My Alter Ego Girl

My Alter Ego Girl
Mereka Lebih Mengganggunya



Ridam hanya menyayangi Riana sebab, Riana memiliki sifat yang sangat baik hati, percaya diri, dan apalagi ia memiliki kemampuan itu yang tidak diwariskan kepada anggota yang lain, membuat Ridam menyayanginya.


Dan Riana sangat berbakti kepada dirinya, Riana selalu berkunjung ke rumah kakeknya, hanya saja anggota yang lain tidak sesering Riana.


Setelah makan sore, hari sudah menuju waktu malam, kakeknya Ridam pergi ke kamar untuk istirahat, tubuhnya merasa lelah mengingat dirinya sudah tua. jadi itu wajar.


"Neng, Bu Tejo pergi dulu ya, baik-baik jaga kakek Ridam."


Riana mengangguk mengerti, ia lalu mengantar Bu Tejo sampai keluar rumah, melihat tidak ada orang lagi.


Riana hendak menutup pintu, tapi sekelebat bayangan lewat di depan matanya, itu adalah sebuah bayangan berwarna putih berlari cepat melewati dirinya.


Gadis kecil itu terpana sejenak, ia kembali sadar setelah merasakan ada banyak pasang mata menatapnya.


"Apakah mereka memang suka mengganggu orang?" tanya Riana dalam hati.


Perlahan-lahan Riana mulai melupakan kejadian itu, ia menonton tv sendirian di ruang tamu, hal yang paling membuatnya tidak tenang adalah, banyak energi jahat disekitarnya, tapi kenapa mereka tidak menyakitinya?


Mereka hanya menemani dirinya, sampai Riana terganggu dengan seseorang mencoba membuka pintu rumahnya, ia lalu bangkit dan membuka pintu.


Ketika dibuka, ia hanya menemukan kekosongan! Riana yang baru sadar bahwa rumah kakeknya tidak memiliki tetangga, segera menutup pintu.


Nafas terpacu dengan cepat seakan udaranya tidak cukup masuk ke dalam tubuhnya, keringat dingin sudah mengalir di telapak tangannya, ekspresinya jelas sangat pucat, membuat gadis itu terlihat semakin menyedihkan.


Riana dengan segera berlari menuju kamar kakeknya, tidak peduli lagi dengan tv yang masih menyala menampilkan cerita horor yang dilihatnya.


"Ada apa?"


"Gapapa kek, Riana cuman takut sendirian."


Ridam tentu mengetahui apa yang terjadi pada Riana, tapi ia memilih diam saja, lagipula itu bagus untuk pertumbuhannya di masa depan, ia tidak perlu takut atau terlihat lemah lagi di hadapan mereka.


Akhirnya Riana tertidur di kasur kakeknya, Ridam hanya bisa menghela nafas, mungkin mereka akan sering tidur disini sebab Riana akan sering ketakutan oleh adanya mereka.


Keesokan harinya Riana bangun ingin buang air kecil, dengan malas ia bangun dari tidurnya dan menuju kearah kamar mandi.


Setelah membuang air kecil, Riana terhenti sejenak di pintu kamar mandi, gadis kecil itu menoleh kearah kiri, ia merasakan tatapan panas menatapnya dengan aura jahat menguar membuat Riana merinding seketika.


Dengan cepat gadis itu berlari menuju kamar kakeknya, tapi ternyata makhluk itu tidak membiarkannya, ia malah mengikutinya, membuat jantung Riana terpacu dengan cepat.


Tapi anehnya setelah sampai di kamar kakek, energi yang ia rasakan menghilang seolah tidak apa-apa disana, membuat Riana merasa tidak yakin, tapi ia tidak peduli lagi, ia tidur lagi karena hari masih terlalu pagi untuk bangun.


- Jam 6 pagi kemudian -


"Riana, bangun ini jam 6 pagi, gak baik malas-malasan."


Mendengar kakeknya yang begitu mengusik tidurnya, Riana akhirnya terbangun paksa, ia sayup-sayup masih merasa mengantuk.


"Cepetan mandi, kita sarapan dulu ya."


Mendengar kata mandi Riana menggelengkan kepalanya, bukan ia malas tapi gadis kecil itu masih mengingat kejadian semalam, membuat ia tidak mau ke kamar mandi lagi.


"Riana takut kek, Riana gak mau."


"gada apa-apa disini Riana, kamu takut apaan?"


Riana tidak menjawab pertanyaan kakeknya, ia masih menggelengkan kepalanya tidak mau.


"Aku mau kakek nunggu di luar kamar mandi, tunggu Riana sampai selesai mandi, Riana takut."


Kejadian yang menimpanya sangat membekas di dalam hatinya, Ridam yang tidak tega hanya menuruti keinginan cucunya, dan ternyata cucunya juga pintar mencari perlindungannya.


Dengan adanya dia, mereka tidak akan berani mengganggu Riana lagi, membuat Ridam hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tanpa daya.


"Yaudah mandinya cepetan ya."


"Iyaa, kakek."


Gadis berumur 7 tahun itu begitu semangat, karena kakeknya ada di sekitar kamar mandi, ia tidak perlu takut lagi!


Setelah mandi Riana dengan malas-malasan membuka novel, cerita itu berjudul "Alter Ego" Dimana, ada seorang gadis yang muak dengan kejamnya dunia, lalu ia membuat identitas lain, dan menaklukkan dunia sampai ke akarnya, tapi ternyata ia sudah tidak bisa kembali lagi ke jalan sebelumnya, sebab Alter egonya sudah membawa ia ke jalan yang salah.


"Udah gitu doang? lah? gak bisa gitu dong, pemilik utama kan yang pemilik sebenarnya, masa kalah sama Alter ego buatannya sendiri!" Riana dengan sebal membuang novel itu, terlihat wajahnya begitu kesal dengan isi cerita itu.


"Riana, kakek pergi ke warung dulu, mau titip apa enggak?" Tiba-tiba Ridam datang mengejutkan cucunya yang masih asyik dengan dunianya sendiri.


"Issh, kakek ngagetin aja, emang kakek kuat ke warung? beli apa sih? Riana aja." dengan mengelus dadanya yang terkejut, Riana dengan cepat menawarkan diri, lagipula kakeknya tidak bisa berjalan jauh lagi.


"Gapapa, kakek bosan disini, kamu titip apa?"


"Beli roti rasa keju sama vanilla, jangan lupa es krimnya."


"Oke, kakek pergi dulu ya, baik-baik kamu di rumah."


"Siap kek."


Melihat sosok Ridam sudah tidak ada lagi dalam pandangannya, Riana menarik nafasnya, menatap dalam rumah yang menguarkan aura suram dan sepi begitu kuat, tiba-tiba ia merasa menyesal tidak ikut dengan kakek.


"Aku penasaran sama kakek, apa dia gak ngerasain kalau dirumahnya banyak mereka, walaupun gak ngapa-ngapain." tanya Riana dalam hatinya.


Sebelum Riana memasuki rumahnya, ia melihat sesosok perempuan putih dengan rambut hitam tergerai panjang, perempuan itu melihat kearah belakang, Riana meneguk ludahnya kasar, jantungnya sudah mati lemas, sebab beberapa kali ini sering diganggu oleh mereka.


"Tenang Riana, itu cuman hantu, ingat hantu itu lebih tinggi derajatnya daripada manusia."


Dalam hatinya ia berdoa dengan sungguh-sungguh, sambil menguatkan hatinya, Riana mulai memasuki rumah, setelah memasuki rumahnya ia sudah tidak melihat penampakan tadi dari luar rumahnya.


Riana yang melihat bahwa ia sudah pergi menghela nafasnya, ia ingin ke kamarnya tapi sepertinya tidak jadi, sebab ada sesuatu yang sangat dekat dengan dirinya di belakang.


"Apalagi ini." dalam hatinya Riana menangis dalam diam, seharusnya ia mengikuti kakeknya!


Gadis kecil itu mengerutkan keningnya, ia lalu mulai menstabilkan dirinya, ketika melihat sekitar ia sudah tidak merasakan perasaan itu lagi, mereka benar-benar pergi!


Tiba-tiba pintu rumah, kamar, secara bersamaan terbuka lalu tertutup lagi dengan angin yang berhembus kencang membuat permadani-permadani menutup jendela menjadi berhembus, membuat jendela itu samar-samar terlihat kearah luar.


"Diam kalian, Diam! aku sudah muak dengan keberadaan kalian!" sebut saja ia tidak sopan, tapi ia tidak peduli dia sudah cukup sabar menghadapi mereka, tentu saja ia juga berani untuk melawan mereka, selama ini diam bukan berarti ia takut melawan!


Melihat Riana yang sudah berani terhadap mereka, diam-diam mereka melangkah mundur karena aura Riana sama kuatnya seperti kakeknya, secara samar-samar aura itu bisa menekan mereka, jika melawan aura itu mereka mungkin akan musnah.


Seketika suasana di rumah tenang, dan tidak terasa suram seperti tadi, sepertinya ada beberapa hantu yang pergi dari rumah ini, Riana juga mulai menenangkan diri ia lalu berjalan ke kamar dan mulai melanjutkan aktivitas tadi yang sempat tertunda, membaca novel.


...----------------...