
Sudah 3 tahun lebih aku di luar negeri, aku sudah melupakan masa lalu ku tapi aku masih belum bisa melupakan mama Dandi karena terakhir kalinya aku meninggalkan dia dengan keadaan terpuruk, aku juga sudah menganggap orang tua Dandi sebagai orang tuaku sendiri. Aku memutuskan untuk kembali ke indonesia untuk bertemu dengan orang tua Dandi. Hari ini aku kembali ke Indonesia dengan penerbangan malam hari. Tujuan aku ke Indonesia bertemu dengan orang tua Dandi jadi besok paginya aku akan menemui mereka.
Pagi yang cerah, aku ke rumah Dandi yang dulu tapi pembantu bilang kalau Dandi tidak pernah keluar kamar selama 3 tahun ini dan mama Dandi sakit dan sekarang ada di kolam berenang. Aku pergi ke belakang rumah tepatnya ke kolam berenang, aku sedih saat melihat mama Dandi di kursi roda dan tidak bisa ngapa-ngapain.
“ Bu assalamualaikum” aku berlutut di depan mama dandi
“ Laras, apa itu kamu ras, mama kangen sama Laras kapan Laras pulang” mama Dandi mencari wajahku dan memelukku
“ Laras baru sampe tadi malam Bu, maaf ya Bu, gara-gara Laras ibu jadi seperti ini” aku memeluk mama Dandi
“ ras boleh mama minta satu hal dari Laras, Laras jangan manggil mama ibu tapi mama aja ya” mama Dandi mengelus wajahku
“ tapi Bu”
“ Jangan menolak mama ras”
“ baik ma”
“ Papa udah kembali, pa Laras pa, Laras” mama memegang tangan papa Dandi
“ ma, Laras belum kembali, papa tidak tau dimana Laras, papa minta maaf” papa Dandi memeluk mama
“ Bapak udah pulang, maaf pak, Laras masuk tanpa seizin bapak” aku bersalaman dengan papa Dandi
Papa Dandi memeluk mama dan menyuruh aku duduk tapi karena aku sudah menyiapkan makan malam jadi aku yang meminta papa Dandi dan mama untuk duduk. Aku menyuapi mama karena mama buta dan tidak bisa makan sendiri, aku sengaja tidak menanyakan keadaan Dandi karena aku tidak mau melihat dia, aku masih merasa sakit hati. Tapi mama menceritakan semua yang terjadi setelah aku pergi.
“ setelah kepergian sarah, dandi tidak pernah keluar dari kamar sampai sekarang jika pun dia keluar dia hanya duduk di balkon rumah dengan tatapan kosong ketika di tanya dia hanya menjawab kak laras sebentar lagi akan datang mengajarinya, dia hanya akan melakukan hal itu setiap harinya selama 3 tahun terakhir”
Aku sedih mendengar cerita mama, papa Dandi meminta aku untuk menemui Dandi sekali saja. Aku tidak ingin menemui dandi tapi karena mama sudah memohon akhirnya aku menemui Dandi. Aku membawakan makanan untuk Dandi. Aku masuk dan kaget saat melihat Dandi duduk di pinggir balkon kamarnya, aku tidak berbicara, aku mendekati Dandi berlahan tanpa suara, Dandi tidak tahu kalau aku ada di sana, Dandi berdiri dan mencoba bunuh diri. Untung aku cepat menangkap dia dan berhasil menyelamatkan dia.
Aku kasihan melihat keadaan Dandi, dia seperti mayat hidup, dia sangat pucat dan kurus, dia juga memiliki lingkaran hitam di matanya. Seperti yang di katakan mama, Dandi hanya makan 1 kali sehari dan tidak pernah keluar kamar. Pernah temannya datang tapi mereka semua di usir sama Dandi. Semenjak saat itu, tidak ada lagi yang datang, mamapun tidak pernah datang ke kamar dandi, hanya pembantu yang mengantarkan makanan sama Dandi, pembantu pun tidak di perbolehkan masuk jadi kamar dandi tidak pernah di bersihkan sama sekali, kamarnya tidak berantakan tapi kamarnya berdebu seperti rumah tidak berpenghuni. Aku sengaja diam karena aku ingin tau apa Dandi masih mengingat aku. Beberapa menit kami diam, tiba-tiba Dandi berdiri dan memukul dinding kamarnya.
“ Dandi Lo bodoh, kenapa Lo bayangin dia ada disini, mana mungkin dia disini setelah Lo mempermalukan dia, dia sangat membenci Lo, Lo cowok brengsek, Lo cowok goblok, seharusnya Lo tidak pernah membuat dia sakit, seharusnya saat itu Lo membiarkan lo mati bukannya menyakiti dia” Dandi terus memukul dinding dan beberapa kali memukul wajahnya sambil menangis