My Alter Ego Girl

My Alter Ego Girl
Leshila Megantari



-8 Tahun Kemudian-


Mata Riana yang mengingat masalalu mulai terbuka, mata gadis itu menunjukkan kesunyian, tidak ada jejak kesenangan apapun, hanya tatapan kosong tanpa perasaan.


Ia lalu menggoyangkan gelang yang diberikan abangnya dulu, itu masih melekat sampai sekarang, Riana segera beranjak malas dari tidurnya mengingat waktu sekolah akan tiba.


Melihatnya dirinya sudah siap, Riana membuka pintu kamarnya, ia dapat melihat keluarganya yang sudah bertambah usia, sikap keluarganya masih sama seperti dulu ketidakpedulian, Riana juga tidak mengharapkan sebuah perhatian.


"Ibu, ayah, adik, kakak, Riana berangkat dulu ya."


Hening


Riana mengencangkan pegangannya pada tas, ia lalu berbalik pergi untuk berangkat sekolah, gadis itu sekarang sudah menginjak seragam sekolah menengah pertama, biasa disebut smp.


SMPN 2 PUNAKAWAN


itulah namanya, setelah Riana tiba di gerbang sekolah, jarak rumah dan sekolah memang sangat jauh, itu sekitar 4,3 km tapi Riana dihadiahkan motor oleh abangnya, jadi dia selalu cepat sampai sekolah.


"Udah kelas 9 kamu Riana, gak pernah punya teman." dalam batinnya Riana menghela nafas, ia benar-benar tidak tahu bagaimana caranya bersosialisasi, lagipula kalau mereka tidak mau mendekatinya Riana harus apa? begitulah pemikiran gadis kecil ini.


Riana berjalan melewati para siswa-siswi yang memandang dirinya dengan kepala menunduk, gadis kecil itu selalu seperti itu, ia tidak memiliki sebuah rasa percaya diri, penampilan juga terlihat biasa-biasa saja, tidak pernah tersenyum kecuali senyum paksa, dan gadis ini memang tidak menarik sama sekali, kecuali otaknya.


Riana memiliki nilai tinggi di sekolahnya, membuat ia sering menjadi bahan sasaran para guru untuk menjawab pertanyaan, membuat Riana harus siap secara mental jika jawabannya salah.


"Heh, akhirnya si cupu datang juga lo." suara itu yang membuat sekolah Riana di smp, menjadi tidak menyenangkan, mereka selalu membullynya, Riana juga tidak berani angkat suara kepada guru, membuat mereka semakin merajalela untuk membullynya.


Leshila Megantari, ketua geng dari pembullyan Riana, ntah ada dendam apa tapi Leshila selalu memerintah anak buahnya untuk selalu membully Riana, gadis kecil itu juga selalu diam saja ketika dibully membuat Leshila semakin puas.


"Shila, kita apain nih cupu?" yang bertanya itu Natalie Faradiba, disampingnya ada Viranda Azrani.


Mereka bertiga adalah orang-orang yang mendominasi sekolah angkatan Riana, mereka juga sering mencari masalah dengan para guru, tapi ntah ada kekuatan apa mereka tidak dikeluarkan dari sekolah, padahal tindakannya cukup kurang ajar.


"Kita kurung aja dalam gudang, lagipula sebentar lagi pelajaran wali kelas kita."


Mendengar hal itu mata Riana terkejut, wali kelas mereka adalah tipe guru yang tidak suka, anak muridnya tidak ada yang masuk di kelas, bahkan Shila dan gengnya pernah dihukum karena ini, apalagi Riana?


"Shila, aku mohon jangan Shila, aku bakal nurutin apa kemauan kamu asal kamu jangan ngelakuin ini."


Riana adalah orang pengecut, ia tidak berani melawan yang kuat, dengan wajah memelas ia memohon kepada Leshila, padahal mereka adalah manusia yang masih sama-sama numpang di kehidupan orangtunya! lantas apa yang perlu ditakutkan?!


Leshila tersenyum remeh melihat Riana yang memohon kepada dirinya, semakin dia memohon kepada dirinya, semakin bagus hasil kerjanya.


"Kamu benar-benar ingin menuruti semua kemauan ku? baiklah kalau begitu, sampai jumpa di istirahat kedua."


Melihat mereka bertiga sudah pergi, Riana mengusap air matanya yang menetes, gadis kecil itu melihat banyak siswa-siswi yang melihat tapi tidak ada yang menolongnya, dari mimik wajah mereka ia tahu, kamu harus bisa menolong diri sendiri karena nyatanya kamu hidup sendiri.


Riana kembali ke bangkunya dengan tenang, masih sama seperti dulu ia tidak memiliki teman bangku, karena Riana tidak tahu bagaimana caranya memulai bersosialisasi, rasanya setelah dibully gadis kecil itu merasa bahwa ia tidak bisa lagi berteman dengan orang-orang di sekolah ini.


Bel masuk dimulai, Riana dengan cepat menyiapkan buku pelajaran yang diperlukan, tapi apa yang dilihat di tasnya tidak ada buku pelajaran!


"Yang tidak bawa buku pelajaran segera maju ke depan!"


Itu adalah suara wali kelasnya yang menakutkan, Riana menarik nafasnya dan mulai ke depan, terlihat seluruh orang sedikit terkejut melihat Riana yang tidak membawa buku pelajaran, hei dia adalah gadis yang dikenal rajin, mana mungkin tidak membawa!


"Riana Amelia Lestari! beraninya kamu tidak membawa buku pelajaran di jam saya, kamu cepat berdiri di depan dan catat semua materi di otak kamu, kembali tulis ulang saat istirahat dan setelah pulang sekolah kamu ke kantor saya."


"Tapi Bu Syahla--"


"Masih mau membantah?"


Riana tidak lagi membantah, ia lalu berdiri di depan dan mulai menyimak pelajaran yang diajarkan wali kelasnya.


Mata Riana menangkap tangan Leshila yang melambai, ia lalu melihat buku pelajarannya ada di tangan Leshila!


"Leshila, kamu benar-benar keterlaluan." Riana memejamkan matanya mulai mengatur emosinya, ia tidak pernah menyangka bahwa Leshila pelakunya.


Selama 3 tahun, Riana bungkam dengan perbuatan Leshila tapi baru kali ini Leshila menggunakan guru sebagai hukumannya, biasanya Leshila tidak akan melakukannya, ia hanya sering menggunakan fisik.


Riana bisa dibilang anak ambis, jika gurunya mulai memandang dirinya setengah mata karena Leshila, ia tidak bisa menahannya untuk tidak menyakiti Leshila, jika pada saat itu tiba ia harus melawan Leshila, ia harus membayar semua perbuatannya selama 3 tahun ini.


"Riana, beraninya kamu tidak menyimak penjelasan ibu!"


Suara amarah segera menyadarkan Riana dari halusinasinya, yah halusinasinya, kepribadian dia pengecut bagaimana bisa melawan Leshila?


"Maaf, Riana cuman lagi berpikir pertanyaan yang ibu ajukan."


"Oh, apakah kamu sudah mendapatkan jawabannya?"


Riana bungkam, ia lalu menggelengkan kepalanya bahwa ia tidak bisa menjawab, lagipula ia tidak memikirkan pertanyaan itu.


"Riana, kali ini ibu maafkan sekali lagi kamu tidak menyimak, ibu akan tambahkan hukuman kamu."


"Baik Bu."


Melihat Riana yang sudah patuh, Bu Syahla melanjutkan pengajarannya, sedangkan Leshila yang berada di barisan paling belakang, hanya bermain ponsel acuh tak acuh, ia tidak peduli kalau ditemukan.


Riana yang melihat hal itu, hanya bisa menggenggam lipatan roknya dengan tangan terkepal.


"Lihatlah Riana, kamu dan Leshila terlihat berbeda bukan? kamu begitu ketakutan, sedangkan Leshila terlihat sangat tenang, bahkan ia tidak peduli jika ditemukan sedang bermain ponsel, apakah kamu benar-benar bisa melawannya?"


Batin Riana berkecamuk, ntah kenapa ia semakin merasakan perbedaan keduanya, Riana yang ingin melakukan perlawanan seketika dibuat ciut oleh keberanian Leshila.


Riana segera menyimak dengan baik, ketika mata bu Syahla melihatnya, ia tentu tidak mau hukumannya bertambah, lagipula hukuman ini sudah kejam bagi dirinya, ia harus mencatat ulang padahal pelajaran ini adalah pelajaran matematika!


Gadis kecil itu hanya bisa berdoa, semoga dia bisa melewati hari ini dengan baik dan lancar, tanpa ada masalah apapun.


...----------------...