
Dengan cepat Kiara membuka matanya, melihat lukanya sudah diobati ia lalu memegang kepalanya yang sedikit pusing, dengan muka pucat gadis itu berusaha mengambil air disampingnya.
Tapi nas, dia tidak bisa menggapainya alhasil itu terjatuh membuat orang-orang di luar segera masuk ke dalam kamar, Kiara berusaha untuk menstabilkan pandangannya yang lumayan buram.
"Lo gapapa? apakah perlu memanggil dokter lagi?" Riana dengan panik mencoba untuk tidak membuat gadis itu tidak nyaman, lagipula dia baru bangun dari tidurnya.
"Kalian yang menolongku? terimakasih, gua gapapa hanya pusing sedikit." Kiara tidak mau membuat orang yang menolongnya tidak nyaman.
Riana tidak berbicara lagi dia hanya memberikan air putih yang diterima baik oleh Kiara, sedangkan Angkasa dan kawannya diam-diam pergi dari situ untuk memberikan udara segar bagi Kiara, hanya Riana yang menjaga itu sudah cukup.
"Terimakasih sudah menolong gua, namaku Kiara Arelin Nastiva lo bisa panggil gua Kiara."
"Halo, nama gua Lyandra Wheeler lo bisa panggil gua Lyandra."
Kiara mengangguk mengerti melihat penampilan Lyandra, ia menebak-nebak dalam hatinya bahwa ia di bawa oleh suatu geng motor.
"Di lihat kalian anak nakal kah? atau gua di bawa suatu geng?"
Tidak mau Kiara salah paham dengan cepat Riana menjelaskan semuanya, membuat Kiara mengerti, ia lalu menatap Riana dengan tatapan terimakasih.
"Makasih yah, gua bakal jadi anggota asisten lo yg baik, kebetulan gua di usir dari rumah, sebab gua gak nurutin permintaan ortu, selain itu gada latar belakang apapun."
"Lo bener nerima ini? soalnya ini geng Leo, oh ya lo dapet luka-luka itu darimana?"
"Luka ini gua dapet dari para preman yang merampok gua, haish semua barang bawaan ku sudah dicuri, gua tau gimana Geng Leo, dan gua menerima ini semua."
Melihat Kiara yang begitu menyakinkan Riana tidak berbicara lagi, ia segera memanggil Angkasa untuk menemui Kiara, bahwa ia sudah bersedia.
"Kata Lyandra lo benar-benar menerima syarat itu, Lo yakin? gua gak bakal segan-segan kalau lo jadi pengkhianat."
Angkasa menatap dingin kearah Kiara, menurut dirinya perempuan di depannya bukan gadis biasa, apakah ada orang dengan normal menerima semua keadaannya? kecuali dia memang wanita tidak takut apapun.
Mata Kiara menatap Angkasa dengan rasa yakin, ia lalu mengangguk dengan tegas, seketika jawaban Kiara membuat Riana lega, jika Kiara pergi dari markas ini tanpa status apapun itu akan membunuhnya, peraturan Angkasa selalu kejam.
"Gua pegang kata-kata lo, awas aja lo jadi pengkhianat, ayok pergi Lyandra gua butuh bicara berdua sama lo."
"Oh oke."
Angkasa dan Riana sudah pergi dari tempat Kiara berada, perempuan itu memandang dingin kearah gelang yang berwarna hitam dengan ukiran namanya di setiap tali.
"Kalian pengen gua mati? sayangnya salah, keberuntungan selalu ada di sekitar Kiara Arelin Nastiva."
Senyum sinisnya tercetak di wajah dengan sorot mata tajam menatap gelang yang terpakai, gelang itu mempunyai banyak makna disekitarnya tapi bukan sekarang untuk membongkar rahasianya.
Kembali kepada Angkasa dan Riana yang memiliki suasana sedikit mencekam, mereka berdua tampak tidak berbicara tapi mata mereka menceritakan segalanya.
"Gua tau lo cuman buat nolong dia Ra, tapi beneran deh sumpah lo yakin? dari pandangan pertama lo seharusnya tau dia bukan perempuan biasa Ra."
Kenyataannya memang seperti itu bahkan Riana sendiri ragu dengan keputusannya, ia terlalu tidak mau melihat orang kehilangan nyawa di depannya sehingga mengabaikan konsekuensinya, tapi setelah mengingat kembali tekad Kiara tadi di matanya, Riana merasa itu berbeda.
"Gua ngerasa dia berbeda Angkasa, gua ngerasa dia gak bakal mengkhianati kita, lo harus pegang kata-kata gua Angkasa."
Angkasa juga mengumumkan tentang Kiara yang akan menjadi bagian dari geng Leo dengan menjadi asisten Lyandra.
Walaupun para anggota lain juga agak enggan untuk setuju, tapi melihat keputusan ketua mereka dengan ragu-ragu mereka setuju, biarlah itu urusan ketua kalau apa-apa terjadi di gengnya, karena dia yang paling bertanggung jawab disini walaupun ia paling berkuasa.
"Lyandra lo benar-benar penyelamat gua, gak tau gua harus balas apa."
"Gua pengen lo sembuh, udah gitu doang."
Mereka berdua sekarang berada di kamar dengan Kiara yang terbaring, dan Riana yang duduk merawat Kiara, suasana diantara mereka terlihat cukup harmonis.
"Oh ya Ki, lo umur berapa? dan kelas berapa?"
"Umur gua 17 tahun, gua kelas 3 smp gua waktu itu telat sekolah jadinya gitu."
Mata Riana seketika berbinar jika Kiara bisa pindah ke sekolahnya, dia pasti akan punya teman terlebih jika itu sekelas, membayangkan saja membuat Riana seketika bersemangat, ia harus merepotkan Angkasa lagi.
"Kenapa lo kelihatan seneng?"
"Gua juga kelas 3 smp, gimana kalau nanti gua minta Angkasa buat pindah ke sekolah gua? syukur-syukur sih bisa sekelas."
Menerima saran itu Kiara mengerjapkan matanya, ia tidak pernah berpikir untuk mendapatkan teman seperti ini yang ingin dekat dengannya, tapi ia tidak mengecewakan Riana, ia hanya mengangguk ringan setuju.
"Yes, nanti gua minta Angkasa buat mindahin surat-suratnya, akh gak sabar kamu sekolah yang sama denganku."
"Besok gua sekolah juga bisa kok."
Mendengar hal itu Riana langsung menolaknya, ia tidak setuju kalau Kiara langsung sekolah, lukanya belum sembuh buat apa repot-repot sekolah? yang ada nanti tambah parah.
"Gak usah mikirin sekolah dulu, fokus aja sama kesembuhan lo."
"Yah baiklah."
"Yaudah lo istirahat sekarang, gua mau keluar dulu."
Kiara mengangguk ringan mengerti ia tahu, Lyandra memiliki kesibukan lain lagipula dia anggota inti pasti ada sesuatu yang ia kerjakan.
Riana yang sudah lelah dengan semua ini, diam-diam menggunakan identitas Lyandra kembali, tidak peduli kalau Lyandra masih sedih atau tidak, yang penting dirinya tidak menghadapi dunia Lyandra ini.
Lyandra mengerjapkan matanya sebentar, ia lalu ke ruangan dimana semua anggota inti biasanya berkumpul, gadis kecil dapat melihat bahwa mereka sedang bermain kartu.
"Lyandra lo udah ngurusin si Kiara?"
Pertanyaan dari Sagara segera diangguki ringan oleh gadis kecil itu, Lyandra lalu mulai bergabung dengan ikut bermain juga.
"Gua gak habis pikir sama lo Ly, kelihatan bukan sembarangan nolong orang tapi ternyata lo baik hati juga ya." seru Jevras.
Kilatan dingin melintas di mata Lyandra, ia tidak menjawab dan hanya fokus ke arah permainan, orang-orang yang melihat Lyandra dingin kembali hanya diam-diam menahan diri untuk tidak berkata salah kepada gadis kecil ini, mereka tahu Lyandra tidak akan main-main jika ada yang menyinggungnya.
...----------------...