
Teman-temanku juga keluar dari ruangan dandi. Temanku yang berbicara denganku tadi mendekatiku dan menyuruhku duduk karena dia tahu kalau aku sedang hamil. Mama mendekatiku dan memeluk aku. Mama menangis saat memelukku, samar-samar aku mendengar mama berkata
“ jika kamu sudah tidak tahan dengan pernikahan ini, katakan dan kami akan melepaskan kamu dari pernikahan ini”
Aku yang mendengar kata-kata mama tidak bisa membendung air mataku, aku memeluk mama dengan sangat erat, aku melepaskan pelukan mama dan menghapus air mataku. Aku berdiri dan tersenyum.
“ mungkin dulu saat awal pernikahan aku tidak begitu menyanyangi dandi tapi setelah aku melewati banyak hal dengan dandi, aku laras sangat mencintai dandi dan juga keluarga kita ma, jadi jangan pernah mama mengatakan hal itu lagi kepada laras” aku tersenyum dan memeluk mama lagi
Papa berjalan kearah aku dan mama, papa mengelus kepalaku dan tersenyum “ terima kasih laras karena kamu keluarga saya bisa bersatu”
Aku tersenyum “ sama-sama pa, karena ini kewajiban aku sebagai seorang menantu dan juga istri”
Dandi juga berjalan kearah kami dan memeluk aku dan mama, semua karyawan dan teman-temanku tersenyum dan bertepuk tangan. Amel yang merasa di permalukan tidak bisa menerima dan meninggalkan kami, dia masuk ruangannya dan mengambil beberapa foto. Amel kembali dan melemparkan foto kepada kami. Amel tersenyum, papa mengambil foto yang di lempar amel, papa kaget melihat foto tersebut. Aku mengumpulkan foto yang di lempar amel dan melemparkannya kembali kepada amel. Mama mengambil foto dari tangan papa dan melihat kearah dandi. Mama menatap dandi dengan tajam, mama ingin menampar dandi tapi aku menghentikan mama.
“ jangan salahkan dandi ma, ini semua bukan salah dandi”
Mama menurunkan tangannya “ apa maksud kamu ras, jelas-jelas di foto ini dia dan wanita itu, apa kamu tidak sakit hati melihat suami kamu berduaan dan bermesraan dengan suami kamu, kamu terlalu baik ras” mama berjalan kearah papa
Papa memeluk mama “ baru saja aku merasa lega dengan semua ini tapi apa ini dandi” papa menatap dandi
“ pa sudah laras bilang ini bukan salah dandi, laras akan jelaskan semuanya nanti tapi sekarang laras ada urusan dengan dia” aku menunjuk amel
Amel hanya tersenyum licik dan menatap aku “ apa kamu merasa di khianati”
“ tidak, aku percaya akan suamiku, terima kasih sudah memperlihatkan siapa kamu dan aku juga penasaran siapa sih yang bantuin kamu sehingga kamu mendapatkan informasi yang salah tentang aku dandi” aku tersenyum
“ maksud kamu” amel bingung
Aku tersenyum “ kamu terlalu mudah untuk di tipu, apa kamu pikir setelah semua ini, orang yang bantuin kamu selama ini akan ikut bertanggung jawab atau akan membantu kamu”
Amel sangat kesal dan menghubungi orang yang bantuin dia “ hallo, kamu dimana”
“ aku di luar negeri, maaf karena aku tidak bisa bantuin kamu lagi”
Panggilan berakhir, aku masih merasa dia belum kalah dan tersenyum.
“ wau, nyali kamu lumayan besar, aku apresiasi dengan semua itu” aku berjalan kearah amel dan mengambil ponselnya, aku melepar ponselnya kepada dandi
“ apa yang kamu lakukan, berikan ponselku kembali” amel marah
Aku mengambil ponsel amel dari tangan dandi dan memeriksa riwayat panggilannya dan juga mengambil no orang yang di telpon amel, aku juga membuka galeri amel dan mendapatkan foto-foto yang mirip dengan foto dandi, aku mengirim ke group perusahaan, semua karyawan mendapatkan pesannya dan kaget melihat foto tersebut. Mereka menatap amel dengan tajam, aku hanay bisa menunduk dan meminta maaf.
“ aku akan memaafkan kamu dengan syarat kamu mau membantu aku untuk bertemu dengan malvin”
“ malvin, teman kamu di perpustakaan itu” dandi kaget
“ ya”
“ buat apa”
“ karena dia di balik semua ini, aku juga baru tahu beberapa hari yang lalu saat kamu dan amel pergi meeting. Aku masuk dan memeriska komputer milik amel, awalnya aku nggak percaya tapi semakin aku menelusurinya aku semakin percaya bahwa malvin di balik ini semua, benarkan amel”
Amel mengangguk, dandi sangat marah karena pertengkaran kami dulu terjadi juga karena malvin “ dia tidak pernah berubah”
“ maksud kamu” aku menatap malvin
“ dia yang meminta aku untuk membuat kamu malu di sekolah dan dia juga mengancam aku akan menghancurkan hidup kamu jika aku tidak menurutinya, maafkan aku” dandi menunduk
Aku mengangguk dan menatap amel “ apa kamu bisa”
“ oke, aku akan bantuin kamu”
Temanku yang bantuin aku mendekatiku “ you’re the best, you can make your husband the best, I’m proud of you laras” temanku memeluk aku
“ thank you, but I learned all this from you” aku tersenyum
“ we will see you tomorrow, so we go back first” teman-temanku pergi.
Karyawan juga mulai bekerja, aku, dandi, mama dan papa masuk keruangan dandi, aku menejlaskan semua yang terjadi. Mama hanya bisa menangis mendengar semuanya, aku juga mengatakan bahwa aku bersikap dingin selama ini karena aku ingin melihat sejauh mana amel bisa melakukannya. Mama tersenyum dan meninggalkan ruangan dandi, papa menyusul mama.
Dandi duduk di depanku dan mencium kedua tangan ku, dandi memeluk aku dan memegang perutku “ maafkan papa, papa nggak bisa jagain mama kamu, kamu harus kuat dan jagain mama oke”
Aku tersenyum dan mengelus kepala dandi “ dia akan menjaga aku begitu juga kamu” Kami kembali bekerja seperti biasa, amel juga masih menjadi sekretaris dandi.
Setelah kejadian itu amel tidak lagi melakukan sesuatu hal di luar batas, amel juga bantuin aku mengurus pekerjaanku di bidang produksi. Amel berubah menjadi orang yang baik dan lebih baik dari yang aku pikirkan, david juga bantuin amel dalam melakukan pekerjaannya. Mama dan papa juga sudah baikkan dengan dandi walaupun beberapa hari yang lalu mama tidak berbicara dengan dandi tapi pagi ini mama sudah mulai berbicara dengan dandi.