
Papa bantuin mama berdiri dan meninggalkan aku sendiri di depan pintu kamar. Aku mencoba memanggil dandi tapi tidak ada jawaban, beberapa kali aku memanggil nama dandi tetap tidak ada jawaban, saat aku ingin pergi, pintu kamar terbuka dan aku masuk ke kamar. Aku sedikit kaget melihat kamar sangat berantakan dan aku teringat saat aku meninggalkan dandi setelah kejadian dandi mempermalukan aku, saat ini kamar yang aku lihat sama persis dengan kamar yang aku lihat dulu. Aku mendekati dandi dan duduk di sebelahnya.
“ apa kamu masih belum bisa berbicara denganku”
Dandi hanya menundukkan kepala sambil menangis, aku yang tidak tega melihat dandi menangis memeluknya dan mengelus rambut dandi.
“ aku tidak pernah marah sama kamu, aku pergi karena aku ingin memberi kamu waktu, udah itu aja, aku berfikir kamu butuh waktu sendiri karena kamu tidak berbicara denganku”
Dandi melepaskan pelukanku dan menatap ku “ aku merasa tidak bisa menjadi suami yang baik untuk kakak” samar-samar terdengar suara dandi
Aku menenangakan dandi, setelah dandi tenang aku turun dan mengambilkan makanan untuk dandi. Mama yang melihat aku mengambil makanan menghampiri aku dan bertanya
“ apa dandi sudah mau makan” mama menatap aku
“ nggak tau ma, tapi sekarang dandi sudah tenang, laras akan mencoba membujuk dandi makan” aku meninggalkan mama dan kembali ke kamar
Di kamar aku melihat dandi melihat ke arah jendela, aku meletakkan makanan di meja dan menghampiri dandi. Aku menepuk pundak dandi, dandi melihat ke arahku dan tersenyum. Aku menarik dandi duduk di tempat tidur dan aku menyuapi dandi makan, awalnya dandi menolak tapi aku terus meminta dandi untuk makan dan akhirnya dandi mau makan. Makanan yang aku bawakan di habiskan semua sama dandi.
Setelah semuanya kembali tenang aku meminta izin untuk pulang karena barang-barang aku masih di rumahku, dandi menemani aku. Di rumah delia kaget melihat aku datang bersama dandi, delia menatap dan di dan menaikkan alisnya kepadaku. Aku hanya menganggukkan kepala, delia yang mengerti apa yang aku maksud membiarkan aku dan dandi masuk.
“ sepertinya semenjak kalian menikah selalu aja ada masalah yang datang” delia bertanya tanpa berfikir
Aku menyenggol delia dan membesarkan mataku, delia diam dan kembali ke kamar. Dandi yang mendengar kata-kata delia kembali diam.
“ jika kamu memikirkan apa yang di katakan delia maka aku tidak akan kembali ke rumah bersama kamu, aku akan tetap tinggal disini sampai kamu benar-benar bisa melupakan semua yang terjadi” aku meninggalkan dandi dan amsuk ke kamarku
Sejenak dandi terdiam dan menyusul ku ke kamar. Dandi duduk di sebelahku dan tersenyum
“ aku tidak memikirkan apa yang di katakan delia tapi aku kepikiran membeli rumah untuk kita berdua”
Aku kaget mendengar pernyataan dandi “ aku nggak salah dengarkan, dan jika itu yang kamu pikirkan mending kamu bicarakan dulu dengan mama dan papa karena mama dan papa sangat ingin kita tinggal bersama mereka dan mama dan papa sudah menantikan anak kita, kalau kita pindah mama dan papa harus bolak-balik dari rumah kita ke rumah yang sekarang”
“ aku pikir sekarang mangkanya aku kaget” aku juga tersenyum
Aku dan dandi kembali ke rumah papa, papa dan mama menyambut kami dengan hangat. Sudah terlihat senyum lebar di bibir mama dan papa. Dandi membawa semua barang ku kembali ke kamar dan kami semua pergi keluar untuk makan malam. Mama sudah memesan sebuah restoran khusus untuk kami semua. Kami menghabiskan malam di luar bersama, meskipun aku hamil, dengan suasana seperti ini aku tidak merasakan capek sama sekali. Sekitar jam 10 malam kami pulang dan istirahat.
Aku dan dandi langsung masuk kamar dan bersiap untuk tidur sedangkan mama dan papa duduk di ruang tamu sambil bercerita.
Setelah sholat subuh seperti biasa aku menyiapkan baju kerja untuk dandi, karena perutku sudah membesar mama melarang aku menyiapkan sarapan pagi, agar aku tidak memasak mama mencarikan ART untuk mengambil alih semua pekerjaan yang biasa aku lakukan. Aku dandi turun dan sarapan bersama, kebetulan ART yang di carikan mama hampir sama besar sama aku jadi aku mengajak dia untuk makan bersama kami.
Setelah selesai makan, aku mengantarkan dandi ke depan rumah, aku melihat dandi pergi meninggalkan rumah. Aku masuk dan menemui ART yang di carikan mama, aku mengajak dia jalan-jalan di taman.
“ oh ya nama kamu siapa” aku bertanya sambil berjalan
“ nama saya intan buk” intan menunduk
“ panggil aja aku kakak atau nggak nama aku, kamu tahukan nama aku” aku tersenyum
“ ya kak”
Kami mengelilingi halaman rumah sambil bercerita, matahari sudah mulai terik, aku dan intan masuk ke dalam. Mama menghampiri aku dan mengajak aku ke ruang tamu.
“ ada apa ma” aku duduk di ruangan tamu
“ mama lihat kamu sudah dekat dengan intan” mama ikut duduk di sampingku
“ iya ma, dia orangnya asyik dan dia kayaknya sama besar deh sama laras” aku tersenyum
“ ya udah, kalau kamu senang mama juga senang” mama tersenyum dan meninggalkan aku
Aku keruangan kerja dandi yang ada di rumah, aku melihat beberapa buku yang bisa aku baca. Aku menemukan sebuah buku yang menarik perhatianku, aku mengambil buku tersebut dan membacanya. Karena keasyikan membaca aku ketiduran di ruang kerja dandi.