
Sudah 2 bulan aku merawat Dandi tapi belum ada kemajuan dari Dandi. Aku juga meminta papa Dandi untuk membawa mama pergi berobat ke luar negeri agar mama bisa cepat sembuh dan bisa melihat lagi. Selama mama pergi, aku sengaja tidur di kamar yang sama dengan dandi karena semakin hari keadaan Dandi semakin memburuk. Suatu malam, aku kaget saat mendengar suara benda jatuh, aku terbangun dan kaget saat melihat Dandi tidak ada di kasurnya, aku menghidupkan lampu dan mencari Dandi saat aku melihat ke balik tempat tidur, sandi sudah tergeletak.
“ Bangun dan, kamu bisa bangunkan” aku membantu Dandi bangun
“ kak, ini benar-benar kakak, selama ini aku tidak mimpi” Dandi memegang wajahku
Aku sebagai seorang muslim melepaskan tangan Dandi dan membaringkan kembali Dandi di kasur. Aku menyelimuti Dandi dan pergi keluar kamar. Di luar aku hanya bisa menangis karena aku nggak bisa melihat Dandi seperti ini. Aku duduk di depan pintu kamar Dandi sambil menangis. Setelah aku selesai menangis, aku masuk dan melihat keadaan Dandi.
“ Kak, Dandi minta maaf ya karena Dandi kakak harus menanggung malu, maafin Dandi ya kak, maaf, maaf, maaf, Dandi memang cowok brengsek, kenapa Dandi masih hidup, kenapa Dandi nggak pergi aja biar kakak bisa hidup tenang dan bahagia” Dandi memukul wajahnya
Dandi terus memukul wajahnya, aku nggak bisa lagi menahan rasa yang selama ini aku pendam, aku menampar Dandi dan memeluk nya, di dalam hati aku meminta maaf sama allah karena aku sudah melanggar larangan agar tidak bersentuhan dengan bukan muhrim ku.
“ maafkan aku dan, seharusnya aku tidak membenci kamu sebesar ini”
Dandi melepaskan pelukan ku dan mencoba duduk, aku membantu Dandi duduk, dandi mengambil sapu tangan di laci dan menghapus air mata ku tanpa menyentuh wajahku, Dandi membentuk senyum dengan tangannya tapi di mulutnya, dia memberikan isyarat agar aku tersenyum. Aku tersenyum agar keinginan Dandi untuk sehat bisa muncul, setelah kejadian itu keadaan Dandi sudah mulai membaik.
Mama sudah kembali, mama juga sudah bisa berjalan dan melihat, mama bukannya memeluk dandi tapi dia malah memeluk aku. Mama mengucapkan terimakasih tanpa menghiraukan kalau disana ada Dandi. Dandi yang merasa mama tidak lagi membutuhkan nya, meminta pembantu membawa dia kembali ke kamar, Dandi mengemaskan pakaiannya. Aku yang merasakan posisi Dandi meminta mama agar memaafkan Dandi dan kembali menyanyangi Dandi. Sebelum mama menjawab dandi memanggil pembantu untuk menurunkan dia, semua orang kaget saat melihat Dandi membawa ransel. Aku bertanya tapi Dandi tidak menjawab, Dandi berjalan ke pintu tapi aku menghentikan Dandi.
“ Kamu mau kemana”
“ Kak, gue bukan lagi bagian dari keluarga ini setelah gue mempermalukan Lo” Dandi melepaskan tangan aku dari kursi rodanya
“ Dan, siapa bilang kalau kamu bukan keluarga ini, jika mereka bilang kamu bukan bagian dari keluarga ini maka aku akan membuat kamu menjadi bagian dari keluarga ini” aku melihat ke arah mama dan papa dandi
“ Maksud Lo” dandi melihat ke arah aku
“ Kak bangun, menikah bukanlah hal yang bisa di permainkan” dandi mendorong kursi rodanya
“ jika kamu keluar dari pintu itu jangan harap kamu bakal ketemu dengan ku setelah ini, silahkan kamu pergi” aku mengambil pisau di meja makan, yang aku lakukan hanya untuk mengancam dandi karena di dalam islampun bunuh diri hal yang paling di larang atau dosa paling besar, tapi karena pilihan dandi aku terpaksa melakukannya.
Mama dan papa Dandi mencoba menghentikan aku tapi aku tidak mau Dandi meninggalkan rumahnya sendiri. Dandi tetap keluar dari rumah, seperti yang aku katakan kalau Dandi tidak akan pernah bertemu denganku. Aku menyanyat tangan ku, mama dan papa Dandi meminta satpam untuk memanggil ambulan. Dandi yang sudah keluar dari rumah kaget saat melihat ambulan kerumahnya. Dandi buru-buru mendorong kursi rodanya kembali ke rumah, mama menangis histeris melihat aku tidak sadarkan diri.
Sudah 2 hari aku tidak sadarkan diri, selama itu juga mama tidak keluar dari rumah sakit, papa Dandi setiap hari harus bolak-balik rumah, kantor dan rumah sakit. Aku tidak tau dimana Dandi yang aku tau Dandi tidak pernah ke rumah sakit.
“ Dok kenapa Laras belum sadarkan diri, kenapa Laras hanya menggerakkan tangannya” mama menatap aku dengan wajah sedih
“ maaf buk, apa sebelumnya Laras pernah mengatakan penyakit nya” dokter melihat kearah mama
“ tidak dok, emang ada apa” mama menggenggam tanganku
“ begini buk, Laras mengidap penyakit leukimia stadium 2, ini sudah berlangsung selama 1 tahun terakhir dan Laras bisa kehilangan nyawanya jika kejadian seperti ini terjadi lagi” dokter
Mama mendengar itu langsung histeris dan pingsan, papa Dandi membawa mama ke ruang lain untuk di periksa, papa Dandi mencoba menghubungi Dandi tapi Dandi tidak menjawab teleponnya. Mama sudah sadar dan kembali ke kamar rawatku, aku masih belum dasar tapi aku selalu memanggil nama Dandi, mama dan papa Dandi memanggil dokter dan dokter menyarankan untuk membawa Dandi menemui aku.
Papa Dandi mencari Dandi ke semua tempat dan juga rumah temannya tapi Dandi tidak ada, papa Dandi mulai putus asa. Papa Dandi kembali ke rumah sakit dan meminta sekretaris nya untuk membuat berita tentang Laras dan Dandi.
4 hari berlalu tapi aku masih belum sadarkan diri dan Dandi masih belum di temukan. Keadaan mama juga memburuk, mama selalu menemani aku tanpa istirahat.