
Setelah keluar dari gudang, dengan susah payah Riana menuju kearah uks, ia harus mengobati lukanya, jika tidak itu tidak akan pernah sembuh.
Riana mengintip sebentar kearah uks yang sepi, ia lalu dengan leluasa mulai mengobati lukanya, memang sekolah ini tidak memiliki dokter pribadi, uks hanya bekerja bagi siapa saja yang mau membantu orang sakit.
Bagian yang paling menyakitkan adalah bagian wajahnya, itu sudah lumayan membaik walaupun ada sedikit bengkak, akh ia sepertinya harus tinggal di uks sampai jam pulang.
Selesai mengobati lukanya, Riana berbaring di kasur tertidur tenang, tanpa dia ketahui bahwa ada yang mengintip dari balik pintu.
Ia adalah Rachela Evanda Ferysta, dulu sekali sejak pertama masuk sekolah ini, ia adalah teman dekat Riana, tapi sejak geng Leshila memangsa Riana, Rachela mulai menjauh dari Riana, bahkan ia tidak repot-repot untuk mengabaikannya.
Riana yang melihat hal itu juga tidak lagi berinteraksi dengannya, perlahan-lahan hubungan mereka sudah tidak sedekat dulu, bahkan jika mereka bertemu itu seperti bertemu orang asing, sampai sekarang.
"Riana, mereka menyakitimu lagi? maaf yang tidak bisa berada disamping ku, kau tahu Riana? aku takut." dalam hatinya Rachel menyesal, tapi ia juga takut.
Sebab Rachel ingin tenang di sekolah ini, tidak ingin menyinggung siapapun yang merugikannya, menjauh dari Riana adalah pilihan yang terbaik, itu yang Rachela Evanda Ferysta pikirkan.
Melihat waktu izinnya sudah mau habis, Rachel segera kembali ke kelas, akan gawat jika dirinya di hukum!
-Beberapa jam kemudian-
Riana membuka matanya, ia merasa bahwa bagian bengkak di pipinya sembuh, dan sakit di tubuhnya juga mulai membaik, penyembuhannya masih cepat seperti biasa.
"Ini udah mau jam pulang, tapi aku belum ngerjain yang matematika, pasti besok aku disuruh ke kantor."
Gadis kecil itu mulai menyingkirkan perban yang melekat di wajahnya, ia melihat tidak ada bekas lagi, hanya sedikit noda, ia meregangkan tubuhnya dan berjalan keluar uks.
Ketika keluar uks ada banyak siswa-siswi berhamburan pulang, ia tahu jam pulang sudah tiba, Riana dengan malas berjalan ke kelas.
Tanpa diduga ia berpapasan dengan geng Leshila, Riana memandang mereka dingin tanpa mau menghiraukan ia dengan cepat mengambil tas dan pergi, tapi ternyata jalannya dihalangi oleh geng Leshila ada beberapa siswa-siswi yang mau lewat juga tidak berani menegur geng Leshila.
"Kalian mau apa?" Riana menarik alisnya keatas dengan mata hitam yang menunjukkan tatapan dingin, mereka pikir ia tidak berani melawan?
"Oh wow, cupu ini terlihat semakin menarik, tapi Riana ingatlah pada akhirnya, kau akan kalah denganku, cabut girls."
Melihat Leshila pergi, Viranda dan Natalie mengikuti, mereka bagaikan pembantu di belakang Leshila, tapi kenyataannya memang seperti itu.
Menggigit bibir bawahnya, Riana mengusap telapak tangannya yang basah akibat keringat dingin yang keluar, dengan susah payah menenangkan diri, Riana meninggalkan kelas itu tanpa berbalik lagi.
Dalam perjalanannya, Riana memandang jalanan kosong, ia lalu membelok arahnya dari arah pulang, ia akan menuju ke suatu tempat.
Sampai disana gadis kecil itu menatap kosong kearah papan nama itu, ia merasa rindu dengan tempat ini karena ternyata ia sudah meninggalkannya sejak lama.
Pemakaman
Itulah nama tempatnya, sebelum ke tempatnya, Riana memesan bunga terlebih dahulu, setelah mendapatkan bunga ia melangkah masuk ke area pemakaman.
Bagi siapapun suasana pemakaman tentu tidak menyenangkan, apalagi bagi gadis itu yang masih memiliki kemampuan itu, ia tentu lebih tidak nyaman.
Gadis kecil itu tidak memperdulikan suasana yang menekannya, lagipula dia sudah melatihnya, Riana tahu apa yang akan dilakukan.
Sesampainya di sana dengan perasaan hati runtuh, Riana menekan kesedihannya, tapi itu tidak berguna sebab air matanya ternyata sudah menetes tanpa aba-aba.
Charles Ridam Anggara
Nama itu tertera di sebuah makam yang lama, Riana meletakkan bunganya diatas makamnya, ia lalu mulai membersihkan pemakamannya.
"Kakek, sudah 3 tahun kamu meninggalkan ku, selama itu juga kamu tidak pernah datang ke mimpiku, itu artinya kamu sudah tenang disana."
Riana masih mengingat masa-masa dimana kakek melatih kemampuannya, waktu itu juga kakeknya melatih kemampuan bela dirinya dengan menyewa seorang guru, jadi tidak heran lagi tubuh gadis itu akan sangat bagus, karena ia sering olahraga.
Tapi semenjak kakeknya meninggal, Riana tidak berniat lagi untuk berlatih guru yang disewa kakeknya juga tidak memaksanya, jadi kemampuan itu sudah terpendam sampai sekarang, ia tidak menggunakan lagi kemampuannya.
Dan disitulah Riana mulai merasakan lagi, keluarganya yang menyiksanya, abangnya yang tidak berada disampingnya, ditambah sekolahnya selalu dibully.
Mengingat masa-masa menyakitkan itu, Riana merasakan aura dingin menyelimutinya, ia merasa ada energi yang tidak baik dan tidak jahat mengelilinginya.
Setelah mengatakan itu angin dingin menerpanya, dedaunan mulai terbawa angin, seakan menjawab kau harus melawan mereka.
"Yah, aku harus melawan mereka."
Aura dingin yang mengelilinginya menghilang, Riana kembali normal, ia lalu melihat kearah sekitar dengan sedikit tidak nyaman, hampir saja, hampir saja ia hilang kendali!
Perasaan gelisah menyelimuti membuat gadis kecil itu, harus pergi dengan cepat dari pemakaman itu, ia tidak bisa disini terlalu lama, itu akan membuatnya lemas karena sangking banyaknya mereka.
Dalam perjalanan pulang Riana menghela nafas lega, setidaknya mereka tidak mengikutinya, kalau tidak itu akan berbahaya bagi dirinya.
"Beraninya kamu pulang sangat sore! motor itu juga diperlukan untuk kami!"
Bentakan ayahnya membuat Riana kaget, ia sudah hampir terbiasa dengan amarah ayah pada dirinya, tapi perasaan takut benar-benar tidak bisa dihilangkan.
"Maaf, tadi Riana ke pemakaman kakek."
"Pantesan kamu bau kemenyan, cepat sana mandi, bau ini benar-benar memuakkan."
Mendengar hal itu Riana membeku, gadis kecil itu masih mengingat dengan baik bahwa di pemakaman tidak ada kemenyan disana!
"Akh, aku kecolongan lagi." batin Riana.
Gadis kecil itu dengan cepat masuk ke dalam kamarnya, ia mengeluarkan kalung dalam tasnya dan mulai memakainya, kalung itu pemberian kakeknya.
"Apa maumu cepat keluar."
Terkadang di beberapa energi Riana tidak bisa rasakan, itu adalah energi yang membuatnya tidak bisa tidur setengah mati setelah kakeknya mengajarinya cara mengatasi kemampuan rahasianya.
"Hahaha, Riana, aku ingin kau balas dendam terhadap mereka, yang menyakitimu."
Riana memegang kalungnya dengan erat, dengan adanya kalung ini Riana bisa berkomunikasi dengan mereka secara lancar, tapi kelemahannya Riana masih tidak bisa melihat wujudnya.
Tapi itu membuat Riana merasa bahagia juga, sebab gadis kecil itu tahu beberapa orang yang bisa melihat mereka, pasti akan trauma setengah mati, ia saja masih trauma dengan kejadian masa kecilnya yang melihat perempuan baju putih dan rambut panjang.
"Kau adalah makhluk lain, tidak usah mengurusi urusan duniaku, cepat pergi atau aku akan memusnahkan mu."
Aura Riana semakin menguar di seluruh ruangan, membuat energi itu seketika hilang, ia tentu tahu kekuatan Riana masih jauh di atasnya!
Riana lalu menekan tombol panggilan di ponselnya, ia menelfon sosok yang sangat ia rindukan.
"Halo gadis kecil, merindukan abangmu?"
Mendengar suara itu, Riana meneteskan air matanya, ia lalu menjawab setenang mungkin.
"Riana gak kuat bang gini terus, boleh gak Riana berubah?"
"Kamu kenapa Riana? sini cerita sama abang."
"Gapapa bang, Riana cuman butuh jawaban abang, boleh gak Riana berubah?"
Mark mengepalkan tangannya, jika gadis kecilnya menginginkan itu ia akan mengabulkannya.
"Mau kamu berubah apapun, abang selalu mendukungmu, abang selalu tau apa alasan kamu melakukannya."
"Terimakasih."
Tidak ingin abangnya merasakan dirinya terluka lagi, Riana memutuskan panggilannya sepihak, sedangkan Mark hanya bisa mengepalkan tangannya erat.
"Aku harus menyelesaikan urusan disini, dan kembali ke sisi gadis kecilku." batin Mark dengan tekad membara, ia benar-benar merindukan gadis kecilnya itu.
...----------------...