
Walaupun Riana sudah mencapai jalan raya, ia masih bingung kemana arah jalan pulang, sebab ia tidak pernah lari pagi seperti ini, dan ia juga tidak pernah lewat tempat ini.
Ia lalu berjalan kearah yang dia ingat, walaupun tidak tahu kemana ia masih samar-samar ingat kemana arahnya.
"Kenapa kak Elf, ngelakuin hal seperti itu? seberapa benci dia padaku? apakah kita tidak bisa berdamai lagi?" dalam hatinya Riana mengeluh tentang perilaku kakak perempuannya.
Jalan raya begitu sunyi mengingat ini masih sangat pagi, tentu masih tidak ada orang yang berlalu lalang untuk melakukan aktivitas.
Riana merasakan hawa dingin yang menusuk tulang, tidak bisa dipungkiri ia masih merasakan keberadaan mereka di sekitar, tapi ia tidak peduli sebab energi yang ia rasakan sangat jahat, ia tidak bisa menyinggungnya!
Tapi suara motor yang familiar membuat Riana berhenti sejenak, ia lalu melihat kearah depan dengan baik-baik, sebab ada kabut di depannya membuat ia tidak bisa melihat apapun.
Gadis kecil itu berharap bahwa itu adalah abangnya, tidak bisa dipungkiri kakaknya selalu ada setiap ia membutuhkan sesuatu, membuat gadis kecil itu sangat bergantung kepada kakak laki-lakinya.
"Riana!" Gadis kecil itu mengerjapkan matanya tidak percaya, ternyata benar dugaannya bahwa itu abangnya, dan ia melihat bang dark juga ikut.
Hanya mereka berdua, Riana mengusap lagi bagian keningnya yang berdarah, itu sudah keras dan akan sakit ketika bekas darahnya di hilangkan. tangannya juga sudah tidak sakit lagi.
Walaupun tubuh gadis kecil itu lemah, tapi penyembuhan terhadap tubuhnya juga cepat, mungkin karena tubuhnya lemah Tuhan memberinya berkat seperti itu.
"Riana kening kamu kenapa?!" Mark melihat gadis kecilnya yang tergores, tapi disekitar juga ada darah yang sudah mengeras!
"Itu tadi aku jatuh, gak sengaja kena, hehehe." Melihat adiknya yang berbohong, Mark mencengkeram bahu Riana dan menatap gadis itu dengan mata tegas, Riana harus jujur!
"Riana harus jujur sama abang, kalau mau jujur gak akan marah sama Riana, abang akan bangga karena Riana mau jujur." Mendengar pernyataan itu dari abangnya, Riana memeluk abangnya penuh air mata.
Dia yang selalu menjaganya, dia yang selalu mendukungnya, dan dia juga yang selalu ada setiap membutuhkan, membuat Riana selalu bisa melampiaskan semua emosi terpendamnya.
Setelah menarik nafas tenang Riana mulai menceritakan semuanya, tanpa ditambah apapun atau dikurangi, lagipula Riana mempercayai kakak laki-lakinya.
Darka yang mengetahui itu, mengangguk ringan ia jadi tahu apa sebabnya Mark pilih kasih terhadap adiknya, dia benar-benar tidak menyangka Elfi yang sudah beranjak dewasa, akan memiliki pemikiran kejam seperti itu, apalagi itu masih keluarganya, Darka hanya bisa berdoa dalam hatinya, semoga Elfi menjadi gadis baik di masa depan.
"Sekarang kita pulang, Riana gak usah takut sama kak Elf ya, biar abang yang ngurusin."
Setelah mengatakan itu, suara motor terdengar dari dekat, Jevano dan Cakra ternyata datang juga, Riana merasakan tidak nyaman akan hal itu karena bertemu mereka dengan keadaan seperti ini, ia bersembunyi dibelakang abangnya.
Mark yang mengetahui itu hanya mengusap kepala gadis kecilnya dengan lembut, ia selalu tahu apa yang ada di pikiran Riana, langkahnya mudah ditebak.
"Hoam, sumpah lo Mark telfon-telfon langsung bikin kita panik aja, untung Riana udah ketemu." Jevano berkata dengan malas, ini masih pagi yah walaupun tidak terlalu pagi juga.
"Sorry bro, gua takut Riana kenapa-kenapa, jadi ngerepotin kalian."
"Gapapa Mark, lagipula adik lo juga penting bagi kita juga, adik lo adik kita juga." Cakra dengan bijaksana berkata seperti itu, untuk membuat Mark merasa nyaman, langkahnya tidak salah hanya waktunya yang salah.
"Yaudah kita balik, kita juga sekolah dan kerja." Darka dengan cepat menyadarkan suasana yang tidak menyenangkan ini.
Lalu mereka berlima kembali ke tempat masing-masing, ketika mereka berada di rumah hari sudah lumayan siang, sedikit terlambat untuk masuk ke sekolah tapi tidak apa-apa bagi mereka kecuali Riana.
Kening Riana sudah diobati oleh abangnya, untuk sementara mereka berhenti di tempat apotik, membuat Riana menjadi terlambat ke sekolah, matahari sudah menunjukkan sinarnya, tentu ia tidak mau untuk dihukum karena terlambat.
"Riana! Bukannya sekolah kamu malah bolos begini! apa ibu pernah ngajarin kamu seperti ini?!"
Ivanna Lezira, tanpa bertanya apapun langsung menyalahkan anaknya, membuat Mark mengepalkan tangannya mencoba mengendalikan emosi.
"Ini bukan salah Riana, tapi itu salah Elfi!"
"Apa maksudmu Mark? Elfi gak mungkin ngelakuin itu, ibu tahu bagaimana sifatnya!"
Melihat ibunya tidak percaya, Mark mencibir dalam hatinya, ibunya memang sangat menyayangi adik perempuan itu.
"Gak percaya? Mark gak mau ngomong panjang lebar, karena setiap penjelasan ibu selalu menyangkalnya, tidak heran dia bersikap seperti ini, karena ibu terlalu menyayangi dia!"
Ivanna terdiam sejenak, melihat hal itu Mark menyeret Riana untuk pergi meninggalkan ibunya, ia tidak peduli lagi dengan ibunya, bicara tentang kelakuan anak kesayangannya membuat wanita itu tidak pernah percaya padanya.
"Abang, emang gapapa ninggalin ibu?"
Pertanyaan polos Riana membuat Mark mengelus kepalanya, ia lalu membiarkan Riana berbaring istirahat.
"Gapapa, biar abang yang ngurus, kamu hari ini gak usah sekolah, abang udah ijin sama guru kamu."
"Ya, Riana akan mendengarkan abang."
Melihatnya sudah tertidur tenang, Mark meninggalkan kamar Riana menuju kamar Elfi, ia tahu kali ini Elfi pasti bolos lagi, karena memang anak itu lebih sering tidak berangkat sekolah daripada berangkat sekolah.
"ELFI LEZIRA SEVILLA." sebuah teriakan menggelegar di kamar Elfi, membuat gadis itu terperanjat kaget melihat abangnya sangat marah.
"Apa? gak usah teriak-teriak, telingaku masih berfungsi."
Deru nafasnya naik turun, dengan wajah menggelap, matanya menampilkan kemarahan yang tidak pernah ia keluarkan membuat Elfi merinding melihat abangnya.
"Seberapa benci lo sama adik gua? Ingat ya lo, sekali lagi nyentuh adik gua, Elfi Lezira Sevilla gak akan pernah tenang!"
Mendengar kakaknya memakai bahasa tidak baku pada dirinya, membuat Elfi terkejut, pasalnya Mark selalu menggunakan bahasa baku kepada keluarganya.
"Abang benci banget ya sama Elfi? aku juga ngelakuin itu karena Abang, kenapa gak menyayangi Elfi? kenapa hanya Riana aja? lagipula Elfi juga adiknya abang kan?!"
Mendengar hal itu Mark tertawa keras, ia benar-benar merasa lucu kalau ternyata adiknya masih tidak mengetahui kenapa ia lebih menyayangi Riana.
Tawanya begitu menakutkan, membuat Elfi berinisiatif mundur mengambil langkah untuk menjauhi dirinya dan menjaga jarak.
"Gua gak akan suka sama lo kecuali sikap lo berubah, lo bener gua sekarang semakin membenci lo dibandingkan dulu, Elfi Lezira Sevilla."
Ketika hal yang diperlukan sudah selesai, Mark meninggalkan kamar Elfi, meninggalkan sebuah ketakutan kepada gadis kecil itu di dalam hatinya, lagipula sikap Elfi kali ini sangat keterlaluan, membuat ia tidak bisa mentolerir lagi.
...----------------...