
Saat dibenci tidaklah terlalu menyakitkan tapi saat ditinggalkan bahkan dilupakan maka akan ada kehancuran yang bahkan sulit untuk dibangun ulang seperti sedia kala.
.
Alice masih belum membuka mata walaupun sudah berhari-hari, berbagai macam pertanyaan sudah diberikan oleh Calvin dan keluarganya pada dokter yang menangani Alice, namun mereka hanya menerima jawaban jika mereka hanya perlu bersabar dan berharap agar Alice segera sadar dari tidur panjangnya.
Sedangkan Alvern yang terus menerus mendapat penolakan disertai hardikan bahkan tidak jarang serangan fisik dari Fabian tidak membuatnya begitu saja menyerah untuk menemui Alice, walaupun ia harus melihat keadaan Alice saat tengah malam. Alvern cukup berpuas diri walau hanya dapat melihat tubuh mungil Alice dari luar ruangan. Ia tidak ingin mengusik Calvin dan keluarganya lebih jauh lagi meskipun sebenarnya ia bisa.
Dengan langkah pasti, Alvern masuk ke rumah sakit berniat mengunjungi Alice karena sesuai keterangan dari pihak rumah sakit jika Alice akan dipindahkan dari ruang perawatan intensif ke ruang rawat kelas VVIP yang artinya Alice sudah melewati masa kritisnya.
Saat Alvern sudah berada di ruang perawatan Alice ia tidak mendapati siapa-siapa di sana, hanya sebuah ruangan luas dengan berbagai fasilitas yang terbilang lengkap karena merupakan kelas VVIP di rumah sakit tersebut. Alvern mulai gusar dan bergegas menuju meja pemantauan pasien dimana beberapa orang perawat berada di sana.
“Permisi, apakah pasien bernama Alicia Serenity masih berada di ruang ICU?” tanya Alvern pada perawat yang berada di meja pemantauan tidak jauh dari ruang VVIP dimana seharusnya Alice berada.
“Pasien Alicia sudah dipindahkan oleh keluarganya tuan dan rumah sakit tujuannya tidak disebutkan pada keterangan pasien yang ada di data pasien kami.”
JDARRR!!!
Jantung Alvern tiba-tiba berdetak dengan cepat saat mendengar keterangan yang diberikan oleh salah satu perawat yang ada di meja pemantauan tersebut.
“Apaaa?? Kapan Alicia dipindahkan?”
“Menurut keterangan di sini, pemindahan dilakukan satu hari yang lalu.”
“Baiklah, terima kasih atas keterangannya.”
Tanpa mendengarkan jawaban dari perawat tadi Alvern berlalu dengan wajah menegang, ia tidak menyangka jika Calvin dan keluarganya bertindak cepat dengan memindahkan Alice, mereka berusaha menjauhkan Alice darinya. Tangan Alvern mengepal dengan keras sampai memutih, ia melangkah cepat keluar dari rumah sakit dan melesat cepat dengan mobilnya menuju kantor ayahnya.
BRAKKK!!
“Daddy!!”
“Alvern, apa yang kau lakukan?” tanya Sebastian saat melihat wajah anaknya yang telihat tegang.
“Ke mana uncle Calvin membawa pergi Alicia Dad?”
“Apa maksudmu, bukankah mereka masih di rumah sakit pusat karena Alice belum sadar?”
“Tidak Dad, mereka pergi! Aku baru saja dari rumah sakit dan pihak rumah sakit mengatakan jika Alicia sudah dipindahkan dan mereka tidak menyebutkan ke mana Alicia dipindahkan Dad!” Alvern tampak kacau saat menemui ayahnya bahkan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu ia merangsek masuk sehingga membuat ayahnya terkejut.
“Tenanglah Alvern, itu hak mereka. Mungkin mereka ingin perawatan yang lebih lagi untuk Alice. Daddy akan mencoba menghubungi Calvin. Kembalilah bekerja Alvern, tanggung jawabmu sekarang lebih besar. Ribuan keluarga bergantung di perusahaan kita, jangan sampai kau kehilangan fokusmu Alvern. Kau dengar Daddy?” ucap Sebastian, walaupun ia sangat tahu alasan di balik tindakan Calvin yang memindahkan perawatan Alice secara tiba-tiba, ia hanya tidak ingin jika putranya kehilangan kendali karena kepergian Alice.
“Aku akan mencarinya Dad!”
“ALVERN…ALVERN… astaga dia selalu keras kepala. Jack ke ruanganku!” percuma saja teriakan Sebastian yang memanggil Alvern karena Alvern sudah menjauh dari ruangannya dan tidak memperdulikan teriakan Sebastian.
“Jack, utus 2 orang untuk mengawasi Alvern. Ia sedang labil sekarang. Dan katakan pada Joe untuk menangani perusahaan jika Alvern tidak kembali, hubungi aku jika ada kesulitan.”
“Baik tuan,” Jack tidak ingin bertanya apa-apa, karena semua tampak kacau setelah kejadian yang menewaskan Barbara dan melukai Alice.
Alvern dengan perasan yang kalut karena kepergian Alice melupakan jika ia mempunyai tanggung jawab yang besar. Ia mengerahkan semua anak buahnya untuk mencai keberadaan Alice bahkan keberadaan Calvin dan keluarganya. Dan sekarang ia tidak ingin ke kantornya, ia hanya ingin mencari Alice, ia akan melakukan apa saja demi menemukan Alice…apa saja…
Di tempat lain, di sebuah rumah sakit terbesar di kota Georgia.
“Bagaimana perkembangan pemulihan putriku dokter,”
“Semua sudah mulai membaik dan hasisl CTSCAN dari nona Alicia menunjukkan jika organ hatinya sudah pulih.”
“Karena kondisi fisik nona Alice sudah mulai membaik maka tidak akan lama lagi nona Alicia akan sadar, namun jika semua kejadian yang dialaminya membuat ia enggan untuk sadar makai a akan terus seperti itu.”
“Maksud dokter jika putriku lebih nyaman dengan tidur panjangnya maka ia tidak akan pernah bangun?” tanya Calvin demi meyakinkan dirinya sendiri.
“Pada kenyataannya memang seperti itu tuan dan anda bisa berkonsultasi dengan Dokter Natalie yang lebih mendalami tentang sifat dan perilaku.”
Calvin menghela nafasnya setelah mendengarkan penjelasan dari dokter yang menangani putrinya.
“Terima kasih Dokter.”
“Tidak masalah tuan Calvin, penggil kami jika ada perubahan sedikit saja pada nona Alicia. Saya permisi dulu tuan Calvin.” Dokter itu pun keluar dari ruang tempat dimana Alice di rawat.
Calvin melangkah mendekati tempat pembaringan putrinya dan duduk di kursi yang berada di samping Alice. Ia meraih tangan Alice yang tidak terdapat jarum infus dan menggenggamnya, menatap wajah pucat Alice dengan penuh kerinduan dan rasa penyesalan yang besar.
“Maafkan Daddy sayang, Daddy sudah gagal melindungimu bahkan sejak kau bayi. Apa yang harus Daddy lakukan untuk menebusnya jika kau tidak mau membuka matamu? Bangunlah nak, kami merindukanmu, kau tidak tahu besarnya rasa bersalah kami. Mommymu tidak pernah sehat sejak kehilanganmu, Kakaknu sampai harus menjalani terapi selama bertahun-tahun. Bangunlah nak, biarkan kami menebus rasa bersalah kami terhadapmu…” seorang ayah seperti Calvin terlihat tegar namun saat diperhadapkan dengan kenyataan menyakitkan tentang putri kecilnya, ia tidak dapat lagi menahan laju air mata yang berontak keluar yang sejak lama sudah ditahannya.
Fabian dan istrinya yang berada di luar ruangan Alice enggan masuk ke dalam saat melihat ayahnya yang sangat terpuruk di sisi adiknya yang masih setia memejamkan mata.
Fabian tidak mengijinkan ibunya ikut ke rumah sakit karena kesehatan ibunya kembali menurun sejak kejadian yang menimpa Alice.
‘Bangunlah Fio, lihat kami yang merindukanmu. Kau tidak sendiri sekarang, ada kami yang akan manjagamu. Bangunlah!’ jerit hati seorang Fabian yang sangat ingin melihat mata adiknya terbuka dan berkumpul bersama mereka.
...
...
...
...
...
sabar bang, pasti bangun dia 😭😭😁😁
.
next part 32
apakah Alice akan membaik?
bisakah Alvern menemukan Alice?
stay tune ges 😍
.
.
Okedeh pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁
Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍
.
Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤