Love Don't See Who We Are

Love Don't See Who We Are
kembali mesra



Sepeti hari sebelumnya dandi dan aku bangun, sholat, aku juga menyiapkan sarapan dan pakaian dandi, aku juga bersiap-siap untuk ke kantor, kami berdua sarapan dan berangkat kerja bersama, sebelum masuk kerja, dandi mencium dahi Laras dan kami masuk ke kantor. Amel yang melihat dandi sudah datang masuk ke ruangan dandi dan memberikan minuman. Dandi yang sudah minum di rumah menyuruh amel membawa minuman itu kebelakang, amel yang kesal keluar dari ruangan dandi dan membuang minuman yang dia bawakan untuk dandi. Melihat amel kesal salah satu karyawan menghampiri amel.


“ jangan terlalu dekat dengan pak dandi karena orang tua pak dandi nggak bakal biarin siapapun menggantikan posisi laras dan bukan itu aja, laras adalah orang kepercayaan dari papa dandi jadi jangan berharap terlalu banyak” karyawan itu meninggalkan amel dan kembali bekerja


Setelah mendengar kata karyawan tersebut, amel memukul meja yang ada di depannya dan meninggalkan dapur kantor, amel kembali bekerja.


Dandi memanggil amel dan meminta amel untuk menyiapkan laporan untuk minggu depan dan juga untuk hari esok karena hari esok mereka akan mengadatakan rapat bersama investor. Amel keluar dari ruangan dandi, kebetulan juga aku pergi ke kantor utama dan ingin menemui dandi tapi amel melarang aku untuk menemui dandi. Aku sangat kesal dan berteriak di kantor, dandi yang mendengar suara ku mematikan laptopnya dan bersiap untuk keluar ruangannya namun saat sedang membersihkan meja kerjanya, terdengar suara ricuh di luar dan dandi buru-buru keluar, dandi kaget melihat aku sudah ada di lantai sambil memegang perutnya.


Dandi mendorong semua karyawan yang menghalanginya, dandi menggendong aku ke mobil dan membawa laras ke rumah sakit. Amel yang melihat dandi sangat peduli dengan ku menghubungi orang yang berbicara dengannya sebelumnya.


“ gue nggak tahan lagi melihat dandi sangat peduli dengan laras, apa yang harus gue lakukan sekarang” terdengar amel marah-marah sama orang tersebut


“ terserah kamu, saya hanya ingin laras tidak terluka dan mereka berdua harus berantem kalau bisa mereka harus bercerai” orang itu menjawab dengan santainya


Amel mematikan telponnya dan kembali bekerja.


Dirumah sakit dandi menunggu aku di periksa dokter, dokter memanggil dandi ke dalam dan mereka berdua duduk di kursi yang sudah disediakan dokter. Aku bertanya kepada dokter


“ ada dok, apa penyakit saya yang dulu kambuh lagi” aku terlihat sangat khawatir


“ tenang buk, anda tidak sakit, anda hanya sedang hamil dan karena terlalu banyak pikiran mangkanya perut anda terasa sakit” dokter tersenyum


Dandi dan aku terdiam mendengar perkataan dari dokter, aku menggenggam tangan dandi dan tersenyum, aku mengucapkan terima kasih dan meninggalkan ruangan dokter, dandi masih belum percaya dengan apa yang dia dengar dari dokter barusan. Aku memukul pelan dandi dan menaikkan alisnya, dandi tersenyum dan memeluk aku. Dandi langsung menghubungi mama dan papanya dan mengakatan bahwa aku sedang hamil, mama dan papa sangat bahagia mendengar perkataan dandi. Mama berencana mempercepat liburan mereka tapi aku melarangnya.


Aku dan dandi kembali ke kantor dan kami bersikap tidak terjadi apa-apa, dandi kembali keruangannya dan aku kembali ke devisi produksi. Setelah mengetahui aku sedang hamil, aku sangat berhati-hati dalam segala hal terutama makanan. Dandi yang juga merasa bahagia mendapatkan kabar tersebut mengakhiri sandiwara dan mulai menjaga aku. Aku sebenarnya belum mau mengakhiri sandiwara tapi karena aku sedang hamil, akhirnya kami memutuskan untuk mengakhiri sandiwara.


Amel yang melihat aku dan dandi semakin mesra merencanakan hal baru untuk menghancurkan kami, amel menghubungi orang yang membantu dia dan mengatakan bahwa dia tidak bersikap baik lagi kepada aku. Amel mengakhiri panggilannya dan kembali bekerja.


Jam kerja sudah selesai dandi menjemout aku ke devisi produksi dan kami pulang bersama, di rumah aku kaget melihat makanan sudah tersaji di meja makan dan seseorang keluar dari dapur. Aku semakin kaget melihat orang yang keluar dari dapur, orang itu berlari ke arahku dan memeluk aku.


“ selamat ya atas anak pertama kakak” delia tersenyum


“ thank you dan thank you juga buat makanannya” aku membawa delia ke ruang tamu


Dandi ke kamar dan mengganti pakaiannya, dandi turun dan memanggil kami untuk makan malam. Kami betiga makan bersama, setelah selesai makan aku di bawa delia keruang tamu dan melanjutkan cerita kami yang sempat tertunda.


“ kak, baru-baru ini aku ketemu sama cowok, dia baik banget dan di perhatian juga tapi” delia terlihat sedih


“ tapi kenapa, apa dia sudah punya pacar atau gimana” aku penasaran


“ tapi dia terlalu baik yang membuat aku merasa tidak enak sama dia, aku tidak yakin aku bisa menerima dia tapi dia terus baik sama aku, aku harus bagaimana kak” wajah adelia sangat sedih


Terdengar suara dandi “ jika kamu ragu dengan dia, jangan di lanjutkan karena itu akan membuat kamu semakin takut untuk menolak dia, ras ragu yang kamu rasakan menandakan dia bukan untuk kamu” dandi duduk di sebelah ku.


“ jangan menjauh tapi kamu bersikap tegas dan lebih mandiri sehingga dia tidak akan membantu kamu lagi” dandi memeluk aku


“ jadi aku harus di tidur disini malam ini oke, boleh kan” delia tersenyum dan menatap dandi


“ ya terserah kamu, oh ya aku bawa bawa kakak kamu ke kamar dulu, karena sudah malam dan dia butuh istirahat” dandi membantu aku berdiri


“ oke”


Aku dan dandi ke kamar, di kamar aku duduk di pinggir tempat tidur dan menatap dandi. Dandi yang juga melihat kearah ku tersenyum dan menaikkan alisnya.


“ kenapa”


“ nggak, aku bingung aja kenapa kamu memberikan jawaban seperti itu sama delia” aku menunggu jawaban dandi


“ karena aku tahu cowok seperti itu hanya ada dua alasan, pertama dia ingin memanfaatkan delia sehingga delia tergantung sama dia dan kedua dia ingin mempermainkan perasaan delia sebenarnya ada tiga karena yang ketiga itu hanya sekitar 2 persen kemungkinan yaitu dia benar-benar mencintai delia”


“ jadi”


“ ya jadi, delia harus lebih tegas sama dia sehingga dia nggak berani memnafaatkan delia”


“ oke”


Aku dan dandi tidur, delia yang tidur di kamar tamu mendapatkan telpon dari cowok yang di ceritain tadi


“ ada apa”


“ kamu sudah tidur” suara lembut tapi srek terdengar dari ponsel delia


“ ya, aku mau tidur, ada apa” delia menjawab dengan jutek


“ kamu lagi dimana”


“ di rumah kakakku, aku bertanya kenapa kamu terus bertanya balik sama aku”


“ maaf, aku hanya ingin tahu kamu sedang apa dan dimana”


“ karena kamu sudah tahu aku mau tidur bye”


Delia mematikan telponnya dan tidur.