Love & Hurt

Love & Hurt
Part 45: Together



Sendiri itu baik tapi bersama akan menjadi lebih baik.


...


Alice mengerutkan keningnya saat aroma tajam menyelimuti indra penciumannya, ia benci aroma obat-obatan ia tidak suka. Matanya yang masih terpejam perlahan mulai bergerak mencoba terbuka dan sedikit demi sedikit menerima cahaya, itu sangatlah tidak nyaman namun ia harus berusaha karena ada sesuatu yang mengusiknya.


“Alicia…sayang kau mendengarku?”


‘Ah…kenapa ia di sini? Dan aku dimana?’ gumam Alice dalam hatinya dan masih merasa berat untuk menggerakkan kepalanya mencari sumber suara yang memanggilnya.


Alice masih berusaha mengumpulkan tenaganya mencoba menggerakkan tanganya yang sulit untuk terangkat karena seseorang memegangnya. Tidak lama Alice mendengar suara pintu yang terbuka dan tertutup kembali, ia hanya diam karena ia tidak memiliki tenaga bahkan untuk memalingkan kepalanya.


“Nyonya Alicia Serenity, apa Nyonya mendengarkan saya?”


‘Nyonya? Kenapa dengan kata Nona? Hei, aku belum menikah. Siapa dia?’ banyak pertanyaan di benak Alice saat melihat wajah seorang wanita paruh baya yang masih memancarkan pesona kecantikannya dan berbalut jas putih berlengan panjang.


“Hmmm…” hanya sebuah gumaman yang keluar dari mulut Alice menjawab pertanyaan yang diajukan padanya.


“Nyonya masih sangat lemah dan untung saja janin dalam kandungan Nyonya sangat kuat dan ia mampu bertahan. Kita akan segera melakukan pemeriksaan lengkap sebentar lagi, disini saja supaya Nyonya tidak terlalu banyak bergerak.”


“Ap…apa?? Janin??” ucap Alice dengan sekuat yang ia bisa.


Dokter itu tersenyum karena melihat keterkejutan Alice. “Baru berusia 3 minggu, karena itu masih sangat rentan. Tolong jangan terlalu lelah dan jangan terlalu banyak pikiran Nyonya. Semua akan baik-baik saja.”


“Dokter, sambil menunggu alat pemeriksaan Alice bisakah kami bicara dengannya sebentar?” tanya Calvin pada Dokter yang menangani putrinya.


“Silahkan Tuan Calvin, setengah jam lagi saya akan kembali.”


Saat dokter tersebut sudah keluar, bukan Calvin yang mendekati Alice namun Alvern.


“Terima kasih Alicia, sudah menjadikanku seorang Daddy. Aku menyukainya.” Alvern bicara pada Alice sambil terus mencium tangan Alice dengan penuh rasa bahagia.


“Kenapa?”


Satu kata yang keluar dari mulut Alice membuat Alvern menghentikan kegiatannya mencurahkan kebahagiannya pada Alice. Alvern mendongakkan kepalanya menatap Alice dengan raut wajah bingung atas pertanyaan yang dilontarkan Alice.


“Karena kita saling mencintai Alicia, maka dari itu ada Dia,” ucap Alvern sambil mengusap perut Alice yang masih rata.


“Kau…”


“Sssttt…jangan terlalu banyak berpikir sayang. Ingat, kita harus menjaganya. Jangan sampai kita kehilangan lagi, dan jangan pernah meragukanku Alicia. Kita akan bersama, menua bersama. Melihat anak-anak kita tumbuh dan besar bersama.”


Air mata Alice pun tumpah tak dapat dibendung lagi. Ia kembali teringat janin yang sudah direnggut darinya dengan paksa dan sekarang jiwa baru tumbuh lagi dalam rahimnya. Kesempatan itu ada, kesempatan yang kedua untuk menemukan bahagia. Sudah cukup keras ia bertahan membangun tembok tak kasat mata untuk membentenginya karena takut kembali terluka. Kedua orang tuanya hanya menyaksikan dalam diam apa yang terjadi di antara putrinya dan laki-laki yang sudah menyakiti sekaligus mencintainya.


“Maafkan aku," ucap Alice dengan lirih.


“Tidak, aku yang harus minta maaf. Aku mungkin bersyukur dengan semua yang sudah kita alami karena kejadian itu sudah mempertemukan kita dan menghasilkan sesuatu yang luar biasa,” ucap Alvern sambil menempelkan keningnya ke Alice.


“Kau yakin ini anakmu Alvern?” tanya Alice perlahan.


“Sekalipun bukan, kau tetap akan menjadi istriku.” Alice hanya terkekeh perlahan saat mendengarkan jawaban Alvern. Tidak lama pintu  ruang perawatan Alice terbuka lebar, seorang dokter dan dua orang perawat masuk dengan mendorong sebuah alat yang akan digunakan untuk memeriksa Alice.


“Maaf jika mengganggu, kita akan melakukan pemeriksaan kandungan Nyonya Alicia untuk mengetahui apa yang harus kita lakukan selanjutnya,” ucap Dokter tersebut dengan wajah tersenyum.


Alvern berpindah mengambil posisi di sisi pembaringan Alice untuk memberikan ruang pada dokter yang menangani Alice, namun tangannya masih terus menggenggam tangan Alice dengan posessif.


Alice dan Alvern sama-sama terdiam saat terlihat sebuah gambar pada layar monitor yang ada di dekat mereka.


“Hmmm…kalian bisa melihat di sini. Titik kecil ini adalah calon anak kalian dan dia terlihat baik-baik saja, namun Mommy harus banyak makan makanan yang bergizi dan minum susu untuk ibu hamil supaya baby bisa berkembang dengan baik dan bulan depan kita bisa mendengar detak jantungnya lebih jelas lagi. Untuk jenis kelamin…”


“Tidak, biarkan itu jadi kejutan untuk kami nanti Dok,” ucap Alice sambil menatap Alvern meminta persetujuan.


“Apapun yang dikatakannya pasti akan kuturuti selama itu tidak membahayakan mereka berdua,” ucap Alvern dengan nada bicara yang tidak ingin dibantah.


“Dan selama trimester pertama ini Daddy berpuasa dulu ya, mengingat Mommy pernah mengalami kehilangan sebelumnya. Kita tentunya tidak ingin mengambil resiko.”


“Mommy jika ada yang ingin dimakan tidak masalah selama itu tidak pedas dan terlalu asam. Saya akan merekomendasikan seorang ahli gizi supaya nanti bisa lebih jelas tentang makanan apa yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi selama kehamilan. selama 3 hari ke depan Mommy masih harus dirawat untuk memulihkan diri dan melengkapi nutrisi yang sekarang masih sangat kurang.”


“Terima kasih Dokter, dan bisakah aku meminta foto USG anakku?” ucap Alvern dengan wajah yang terus saja tersenyum.


“Tentu saja,” Dokter tersebut langsung memberikan sebuah amplop kecil yang di dalamnya sudah terdapat foto USG kehamilan Alice.


“Kalau begitu saya permisi dulu, selamat siang.”


“Alvern, bukankah kau harus mengabari ayahmu?”


“Uncle tidak usah kuatir, ku rasa sebentar lagi Daddy akan tiba di sini. Karena tidak ada yang tidak diketahui calon Granddaddy itu,” ucap Alvern.


Benar saja, tidak lama Calvin menerima sebuah panggilan yang masuk ke ponselnya dan tentu saja Sebastian yang sudah menghubunginya. Sebastian hanya mengatakan jika ia sudah berada di Georgia dan sebentar lagi akan tiba di rumah sakit.


“Ckckckck…ayahmu tidak pernah kehilangan sentuhan Trevornya sejak dulu,” ucap Calvin sambil meletakkan ponselnya di atas meja yang di hadapannya.


“Dan Alvern sampai kapan kau akan memanggil Uncle dan Aunty, sedangkan kau akan menjadi ayah dari cucuku?!” Calvin tertawa bersama istrinya melihat Alvern dan Alice yang saling pandang kemudian terdengar tawa lepas dari mulut mereka.


Alice maupun Alvern sudah sama-sama pulih, saling menyembuhkan luka yang mereka dapatkan dari ketamakan seorang wanita. Mereka berdua kehilangan tapi sudah tergantikan dengan kehadiran anggota baru yang akan melengkapi kehidupan mereka berdua. Keraguan dan kekerasan hati Alice perlahan terkikis saat ia mengetahui ada jiwa lain yang tumbuh dalam rahimnya, kehadiran jiwa lain yang meruntuhkan tembok kokoh tak kasat mata yang menghalangi Alvern untuk membuktikan perasaan yang sebenarnya pada Alice.


...


***TAMAT


...


Haloo, vii is here bersama teman kolaborasi vii, sebut saja dia rii 😁


vii dan rii mu mengucapkan terimakasih karena telah mengikuti perjalanan cinta Alvern dan Alice


tolong, ambil makna yang berkesan dan berguna di dalamnya dan jangan sekali kali mengikuti hal buruk dalam novel nii krena semua adalah fiktif


.


mungkin vii atau rii akan kasih EXTRA part atau vii akan memberikan kisah cinta dan menyakitkan yang lain atau season 2 tapi masih dalam perencanaan dan gak janji, nantikan saja yaa 😍😍


.


akhir kata vii dan rii mengucapkan banyak terimakasih and i love you 💋💕


.


salam hangat


viiriiyoo


God Bless You 😇***