
Karena sudah tidak kuat lagi Lyandra dengan cepat memukul dada kirinya, seketika identitas mereka berubah menjadi Riana, membuat Riana mengusap air matanya yang mengalir.
"Dia itu berubah di keadaan seperti ini, dia mau membunuhku? disini banyak orang jahat woy!" batinnya tidak senang.
Seketika Riana merasakan hawa dingin menyelimuti dengan samar-samar angin tertiup, mereka juga ada disekitarnya membuat Riana menggigit bibirnya untuk tidak berteriak ketakutan.
"Sial, awas aja nanti ku marahin si Lyandra, bisa-bisanya dia ngerubah identitas pada saat situasi seperti ini!"
Riana hanya bisa berbicara dalam hatinya lagipula ia masih waspada terhadap sekitar, takut bertemu orang jahat yang sangat menganggu.
Gadis kecil itu lalu kembali berjalan ke depan dengan kosong, ia mencoba mengingat jalan-jalan yang tadi Lyandra lalui.
Tidak butuh waktu lama untuk seorang Riana tersesat, sebab Riana menjadi lupa jalan mana yang di lalui, ditambah banyak mereka disekitarnya membuat energi Riana semakin tersedot, dan tubuhnya menjadi lemas.
Gadis kecil itu dengan sangat menyedihkan mencoba menguatkannya dirinya, disini ia tidak bisa terlihat lemah apalagi ini dunianya Lyandra, jika Lyandra terlihat lemah itu akan sangat fatal akibatnya.
"Anda membutuhkan bantuan nona?" mendengar suara orang, membuat Riana seketika merinding.
"Darimana orang ini datang?! kenapa aku tidak bisa merasakan keberadaannya? tapi dia seharusnya bukan hantu kan?" batin Riana bertanya-tanya.
Gadis kecil itu berdehem mencoba meredakan tenggorokannya yang kering, Riana lalu mencoba bersifat seperti Lyandra walaupun dalam hatinya sudah ketar-ketir takut salah bertindak.
"Gua lupa jalan, lo bisa nunjukin jalan?" tanya Riana mencoba mendatarkan wajahnya dengan bersikap tenang.
Tapi lawan bicaranya ternyata seorang yang tidak bisa menampilkan raut wajah, ia hanya berwajah datar dan membalas perkataan Riana dengan tenang.
"Gua hafal di jalan ini, lo seharusnya anggota geng Leo kan?"
Riana membeku sejenak memandang orang di depannya dengan memicingkan mata, ia menatap curiga kearah orang tersebut.
Sedangkan yang mendapatkan respon seperti itu dari Riana masih tetap datar seperti biasa, rautnya tidak menampilkan wajah panik atau apa, sungguh orang aneh.
"Tidak perlu waspada, lo menarik perhatian di acara itu, seharusnya itu wajar pada tahu, tapi gua pengen kenalan deh sama lo."
Melihatnya begitu santai mengajaknya berkenalan Riana mencoba untuk santai, lalu gadis kecil itu menutupi kegugupannya dengan wajah dingin.
"Cukup tunjukkan jalan, tidak usah banyak bicara."
"Wah lo jutek banget, oh ya gua tahu lo bakal gak mau, tapi gua tetap mau kenalan, kenalin nama gua Indira Arizka Faida, panggil gua Indri."
Indri memberikan tangan kanannya untuk bersalaman, tapi Riana tidak menanggapinya membuat Indri menarik tangan dengan santai.
"Sial aku dosa gak ya gak jabat tangan orang yang mau bersalaman? kalau Lyandra silahkan tapi ini aku lah!" batin Riana tidak tenang.
Riana adalah tipe orang yang menerapkan aturan dimana-mana, ia tahu sopan santun dan etika karena itu sudah diajarkan oleh abangnya, jika bukan karena sifat Lyandra yang sombong tentu ia tidak akan melakukannya.
"Kita sudah sampai nona, geng anda sepertinya terlihat marah kepada saya?"
Mendengar keterangan Indri, Riana dapat melihat geng Leo menatap Indri tidak menyenangkan, gadis kecil itu tahu kalau tidak menyelesaikannya itu akan terjadi salah paham!
"Terimakasih, lo bisa pergi."
Melihat gadis kecil itu sudah kembali ke gengnya, Indri segera pergi dari tempat itu sebelum tatapan geng Leo membunuhnya.
"Emangnya dia siapa? dia baik kok mau nunjukin jalan, tadi gua tersesat!" jawab Riana mencoba menjelaskan semuanya.
"Gua mau tanya sama lo, dia itu perempuan atau laki-laki?"
Pertanyaan Angkasa membuat Riana bingung, tapi melihat penampilan Indri seharusnya itu laki-laki, sebab rambutnya pendek, dengan pakaian mirip laki-laki, apalagi wajah simetris nya mendukung dia untuk menjadi laki-laki.
"Dia laki-laki?"
"Lo salah, dia itu perempuan tapi penampilannya laki-laki 100% lo seharusnya gak usah ikut campur sama dia, karena dia orang aneh."
"Hah? Angkasa lo jangan ngarang, masa dia perempuan?!"
Melihatnya tidak percaya Angkasa dengan cepat memberitahu Riana tentang Indira Arizka Faida, ia perlu menjelaskannya untuk memperingati gadis kecil ini.
"Dia itu perempuan, dia sudah bergabung dengan geng motor sejak lama dia selalu jago memenangkan setiap pertandingan, tapi dia tidak pernah menampilkan emosi apapun, hanya raut datar dan tenangnya, dan dia sepertinya robot, karena pernah seseorang mencoba mengeluarkan apa yang dipikirkan Indri, tapi jawabannya mencengangkan seperti jawaban robot."
"Dan lagi, dia tidak pernah merasa lelah, dia pernah mengikuti balapan 24 jam selama beberapa hari! gila bukan? yang terpenting sih dia orangnya tidak mudah disinggung, karena dia pernah berkonflik sama geng Darkness tapi sampai sekarang dia masih hidup."
Mendengar penjelasan tersebut Riana dengan cepat mengusap tengkuknya yang merinding, dunianya Lyandra lebih kejam daripada dunianya, Riana baru menyadarinya!
"Dan Indira Arizka Faida disebut robot hidup, karena hidupnya memang seperti itu."
"Apa dia mempunyai geng atau apa dibelakangnya?"
"Itu tidak ada, karena dia benar-benar hidup sendiri di geng motor ini."
Seketika Riana memuji keberanian Indri dalam hatinya, dia sendirian di dunia geng motor yang kejam ini? seberapa beraninya dia? seberapa hebatnya? apalagi dia adalah perempuan.
Tanpa diketahui oleh geng Leo bahwa orang yang mereka bicarakan, sedari tadi melihat kearah mereka, Indri menatap tenang tanpa emosi apapun tapi orang yang disampingnya berbeda.
Ia tertawa keras melihat bagaimana Angkasa menceritakan tentang Indri, perempuan yang bersama dengan Indri itu lalu menatap temannya dengan jahil.
"Indri Indri, lihatlah lo begitu ditakuti di dunia geng motor ini, bukankah itu mengesankan?"
"Itu tidak menarik sama sekali, tapi bagian yang menarik adalah orang yang bernama Lyandra ini."
Perempuan itu terdiam sejenak ia lalu menatap Indri curiga, jangan-jangan ia mendapatkan sesuatu menarik tanpa diketahui olehnya?
"Apa yang menarik darinya?"
"Dia sebenarnya memiliki sifat perempuan pada umumnya, tapi secara bersamaan dia memiliki sifat kejam lainnya, katakan padaku mana sifat sebenarnya?"
Pertanyaan dari Indri membuat perempuan itu merinding, ia tahu Indri memiliki kemampuan seperti mengindentifikasi sifat orang dengan mudahnya, tapi itu baru satu pertemuan tapi ia sudah tahu sebagiannya? seberapa hebat perkembangan kemampuannya?
"Jangan tanyakan pertanyaan itu padaku, sebaiknya kau tanyakan saja pada gadis itu bukankah itu menarik? melihat raut wajah takutnya, atau waspadanya?"
Mereka memandang Riana dengan raut wajah berbeda, yang satunya tenang tanpa emosi, dan yang satunya lagi memiliki raut wajah tertarik dengan senyum sinisnya, kontras antara keduanya sangat mencolok.
...----------------...