
-Dua Minggu Kemudian -
Hari semakin berlalu dengan cepat seakan mengingatkan bahwa waktu tidak bisa berhenti di satu tempat, kejadian itu juga telah berlalu selama dua minggu kemudian.
Riana mengangkat kepalanya, melihat sebuah pagar bambu yang terpasang sekitar rumah, bagian depan rumah itu terpasang keramik warna hijau dengan lantai berwarna merah.
Sepi, itu adalah satu kata penggambaran di rumah itu, tidak terdengar suara-suara orang, ataupun melihat orang yang berlalu lalang, itu tidak ada.
"Riana, akhirnya kamu ke rumah kakek." Kata sambutan itu, Riana merindukannya dengan perasaan yang tidak terbendung, Riana memeluk laki-laki yang sudah berumur lebih dari seabad itu.
Walaupun langkahnya sudah tampak pelan, dengan badan yang sudah tiba bisa tegak lagi, tapi semangat hidupnya sangat tinggi membuat ia menjadi panjang umur.
Charles Ridam Anggara, biasa dipanggil Ridam, berumur 104 tahun, semangat hidupnya juga sangat tinggi.
Riana merindukan pelukan hangat ini, selain abangnya, ada juga seorang yang sangat menyayanginya, itu kakeknya.
Karena sudah melakukan penilaian akhir semester, Riana mendapatkan libur selama sebulan, tapi sebenarnya Riana disuruh pindah rumah oleh abangnya untuk tinggal di rumah kakek, sebab ia tidak mau lagi kejadian seperti itu terjadi.
Riana yang tahu abangnya khawatir hanya mengiyakan saja, lagipula kakek juga sendirian di rumah walaupun ada pengasuh tapi itu tidak termasuk, neneknya Riana sudah meninggal sejak Ivanna melahirkan Mark, disitulah neneknya meninggal.
"Kamu kesini cuman liburan, apa mau tinggal sama kakek?"
"Tinggal disini kek, kan lumayan tuh rumah kakek deket banget sama sekolahku, jadinya Riana gak selalu berangkat pagi."
Ridam hanya menggeleng kepalanya melihat tingkah laku cucu ke-tiga, ia mengelus kepala gadis kecil itu dan mulai menyuruhnya masuk ke dalam rumah.
Rumahnya terlihat rapi, bersih, tapi suasananya sangat suram, ini yang paling tidak disukai oleh Riana, di rumah kakek ada banyak mereka disini.
"Kakek, pasti punya kemampuan itu kan?" Riana dalam hati bertanya-tanya, kata ibunya kakeknya memiliki kemampuan seperti itu, tapi sudah lama hilang, Riana mengerjapkan matanya kenapa ia merasa kemampuan kakeknya tidak menghilang?
"Ada apa Ri?" Riana menggelengkan kepalanya, memberi isyarat bahwa ia tidak apa-apa.
"Dimana pengasuh kakek?"
"Ini kan masih pagi, jadi dia belum datang, nanti jam 9 dia baru datang, namanya Bu Tejo, dia juga sibuk ngurusin keluarganya."
Penjelasan kakeknya hanya di angguki oleh Riana dengan ringan, ia tidak masalah dengan jam pengasuh ini, selagi ia merawatnya dengan baik.
"Kakek, Riana ke kamar dulu ya, Riana lelah."
Melihat cucunya yang sudah kelelahan, Ridam mengangguk mengijinkan, walaupun perjalanan kesini tidak jauh, tapi bagi gadis kecil itu terlalu melelahkan.
Ridam memejamkan matanya, ia lalu membuka dan mulai melihat sekitar, menghela nafasnya karena terlalu banyak di rumah ini.
"Kalian bisa mengganggunya, tapi jangan sampai gangguan kalian membuat ia depresi, hanya gangguan ringan saja, bantu aku untuk melatih mentalnya."
Benar kata Riana kemampuan kakeknya tidak menghilang, ia hanya menyembunyikannya saja, ia tidak mau diketahui orang-orang bahwa ia memiliki kemampuan itu.
Ridam memiliki kemampuan untuk melihat kearah mereka, juga bisa melawan mereka jika ada yang menggangunya, tapi ia tidak bisa membaca pikiran seseorang. tapi Ridam tidak peduli, hanya kemampuan ini saja sudah membuat ia repot.
Sekarang kemampuan Ridam sudah diwarisi kepada Riana, walaupun tidak seekstrim dirinya Ridam malah merasa bersyukur, cucunya tidak bisa melihat mereka itu artinya dia aman.
Kenapa ia mengijinkan mereka mengganggunya? itu untuk membuat Riana terbiasa dengan kemampuan ini, walaupun Riana sudah terbiasa tapi energinya masih belum cukup untuk terlihat kuat, ketika mereka pergi ia langsung kehilangan tenaga membuat Ridam tidak puas dengan itu.
Kembali pada Riana yang tertidur di kasur dengan nyaman, kamar ini adalah kamar yang biasa Riana pake pada saat di rumah kakek.
Kamar itu terlihat bersih, rapi, dan nyaman, karena terlalu lelah perlahan-lahan Riana akhirnya tertidur tenang, melupakan dunia yang sangat kejam pada dirinya.
Tanpa diketahui Riana, ternyata waktu berjalan sangat cepat, padahal ia merasa hanya tertidur sebentar, tapi waktu sudah menunjukkan sore hari?
"Riana bangun, cepetan makan sore dulu, kamu dari tadi pagi tidur mulu." Ridam mengetuk pintu Riana dengan ringan, dan mulai bersuara keras, berhasil membangunkan gadis kecil itu.
"Ya kek, Riana cuci muka dulu."
"Kakek tunggu di meja makan ya?"
"Iyaaa"
Riana yang sudah mencuci wajahnya, kini sedang berkaca melihat dirinya yang terlihat lemas tapi juga bersemangat, ia merasa tidurnya sangat nyenyak.
Tapi sebelum beranjak dari cermin, Riana merasakan sebuah energi di belakangnya, energi itu merasa jahat tapi Riana tahu bahwa ia tidak menyakitinya. Riana yang lapar tidak peduli, walaupun hatinya terkejut tapi berangsur-angsur normal. ia sedikit lupa bahwa banyak mereka di rumah kakeknya!
Mencium aroma masakan yang wangi, dan terasa lezat, Riana mempercepat langkahnya, ternyata ada sayuran sop di campur dengan bakso, itu adalah favoritnya!
"Makan dulu neng." Riana mengangguk kepada Bu Tejo yang mengingatkan, kini ia tahu bagaimana perawakan bu Tejo.
"Nah, makan yuk, ini makanan kesukaan kamu kan? kakek masih ingat itu."
"Hehehe, iya kek, suka banget Riana kalau sayur sop dicampur ma bakso, beuh enak."
Melihat cucunya begitu bersemangat, Ridam mengelus ulu hatinya yang sakit tanpa diketahui oleh Riana, tapi mimik Bu Tejo terlihat khawatir melihat majikannya, Ridam yang mengetahui hanya memberi isyarat untuk pergi, Bu Tejo lalu mengangguk meninggalkan keluarga majikannya itu.
"Kakek cepat makan, nanti kakek malah sakit-sakitan lagi kalau gak makan."
"Iya kakek makan nih, oh ya gimana sekolahnya Riana? Riana punya teman? gimana belajarnya? susah apa gampang?"
Pertanyaan beruntun itu membuat otak Riana ngeblank seketika, membuat Ridam tertawa gemas melihat cucunya terdiam seketika.
"Ish kakek, kalau nanyain itu satu-satu, aku kan jadi bingung jawabnya yang mana."
"Hahaha, iya deh, yaudah sok atuh dijawab."
"Emm, Riana gak punya teman sih, beuh kalau soal belajar Riana juaranya walaupun juara 2, ya namanya juga tugas sekolah pasti ada yang gampang susah, tapi tenang Riana selalu bisa menyelesaikannya dengan cepat."
Percaya dirinya terlihat di matanya yang berbinar, ia sangat percaya kepada dirinya membuat Ridam mengangguk. setidaknya cucu ke-tiga ini memiliki sifat ini, itu lebih baik.
Suasana rumah kakek Ridam yang awalnya sepi, suram, kini terlihat sedikit berwarna karena kedatangan cucunya, apalagi Riana akan terlihat riang kepada orang terdekatnya, membuat Ridam semakin menyayangi cucunya itu, tentu saja itu cucu kesayangannya, selain Riana tidak ada yang terlihat di mata Ridam.
Kenapa? sebab Ridam sudah mengetahui masing-masing isi hati mereka ketika melihat wajahnya, termasuk Mark, tapi Ridam sedikit melonggar kepada Mark ini.
...----------------...