa lagi, bahkan meliriknya ke belakang untuk melihatnya lagi pun tidak, hati Lyandra dapat merasakan perasaan Riana yang sedih tapi keputusan Lyandra untuk tidak mendekati Galang lagi sudah bulat, ia tidak mau Riana terluka karena hal sepele seperti itu, lagipula ada banyak pria di dunia ini.
Samar-samar Lyandra melihat seseorang yang dikenalnya dari gerbang, ia melambaikan tangan kepadanya dan berjalan mendekati dirinya, itu Indira Arizka Faida.
"Gua udah lama nunggu lo disini, gua kira lo udah pulang dengan lewat gerbang belakang." Ucap Indri dengan nafas terengah-engah karena habis berlari mendekati Lyandra.
"Ngapain lo disini?" Jelas Lyandra tidak menginginkan Indri ada disini, itu terlihat di mata dinginnya.
"Gua mau ngikutin lo, dan gua menagih jawaban lo, mau gak jadi teman gua?" Pernyataan Indri membuat Lyandra bingung.
Pasalnya Lyandra tidak mengenal Indri tapi kenapa ia sangat bersikeras berteman dengannya? Walaupun ia sudah tau alasannya, tapi itu tidak terdengar menyakinkan.
"Gua benar-benar ragu sama lo, tapi gua mau berteman sama lo, asal! Lo jangan ganggu waktu gua." Peringatan Lyandra tidak membuat Indri takut, tapi gadis itu hanya mengiyakan saja lagipula berteman dengan Lyandra adalah tujuannya.
Setelah itu mereka berdua pergi dari tempat itu, sepertinya perkataan Indri mengikuti Lyandra itu benar, terlihat dari kaca spion ia selalu mengikuti Lyandra pergi, tapi Lyandra tidak peduli ia tadi mendapatkan pesan untuk menjenguk Damara.
Sesampainya di tempat Damar tinggal, Lyandra melihat rumah Damar yang terlihat sederhana sepertinya ini rumah sewaan, melihat tulisan disewa masih dipajang.
"Ini rumah lo Lya?" Tanya Indri yang mendekati Lyandra masih berdiri diam.
"Bukan, ini rumah teman gua." Jawab Lyandra singkat.
"Teman lo? Hmm, kayak apa yah teman lo? Pasti menarik kan?"
Lyandra menatap Indri yang terlihat antusias tapi ia tidak repot-repot menjawab, tidak lama kemudian pintu itu terbuka menampilkan sosok Damara yang terlihat seperti baru bangun tidur, ia meregangkan tubuhnya sebentar dan menyadari Lyandra sudah datang dengan seseorang.
"Lo akhirnya datang, masuk gih gua kebetulan gada makanan, jadi lo harus masakin gua." Ucap Damara membuat Lyandra melotot.
Dia baru saja mau duduk di ruang tamu yang sempit ini, tapi dia sudah diperintah untuk membuat makanan? Damara sepertinya masih dendam kepadanya, sedangkan Indri hanya menahan tawa melihat interaksi keduanya.
"Damara, gua baru mau duduk loh ini, udah dikasih perintah aja!" Kata Lyandra penuh kesal, membuat Damara tertawa ringan melihat tingkah Lyandra yang lucu menurutnya.
"Lagian gua laper! Gua juga gak bisa masak, lo sebagai perempuan seharusnya bisa."
Mendengar hal itu Lyandra menggelengkan kepalanya, gadis itu adalah salah satu perempuan yang tidak bisa memasak, bahkan jika ia dipaksa untuk memasak makanannya akan tidak enak.
"Gua gak bisa masak, jadi lo seharusnya pesan makanan aja, sekarang kan udah modern jadinya pake take away aja." Saran Lyandra dengan berusaha sehalus mungkin, gadis itu juga mencoba untuk menahan tangannya untuk tidak memukuli Damara.
"Gak bisa, makanan buatan rumah lebih enak daripada dari luar."
Melihat keduanya akan bertarung Indri segera menengahi keduanya, sepertinya keahlian dia disini sangat dibutuhkan sekarang, yah dia bisa memasak.
"Tenang-tenang, lebih baik gua aja yang masak, gua bisa masak kok."
"Lo bisa masak? Masa sih, setelah diamati seharusnya lo Indira Arizka Faida itu kan?"
Walaupun Damara bergabung ke gangster terkadang laki-laki itu mengawasi dunia geng motor juga, itu karena dia sangat menyukai perihal balapan, jadi dia akan meminta asisten pribadinya untuk mengawasi informasi terbaru dari dunia geng motor ini.
"Sepertinya gua sangat terkenal, iya gua Indira Arizka Faida panggil aja Indri."
Tidak lama kemudian mereka saling berkenalan satu sama lain, hingga melupakan sosok Lyandra yang menyelinap pergi dari tempat itu, gadis itu menuju ke ruang kamar dan tidur dengan lelah disana.
"Keren lo bisa masak, gak kayak si Lyandra bocah gak bisa masak, bisanya cuman cari masalah aja."
Perkataan Damara membuat Indri tertawa sedikit, itu memang benar dari hasil analisa Lyandra memang hanya bisa mencari masalah saja.
"Eh dimana Lyandra?" Melihat tempat yang di duduki Lyandra kosong, mereka lalu tersadar bahwa gadis itu pergi tanpa memberitahu.
"Lo masak aja Indri, biar gua cari tau dimana Lyandra, melihat motornya masih disini seharusnya dia berada di rumah ini."
Indri mengangguk mengerti ia lalu berjalan kearah dapur yang sudah ditunjukkan tempatnya oleh Damara, sedangkan laki-laki itu dengan sibuk mencari Lyandra di rumah sewaannya.
Damara mengecek ke kamar mandi, belakang rumah, balkon, dan kamarnya sendiri tapi masih tidak ada, Damara tersadar bahwa ada satu ruang kamar untuk kamar tamu yang belum ia periksa.
"Tok... Tok... Tok..." Sembari mengetuk pintu Damara berusaha membuka pintu kamar, tapi ternyata itu terkunci.
"Lyandra, lo di dalam kan?"
Suara keras Damara membuat gadis itu terganggu dari tidurnya, ia lalu menjawab dengan suara malas dan serak.
"Iya gua mau tidur, capek banget kalau udah selesai masak bangunin gua."
"Okeh!"
Lyandra kembali tidur lagi, Damara menghela nafas lega ketika Lyandra masih di rumahnya, laki-laki itu lalu pergi ke dapur berniat untuk membantu Indri memasak.
"Ngapain lo disini? Udah sana pergi aja."
Bukannya pergi tapi Damara malah tetap berdiri diam di tempat, membuat Indri tertawa kecil melihatnya.
"Yaudah kalau lo bersikeras, sini bantuin gua motongin bawang merah ini."
"Bawang merah? Okeh!"
Damara terlihat begitu semangat membuat Indri menggelengkan kepalanya tanpa daya, gadis itu lalu melanjutkan memasaknya.
Berbagai percakapan pun tidak bisa dihindarkan, tidak lama kemudian mereka menjadi akrab hanya dalam beberapa jam.
Bahkan Lyandra merasa aneh kepada keduanya, kenapa begitu akrab? Padahal tadi terlihat seperti orang asing, tidak mau mengambil pusing Lyandra fokus ke makanannya, tidak peduli dengan kedua orang di depannya lagi.
...----------------...