My Alter Ego Girl

My Alter Ego Girl
Anggara Lezira Nasution



Lyandra kembali ke rumahnya setelah berbincang-bincang dengan Angkasa mengenai Kiara, dan juga Kiara dia akan menginap di markas sampai dia sembuh. Itu atas permintaan Angkasa, tapi Lyandra juga tidak keberatan, yang terpenting dia selalu hidup.


Sesampainya di rumah Lyandra melihat ada banyak barang di ruang tamu, ada juga kakak perempuan, ibu, adiknya dan ayah yang sedang melihat-lihat barang di tangan mereka, Lyandra tahu mereka habis belanja.


"Eh ada kak Riana, kakak sini."


Yang memanggil Lyandra adalah Anggara Lezira Nasution, itu anak ke-empat yang artinya anak terakhir dari Ivanna Lezira dan satu-satunya adik Riana, bocah itu sekarang berumur 12 tahun.


Tapi jelas Lyandra tidak sungkan-sungkan untuk memenuhi permintaan adiknya Riana itu, tubuh lelahnya jauh lebih penting dari permintaan adiknya, gadis itu pergi ke kamar tanpa mengindahkan teriakan marah orangtuanya.


Itu terlalu membuang-buang waktunya untuk meladeni mereka yang ntah kemana nurani hatinya, yang Lyandra tau adiknya Riana pasti akan membuat ulah lagi dan bagian yang paling menyebalkan dia akan dimarahi oleh kedua orangtuanya, jelas-jelas kesalahan ada di adiknya.


Melihat kakaknya benar-benar sudah tidak memperdulikan dirinya, Anggara menatap kedua orangtuanya dengan sedih ia lalu berkata.


"Mah, Pah, apakah kak Riana sudah tidak menyayangi ku lagi? Padahal aku ingin dekat dengannya, apakah benar kakak membenci diriku?"


Melihat anak bungsunya menangis Ivanna segera memeluk Anggara untuk menenangkannya, sedangkan Jonathan mulai menenangkannya dengan kata-kata.


"Jangan menangis nanti ayah akan memberi dia sebuah pelajaran, agar dia sadar bahwa kamu menyayanginya."


"Tapi ayah, kak Riana tidak harus di beri pelajaran mungkin saja dia menyayangi ku tapi ia gengsi."


Jonathan ingin membalas tapi sudah didahului istrinya yang berbicara dengan marah, dengan menatap putranya tegas.


"Jika dia benar-benar menyayangimu seharusnya dia tidak akan pergi begitu saja ketika kamu memanggilnya, sudah jelas dia tidak menyayangimu tapi membencinya, kamu tidak usah merasa sedih untuk anak pembangkang seperti itu."


Melihat ibunya benar-benar membenci kakaknya, Anggara menghapus air matanya ia lalu berkata untuk menenangkan kedua orangtuanya.


"Maaf Mah, Pah, Anggara cengeng lagi seharusnya anak laki-laki tidak boleh cengeng, tapi menurutku kakak benar-benar tidak membenci ku."


"Kita tidak usah membahas dia lagi, tidak apa-apa laki-laki menangis lagipula kamu terlalu lembut nak, ibu bangga padamu."


"Ayah juga..."


Melihat kedua orangtuanya tersenyum pada dirinya, Anggara menampilkan senyum bangga di wajahnya.


Sedangkan Elfi hanya memandang drama di depannya dingin, dia tidak akan ikut campur karena memang tidak cocok disini, jika bukan karena Anggara dia pasti tidak akan disini.


Tanpa mereka sadari pembicaraan mereka disimak oleh manusia yang mereka bicarakan, itu Lyandra padahal dia hanya ingin mengambil air minum di dapur tapi siapa yang tahu ada drama yang menjelekkan namanya disini, tapi dia tidak repot-repot untuk berdebat lagipula adiknya ini memang sangat berbakat, dia tidak ingin menghilangkan bakat emas ini.


Tanpa disengaja tangan Lyandra licin membuat gelas ditangannya jatuh, air minumnya juga tumpah kemana-mana, sedangkan keluarga yang sedang berpelukan hangat berhenti untuk melihat sumber suara itu.


"Tanganku licin, seharusnya itu tidak mengganggu kalian kan?"


Lyandra bertanya dengan senyum sinisnya yang tercetak, juga ia memandang mereka dengan tajam, terlebih lagi dia menatap lama Anggara yang sudah meringkuk ke dalam pelukan ibunya.


Ivanna merasakan putranya ketakutan menatap Lyandra marah, dengan segera ia berteriak marah kepada Lyandra.


"Itu urusan pembantu di rumah ini, oh ya Anggara, tadi kakak lelah jadi tidak menggubris panggilan mu, mulai sekarang kakak akan lebih perhatian lagi padamu."


Aura yang Lyandra keluarkan adalah mendominasi bak ratu kejam yang tidak bisa diganggu, keluarga itu dengan segera di buat merinding oleh aura dan tatapan Lyandra keluarkan, ada rasa panik dan gelisah di hati mereka.


Gadis kecil itu tidak repot-repot lagi untuk bersama keluarganya dalam satu ruangan, ia berbalik pergi keluar rumah untuk mencari udara segar, lelahnya sudah hilang sebab adiknya yang baik hati itu.


Keluarga itu perlahan-lahan mulai kembali ke pikirannya ketika Lyandra sudah pergi, Ivanna dengan marah memerintahkan pembantu yang bekerja di rumahnya untuk membersihkan ulah Lyandra, ia menatap tajam kearah pintu rumah dimana Lyandra keluar barusan, sepertinya ia bertambah benci kepada putri yang tidak patuh ini.


"Kak Riana tadi..."


"Tidak usah membahasnya, ibu tidak ingin mendengar nama itu dari mulutmu, dan kalian juga, anak ini semakin hari semakin pembangkang mengikuti abangnya ini, aku tidak tahu mereka berdua mirip siapa di keluarga ini."


Keluarga itu mengangguk mengerti mendengar penjelasan Ivanna, lagipula mereka juga membencinya jadi untuk tidak menyebutkan namanya lagi itu tidak masalah sama sekali, bahkan Jonathan mulai mengikuti peraturan istrinya.


Kembali kepada Lyandra yang sedang menikmati suasana sore hari di taman, tempatnya tidak terlalu jauh dengan rumahnya membuat ia sering kesini untuk mencari udara segar, dan merilekskan pikiran yang ntah kenapa semakin berat untuk memikirkan sesuatu.


Suasananya tidak terlalu sunyi, angin sepoi-sepoi berhembus lembut, ditambah pepohonan dan bunga yang bergoyang pelan, semakin membuat pikiran Lyandra tenang seketika.


"Mendengar suara alam menyanyi itu menyenangkan." Batin Lyandra dengan mata terpejam dan bersandar di kursi putih panjangnya.


Ada suara orang duduk di sebelahnya tapi Lyandra tidak ingin membuka matanya, atau itu akan mengganggu ketenangannya, tapi mendengar suara orang di sebelahnya Lyandra dengan cepat membuka matanya dan melihat orang itu dingin.


"Halo Lyandra, apakah gua mengganggu kenyamanan lo?"


"Indira Arizka Faida, kenapa lo ada disini? Seharusnya lo gak berkata bahwa lo mengikuti gua."


Indri tertawa renyah mendengar jawaban dari Lyandra, ah setelah berinteraksi dengannya itu memang semakin menarik.


"Um, mengikuti itu tidak benar, gua hanya mencari tau tentang lo, dan gua berkunjung ke rumah lo untuk memastikan, eh tau-tau lo keluar dari rumah itu dan ternyata benar itu rumah lo."


Mengikuti ya? Tapi Lyandra tidak merasa ada orang di belakangnya, mungkinkah apa yang dirasakan Riana benar, kalau Indri langkahnya benar-benar tidak terdengar kecuali dia memunculkan dirinya sendiri? Atau kemampuannya yang sudah tidak berfungsi lagi?


Ada banyak tebakan di dalam pikirannya ketika menghadapi manusia satu ini, dilihat dari cara berbicara Lyandra secara tidak langsung mengetahui, bahwa Indri bukan orang biasa, apalagi mencari tau tentangnya yang jelas-jelas sudah ia tutupi, itu tidak mudah!


"Kenapa lo diam aja njir?"


"Apa mau lo? Gua tau lo bukan orang biasa kan Indri?"


"Hmm? Ah yah benar katamu, gua memang bukan orang biasa."


Melihatnya tidak mau menjawab Lyandra tidak meladeni lagi, ia mengabaikan tatapan Indri yang menatapnya terus-menerus seperti orang yang sangat penasaran kepadanya, ia tidak peduli!


...----------------...