
"Lo orang sini kan? Seharusnya itu mudah nyari kos-kosan disini."
Lyandra mengangkat alisnya dengan cepat ia menggelengkan kepalanya, walaupun dia orang sini tapi Riana dan Lyandra tidak pernah berinteraksi dengan orang-orang kecuali orang itu kenal dengan keluarganya, apalagi mengetahui tempat seperti itu?
"Gua sama sekali gak tau apapun tentang tempat seperti itu, walaupun gua besar disini."
"Hah? Masa lo gak tau kos-kosan atau apapun gitu buat ditinggali?"
Mendengar itu Lyandra berdecak kesal melihatnya tidak percaya, ia menggelengkan kepalanya ringan sebagai jawabannya membuat laki-laki menatap Lyandra bingung.
"Lo ada orang gitu buat ditanyakan?"
"Hmm, ada tapi apa yakin lo nemuin mereka kek gitu? Mending lo ke klinik dekat desa ini."
Lukanya mengeluarkan darah membuat Lyandra merasa tidak yakin dengan orang di depan ini, apakah dia bertemu dengan orang tidak biasa lagi? Lukanya itu sangat parah, dan mengingat kelompok gangster sepertinya begitu.
"Kebetulan gua udah ngerasain sakit, ayo ke klinik."
"Aneh banget lo, biasanya orang-orang itu udah sakit dari pertama dapat luka, lah lo?"
Laki-laki itu tidak menjawab ia hanya melirik perempuan di sampingnya kesal, tapi Lyandra meneruskan ucapannya tidak mengindahkan tatapan itu, dia tidak takut.
"Apa jangan-jangan lo bukan orang biasa ya? Wah aneh beberapa orang hari ini, kemarin ada orang aneh yang terluka tergeletak di tengah jalan, tadi gua ketemu sama orang aneh, dan lo orang aneh lainnya."
Damara mengangkat alisnya ketika mengetahui ada orang terluka yang tergeletak di tengah jalan, ia lalu bertanya memotong cerita Lyandra.
"Siapa orang itu?"
"Hah? Lo pengen tau? Sayangnya itu rahasia."
"Lo mau mati dengan cara apa?"
Mendengar ancaman itu Lyandra ingin tertawa keras, menertawakan orang ini karena mengancam dirinya, tapi ia tetap datar memandang laki-laki itu.
"Ancaman lo gak akan berguna sama gua, walaupun gua kelihatan kek orang yang mudah di ganggu, tapi kenyataannya tidak."
Melihat gadis kecil ini tidak takut, Damara tidak ingin berkata apa-apa lagi.
Tidak lama mereka sampai untuk ke klinik, tapi Damara malah merangkul Lyandra dan wajahnya menampilkan raut kesakitan.
"Datang dengan kek gini kita bakal gak dimintai kartu identitas, langsung di periksa, nanti cukup sebutkan nama acak dan lo punya uang nggak?"
"Yah, gua punya."
"Bagus, mari melakukan drama, gua harap lo bisa bekerjasama."
Mereka sampai di depan pintu klinik, Lyandra menampilkan raut wajah ketakutan dan Damara yang terlihat kesakitan, tentu saja dengan luka yang lumayan parah itu cukup realistis.
"Tolong dokter! Tolong kakak saya!"
Lyandra berteriak dengan panik memanggil dokter, ia tidak peduli dengan orang-orang yang melihatnya, tidak lama kemudian datanglah dokter yang sepertinya habis melakukan pemeriksaan.
"Suster tolong cepat ambilkan brankar, cepat sebelum lukanya tambah parah."
"Baik dokter."
Damara dengan segera ditempatkan di brankar, mereka lalu menuju ruang unit gawat darurat dengan cepat, Lyandra sedari tadi mengikuti mereka dengan raut wajah ketakutan dan menangis.
"Adek tunggu disini, kami akan melakukan pemeriksaan."
Suster itu mengangguk ringan dengan cepat ia menutup pintu ruangan, bersamaan dengan itu Lyandra mengusap air matanya dan ekspresinya tenang kembali seperti tidak terjadi apapun.
"Gua kayaknya kalau terjun ke dunia akting bakal dapat piala Oscar."
Bagaimana tidak? Dia sedari tadi mencoba menahan tawanya untuk membuat drama itu sempurna, dan itu berjalan sesuai dengan rencana mereka.
Dengan bosan Lyandra duduk di kursi tunggu bagi para pengunjung dan pasien, gadis itu memejamkan matanya untuk tidak merasakan mereka yang mencoba mendekatinya.
Ini adalah klinik tentu saja banyak mereka disini, kemampuan Lyandra yang aslinya dimiliki oleh Riana lumayan bisa dikuasai olehnya, Lyandra akan bisa merasakan mereka jika ia mau, jika ia tidak mau dia tidak bisa merasakannya dan minusnya Lyandra harus menggunakan kemampuan itu sendirian, jika tidak dia tidak bisa merasakannya bahkan jika dia hanya bersama satu orang.
Lyandra kali ini sedang mencoba untuk mengasah kemampuan ini, dia juga sedang menguji mentalnya seberapa takut dia kepada mereka, tapi ternyata dia masih merasa tidak nyaman dengan mereka.
Pintu terbuka membangunkan Lyandra dari kegiatannya, ia melihat seorang dokter laki-laki bernama Aldi Pratama di name tag-nya menghampiri gadis kecil itu.
"Kakak mu di bawa tepat waktu, atau tidak dia akan kehilangan banyak darah, sekarang dia masa penyembuhan dan besok akan bisa pulang."
Mendengar keterangan dokter laki-laki itu, Lyandra mengangguk mengerti ia lalu bertanya kepada dokter itu dengan raut wajah tidak yakin.
"Dokter bagaimana cara pembayarannya?"
"Nanti kamu akan diinstruksikan oleh seorang suster, kalau tidak ada pertanyaan maka saya pergi terlebih dahulu, jaga kakakmu."
"Baik dokter."
Dokter itu sudah pergi diikuti oleh seorang suster, dengan segera Lyandra masuk ke dalam ruangan, dia dapat melihat kalau laki-laki itu memiliki banyak perban di bagian tubuhnya, membuat Lyandra sedikit meringis.
"Pantesan banget dokter bilang sedikit terlambat akan kehilangan banyak darah, ternyata luka lo lebih parah dari gua bayangin."
Damara tidak menjawab hanya sibuk mengupas buah jeruk ditangannya, menikmati buah gratis yang klinik siapkan untuk pasien.
Melihatnya tidak dipedulikan Lyandra menuju kearah sofa empuk, dan disana ia berbaring dengan nyaman mulai membuka ponselnya melihat apakah ada pesan.
"Btw nama lo siapa? Seharusnya lo lebih tua dari gua kan?" Tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel, Lyandra bertanya dengan santai membuat laki-laki itu mencibir melihat sikap tidak sopan Lyandra.
"Lo benar-benar gak sopan jadi perempuan, nama gua Damara Mahendra Siregar, lo bisa panggil gua Damara, iya gua lebih tua dari lo, bocil."
"Jangan panggil gua bocil hanya karena umur gua 15 tahun, nama gua Lyandra Wheeler lo bisa panggil gua Lyandra."
Damara mengangguk mengerti mencoba untuk mengingat nama perempuan di depannya, Damara dengan nyaman bersandar pada bantal empuknya menikmati buah jeruk yang sudah dikupas.
"Jadi lo masih sekolah kelas 3 smp kan?"
"Iya gua masih smp."
Lyandra menjawab tanpa mengalihkan perhatiannya, ia masih setia menatap ponsel yang memunculkan pesan yang dia rindukan selama ini, tapi orang ini hanya mengirim informasi orang disekitarnya, dia tidak pernah lagi mengirim pesan pada umumnya.
"Keluarga lo kayaknya lumayan, tapi lo malah masuk gangster apa gak rugi?"
Langsung saja ia membuka kartu terhadap laki-laki di depannya, ia tidak suka bermain-main karena ia percaya pada orang itu akan melindunginya.
"Apa yang lo tau tentang gua? Kita baru aja bertemu kan? Dan lo udah dapat informasi dari gua?"
Damar memandang tajam anak perempuan yang terlihat tidak memiliki ketakutan padanya, ia akhirnya mengerti kenapa dari tadi Lyandra tidak takut, ternyata dia juga bukan orang biasa.
"Gua cuman nanya santai, orangnya gua mencari tau tentang lo, gua juga bukan musuh lo."
...----------------...