Love Don't See Who We Are

Love Don't See Who We Are
pertengkaran



Hari pertama aku dan dandi masuk kerja, aku sangat gugup karena jabatan aku naik setelah menikah dengan dandi, aku mencoba tenang dan mengontrol ketakutanku. Dandi yang menyadari ketakutan aku menggenggam tangan ku selama acara penyambutan kami. aku mulai tenang karena dandi menggenggam tangan ku.


Acara penyambutan sudah selesai, dandi dan aku dan juga seluruh karyawan pergi ke bidang masing-masing, aku ke tempat produksi dan masuk ruangan ku. aku mulai bekerja dengan meminta laporan produksi dari beberapa bulan yang lalu kepada penanggung jawab sebelumnya, salah satu karyawan yang bertanggung jawab di pencatatan produksi masuk keruangan aku dan memberikan laporannya. Setelah menerima laporan produksi, aku mulai melihat dan memeriksa laporan. aku lega karena laporan produksi tidak mengalami masalah atau mendapatkan masalah beberapa bulan terakhir. aku memberikan laporan tersebut kepada karyawan tersebut dan meminta agar karyawan itu mengirim laporan kepada dandi.


Dandi menerima laporan yang sudah aku kirim dan memeriksanya, dandi cukup puas dengan laporan produksi. Setelah memeriksa laporan dari bidang produksi, dandi meminta sekretarisnya untuk mengambil laporan dari bidang lainnya. Kerja sama yang di lakukan dandi dan aku dan juga karyawan membuahkan hasil untuk perusahaan, dalam beberapa bulan perusahaan berkembang pesat dan produk yang di hasilkan perusahaan dandi dikenal luas dan mendapat komentar baik dari konsumennya dan banyak investor yang mau berinvestasi ke perusahaan dandi.


Karena pencapaian dandi, investor yang menanamkan saham di perusahaan mengadakan acara untuk dandi dan juga beberapa karyawan, aku yang merupakan manager dari bidang produksi juga di undang namun aku tidak ikut karena dirumah mama dan papa menunggu untuk makan malam. aku pulang sendiri dan sesampai di rumah aku membuatkan makan malam untuk aku, mama dan papa.


“ dandi dimana ras” papa menatap aku


“ dandi ada acara dengan para investor pa” aku mengambilkan nasi dan lauk untuk papa dan mama


“ kenapa kamu tidak ikut” mama mengambil nasi yang sudah aku ambilkan


“ laras males ma, laras mau makan malam sama mama dan papa” aku tersenyum


Kami semua makan malam, setelah selesai aku membereskan meja makan dan kembali ke kamar. Aku nungguin dandi pulang dari acara namun sudah jam 11 malam dandi belum juga pulang, Aku juga sudah menghubungi dandi tapi dandi tidak menjawabnya. Aku sangat khawatir dan memutuskan menunggu dandi di ruang tamu. Karena nungguin dandi aku ketiduran di ruangan tamu, sekitar jam 12 malam dandi pulang dan melihat aku tidur disofa, dandi menggendong aku ke kamar dan membaringkan aku di tempat tidur. Dandi masuk kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, aku yang mendengar air hidup terbangun dan kaget mendapatkan diri ku sudah di tempat tidur, aku turun dari tempat tidur dan menyiapkan pakaian untuk dandi. Aku duduk di pinggir tempat tidur nungguin dandi, dandi keluar dari kamar mandi dan kaget melihat aku sudah duduk di pinggir tempat tidur.


Dandi mengambil baju yang sudah aku siapkan untuk dia, dandi duduk di sebelah aku.


“ ada apa” dandi menggenggam tangan ku


“ nggak ada, aku hanya nunggin kamu pulang, kenapa pulangnya lama sekali” aku tersenyum


“ acaranya diperpanjang sama investor dan baru selesai jam setengah 12 malam, maaf kalau aku membuat kamu menunggu” dandi duduk di hadapan aku


“ aku nggak marah tapi hanya khawatir karena kamu tidak menjawab telponku” aku melepaskan tangan dandi dan naik ke atas tempat tidur


Dandi mematikan lampu dan berbaring di samping ku, dandi memeluk aku dan berbisik “maafkan aku” dandi memejamkan matanya. Aku yang belum tidur memutar posisi tidur ku dan melihat ke arah dandi, aku mengelus wajah dandi dan berkata “ aku tidak marah sama kamu tapi jangan ulangi lagi oke” aku mencium dahi dandi dan tidur. Dandi tersenyum setelah aku mencium dahinya.


Kami semua sarapan bersama dan aku juga berangkat kerja bersama dengan dandi. Di kantor aku mendengar pembicaraan para karyawan tentang dandi dan sekretarisnya. Aku yang tidak mau mengambil pusing hanya menganggap angin lalu namun rasa gelisah tidak bisa hilang dari perasaan ku. Aku mencoba bersikap profesional dalam bekerja namun rasa gelisah yang aku rasakan tidak bisa dikendalikan lagi.


Dandi memanggil aku dan sekretarisnya ke ruanganya. Aku yang melihat ada sekretaris dandi di dalam ruangan Dandi mencoba mengendalikan perasaan ku kembali dan bersikap seperti tidak ada yang terjadi.


“ ada apa bapak memanggil saya” aku berdiri di depan meja dandi


“ duduk dulu kak” dandi meminta agar aku duduk, aku duduk dan melihat ke arah dandi seolah bertanya apa yang terjadi


“ kakak sudah dengar dari karyawan yang lain tentang aku dan amel bukan” suara dandi sangat kecil hampir tidak terdengar oleh aku


“ santai aja, tidka usah tegang seperti itu, masalah bapak dan amel, ada apa Antara bapak dan sekretaris bapak” aku berpura-pura tidak tahu


“ tentang aku dan amel berciuman tadi malam” dandi melihat kearah aku


“ oh jadi itu benar” aku tersenyum


“ ya” dandi menundukkan kepalanya


aku tersenyum dengan menahan rasa sesak di dada ku, aku meninggalkan ruangan dandi. Dandi mengejar aku dan memeluk ku dari belakang. aku melepaskan pelukan dandi dan memeluk dandi.


“ aku nggak marah sama kamu, aku hanya merasa sedikit kecewa namun aku akan mencoba menghilangkan rasa kecewa itu dan biarkan aku sendiri saat ini”


aku melepaskan pelukan dandi dan meninggalkan dandi, dandi yang bisa merasakan rasa sakit yang aku rasakan masuk ke ruangannya dan mengusir sekretarisnya. Dandi melempar semua barang yang ada di ruanganya, laptop yang ada di ruangannya juga ikut di banting. Dandi duduk dan memukul wajahnya sendiri.


“ apa yang sudah kamu lakukan, kenapa kamu membuat kak laras sakit untuk kedua kalinya” dandi menundukkan kepalanya di atas meja sambil mengutuk dirinya sendiri. setelah aku pergi Dandi tidak melakukan apa-apa, semua pekerjaan tertunda hanya karena masalah antara aku dan dandi. aku yang juga merasa di khianati hanya bisa menenangkan pikiran dan juga perasaanku. aku tidak menghubungi Dandi sama sekali, aku bahkan tidak menginjakkan kakiku ke kantor utama. jika pun ada pekerjaan aku akan mengirim karyawan dari bidang produksi untuk pergi ke kantor utama. aku dan dandi sama-sama hancur di hari ini.