Love Don't See Who We Are

Love Don't See Who We Are
kesedihan



Setelah kejadian itu, Dandi tidak pernah membuat kesulitan lagi dan pekerjaan aku juga sudah mulai ringan, aku tidak harus ikut ke sekolah lagi, aku hanya perlu ke rumah Dandi jika Dandi kesulitan dalam pelajaran nya. Aku juga bahagia karena bulan depan aku kembali kerja di perusahaan papa Dandi.


Sudah 3 bulan lebih aku menjadi guru Dandi, aku senang karena Dandi bisa berubah menjadi anak yang baik. Seperti yang di janjikan papa Dandi, aku bulan depan sudah kembali kerja di kantor. Aku tidak sabar lagi untuk kembali kerja di kantor.


Sehari sebelum aku masuk kantor, sekolah Dandi menghubungi aku mereka bilang Dandi tidak sadarkan diri. Aku panik dan langsung ke sekolah Dandi, di perjalanan aku mengabari mama Dandi tentang keadaan Dandi. Sesampainya aku di sekolah, aku tidak menemukan Dandi di UKS, aku juga menemui guru tapi guru di sekolah bilang Dandi baik-baik saja.


Awalnya aku khawatir banget tapi mendengar kalau Dandi baik-baik saja aku merasa di kerjai. Aku keluar dari ruang guru dan berencana kembali ke rumah tapi di lapangan aku di hadang sama beberapa murid. Mereka membawa aku ke tengah-tengah lapangan, di sana ada Dandi dan mik. Semua murid berkumpul dan membentuk lingkaran. Aku bingung setengah mati karena aku tidak tau apa masalah nya.


“ Kak Laras, aku Dandi, aku murid private mu, aku juga senang kamu sudah merubah ku dan membuka mataku, aku ucapkan terimakasih” Dandi mendekati aku


“ Oke, tapi ini ada apa, aku nggak suka hal seperti ini” aku tersenyum dan membalikkan tubuh untuk pergi


“ Lo senangkan melihat gue seperti ini, kalian lihat nggak cewek ini sudah menghancurkan masa depan gue, dia merayu orang tua gue agar gue patuh sama dia, biar dia bisa kerja di kantor orang tua gue” Dandi terus mengoceh yang buruk tentang aku, aku nggak sanggup lagi mendengar ocehan Dandi, aku membalikkan tubuhku dan menampar Dandi


“ Lo tau nggak, gue nyesel banget jadi guru Lo, Lo tau nggak gue nggak pernah mau jadi guru Lo tapi mendengar cerita orang tua Lo, gue memilih berhenti bekerja dan membantu Lo, awalnya gue senang karena Lo sudah menjadi kebanggaan keluarga tapi gue nyesal banget bisa kenal dengan cowok yang tidak tau sopan santun dan satu hal lagi, Lo nggak bakal pernah lihat gue lagi dan Lo bilang sama orang tua Lo, jangan pernah nyari gue lagi”


“ Assalamualaikum Bu, Laras mau ngambil barang Laras yang tertinggal di kamar dandi” aku langsung ke kamar Dandi


Mama Dandi mempersilahkan aku ke kamar dandi, Dandi mengejar aku sampai ke kamarnya. Aku sudah mengambil barang ku dan keluar dari kamar dandi tapi Dandi menghentikan aku, dia mendorong aku ke kamarnya lagi dan mengunci kamarnya


“ Dan gue nggak suka ini, gue benci hal seperti ini, gue juga benci sama Lo” aku berjalan ke arah pintu kamar dandi


“ please panggil gue dengan kamu lagi, gue nggak bermaksud menyakiti Lo, gue hanya di ancam sama teman-teman gue dan juga Malvin” dandi menundukkan kepalanya


“ Sekarang Lo nyalahin Malvin setelah Lo buat gue hancur, Lo memang tidak pernah berubah ya, gue nggak bakal pernah manggil Lo dengan kata kamu lagi karena bagi gue Lo bukan siapa-siapa gue lagi” aku mendorong Dandi dan keluar dari kamarnya.


Aku menemui mama Dandi dan berpamitan, sebenarnya aku tidak tega melihat mama Dandi menangis histeris tapi aku tidak mau sakit hati lagi. Aku memutuskan untuk pergi ke luar negeri agar aku tidak pernah lagi bertemu dengan Dandi.