
Di sekolah Dandi, aku sebagai guru sekaligus murid, aku menjadi guru ketika mata pelajaran ekonomi dan menjadi murid ketika mata pelajaran lain karena aku harus selalu berada di sebelah Dandi. Kebetulan pelajaran pagi ini adalah ekonomi jadi aku harus masuk sebagai guru. Sebenarnya itu semua sudah di atur sama orang tua Dandi karena mereka tau Dandi akan mencoba lari dari sekolah. Seperti yang ada dalam bayangan ku, Dandi akan berusaha membuat aku tidak betah menjadi guru dia, Dandi meminta bantuan sama teman-teman nya.
Saat istirahat, aku sengaja tidak bersama Dandi karena aku tau Dandi akan merencanakan sesuatu bersama temannya. Bel masuk sudah berbunyi sekarang aku akan menjadi murid di kelas Dandi, bukan murid sih tapi seperti pengawas Dandi. Aku sudah felling kalau Dandi akan mengerjai aku, aku berpura-pura masuk tapi aku tetap waspada, seperti dugaan ku Dandi memasang jebakan tapi aku tidak masuk dalam jebakannya karena aku masuk lewat jendela jadi yang masuk dalam jebakan Dandi adalah guru di sekolah itu. Aku duduk di sebelah Dandi dan tersenyum kearahnya, Dandi sangat kesal karena aku tidak masuk dalam jebakannya. Guru yang masuk dalam jebakan Dandi marah-marah dan menghukum Dandi. Aku tau kalau Dandi memiliki riwayat penyakit dan beberapa fobia.
“ Bu maaf mungkin jebakan itu bukan untuk ibu tapi untuk saya yang di buat Dandi, saya minta tolong jangan hukum Dandi, hukum saja saya karena saya adalah guru Dandi” aku maju ke depan kelas
“ Maaf sebelumnya Laras, ibu tau kamu guru Dandi tapi jika Dandi salah dia tetap harus di hukum, ibu tau Laras anak yang baik jadi ibu tidak akan menghukum Dandi sekarang tapi jika Dandi melakukan kesalahan lagi, ibu tidak akan memaafkan Dandi” guru itu mengelus kepala ku
“ terima kasih buk, dan sekarang Lo minta maaf sama ibu Dinda” aku mencubit Dandi
“ maaf buk” Dandi kembali ke tempat duduknya
Aku juga kembali ke tempat dudukku, selama belajar Dandi menjadi anak yang baik karena dia takut nanti aku menyakiti tangannya lagi. Jam sekolah sudah berakhir, aku dan Dandi memutuskan untuk pulang berjalan kaki karena aku harus ke toko buku di dekat sekolah.
“ ngapain Lo ajak gue kesini” dandi menatap aku dengan tatapan ingin membunuh
“ Ikut aja, aku akan memperlihatkan sesuatu sama kamu” aku mendorong Dandi
Aku membawa Dandi ke sebuah ruangan yang ada di toko buku itu.
“ Hai ras, tumben kamu kesini, bukannya kamu sibuk di kantor” Malvin mendekati ku
“ oh itu, aku sekarang tidak kerja di kantor lagi karena sekarang aku harus mengurus anak ini” aku melirik Dandi
“ oh jadi dia yang kamu bilang semalam” Malvin berusaha berdiri
“ Eh kalau Lo nggak bisa berdiri jangan di paksain, Lo pikir Lo bakal mendapat keajaiban gitu” Dandi melirik Malvin
Aku kesal dengan omongan Dandi, aku menarik Dandi keluar dari toko itu dan menampar Dandi.
“ Lo bisa jaga nggak ucapannya, gue ngajak Lo kesini bukan untuk menghina dia tapi melihat perjuangan dia” aku marah sama dandi
“ kenapa Lo marah segitunya sama gue, emang apa salah gue, Lo suka ya sama dia” Dandi terlihat kesal
“ Gue suka atau nggak bukan urusan Lo tapi gue peduli sama orang tua lo, gue hanya ingin bantuin Lo udah itu aja” aku marah banget sama Dandi
Aku meninggalkan Dandi di jalan sendirian, aku tidak suka dengan sikap Dandi terhadap Malvin. Di rumah aku menelpon Malvin dan minta maaf, seperti biasa Malvin tidak marah sama sekali. Walaupun Malvin baik tapi aku tidak bisa menyukai dia, Malvin pernah mengungkapkan perasaan nya sama aku saat SMA tapi aku menolaknya karena aku tidak menyukai dia.
Setelah aku selesai bicara dengan Malvin orang tua Dandi menelpon aku dan meminta maaf, orang tua Dandi juga meminta ku kerumah mereka. Sebelum aku sampai di rumah Dandi, aku berpikir kalau aku akan di pecat karena tadi aku sudah menampar Dandi. Di rumah Dandi, satpam menyuruh aku langsung masuk. Di dalam rumah sudah ada Dandi dan kedua orangtuanya, aku masuk dan bersalaman dengan mama Dandi.
“ ada apa bos, apa aku akan di pecat, jika iya maaf ya bos” aku menundukkan kepala
“ ras, kamu tidak akan di pecat, ibu sama bapak ingin minta maaf karena Dandi sudah membuat kamu marah” mama Dandi memegang tanganku
“ Maksud ibu apa, Dandi tidak melakukan kesalahan, itu kesalahan aku” aku melirik Dandi
“ maaf kak, gue sudah berbicara tidak sopan dengan teman lo, gue juga minta maaf kalau sikap gue di hari pertama Lo kerja udah seburuk itu, jika Lo mau berhenti, Lo masih bisa kerja di Perusahaan papa kok” Dandi bersujud di kaki aku
“ berdiri dan” aku membantu Dandi berdiri “ aku tidak marah sama kamu, aku hanya tidak suka aja anak kecil bersikap tidak sopan sama orang yang lebih tua darinya dan untuk kerja aku senang bisa bantuin kamu” aku hanya tersenyum.