Love Don't See Who We Are

Love Don't See Who We Are
bukan salah paham



Sudah 3 bulan aku hamil, perut ku sudah mulai kelihatan. Dandi semakin ekstra dalam menjaga aku, malahan sekarang dandi melarang aku ke kantor tapi karena aku terus meminta akhirnya dandi membiarkan aku tetap pergi ke kantor. Semua karyawan di kantorpun menjaga aku dengan baik terutama amel dan david, jika amel dan dandi pergi meeting maka david yang jagain aku. Waktu berjalan begitu cepat, aku sudah mulai cepat leleh dan tidak bisa bekerja terlalu lama.


Hari ini dandi ada ujian di kampus, dandi tidak datang bersamaku ke kantor, aku kekator sendirian, di perjalanan masih lancar tapi saat aku ingin memakirkan mobil, ada beberapa orang yang mengepung mobilku, aku langsung menghubungi david. Aku yang tidak mau bayiku kenapa-napa tetap diam di mobil sampai david datang, sebelum david datang CEO martin keluar dari mobil yang menghentikan aku. CEO martin menggedor-gedor pintu mobil, aku takut tapi aku berusaha tenang karena jika aku gelisah itu akan berpengaruh dengan bayi ku. Aku mengambil ponselku dan mengambil beberapa foto dan mengirimkannya kepada david dan dandi. Aku sudah tidak bisa menunggu davi lebih lama, aku luar dari mobil dan menemui CEO martin.


“ ada apa anda melakukan ini kepada saya” aku menatap CEO martin


“ seperti yang aku bilang sebelum-sebelumnya, aku ingin kamu jadi istriku, jadi ini jawaban kamu, sekarang kamu hamil anak bocah itu” CEO martin tertawa di ikuti dengan anak buahnya


“ dia bukan bocah, dia ayah dari anak ini” aku tersenyum


CEO martin menarik tanganku dan memegang erat-erat, aku kesakitan dan menatap tajam CEO martin “ seperti apapun kamu memperlakukan aku, aku tidak akan menjadi istri kamu” aku berusaha melepaskan tangan CEO martin


Saat aku berusaha melepaskan tangan CEO martin, david datang dan menghantam anak buah CEO martin, david juga melepaskan tangan CEO martin dari tanganku. CEO martin tersenyum


“ kamu lagi, kamu suka sekali mencari masalah dengan saya” CEO martin sangat marah


“ selama itu masih bersangkutan dengan laras, saya akan selalu ikut campur” david menarik aku ke belakangnya


CEO martin menyuruh anak buahnya menghajar david, david berantem dengan anak buah CEO martin, aku yang melihat kesempatan langsung masuk mobil dan memanggil beberapa karyawan cowok untuk bantuin david. Beberapa menit setelah aku mengabari mereka, mereka datang dan bantuin david. David sangat kelelahan, david mendapatkan beberapa pukulan di wajah dan tubuhnya. CEO martin dan anak buahnya pergi meninggalkan kami semua, aku meminta karyawan cowok membawa david kembali ke kantor karena david tidak mau kerumah sakit.


Aku meminta amanda untuk mengambil kotak p3k, aku mengobati david, saat aku mengobati david, dandi datang dan mendekati kami berdua. Dandi menatap tajam david.


“ jangan marah dulu, kamu tanya dulu apa yang terjadi baru marah” aku menatap dandi dan melanjutkan mengobati david


“ ya udah, kenapa kamu ngobatin david, kenapa bukan yang lain” dandi duduk di sebelahku


“ kamu lihat ponsel mu” aku terus menobati david


Dandi mengambil ponselnya dan kaget melihat foto yang aku kirim, dandi berdiri dan marah, dandi menendang kursi yang ada di dekatnya. Semua karyawan kaget dan langsung berdiri. Aku yang juga sudah selesai mengobati david ikut berdiri.


“ kenapa” aku menatap dandi


“ apa dia yang melakukan semua ini, apa kakak baik-baik saja” dandi menatap aku dengan wajah khawatir dan marah


“ aku nggak apa-apa cuman tangaku sedikit sakit, kamu harus berterima kasih dengan david dan karyawan yang lain karena mereka yang bantuin aku terutama david” aku menenangkan dandi


Dandi menarik tanganku yang di tarik CEO martin tadi, dandi melihat memar di tangaku “ aku nggak bakal diam aja melihat kakak seperti ini, aku akan buat perhitungan dengan dia”


Dandi terdiam sejenak dan membatalkan pembalasan dendamnya, sebagai gantinya dandi meminta david untuk mencari beberapa orang bodyguard untuk jagain aku saat dandi tidak bersamaku. Dandi menarik aku ke ruangannya dan mengobati tanganku yang di tarik CEO martin, dandi membuat wajah sedih saat melihat tanganku memar. Dandi tidak berbicara sepatah katapun kepadaku, setelah dandi selesai mengobati tanganku, dia kembali bekerja dan kami melakukan pekerjaan kami masing-masing.


Salah satu karyawan dari bidang produksi memanggil aku, dia bilang di ruang produksi ada beberapa orang yang berantem dan tidak seorangpun yang bisa memisahkan mereka. Aku yang takut akan terjadi sesuatu yang fatal, mengikuti karyawan tersebut. Dandi yang juga mendengar pembicaraan kami mengikutiku dari belakang, dandi mengajak david.


Sampai di ruangan produksi karyawan sudah mengerumini karyawan yang berantem, aku mencoba menghentikan mereka namun tidak bisa, dandi yang juga baru sampe meminta david memisahkan mereka.


Setelah di pisahkan dandi menatap mereka dengan tajam, aku sebagai penanggung jawab bidang produksi meminta mereka menemui aku di ruanganku yang lama. Dandi dan david juga ikut bersamaku. Di dalam ruangan kedua karyawan tersebut hanya menunduk tanpa berbicara.


“ jika kalian diam seperti ini bagaimana caranya kita bisa menyelesaikan masalah kalian” aku menahan amarahku


“ maaf kak, tadi hanya kesalah pahaman” karyawan 1 menjawab


“ bukan salah paham kak tapi kesengajaan” karyawan 2 membantah


“ maksud kamu apa” karyawan 1 marah


“ kamu pikir yang barusan kamu lakukan salah paham, menurutku tidak, kamu sengaja gangguin aku agar aku nggak betah kerja disini dan kamu bisa menguasai tempat produksi ini, iya kan” karyawan 2 juga ikut marah


Aku, dandi dan david hanya mendengarkan perdebatan mereka, aku menatap dandi, dandi menaikkan alisnya dan tersenyum. Dandi melihat ke arah david. David memukul meja, kedua karyawan tersebut terdiam. Dandi tersenyum dan menatap tajam kedua karyawan tersebut.


“ jika kalian masih ingin bertengkar, biar saya carikan tempat untuk kalian, karena kalian pekerjaan jadi tertunda, kalian nggak malu di lihat karyawan yang lain” dandi menaikkan alisnya


“ maaf pak, kami salah” mereka menjawab serentak


“ kalian musuh atau teman sih” dandi menatap mereka satu persatu


“ kami teman satu kerja pak” karawan 2 menjawab


“ lalu”


“ aku salah, maafin aku” karyawan 1 meminta maaf sama karyawan 2


“ aku juga salah maafkan aku” mereka berdua saling bermaafkan