
Dengan Lyandra yang sudah mengambil alih tubuh Riana, gadis itu menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Galang, tapi yang ia lihat hanya kerumunan yang berusaha membeli makanan, seperti biasa kantin sangatlah ramai.
siluet matanya tidak sengaja melihat seseorang, menyipitkan matanya memastikan sesuatu setelah itu ia dengan berani mendekati sosok itu, dia adalah Galang Valderon.
Galang sedang bersama teman-temannya dari penglihatan Lyandra, laki-laki itu tidak pernah berubah ia selalu yang paling bisa tertawa keras menjahili temannya.
"Galang."
Mendengar panggilan Lyandra Galang dan teman-temannya terdiam, mereka menoleh kearah Lyandra yang berpenampilan seragam tidak rapi, dengan sepatu tidak sesuai hari, siapapun yang melihatnya pertama kali pasti tahu bahwa anak ini bermasalah.
Baru-baru ini nama Riana terkenal akan kenakalannya ia selalu terlibat dalam perkelahiannya, padahal nama Riana dulu terkenal akan kepintarannya tapi sekarang sudah berubah sebab ada Lyandra.
"Riana? ada apa?" Galang segera menghampiri gadis itu dengan wajah tersenyum sedikit.
Lyandra mundur sedikit karena Galang terlalu dekat dengannya, ia ingin mengatakan sesuatu tapi kata-kata itu tersangkut di tenggorokannya, tapi mata Lyandra menggelap sebab reaksi ini kebiasaan Riana yang sedang gugup!
"Riana kalau lo gak tenang, lo gak akan bisa mendekatinya! jadi serahkan semua ini ke gua okey?" batin Lyandra berusaha menenangkan Riana.
Beberapa menit hening dengan percaya diri, Lyandra mengutarakan maksud dari memanggil dirinya.
"Gua mau kita makan bareng, lo mau nggak?"
Sebelum menjawab itu Galang melihat kearah teman-temannya, ia lalu menggelengkan kepalanya menolak.
"Maaf Ri, gua mau sama teman-teman gua, maaf ya." mendengar nada penyesalan Lyandra mengangguk mengerti, lagipula ini pertemuan pertama mereka tidak baik menerapkan sifat yang tidak-tidak kepada dirinya.
"Gapapa, gua ngerti yaudah lanjut aja, gua mau ke kelas dulu, bye." Lyandra pergi dari hadapan Galang tanpa basa-basi.
Sedangkan Galang hanya melihatnya dari kejauhan dengan dingin, tampilannya sangat dingin benar-benar berbeda dengan penampilan tadi.
Padahal perut Lyandra lapar tapi mengingat kejadian itu, ia tidak mau lagi kembali ke kantin, gadis itu berjalan kearah koperasi sekolah.
Tatapan para siswa-siswi kelas 9 menyorot kepada Lyandra, jelas gadis itu tidak peduli sebab ia langsung pergi setelah mendapatkan apa yang telah ia inginkan.
"Eh Riana, lo jangan kegatelan ya sama si Galang!"
Dalam perjalanan menuju ke kelasnya Lyandra dicegat oleh beberapa siswi, dilihat dari penampilannya Lyandra tahu, bahwa ini adik kelasnya.
"Kamu kelas berapa Dek?" Lyandra berusaha bersikap lembut dengan bertanya santai, tapi siapa yang tahu perbuatan itu seperti meremehkannya di mata adik kelas ini.
"Lo gak usah ngeremehin gua ya, mentang-mentang jadi kakel, gua gak takut sama lo, ya gak guys?"
"Iya!"
Sekelompok siswi yang terdiri dari 4 orang itu mengelilingi Lyandra, membuat gadis itu terasa pengap.
"Lebih baik kalian tidak usah memprovokasi, jika tidak akibatnya akan fatal!"
Bukannya takut tapi sekelompok siswi ini menertawakan apa yang dikatakan Lyandra, mereka tentu tidak percaya dengan perkataan Lyandra yang seperti lelucon.
"Cewek halu! gua gak percaya sama lo!"
Ketika adik kelas itu ingin berbicara Lyandra menendang perutnya sampai gadis itu mundur beberapa langkah, dan memuntahkan darah.
Tindakannya membuat sekelompok siswi yang mengelilinginya mundur seketika, raut ngeri tercetak jelas di wajah para siswi ini.
Kerumunan juga semakin ramai, ada berbagai sorakan ketika Lyandra memukuli para siswi ini yang memprovokasinya, kalah telak didapati pada para siswi ini sebab mereka sudah terkapar lemah di lantai.
"Sebaiknya kalian tidak memprovokasiku, atau akibatnya akan lebih dari ini!" tekanan Lyandra dapat dirasakan oleh yang lain membuat kerumunan itu menjadi hening.
"Apa yang kamu lakukan Riana?!"
Karena reputasi Bu sari yang terkenal killer kerumunan itu segera berlarian menuju ke kelas mereka masing-masing, seketika hanya para guru dan siswi yang bermasalah di tkp.
"Mereka yang pertama kali melakukannya, gua hanya membela!" Sanggah Lyandra melihat tatapan tajam Bu Sari, bahkan ada beberapa guru yang menatapnya menyalahkan.
Para siswi itu kemudian dibawa ke klinik terdekat oleh para guru, pukulan Lyandra benar-benar tidak main-main, tapi sebenarnya gadis itu masih menahan diri jika tidak mungkin ini akan lebih parah.
Lyandra juga dibawa ke ruang bk dibawah tatapan Bu sari, tapi gadis itu tidak takut sama sekali ia hanya mengikuti perintah Bu Sari dengan santai, bahkan guru itu mulai geram dengan kelakuan Lyandra ini.
"Coba ceritakan kejadiannya, Riana!"
Tekanan Bu Sari tidak membuat Lyandra takut gadis itu menceritakannya semuanya tanpa ditambah atau dikurangi, melihatnya begitu jujur Bu Sari juga sedikit percaya dengan perkataan Lyandra.
"Ibu tahu kamu tidak pernah berbohong, tapi ibu juga perlu cerita kejadian ini dari para korban kamu." ucap Bu Sari.
"Besok kamu ke ruang bk lagi untuk mendapatkan hukumannya sekarang kamu kembali ke kelas."
"Baik bu."
Melihat anak itu sudah pergi Bu Sari menghela nafasnya, dia benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan Riana, dulu gadis itu begitu penurut, pintar, dan pendiam, sekarang kelakuannya benar-benar berbanding terbalik.
Kembali ke Lyandra yang sedang berada di koridor terlihat berjalan santai, tapi dalam langkahnya dia dihentikan oleh Galang, orang yang disukai oleh Riana.
"Ada apa?"Tanya Lyandra santai.
"Lo benar-benar berubah, Riana yang gua kenal gak bakal kayak gitu." Ucap Galang dengan penuh tekanan.
Galang terlihat marah membuat Lyandra mengerutkan keningnya, dari dulu Galang tidak akan pernah menampilkan kemarahan kepada Riana, jadi apa artinya ini?
"Lo kenapa marah? gua yang bermasalah, itu bukan urusan lo kan?" Sarkas Lyandra berusaha memancing Galang yang terlihat semakin marah.
"Salah satu kelompok siswi yang lo sakitin, itu ada pacar gua!"
Perkataan Galang bagaikan petir bagi Riana, gadis itu jelas menyukainya dari dulu tapi kenapa ia selalu menyukai orang lain? bahkan sekarang orang lain dulu yang memilikinya.
Lyandra berusaha menahan perasaan Riana, dia terkekeh geli mendapat kebenaran itu, membuat Galang bingung apa yang dia tertawa kan?
"Gua tau lo gak akan tahan sendirian, tapi lo benar-benar gak berperasaan Galang, jelas lo peka tapi lo hanya bungkam melihatnya membuat berharap selamanya."
Kata itu jelas bagi Galang dan Riana mereka sudah bermain bersama lama, tentu mereka tahu pikiran masing-masing.
Melihatnya diam tidak menjawab Lyandra berlalu pergi dari situ, ia tidak mau lagi berlama-lama dengan orang seperti ini, itu benar-benar membuatnya jijik! jika bukan karena Riana, Lyandra pasti sudah memukulnya sejak pandangan pertama.
...----------------...