My Alter Ego Girl

My Alter Ego Girl
Mark/RI/Ridam



Sehabis pulang sekolah, Riana mendapatkan kabar bahwa abangnya tidak menjemputnya, Riana tidak masalah jadi dia berjalan kaki menuju rumah kakeknya.


Sesampainya disana, ia melihat abangnya Mark yang kelihatan sangat rapi, Riana segera menyusul dengan berlari.


"Kakek, bang Mark!" Teriaknya membuat mereka berdua yang tengah berbincang serius, menjadi teralihkan.


"Gadis kecil, kamu itu jangan lari-lari ya, nanti jatuh."


Mark mengelus kepala Riana, ia lalu memeluknya dengan erat, ini adalah yang terakhir kalinya ia memeluk gadis kecilnya.


"Issh, abang wangi banget, emang abang mau kemana?"


Riana merasa ada yang aneh, walaupun abangnya bepergian jauh, ia tidak akan pernah berdandan rapi dan wangi seperti ini.


"Abang akan pergi merantau, ekonomi keluarga kita anjlok, ayah sudah dipecat, dan abang harus menuhin kebutuhan kita, abang menerima pekerjaan yang ditawarkan oleh Jevano."


Mendengar hal itu Riana terdiam seribu bahasa, jadi mereka berdua tidak akan bersama lagi? abangnya tidak akan mengantarnya ke sekolah? dan abangnya tidak akan bisa menjaganya lagi?


"Abang jaga baik-baik di sana ya, abang jangan tergoda sama dunia luar ya, tetap jadi abangnya Riana yang seperti ini."


Riana mencium pipi abangnya lama-lama, ia akan merindukan sosok ini, merindukan kehadirannya, dan merindukan rasa amannya berada di dekatnya.


Kali ini Riana akan benar-benar menjadi seorang gadis mandiri, ia tidak lagi memiliki sosok pahlawan, ataupun sosok prajurit yang menjaganya selalu.


Ridam, Riana, dan anggota keluarga lainnya, mengantar Mark sampai di bandara, teman-temannya Mark juga ikut.


Setelah berpamitan Mark mulai menuju ke pesawatnya, karena sebentar lagi penerbangan akan dimulai, Riana hanya menatap kosong punggung abangnya, ia tidak mengatakan apapun.


"Ternyata begini rasanya ketika orang yang disayangi pergi, meninggalkan kita." ucapnya dalam hati.


"Riana ayo pulang ke rumah kakek."


"Iyaa kek."


Tanpa melihat kearah keluarganya, ia langsung mengandeng tangan kakeknya dan pergi tanpa berniat untuk berpamitan kepada keluarganya, ntahlah kenapa ia semakin tidak menyukai mereka.


"Riana sedih ya? gapapa Riana nangis aja, kan ada kakek disini pasti gada yang mengolok-olok Riana karena menangis."


Setelah mendengar hal itu, gadis itu terisak menangis di pelukan kakeknya, ia ingat bahwa masih ada kakeknya, Tuhan memberi pengganti abangnya dengan adanya kakek.


"Terimakasih kakek, udah ada untuk Riana."


"Gadis baik, kamu itu cucu kesayangan kakek, tentu saja kakek akan ada untukmu, udah ya ayo pulang, tadi Bu Tejo masak sayuran sop kesukaanmu loh."


Mata Riana berbinar, ia mengangguk dan mulai menghapus air matanya, dia dengan wajah tersenyum menggandeng kakeknya untuk pulang.


Tanpa disadari ada sepasang mata memandang mereka dingin, mata itu menampilkan kecemburuan, kebencian, dan ketidaksukaan sampai tahap tertinggi, Itu adalah Elfi Lezira Sevilla.


"Elfi ayok pulang, ngapain kamu nak?"


Ivanna melihat putrinya yang hanya terdiam, Elfi lalu tersadar dan mulai mengikuti ibunya.


"Bu, kenapa kakek gak pernah suka sama kita?"


"Ngapain kamu nanyain kakek? lagipula dia sebentar lagi akan mati."


Mendengar hal itu, Elfi merasakan bulu kuduknya berdiri, kakek Ridam adalah ayah dari Ivanna Lezira kenapa ia berkata seperti itu? bukankah seharusnya seorang anak tidak akan mengatakan seperti itu?


"Bu, dia itu ayahmu Bu, kenapa kamu berkata seperti itu?!"


"Kamu tidak usah mengurusi urusan ibu, cepat jalannya ayah dan adik bungsumu sudah menunggu di mobil."


Elfi sekarang merasakan perbedaan sifat itu, dulu ibunya tidak akan seperti ini, tapi setelah adanya anak keempat itu semua berubah, tapi mungkin tidak hanya ibunya, sepertinya ayah dia juga ikutan berubah, ada apa dengan perubahan ini?


Kembali kepada Riana dan Ridam sedang senang hati menyantap makanan yang baru dibuat Bu Tejo, tiba-tiba Ridam merasakan ulu hatinya sangat sakit.


"Akhhhh, Tejo, Tejo." Bu Tejo yang melihat tuannya kesakitan segera mengambil obat, dan Ridam lalu meminumnya dengan cepat, nyeri di ulu hati akhirnya teratasi.


"Kakek kenapa? Bu Tejo kakek kenapa?!"


Melihat tidak ada yang menjawab, tangan Riana yang gemetar memegang kakeknya yang kesakitan, Bu Tejo hendak menjawab ketika tuannya sudah mengeluarkan suara.


Riana menggelengkan kepalanya berkali-kali, ia baru kehilangan abangnya, tapi ia juga harus kehilangan kakeknya? ia tidak mau ini terjadi, ia belum siap untuk hidup sendirian, ia belum siap.


"Kakek jangan ngomong seperti itu, Riana masih butuh kakek, Riana masih butuh kakek."


Riana mengatakan kata itu berkali-kali, membuat Ridam merasa bersalah, ia tentu tahu bagaimana perasaannya.


"Kakek gak bakal kemana-kemana, sekarang Riana tidur ya, biar Riana tenang."


Gadis kecil itu memenuhi permintaan kakeknya, ia lalu pergi ke kamarnya sendiri, kali ini gadis itu tidak peduli lagi dengan adanya mereka, kesedihannya lebih dominan daripada rasa takut!


Tapi ternyata gadis kecil itu tidak bisa tidur, ia hanya berbaring tanpa niat untuk menutup mata, Riana lalu melihat kearah gelang yang diberi oleh abangnya tadi.


Itu adalah gelang sederhana yang terbuat dari benang berwarna kecoklatan, dengan ukiran kayu di tengah bertuliskan "Mark/RI/Ridam" Gadis kecil itu memeluk gelangnya yang sudah terpasang di pergelangan tangannya, ia tidak akan melepaskan atau menghilangkan gelang ini.


Beberapa menit kemudian akhirnya gadis kecil itu bisa tertidur tenang, tanpa diketahui pintu kamar gadis kecil itu terbuka, terlihat Ridam menatap Riana sendu.


"Kakek tidak akan meninggalkan Riana, karena kakek tau Riana kamu belum siap sendiri."


"Tuan, apakah anda benar-benar ke rumah sakit sekarang? hari sudah malam Tuan." Bu Tejo berkata dengan pelan, ia tidak mau gadis kecil itu mendengarnya.


"Tidak apa-apa Tejo, sekarang kita harus memeriksanya lebih lanjut, dan aku harus bertanya kepada dokter, berapa lama aku hidup."


"Baik Tuan."


Ridam lalu menutup pintu kamar cucunya, ia berharap penyakitnya tidak menjadi lebih serius lagi, atau ia tidak akan bisa menjaga cucunya sampai dewasa.


Bu Tejo dan Kakek Ridam, mereka menuju ke rumah sakit dengan menggunakan bus, sesampainya di rumah sakit, mereka berdua menuju ruangan yang sudah melakukan janji dengan seorang dokter.


"Selamat datang kembali Kakek Ridam, saya tahu anda akan datang kesini untuk menanyakan penyakit anda lebih lanjut bukan?"


Kakek Ridam dan Bu Tejo disambut oleh seorang dokter laki-laki, ia terlihat muda dan menjanjikan, namanya Aldi, dia yang selama ini menangani penyakit kakek Ridam.


"Tejo, kamu menunggu di luar saja ya."


"Baik Tuan."


Setelah Bu Tejo keluar, kakek Ridam mulai menanyakan penyakit seriusnya.


"Dokter Aldi, apakah penyakitku tidak bisa disembuhkan lagi?"


"Kakek Ridam, kamu mengetahuinya hanya dengan obat-obatan itu tidak cukup, kamu harus dioperasi."


"Sekarang kanker lambungmu baru mencapai stadium awal, presentasi untuk keberhasilannya masih lumayan tinggi."


Mendengar penjelasan itu Ridam menggelengkan kepalanya, dirinya sudah tua jika melakukan operasi kemungkinan ia tidak akan kuat lagi, dan malah mempercepat kematiannya.


"Kamu tahu dokter Al, tubuhku sudah tidak kuat lagi, jika melakukan operasi pasti saya ditengah jalan sudah mati."


Mendengar hal itu Aldi mengerutkan keningnya, kakek Ridam memang sudah tua, ia tahu kakek Ridam sudah tidak kuat lagi untuk melakukan operasi.


"Tapi, kakek Ridam --"


"Tidak usah berdebat lagi, berikan saja obatnya, dan hidupku berapa lama lagi?"


"Anda memiliki hidup untuk 5 tahun atau 6 tahun, karena kanker anda baru stadium awal."


Mendengar hal itu Ridam tersenyum, ia tidak kecewa, melihat masih ada banyak waktu ia akhirnya bisa mengajari Riana, ia akan menempa Riana menjadi wanita kuat.


"Riana, kakek akan mewarisi semua ilmu kakek, Riana di masa depan jangan mengecewakan kakek, karena hanya kamu yang memiliki warisan kakek." batin Ridam.


"Baiklah dokter terimakasih atas pemeriksaan anda, saya akan kesini seperti biasa untuk melakukan check up."


Dokter Aldi memandang kakek Ridam dengan rumit, biasanya pasien akan berjuang untuk hidup, tapi melihat kakek Ridam yang begitu pasrah, Aldi hanya bisa menggelengkan kepalanya tanpa daya.


Orang yang datang pada akhirnya akan pergi, dan akan digantikan oleh yang baru, hukum alam memang seperti itu bukan?


...----------------...