Love Don't See Who We Are

Love Don't See Who We Are
paman Dandi



Salah satu ibuk-ibuk itu emosi mendengar omongan aku dan menampar aku, dandi yang mendengar bunyi tamparan langsung mendekati kami, semua para undangan juga melihat kearah kami. Dandi memeluk aku dan memegang pipiku bekas tamparan dari ibuk-ibuk tersebut. Aku melepaskan tangan dandi dan menatap ibuk-ibuk tersebut.


“ sepertinya saya tidak salah dalam berbicara”


Ibuk yang menampar aku tadi ingin menampar aku kembali tapi mama nagkap tangan ibuk tersebut dan menghempaskannya.


“ saya tidak tahu apa yang terjadi disini, tapi jangan pernah anda menampar anak saya, saya orang tuanya tidak pernah sekalipun menamparnya” mama marah sama ibuk tersebut


“ kamu ajarkan menantu kamu yang sok pintar itu, percuma memakai pakaian tertutup seperti itu kalau sikapnya seperti preman” ibuk tersebut menunjukku


“ maaf ya buk, saya bersikap seperti ini karena anda memulainya terlebih dahulu, jika anda tidak mengetahui permasalahan dari keluarga saya jangan pernah membiacarakannya, dan untuk masalah ini jangan bawa-bawa pakaian saya karena itu kewajiban saya sebagai muslimah” aku tidak bisa menahan emosiku


Perutku sakit, aku tidak bisa menahannya dan terjatuh kelantai, dandi langsung menggendongku ke dalam rumah dan menghubungi dokter. Delia yang juga ada disana menemui ibuk-ibuk yang menampar aku. Delia menampar ibuk tersebut dan berkata


“ karena kak laras nggak bisa menampar kamu karena dia menahan sikap dan perlakukannya karena kamu lebih tua dari tapi aku tidak, aku tidak akan tinggal diam melihat kakak aku di perlakukan seperti tadi”


Ibuk yang lainnya menampar delia “ kamu di ajarkan nggak sih sama orang tua kamu dalam bersikap kepada orang yang lebih tua” ibuk itu memegang wajah ibuk yang di tampar delia


Delia tersenyum “ sekarang anda berbicara tentang cara bersikap, menurut anda yang sudah tua seperti ini tahu dalam bertindak, menurut saya tidak, anda bersikap karena anda lebih tua dari kami, jika anda anda ingin di hormati, jaga sikap anda” delia menunjuk ibuk tersebut


Dandi menghampiri delia dan ibuk-ibuk tersebut,


“ sudah cukup delia, aku tidak peduli apa yang mereka bicarakan dan seharusnya kamu juga, sekarang laras sedang kesakitan dan kamu sibuk dengan ibuk-ibuk ini” dandi menarik delia


Delia melepaskan tangan dandi “ nggak dan, aku nggak bisa melihat kakak aku di perlakukan seperti wanita tidak berpendidikan, kamu lihat mereka memperlakukan kakak aku tadikan, apa kamu nggak marah”


“ aku marah delia tapi dengan marah apa laras akan senang, apa masalah akan selesai, apa laras bisa tidak merasakan sakit seperti tadi, apa bisa, jawab del” dandi menaruh tangannya di kepala dan menunduk


“ ternyata kamu bisa berfikir dewasa juga dan” kata ibuk yang menampar delia barusan


“ sudah cukup, jangan membuat masalah semakin besar lagi” ibuk yang lain menghentikan mereka


“ saya hanya penasaran, sekarang seorang dandi yang tukang bully sudah bisa bicara dewasa, hanya itu”


Delia yang tidak bisa menahan amarahnya menampar ibuk yang menampar dia “ lo jaga kata-kata lo, dandi nggak pernah ngebully seperti anak lo, lo sadar nggak anak lo hampir ngebunuh orang, lo tau nggak” Dandi menghentikan delia “ nggak dandi, kali ini gue yang bakal mewakili kak laras dalam berbicara”


“ maksud kamu apa, anak saya tidak pernah ngebully orang apalagi hampir membunuh orang”


“ lo yakin anak lo baik, emang lo pernah bertanya gimana sekolahnya” delia menunjuk ibuk terebut


“ saya tahu gimana anak saya, jadi saya”


Delia menunjukkan video anaknya ngebully teman sekolahnya “ ini pernah lo melihatnya” delia menarik ponselnya “ jangan pernah mengomentari kehidupan orang lain kalau kehidupan lo belum benar” delia menarik dandi meninggalkan ibuk-ibuk tersebut.


Ibuk-ibuk tersebut pulang dengan wajah kesal. Dandi dan delia kembali kedalam rumah dan menemui mama dan papa.


“ dimana laras ma” dandi menangis


“ di kamar”


Dandi berlari ke kamar dan melihat aku berbaring sambil memegang perut ku. Dandi mendekati aku dan duduk disebelahku sambil memegang perutku.


“ maafkan aku, kamu terus dalam bahaya walaupun kamu bersamaku”


Aku memegang pipi dandi dan tersenyum “ aku baik-baik saja sayang, anak kita juga baik-baik saja jadi jangan menangis”


Dandi menghapus air matanya dan mencium tanganku “ aku tidak akan pernah meninggalkan kamu sedetik pun mulai sekarang”


“ jangan gitu juga sayang, kamu harus kerja mencari uang untuk aku dan anak kita, kamu jangan mengkhawatirkan kami oke” aku mengemangati dandi


Dandi menaikkan alisnya dan keluar dari kamar, dandi menemui mama dan papa yang sedang bersama tamu undangan, tamu yang masih di rumah merupakan teman-teman mama dan papa. Undangan yang lain sudah meninggalkan rumah setelah dandi masuk ke rumah. Ibuk-ibuk yang membuat onar juga sudah pergi.


“ gimana laras” mama melihat dandi


“ sudah membaik ma, ma dandi pengen berhenti kerja dulu deh, dandi ingin menjaga laras, apa dandi boleh”


“ mama terserah dandi tapi laras mengizinkan dandi untuk berhenti kerja nggak” mama menepuk pundak dandi


“ tapi ma”


“ yang di bilang mama kamu benar dan, kamu tahu laras bukan, dia anak yang mandiri semenjak dia masih sekolah, jika dia bilang dia bisa, maka dia bisa” papa menepuk pundak dandi


“ oke ma, pa” dandi menundukkan kepalanya dan meninggalkan mama dan papanya.


“ sepertinya dandi sudah banyak berubah ya nandini” teman mama menyenggol mama


“ ya begitulah, semenjak dia tahu akan menjadi seorang ayah dia berubah, dia lebih ekstra dan lebih dewasa dalam berfikir” mama tersenyum


“ aku juga melihat banyak perubahan dandi semenjak laras ada di sampingnya” paman dandi muncul dari belakang para tamu


“ mas andri, kapan kamu datang” mama memeluk paman dandi


“ beberapa saat yang lalu” paman dandi tersenyum dan membalas pelukan mama


“ ya udah nandini, kami pulang dulu sudah malam juga”


Teman-teman mama dan papa sudah pulang, mama, papa dan paman masuk ke rumah. Mereka berbincang di ruang tamu sampai larut malam. Aku yang merasa haus turun dan melihat mama dan yang lainnya belum tidur. Aku menemui mama dan kaget melihat ada paman dandi di sana.