Love Don't See Who We Are

Love Don't See Who We Are
teman-teman



Mama dan papa sudah pulang dari liburan, mama sengaja membelikan aku beberapa pakaian yang dapat aku gunakan untuk ke kantor sekaligus nyaman dalam memakainya. Mama dan papa sengaja tidak mengatakan kepada kami kalau mereka sdah pulang, mama dan papa membuatkan sedikit kejutan untuk kami. Aku dan dandi pulang kerumah setelah jam kerja selesai, dirumah kami sedikit kaget karena lampu mati semua dan pintu nggak di kunci, awalnya dandi nggak ambil pusing dandi menghidupkan lampu dan mendapatkan rumah sudah di hias dengan warna biru laut, aku dan dandi kaget melihat seisi rumah sudah di hiasi.


Kami masuk ke dalam dan mendapatkan sebuah surat di meja, surat tersebut berisi ‘ pergi ke atap rumah’. aku dan dandi pergi ke atap rumah dan kaget melihat ada mama, papa, delia dan beberapa teman dari aku dan dandi. Aku berlari ke arah mama dan memeluk mama.


“ selamat ya sayang atas kehamilan kamu” mama mengelus kepalaku


“ maksih ma, kenapa mama dan papa nggak bilang kalau mama dan papa udah pulang, katanya besok mama dan papa pulang” aku membuat wajah cemberut


“ maaf sayang, papa dan mama sengaja nggak bilang sama kalian untuk buat kejutan” papa mengelus kepala ku juga


“ thank ma, pa dan kalian semua” aku tersenyum


“ sama-sama” kata mereka serentak.


Mama memberikan kado untuk aku dan papa juga memberikan kado untukku. Kami semua makan malam bersama dan bersiap untuk turun dari atap. Aku tidak pernah melepaskan mama karena aku merasa nyaman jika ada mama, dandi sedikit cemburu melihat aku selalu nempel sama mama. Mama yang menyadari dandi cemburu melepaskan pelukanku dari mama.


“ kenapa ma” aku bingung


“ lihat tu” mama nunjuk dandi


Aku tersenyum dan menggandeng tangan dandi “ maaf, aku kangen tau sama mama”


“ ya aku ngerti anak manja” dandi mencolek hidungku


Aku tersenyum dan di susuli dengan tawa orang yang melihat kelakuan aku.


“ sepetinya sekarang yang anak kecil laras deh” kata salah satu teman ku


“ benar tu, dandi lebih dewasa sekarang dari pada laras “ ujar salah satu teman dandi


“ nggak juga, aku hanya ngikutin kemauan baby” aku menaikkan alis


Mereka semua tersenyum mendengar perkataanku, kami melanjutkan makan malam dan melanjutkan bercerita di ruang tamu, karena sudah malam dandi mengantar aku ke kamar dan mama, papa juga kembali ke kamarnya. Setelah mengantar aku ke kamar dandi menemui teman-temannya dan juga teman-temanku. Disana juga ada delia karena delia bakal nginap di rumah kami lagi. Mereka bercerita sampai tengah malam.


Teman-teman dandi pulang dan delia juga masuk kamar, dandi membersihkan ruang tamu dan juga meja makan bekas kami makan malam tadi. Dandi nggak mau kalau besok pagi aku harus membersihkan semua ini sendiri. Dandi sangat lelah dan langsung ke kamar setelah membersihkan meja makan dan ruang tamu. Dandi langsung berbaring di sebelahku.


Dandi menatap aku sedang tertidur dan tersenyum, dandi mencium dahiku dan bilang “ selamat malam” dandi tidur.


Suara azan shubuh sudah berkumandang, aku terbangun dan melihat wajah dandi yang capek, aku nggak tega bangunin dandi tapi kami harus sholat shubuh dulu. Aku membangunkan dandi walaupun sedikit sulit membangunkan dandi yang lelah. Aku mencium pipi dandi dan dandi terbangun, aku tersenyum.


“ akhirnya bangun juga, ayo sholat subuh dulu”


Dandi mengucek matanya dan tersenyum “ makasih cantik undah bangunin aku walaupun kamu tahu aku capek”


Aku tersenyum “ sama-sama suamiku, ayo kita ambil air wudhu”


Kami berdua ambil air wudhu dan sholat bersama. Setelah selesai aku turun kebawah untuk menyiapkan sarapan sekaligus ingin membersihkan meja makan dan ruang tamu tapi karena dandi sudah membersihkannya tadi malam jadi sekarang aku hanya membuat sarapan pagi untuk kmai semua, delia yang juga baru selesai sholat subuh keluar kamar dan mendengar suara dari dapur. Delia ke dapur dan melihat aku sedang memasak, delia bantuin aku menyiapkan sarapan dan menyajikannya di meja makan.


Aku meminta delia bersiap-siap ke kampus karena deli ada ujian hari ini. Aku juga kembali ke kamar dan menyiapkan baju untuk dandi. Aku tidak mendapati dandi di kamar. Aku melihat dandi di kamar mandi namun juga nggak mandi. Aku memanggil dandi dan dandi menjawab panggilan aku, aku pergi ke balkon kamar dan melihat dandi menatap ke taman rumah.


“ ada apa” aku mendekati dandi


“ nggak ada, hanya lagi mikir, anak kita nanti lucu nggak ya” dandi menatap aku


Aku tersenyum “ yang namanya bayi bakal lucu dan imut tapi jika udah besar tergangtung kita sebagai orang tuanya”


Dandi mengelus kepalaku “ semoga aja anaknya mirip kakak biar lebih lucu lagi” dandi tersenyum


“ ya deh”


Aku dan dandi bersiap-siap untuk ke kantor, saat kami turun mama, papa dan delia sudah nungguin kami di meja makan, aku yang merasa bersalah bergegas turun dan hampir terjatuh, untung dandi cepat dan aku nggak jadi jatuh. Dandi menatap tajam ke arahku


“ maaf, aku bakal hati-hati lagi” aku membuat wajah sedih


“ oke”


Kami sarapan bersama, aku dan dandi mengantarkan delia ke kampus, mama dan papa juga pergi menemui tante dandi yang ada di panti asuhan. Di kampus seperti hari sebelumnya, cewek-cewek kampus dandi mengerumuninya, aku nggak bisa keluar hanya duduk di mobil, dandi membukan pintu mobil dan meminta agar aku turun. Kali ini beda dari sebelumnya, junior yang mengenal aku malam menarik aku menjauh ari kerumunan cewek-cewek itu. Mereka membawa aku klub menulis. Dulu saat aku kuliah aku ketua dari klub menulis.


“ dia suami kakak ya” salah satu juniorku bertanya


“ iya, dari mana kalian tahu” aku menatap mereka satu persatu


“ kalau gosip tentang dandi mah dalam 1 detik bisa menyebar ke seluruh kampus” jawab juniorku yang lain


Aku tersenyum “ ternyata dia populer juga”


Kami berbincang-bincang di klub menulis, dandi sudah kebingungan mencari aku, dandi menghubungiku dan aku mengatakan bahwa aku di klub menulis. Dandi pergi ke klub menulis dan membuka pintu. Dandi masuk dan menutup pintu.


“ akhirnya aku menemukan kakak” dandi memeluk aku dari belakang


“ hmm” juniorku mendehem melihat sikap dandi, aku hanya tersenyum


“ maaf ya kalau kakak-kakak cemburu nggak apa-apa kok tapi aku nggak bakal berhenti” dandi mencium dahiku


Aku kaget dan menatap dandi “ dandi”


“ biarin aja” dandi memalingkan wajahnya


“ ya udah deh, kalau suami istri terserah mereka mau ngapain aja” junior ku marah


Kami tertawa bersama, setelah kami berbincang ternyata dandi juga anggota dari klub menulis, aku baru tahu jika dandi anggoa klub menulis karena di rumah kami hanay membahas pekerjaan. Banyak hal yang tidak aku ketahui tentang kuliah dandi dan aku tahu semuanya setelah kami berbincang di ruang klub menulis. Karena juniorku ada kuliah, kami semua menyelesaikan perbincangan dan aku bersama dadni juga kembali ke kantor.


Sesampai di kantor kami kaget saat melihat banyak mobil mewah terparkir di depan kantor. Aku dan dandi masuk dan kaget melihat teman-temanku dari thailand ada di kantor.


Aku menghampiri mereka dan berpelukan dengan teman-teman cewek ku. Dandi juga bersamalam dengan teman-temanku yang cowok. Dandi membawa mereka semua ke ruangannya. Amel yang melihat banyak orang di ruangan dandi masuk dan tanpa dia berfikir panjang langsung mendekati dandi dan merangkul tangan dandi, amel sudah meluai melewati batas dan juga nggak tahu malu. Teman-temanku kaget saat melihat sikap amel kepada dandi. Dandi melepaskan tangan amel dan mengusir amel keluar.


Setelah amel keluar, suasana diruangan dandi menjadi sunyi, aku yang juga syok melihat sikap amel tidak bisa berbicara sepatah katapun. Salah satu temanku mengelus bahuku dan berkata.


“ if you don't want to see it or sad you can go with us to Thailand”


Aku berusaha tersenyum “ thank, but I think I don’t can because my family is here”


“ oke, but if you change your mind, just come to our place, oke”


“ oke, thank you”


Mendengar ucapan dari temanku dandi menundukkan kepalanya dan meninggalkan ruangan, dandi pergi ke atap kantor. Aku menyusul dandi ke atap kantor, aku kaget saat melihat amel ada disana. Aku mendekati dandi dan amel. Aku tidak bisa membendung amarahku lagi, aku menarik amel dan menampar amel. Dandi yang belum pernah melihat aku semarah itu hanya bisa diam.


“ kamu perempuan, aku juga perempuan seharusnya kamu tahu dimana posisi kamu dan bagaimana perasaan aku” aku sangat marah sama amel


“ gue perempua dan tahu bagaimana perasaan lo tapi gue bakal lakuin apa aja agar dandi bisa jadi miliki gue” amel juga marah sambil memegang pipinya


Aku berusaha menahan air mataku, aku tersenyum “ jika itu mau kamu maka jangan salahkan aku saat kamu di tendang dari perusahaan ini tanpa rasa hormat”


Amel juga tersenyum “ lo pikir lo bisa nendang gue dari sini, lo mimpi, lo bukan siapa-siapa kecuali hanya istri yang tidak di sayangi dandi”


Dandi yang mendengar kata-kata amel menampar amel “ karena kamu sekretaris saya bukan berarti kamu bisa berbicara seenaknya dengan istri saya, saya diam selama ini karena saya tidak mau kamu malu di hadapan karyawan lain tapi hari ini kamu sudah melewati batas, kamu menggandeng tangan saya di hadapan teman-teman kakak laras dan kamu berkata seolah kamu tahu siapa saya dan kak laras, kamu fikir saya nggak tahu niat kamu masuk perusahaan ini ha, kamu pikir saya diam karena saya tidak sayang sama kak laras, jika itu yang kamu pikir kamu salah” dandi menarik aku kepelukannya “ saya lah orang yang satu-satunya sayang sama kak laras, bukan kak laras yang sayang sama saya, kak laras hanya ingin membantu saya mengelola perusahaan ini, jika dia mau dia bisa menjadi CEO dari perusahaan ini tapi karena dia tahu saya anak dari papa saya, dia melepaskan jabatan itu dan memberikannya pada saya”


Aku yang belum pernah mendengar dandi marah kaget dan tidak bisa berbicara sepatah katapun begitu juga amel, dia tersudut dan tak bisa bicara apapun.


“ satu hal lagi amel, saya dandi tidak akan pernah diam lagi jika kamu masih meganggu saya ataupun kak laras” dandi memeluk erat tubuhku “ maafkan aku kak karena tidak bisa menjaga kakak seperti seorang suami yang menjaga istrinya” dandi menangis di pelukanku


Aku memeluk dandi, aku juga ikut menangis karena dandi menangis di hadapanku, aku tidak pernah melihat dandi menangis sperti ini sebelumnya “ aku juag minta maaf karena aku tidak pernah tahu apa-apa tentang kamu”


David yang juga mengikuti kami mendekati kami dan menarik amel turun. Aku dan dandi juga turun. Semua karyawan berdiri di tempat mereka, aku dan dandi kaget melihat mama dan papa juga ada di kantor. Aku dan dandi terdiam. Amel dan david juga terdiam.