My Alter Ego Girl

My Alter Ego Girl
Dia yang dirindukan



"Tapi gua gak percaya sama lo." seru Damar.


Lyandra mengendikkan bahunya merasakan tatapan tajam Damara dengan mata masih fokus ke ponselnya.


Merasakan Lyandra mengabaikannya, Damara tidak marah sama sekali tapi dia hanya melemparkan sepotong jeruk yang masih sisa kepada Lyandra, tapi Lyandra menangkapnya dengan tepat membuat Damar mendengus kesal.


Lyandra mendapat sepotong jeruk memakannya tanpa peduli tatapan Damar, terlihat terkejut.


"Terimakasih atas makanannya Tuan muda Siregar, ngomong-ngomong saya akan pergi pulang dan besok lo akan gua jemput."


Memasukkan ponselnya ke dalam celananya, perlahan-lahan bangun dari sofa, mengucapkan sampai jumpa kepada Damar.


"Sampai jumpa Tuan muda Siregar, saya akan menghubungi nomor anda besok, oh iya jika anda tidak jadi mencari kos-kosan anda bisa menghubungi saya, lewat kartu nama ini."


Gadis itu menyerahkan kartu namanya dengan tersenyum tipis yang diterima enggan oleh Damar, saat Lyandra membuka pintu terdapat seorang pria berpakaian hitam, dilihat dari pakaiannya sepertinya itu adalah orangnya Damar.


Tidak mau melihat banyak hal lagi dengan segera gadis itu berlalu pergi, pria itu hanya melirik Lyandra pergi dari tempat itu setelahnya mendekati Damara.


"Tuan, kemana kita akan pergi? Suasana rumah Tuan sedang tidak baik-baik saja untuk ditinggali oleh Tuan." Katanya hormat dengan sedikit membungkuk kepada Damara sebagai salam, Damar melambaikan tangannya menerima salam itu.


"Mereka tidak akan bertahan lama di sana, mereka tidak tahu bahwa semua warisan kakek sudah ada ditangan ku, sebelum itu aku ingin tenang disini, biarkan mereka melakukan pekerjaan yang sebenarnya bukan milik mereka." Ucap damar sedikit mengerutkan alisnya, mata dingin itu tidak lagi bersembunyi,


Pria itu hanya menghela nafasnya melihat sikap tuannya, seperti biasa dia tidak pernah berubah dari dulu, pria itu adalah asisten pribadinya Damar sejak Damar kecil hingga saat ini dia selalu di sisinya, kesetiannya tidak terbatas.


"Itu terserah kepada anda Tuan."


Kembali kepada Lyandra yang menguap keras melihat adik tersayangnya Riana menghalangi jalan menuju kamar, Anggara menatap dingin kearah kakaknya yang bersikap kepada dirinya tidak seperti biasanya.


"Kakak, kenapa kamu tadi tidak mengindahkan panggilan ku? Bukankah kamu selalu menuruti semua permintaan ku?!" Kata Anggara angkuh, dia juga mengetukkan kakinya ke tanah, gayanya seperti preman yang sedang memalak uang itu di mata Lyandra.


Menghadapi anak kecil seperti ini Lyandra tidak ingin berdebat, dia pasti akan mengadu kepada orangtuanya dan namanya menjadi lebih jelek, dengan wajah tersenyum Lyandra menabrak bahu Anggara yang menghalangi jalannya, Lyandra berlalu pergi tanpa menjawab pertanyaan Anggara.


Anggara mengepalkan kedua tangannya, dia menatap tajam melihat kepergian kakaknya, segera ia juga pergi dari tempat itu.


Sesampainya di kamar gadis itu meregangkan tubuhnya lalu membaringkan dirinya di ranjang, rasa nyaman mulai merilekskan otot-ototnya tegang, Lyandra menatap langit-langit kamarnya dan berkata dengan lirih.


"Identitas Damar benar-benar tidak biasa, tadi dia dikejar sama sekelompok gangster, pasti dia nyinggung salah satu orang yang kuat di sana, semoga aja para gangster itu gak nyari gua atau enggak waspada aja tuh Damar."


Mengangkat satu tangannya keatas dia mengepalkan tangannya siap untuk meninju orang, Lyandra tertawa kecil melihat tindakannya yang kekanak-kanakan.


Sebuah dering ponsel menyela tindakannya, itu adalah sebuah pesan masuk dari dia membuat hati Lyandra yang tenang bergetar kembali, walaupun sebenarnya itu hanya mengirim informasi orang-orang yang bertemu dengannya, tapi itu benar-benar membuat hati Lyandra merasa lega, orang yang dirindukannya masih aman.


Damara Mahendra Siregar, Tuan muda pertama dari keluarga Siregar yang terpandang, sebenarnya keluarga Siregar saat ini sedang tidak baik-baik saja, ada banyak pengkhianat di dalamnya membuat keluarga Siregar semakin hari semakin melemah.


Kakek dan nenek dari keluarga Siregar sudah meninggal akibat dari tragedi pengkhianatan itu, ayah dan ibu dari keluarga Siregar juga sudah meninggal, keluarga Siregar hanya memiliki dua putra yang pertama Damara Mahendra Siregar, dan yang kedua masih tidak diketahui keberadaannya.


Sekarang keluarga itu dikuasai oleh pamannya Damara, sebab orang itu adalah pelaku utama dalam tragedi terjadinya pengkhianatan itu, Pamannya bernama Bara dia tidak memiliki istri ataupun anak, dia hanya bujang tua yang melajang.


Saat ini Tuan muda pertama Siregar sedang mencoba untuk memberontak dengan memasuki dunia gangster, dia sedang mencari pijakan disana untuk bisa melawan pamannya nanti, tapi nasib Damara masih tidak baik-baik saja, dia di gangster menyingung banyak musuh menyebabkan Damara harus sembunyi terlebih dulu dari dunia gangster.


Gangster yang Damara singgung sebenarnya adalah orang dari pamannya, Damara tidak tahu ini tapi dia masih menebak-nebak, sekarang Damara tidak bisa apa-apa kecuali dia mau merebut posisi kepala gangster yang memburunya, maka dia akan mendapatkan pijakan, ini adalah peraturan di dunia gangster itu sendiri.


Tapi Bara tidak tahu bahwa kekuasaan yang ia pegang sebenarnya sudah ada ditangan Damara, itu karena ada seseorang yang membantunya untuk mengalihkan kekuasaannya tapi pijakan di dunia gangster masih tidak baik-baik saja, karena Damara harus bekerja keras sendiri.


Lyandra menggenggam seprai dengan erat, ia terkejut dengan semua informasi ini, dia tahu mendapatkan informasi ini benar-benar harus hati-hati, gadis kecil itu tidak tahu bahwa orang yang dia rindukan adalah orang yang benar-benar tidak bisa disinggung oleh siapapun.


"Sebenarnya apa identitas dia? Bagaimana bisa dia mendapatkan informasi sedetail ini?!" Seru Lyandra masih melihat nomor itu yang sudah tidak aktif lagi, setelah mengirim pesan itu.


Sedangkan di sisi penghujung nomor itu, ada seseorang yang menatap pesan yang sudah ia kirim sendiri dengan dingin, tapi orang yang disampingnya berkeringat melihat orang itu masih menatap panselnya.


"Tuan, kita masih memiliki beberapa pertemuan dengan orang-orang anda." Asisten itu mengingatkan setelah sekian lama hening.


"Apakah mereka masih berada di posisi yang sama?" Cibirnya dengan mata masih fokus terhadap ponsel, mata tanpa dasar itu benar-benar tidak ada emosi apapun kecuali kedinginan yang terasa.


"Mereka masih berada di posisi yang sama Tuan, sesuai keinginan mereka, dan mereka ingin berterimakasih kepada anda."


Melihat nomor itu sudah tidak aktif, orang yang dipanggil Tuan itu segera bangkit dari duduknya pergi dari tempat itu segera, dan asisten itu segera mengikuti dengan baik.


Ponsel yang ia pegang segera dimasukkan ke dalam saku bajunya, seperti merawat sesuatu yang berharga, itu karena ada nomor dia di ponsel ini.


"Sediakan banyak minuman, makanan, dan beberapa pisau." Serunya tenang dengan ekspresi dingin yang tidak berubah.


Asisten itu dengan baik mengangguk ringan, ia lalu mulai menelepon dan mengikuti perintah dari tuannya.


"Kita lihat sudah berapa lama mereka tumbuh."


Mendengar hal itu asisten yang dibelakangnya hanya merinding dengan wajah terpaksa senyum, tuannya ini benar-benar kejam tanpa perasaan, daripada yang ia lihat tadi ketika sibuk dengan ponselnya, auranya berbeda.


...----------------...