Love Don't See Who We Are

Love Don't See Who We Are
pulang



Dandi yang sudah berada di kediaman CEO martin langsung membuat keributan di depan rumah CEO martin, dandi berkelahi dengan anak buah CEO martin. CEO martin yang melihat dandi berkelahi dengan anak buahnya hanya menonton sambil tertawa puas. Dandi mendapatkan beberapa pukul sebelum bodyguardnya datang. Salah satu bodyguard dandi membawa dandi menjauh dari perkelahian tersebut dan bodyguard yang lain menghajar anak buah CEO martin. Anak buah CEO martin kalah terpaksa CEO martin keluar dari rumah.


“ kenapa kamu membuat keributan di depan rumah saya” CEO martin menatap dandi


Tangan dandi melayang ke wajah CEO martin “ jika lo terus ganggu keluarga dan pekerjaan gue, gue nggak bakal diam, kali ini gue hanya memberikan lo kesempatan terakhir jika lo masih melakukan hal itu, gue bakal membawanya ke jalur hukum” dandi meninggalkan CEO martin


CEO martin sangat kesal dan memukul dinding di dekatnya. CEO martin masuk rumah dan mengobati bibirnya yang terluka akibat pukulan dandi. Aku yang tidak bisa tidur nungguin dandi pulang hanya bisa duduk di ruang tamu.


Dandi pulang dengan wajah memar, aku langsung mengambil kotak p3k dan mengobati memar di wajah dandi. Dandi tidak berkata sepatah katapun kepadaku, para bodyguard juga sudah meninggalkan rumah, aku membawa dandi kembali ke kamar.


“ apa kamu masih belum mau mengatakan apa yang terjadi”


Dandi tidak menjawab, dandi meninggalkan aku dan masuk ke kamar mandi, aku sedih melihat dandi seperti itu tapi aku juga tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk membantu dandi. Aku hanya bisa diam dengan diamnya dandi, setiap kali aku bertanya dandi tidak akan pernah menjawabnya.


Sudah beberapa hari berlalu setelah kejadian tersebut tapi dandi amsih belum berbicara denganku, sikap dandi kepadaku tidak berubah tapi dandi tidak berbicara kepadaku. Saat sedang bekerja perutku sangat sakit, aku berusaha untuk menahannya agar aku tidak menganggu kerja dandi tapi rasa sakitnya semakin sakit dan membuat aku menjatuhkan beberapa barang dari meja kerjaku. Dandi yang juga satu ruangan denganku langsung mendekatiku dan menggendongku ke mobil.


Di rumah sakit dokter mengatakan bahwa aku banyak pikiran dan aku harus menguranginya, dokter juga bilang aku butuh waktu sitirahat yang banyak agar kesehatan aku dan bayiku tidak terganggu. Mendengar kata dokter dandi masih belum berbicara sepatah katapun kepada ku, dadni meminta bodyguard mengangantarkan aku kerumah. Dandi meminta amanda mengambil alih pekerjaanku. Aku benar-benar istirahat penuh dirumah setelah dokter mengatakan itu.


Dandi masih sibuk dengan kuliah dan kerjaannya, walaupun sikapnya tidak berubah tapi aku merasa canggung karena dandi tidak berbicara denganku. Sudah hampir 1 bulan penuh dandi tidak berbicara kepadaku, aku sudah tidak tahan dan meminta izin sama mama dan papa untuk pergi ke rumah lamaku, aku ingin menenangkan diri dan membuang jauh-jauh pikiran yang bisa mengganggu kesehatan aku dan bayiku. Mama dan papa mengizinkan aku, aku juga tidak lupa meminta izin dari dandi, di izikan atau tidaknya sama dandi, aku tetap pergi. Aku sudah menyiapkan barang-barang yang akan aku bawa, aku juga sudah menghubungi delia untuk menjemputku.


Aku dan delia meninggalkan rumah dandi, di rumah lamaku, delia membantu aku membersihkan rumah. Selesai membersihkan rumah, aku menyiapkan makan siang untuk kami berdua. Delia yang sudah mendengar apa yang terjadi antara aku dan dandi tidak pernah bertanya tentang itu. Aku merasa lega aku bisa kembali kerumah, beberapa saat aku bisa melupakan tentang dandi tapi saat malam hari aku kepikiran lagi dengan dandi. Delia yang merasa khawatir denganku menemani aku tinggal di rumahku.


Dandi kembali kerumah dan mendapati aku tidak ada di rumah, dandi tidak bertanya kepada mama dan papa, dandi langsung ke kamar dan membuka lemari, dandi tidak menemukan bajuku sehelaipun. Dandi duduk di pinggi tempat tidur dan mengambil bantal yang baisa aku gunakan, dandi memeluknya dan tanpa di minta air matanya mengalir dengan sendirinya di kedua pipi dandi. Dandi tertidur dengan mata yang di basahi air mata.


Mama yang akan membangunkan dandi terhenti dan kembali ke bawah, mama menangis di meja makan, papa mendekati mama dan bertanya


“ ada apa”


“ apa kita salah membiarkan laras kembali kerumahnya pa” mama menatap papa dengan mata yang basah dengan air mata


“ tapi pa, mama nggak bisa melihat dandi seperti ini, dandi tidur dengan memeluk bantal yang digunakan laras pa, dandi sangat sakit pa” mama menangis di pelukan papa


“ mama perempuan, mama yang lebih tahu apa yang di rasakan laras saat suaminya tidak berbicara dengan dia, jadi seharusnya mama lebih memikirkan laras apalagi sekarang laras lagi hamil, siapa yang akan bantuin laras kalau bukan suaminya ma” papa membela aku


“ ya mama tahu tapi pa”


Papa melepaskan pelukannya dari mama “ terserah mama, papa akan menemui laras hari ini, papa kangen sama menantu dan cucu papa”


Papa masuk kamar dan bersiap-siap pergi kerumahku. Dandi yang juga mendengarkan apa yang di katakan papa, kembali kemar dan mengurung diri. Dandi tidak pergi ke kantor ataupun ke kampus. Delia yang satu kampus dengan dandi menghubungi aku dan mengatakan dandi tidak masuk kampus. Aku sangat khawatir tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa karena dandi tidak ingin berbicara denganku.


“ tolong izinkan dandi, bilang saja dia sakit” aku hanya bisa mengatakan itu kepada delia


Amel juga menghubungiku dan mengatakan kalau dandi tidak masuk kerja, aku makin khawatir dengan dandi.


Papa datang menemui aku, aku membuatkan papa minuman dan menyajikan beberapa cemilan. Kami berbincang-bincang tentang kesehatanku dan aku baru ingat kalau dandi tidak masuk kerja dan kuliah, aku bertanya kepada papa.


“ pa, kenapa dandi nggak masuk kerja dan kuliah”


Papa hanya diam dan aku bertanya sekali lagi


“ papa nggak tahu, papa tidak bertemu dengan dandi hari ini” papa menundukkan kepalanya


Aku terdiam, saat kami berdua diam, suara ponsel papa berbunyi, papa mengakatya dan langsung meninggalkan rumahku. Aku menyusul papa keluar dan bertanya, papa meminta aku ikut dan kembali kerumah. Melihat wajah khawatir papa membuat aku juga khawatir dan tanpa berfikir panjang aku masuk mobil dan kami kembali kerumah. Di rumah kami masuk dan tidak mendapati mama. Kami naik ke atas dan melihat mama menangis di depan pintu kamar aku dan dandi. Aku mendekati mama dan memeluk mama


“ ada ma, kenapa mama duduk disini”


“ dandi, tadi mama mendengar barang jatuh dari kamar kalian, mama khawatir sama dandi” mama masih menangis