
Istirahat kedua akhirnya tiba, jam menunjukkan pukul 12.30, tiba-tiba saja dirinya diseret secara paksa oleh sekelompok Leshila.
"Cupu, cepetan jalannya, lo lelet banget, atau sengaja biar dilihat guru?" kata Natalie.
"Enggak, engga..."
"Halah pake gagap segala, lo itu jawab pertanyaan guru aja cepet, jawab pertanyaan kita aja lama!"
Sesampainya di gudang, Riana di dorong sampai keningnya terbentur lantai, itu meninggalkan jejak kebiruan!
Riana meringis kesakitan, sedangkan 3 setan di depannya hanya tertawa puas melihat hasil karya mereka.
"Shila, sekarang kita apain nih?" sekarang tinggal Viranda yang bertanya, ia sedari diam karena malas berkata.
"Terserah kalian, tapi jangan sampai dia pingsan, setelah kalian puas baru giliran gua, penyiksaan tersakit selalu di bagian akhir."
Setelah mengatakan itu Shila duduk di kursi yang sudah ia siapkan, dia akan menonton bagaimana anak buahnya menyiksa mangsanya.
Shila dengan penuh minat menonton pertunjukan ini, di tangannya ternyata ada popcorn, menambahkan keseruan dalam dirinya.
"Baiklah, ayo Viranda kita buat nih cupu sadar siapa yang dia singgung."
Riana menggelengkan mencoba untuk menjauh, tapi dia tertangkap oleh Natalie, tangannya mulai diingat oleh tali.
Dengan senyum smirk, Viranda menampar Riana berkali-kali tanpa belas kasih, ia tidak mengindahkan permintaan mohon yang diucapkan oleh Riana.
"Berhenti ku mohon, ini sangat menyakitkan.."
"Akhhhh.."
"Sakit... berhenti, akhhhh."
Suara rintihan kesakitan terdengar di seluruh gudang itu, siapapun yang mendengar pasti akan merinding dibuatnya, karena tamparan Viranda benar-benar kejam.
Shila dan Natalie yang melihat hanya tersenyum senang, semakin memohon Riana semakin suka mereka untuk melakukan lebih kejam lagi, karena mereka suka menyiksa mangsa.
"Cukup Viranda, sekarang giliran, gua harus mengajarinya cara membela diri."
Natalie memang memiliki kemampuan bela diri, tapi itu hanyalah dasar saja, karena ia sudah ketahuan menyalah gunakan kemampuannya untuk menyakiti orang, jadi ia dikeluarkan dari perguruan.
"Bangun Riana, itu hanyalah tamparan saja, lo gak akan selemah ini bukan?"
Dengan susah payah Riana bangun dari duduknya, tangannya masih terikat, dengan seragam sudah acak-acakan, dan keringat, air mata mengalir deras, rambutnya juga berantakan.
Natalie menatap Riana tidak suka dengan penampilan seperti ini, karena Riana tidak terlihat jelek tapi malah terlihat semakin mempesona!
Walaupun wajahnya biasa-biasa saja, ia bisa menilai kalau tubuh cupu ini sangat bagus, membuat tangan Natalie gatal, ingin menyiksanya dengan cepat!
"Ckck, dengan tubuhmu ini pasti banyak pria yang tertarik bukan?"
Bagaikan sebuah peringatan berbahaya, Riana dengan waspada mundur dan melihat kearah Natalie dengan ketakutan.
"Ayo kita mulai."
Dengan sembarang, Natalie menendang Riana dengan tendangan menyamping, telapak kaki itu mengenai dada Riana, membuat gadis kecil itu terlempar kesakitan.
"Akhhhh, sakit! sakit."
Jurus andalan Natalie adalah tendangan, ia memiliki kekuatan lebih di kakinya dibandingkan kekuatan orang biasa, itu karena jurus kesukaannya, tendangan.
Natalie memandang kakinya dengan puas, latihannya membuahkan hasil, hanya satu tendangan saja sudah membuat Riana kesakitan, kekuatan kakinya berkembang!
Tidak hanya disitu, Natalie juga mulai menendang Riana di berbagai titik yang tidak ia sukai, Riana mengerang kesakitan akibat serangan Natalie.
"Akhhhh, Natalie ku mohon berhenti."
"Tulangku akan patah, akhhhh!"
Natalie menghentikan serangannya ketika Shila sudah memberikan kodenya untuk berhenti, ia lalu kembali ke tempat duduk dan melihat apa yang akan oleh Leshila Megantari.
Sekarang keadaan Riana sangat menyedihkan, dibagian kancing bajunya itu ada yang terlepas mengekspos sedikit tubuhnya, telentang dengan badan yang penuh kesakitan, belum lagi ia merasa wajahnya membengkak, gadis kecil itu yakin bahwa ia tidak bisa mengikuti pelajaran lagi.
Mendengar pertanyaan yang tidak bermutu itu, Riana menutup matanya sejenak menghela nafas, ia lalu berusaha bangkit walaupun tubuhnya sangat sakit.
"I'm always fine." mendengar kata itu, Shila tertawa terbahak-bahak.
"Bagus, lo akhirnya patuh, lo mau tahu apa keinginan gua, Riana?"
Shila mendekatkan dirinya pada Riana, ia lalu menggenggam kedua tangan Riana dengan tangannya, memandang mata Riana yang hitam suram.
"Bagaimana kalau lo jadi budakku, Riana apakah kamu pernah terpikirkan kata ini?"
Riana memandang ngeri kearah Shila, mereka baru duduk di bangku smp, apakah Shila benar-benar memiliki pemikiran seperti ini? seberapa jahat dia di pikirannya?
"Shila, kamu tidak akan berpikir seperti ini bukan? Shila kita berdua masih anak-anak."
Melihat gadis kecil itu mencoba membujuknya, Shila makin merasakan rasa ingin menaklukkan perempuan di depannya, ia sangat ingin Riana menjadi budaknya!
"Riana, lo udah mulai membantah ya.."
Dengan senyuman menariknya Shila melepaskan gelang yang dikenakan oleh Riana, yang ia ketahui gadis di depannya sangat menjaga gelang ini, bahkan jika dirinya terluka, ia tidak akan membiarkan gelang ini hancur.
Riana yang masih tidak merasa Shila melakukan apapun, akhirnya tersadar gelangnya, tidak ada lagi di pergelangan tangannya, itu di tangan Shila!
"Shila apa yang kamu lakukan? Shila cepat berikan gelang itu."
"Gua ngerasa lo menjaga banget gelang ini, gua mau ngancurin gimana ya reaksi lo?"
"Shila, aku mohon jangan ngancurin gelang itu, Shila aku mohon!"
Melihat Riana yang mencoba meraih gelangnya, Shila segera memberikan kode untuk Viranda dan Natalie memegang Riana.
Mereka berdua masing-masing memegang lengan Riana dengan kuat, membuat Riana tidak bisa apa-apa.
"Riana, lo harus memiliki reaksi yang sangat menghibur ya."
"Shila, ku mohon Shila, jangan."
"One, two, three."
"TIDAKKK."
Setelah hitungan ketiga, Shila menjatuhkan gelangnya di lantai, ia lalu menginjaknya dengan keras, walaupun tidak membuat kerusakan apapun, tapi itu cukup membuat hati Riana runtuh.
Riana menggunakan kekuatannya mendorong kedua orang yang membuatnya tidak berdaya, membuat Natalie dan Viranda jatuh mengenai lantai, kekuatan Riana sangat kuat, bahkan tali yang mengikat terlepas dari tangannya.
"Akhhhh, sialan lo Riana, awas lo."
"Riana anjng!"
Berbagai makian untuk Riana, tapi gadis kecil itu jelas tidak peduli ia hanya mulai mengambil gelang yang baru saja diinjak oleh Shila dengan keras.
Dengan hati-hati ia memeriksa gelang itu, tidak ada yang rusak, Riana dengan lega mulai memakainya lagi, gadis kecil itu memandang mereka dengan dingin.
Gara-gara mereka, gelang yang diberikan oleh abangnya hampir rusak, ia tidak bisa mentolerir lagi, ia harus memberi mereka sebuah pelajaran!
"Kalian begitu jahat! kalian bahkan berani menyentuh barang-barang ku!"
"Wow? ternyata cupu ini selama 3 tahun diam saja, akhirnya bersuara, bukankah itu menarik? kenapa kita tidak menghancurkan gelangnya lebih awal ya?"
Mendengar perkataan Shila, Riana memandangnya dengan penuh amarah, orang ini masih pemikiran seperti ini? ini benar-benar kelewat batas!
"Awas saja kalian." setelah mengatakan itu, Riana pergi meninggalkan gudang, dan menutup pintu dengan keras membuat 3 orang yang berada di dalam terkejut.
"Shila, apakah Riana akan membalas kita? dia terlihat menakutkan saat itu."
Shila hanya melirik mereka berdua dengan tatapan remeh, ia lalu mulai mengetik nomor dan mulai melakukan panggilan.
"Adikmu itu mulai melawan."
...----------------...