My Alter Ego Girl

My Alter Ego Girl
Hari sial Lyandra



-Beberapa menit kemudian-


"Kenapa lo terus natap gua anjir? Lo manusia normal kan?"


Lyandra yang akhirnya merasakan risih menyerah kepada Indri yang hanya diam dan terus menatapnya, ini adalah kekalahan kedua Lyandra setelah dia.


"Yakali gua bukan manusia normal anjir, gua cuman pengen kita berteman gitu, mau gak?"


Mendengar jawaban yang tidak terduga Lyandra menjauh dari Indri, sepertinya manusia satu ini sangat tidak baik didekati! Ingin menjadi temannya? Itu hanyalah mimpi oke?


"Dalam mimpimu saja, buat apa kita berteman? Kenapa lo ngajak gua berteman? Lagipula gada interaksi apapun tiba-tiba ngajak kek gitu kan aneh." Mendengar jawaban Lyandra Indri tidak merasa tersinggung, sebaliknya dia semakin mengajak Lyandra untuk berteman.


"Ayok berteman ma gua, jamin deh lo gak bakal rugi berteman sama gua, soalnya gua tertarik sama lo njir!"


"Hah? Tertarik ma gua? Lo gak normal ya? Jangan-jangan suka sesama perempuan?!"


Melihat Lyandra semakin memfitnahnya Indri segera mengklarifikasi hal tersebut, yang benar saja dirinya tidak normal? Walaupun ia mengakui bahwa ia memang tidak normal, tapi bukan dalam hal seperti itu!


"Lo jangan fitnah gua ya, mana ada gua gak normal! Yah walaupun gak pernah pacaran ataupun deket ma laki-laki, tapi gua normal!"


"Tapi gua gak yakin tuh, katanya lo suka sama loli yang gemes-gemes gitu, lo tante-tante pedo ya?"


Rasanya Indri ingin berkata kasar kepada bocah satu ini, kenapa pemikiran dia sampai ke situ? Walaupun ia juga tidak menyangkal bahwa ia suka loli tapi itu masih kategori khusus, dan bagaimana anak ini mengetahuinya?!


"Darimana lo mengetahuinya? Anjir, orang di geng motor aja pada gak tau!"


"Apa sih yang gak gua tau? Gua tau semuanya, bahkan orang yang dekat sama lo dan rahasia lo gua tau semuanya."


Seketika Indri memandang Lyandra bingung, bagaimana caranya dia mengetahui semua tentangnya? Bahkan orang-orang terdekat di geng motor dengannya tidak tau sama sekali.


"Gak usah bingung, anggap aja itu impas akibat lo mencari tau tentang gua, lo tau nama gua gak?"


"Gua tau nama asli lo, Riana Amelia Lestari kan?"


Gadis kecil itu mengangguk ringan ketika Indri menyebut namanya, ia yakin Indri pasti sudah mencari tahu semuanya, tapi Lyandra memiliki koneksi dengan orang itu, jadi dia selalu mengetahui semuanya.


Di hatinya Lyandra menebak bahwa info yang didapatkan Indri pasti dari orang itu, kalau tidak apakah dia bisa mendapatkannya? Tentu saja tidak sebab orang itu sudah melindungi datanya dari berbagai sumber yang mencari tau.


Memikirkan dia membuat hati Lyandra tidak bisa tenang, kita sudah lama terpisah kapan dia akan menemuinya?


"Heh jangan melamun lo, kesambet tau rasa."


"Hm, btw mau lo apa sih?"


Berulangkali Indri mendengar kata itu dari Lyandra membuat ia berdecak kesal, dia bertanya berulangkali dan sangat tidak mempercayai dirinya, itu benar-benar menyebalkan.


"Lo udah nanya pertanyaan sama berulangkali, gua udah jawab berulangkali, dan lo gak akan percaya sama gua berulangkali."


Melihatnya sangat kesal pada dirinya Lyandra mengangkat bahunya tidak peduli, dan tindakan itu benar-benar memancing emosi Indri tapi itu hanyalah sesaat, akhirnya Indri menyerah dan menjawab pertanyaan sama dengan jawaban sama.


"Kan sudah gua bilang, gua pengen berteman sama lo anjir!"


"Besok lo akan tahu jawaban gua."


Tapi sepertinya aura Indri tidak baik-baik saja, bayangkan dia sudah dengan sabar menjawab pertanyaan sama walaupun sudah tau jawabannya, dan dia masih perlu menunggu?!


"Lyandra ini ternyata pandai memancing emosi orang." Batinnya kesal dengan cepat ia pergi dari situ, jalan yang Indri lalui berbeda dengan Lyandra lagipula Indri sudah puas mengganggu bocah itu, walaupun akhirnya tidak menyenangkan.


Dalam perjalanan menuju rumah Lyandra memikirkan kemauan Indri, tidak bisa dipungkiri dia juga ingin bagaimana rasanya berteman walaupun di geng Leo dia merasa memiliki teman tapi itu perasaan partner bukan murni ingin berteman.


Sejujurnya setelah sekian lama dia berada di tubuh Riana, baru kali ini ada yang mengajaknya berteman menggunakan identitas Lyandra, jadi itu tidak heran lagi kalau Lyandra memikirkannya.


Tapi perasaan untuk waspada benar-benar tidak bisa ia hilangkan sebab hidupnya ini akan tidak mudah, apalagi kalau berteman sama orang yang dunianya sama dengannya itu akan semakin menjerumuskan lebih dalam lagi.


Karena tidak memperhatikan jalannya Lyandra menabrak seseorang yang sedang berlari cepat, tapi beruntung mereka berdua tidak jatuh ke tanah, masing-masing hanya merasakan sakit di bagian tertabrak itu saja.


"Eh, gua gak lihat jalan, sorry ya."


Laki-laki itu tidak menggubris hanya sibuk mengusap bagian yang sakit, Lyandra yang merasa tidak dipedulikan segera pergi dari situ, tapi sebuah tangan menariknya ke dalam suatu tempat, mereka bersembunyi.


Sebelum Lyandra mengeluarkan suaranya ingin berbicara, laki-laki itu sudah mengode untuk tetap diam membuatnya tidak ingin berbicara.


"Dimana dia njir? Cepat banget kaburnya."


"Gak tau bos, lebih baik kita berpencar untuk mencari tau."


"Ide bagus tuh, segera buat kelompok dan berpencar untuk mencari! Kalian tidak menemukannya keluarga kalian saya eksekusi."


Mendengar ancaman yang begitu menakutkan dari bosnya, dengan segera kelompok itu membagi kelompok dan mulai berpencar, mereka tentu tidak mau keluarga mereka di eksekusi.


Melihat kelompok yang berpakaian seperti gangster sudah pergi, laki-laki itu melepaskan pelukannya yang kebetulan mereka bersembunyi dengan posisi itu, membuat Lyandra mendengus kesal.


"Lo yang bermasalah kenapa narik gua buat ikutan sembunyi woy? Soal tadi kan gua udah minta maaf!"


Melihat perempuan di depannya marah-marah, laki-laki menjawab dengan nada mencibir.


"Lo udah nabrak gua, dan gua hampir ketangkap sama mereka, seharusnya lo tanggung jawab."


"Tanggung jawab gimana?! Gua gak hamilin lo."


"Sembarangan, lo harus obati luka gua! Gara-gara lo luka gua makin parah."


Lyandra memijat pelipisnya ia merasa stress dengan semua ini, belum lagi Indri yang memintanya untuk berteman sekarang bertemu lagi masalah, dengan laki-laki yang terlihat dari penampilannya sih laki-laki bermasalah, memintanya untuk mengobati dirinya, Lyandra saja tidak bisa mengobati luka!


Setiap luka yang di dapat Lyandra akan diobati oleh Riana, dengan itu Lyandra tidak repot-repot lagi untuk belajar cara mengobati luka, kebetulan dia juga malas belajar.


"Kalau gua gak bisa mengobati orang, terus apa tanggung jawab gua?"


Laki-laki itu seketika memandang Lyandra remeh, soalnya ini agak lain, bagaimana mungkin perempuan tidak bisa mengobati luka? sedangkan yang dipandang mendelik tidak suka kepada laki-laki di depannya.


"Yaudah lo nyari kos-kosan buat gua di daerah sini, gua bukan orang sini dan selama penyembuhan lo harus ngerawat gua, itu tanggung jawab lo."


Gadis kecil itu tidak menjawab hanya memandang tajam kearah laki-laki itu, apa maksudnya merawat? Apakah dia dijadikan bahan pembantu? Tidak mungkin, sepertinya hari ini memang hari sial Lyandra!


...----------------...