
Seperti pedang bermata dua, cinta dapat diibaratkan demikian dapat memberikan kenyamanan dapat juga memberikan rasa sakit yang mendalam.
...
“Hallo Alice rupanya kau sudah sadar.”
Saat mendengar suara orang yang menyapanya Alice menjadi semakin tidak nyaman dan kembali berusaha melepaskan diri dari ikatan yang membelitnya., walaupun nyeri yang dirasakannya sangat luar biasa tapi ia tidak lagi memperdulikannya, karena satu hal tujuannya yaitu melepaskan diri secepat yang dia bisa.
“Jangan banyak meronta Alice, tubuhmu tidak akan mampu bertahan. Biarkan aku membantumu.”
“Tidak, jangan mendekatiku Devid,” ucap Alice di tengah kesakitan yang menderanya.
“Sssttttt…tenang saja Alice aku tidak akan menyakitimu,” ucap Devid perlahan san semakin mendekati Alice.
“Jangan pernah menyentuhku Devid!”
“Aku hanya ingin membantumu Alice, kau cukup diam dan jangan banyak bergerak.”
Devid berjalan ke belakang Alice dan dengan perlahan menarik kursi yang masih terikat dengan tubuh Alice agar kembali tegak seperti semula. Pekikan tertahan keluar dari mulut Alice saat Devid membetulkan kursi yang masih menempel padanya.
“Kau sangat beruntung Alice karena aku yang ditugaskan untuk mengawasimu.”
“Apa maksudmu mengawasiku? Apakah kau kaki tangan wanita gila itu?” tanya Alice solah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
“Ckckckckck…aku bukan kaki tangannya, aku hanya rekanan nyonya Barbara yang nantinya akan menjadi rekanan di perusahaanya.
“Lepaskan aku Devid, tolong!” ucap Alice perlahan.
“Nanti akan kulepaskan, sekarang aku hanya ingin menikmati sesuatu yang sayang untuk dilewatkan,” ucap Devid seraya menyentuhkan ujung jarinya di pelipis Alice dan sontak saja Alice terkejut dan menolehkan kepalanya agar lepas dari tangan Devid.
“Jangan menyentuhku!” ucap Alice dengan dingin dan tatapan yang tajam.
“Kau tidak akan bisa kemana-mana Alice hanya di sini bersamaku,” dan dengan sangat berani Devid mendekatkan wajahnya pada Alice namun seseorang mengusiknya.
“Maaf tuan, kau harus keluar. Nyonya Barbara tidak ingin ada yang masuk tanpa perintahnya,” ucap salah satu penjaga yang baru saja menyadari jika pintu tempat Alice disekap sedikit terbuka.
“Cih…mengganggu saja,” gumam Devid dan menegakkan tubuhnya.
“Kali ini saja Alice kau ku lepaskan, tidak lain kali dan mungkin sebentar lagi kau akan merasakan nikmatnya menjadi seorang wanita. Kita akan bersenang-senang Alice. Hahahahahaha….” Devid berlalu dari hadapan Alice sambil tertawa puas saat membayangkan hasil kerjasamanya dengan Barbara dan tentu saja bonusnya adalah Alice.
Saat Devid sudah pergi meninggalkannya sedikit demi sedikit Alice menenangkan dirinya, ia tidak pernah tau jika dirinya akan mengalami hal yang mengerikan hanya karena mengenal Alvern. Dari awal ia memang sudah berusaha menolak rasa ketertarikannya terhadap Alvern namun apa yang bisa dilakukannya jika perasaannya sendiri tidak dapat ia kendalikan sehingga sebuah salah paham akan melahirkan sebuah perasaan yang lebih dari sekedar rasa suka, perasaan yang dapat dikatakan sebuah perasaan cinta. Alice tidak mengira hubungannya dengan Alvern yang dapat dikatakan absurb dapat membawanya ke sebuah drama penculikan disertai penyiksaan bahkan peristiwa pelecehan yang baru saja dialaminya dan dilakukan oleh orang yang dikenalnya, jika semakin dipikirkan Alice sungguh merasa ia tidak akan mampu bertahan lebih lama, ia hanya berharapa semoga ada orang lain yang akan segera melepaskannya dari para serigala pemangasa yang sudah menyekap dan menyiksanya.
‘Arrrgggghhh…aku harus cepat keluar dari tempat ini, tapi bagaimana?’
Sedangkan Alvern yang saat ini sedang berada di markas besarnya sangat merasakan jika perasaannya sangat tidak nyaman entah kenapa tiba-tiba perasaannya menjadi gelisah dan tidak tenang. Ia harus segera mendapatkan titik terang tentang keberadaan Alice, ia tidak ingin menjadi orang yang terlambat untuk menyelamatkan Alice.
‘Tunggu aku Alicia, sedikit lagi aku pasti menemukanmu. Bertahanlah!’
Di ruang kerja Sebastian yang sedang melakukan pembicaraan dengan Jack terkejut saat ruang kerjanya yang tiba-tiba saja dibuka oleh seseorang dan membuat Sebastian dan Jack menghentikan pembicaraan mereka saat melihat siapa yang sudah menerobos ke dalam ruangan Sebastian.
“Barbara apa yang kau lakukan di sini?” tanya Sebastian dengan tatapan yang tajam.
“Sayang, aku hanya ingin mengunjungimu dan menanyakan keberadaan Alvern anak kita. Ia tidak menepati janjinya menemuiku,” ucap Barbara dengan santai.
Jack yang tanggap dengan situasi diam-diam melakukan panggilan kepada Alvern dan membiarkan panggilannya tetap terbuka agar Alvern tau situasi yang terjadi sekarang.
“Kau sangat tidak kuharapkan datang ke sini Barbara!” ucap Sebastian dengan penekanan di setiap kata yang diucapkannya.
“Sikapmu sangat dingin menyambut istri yang mengunjungimu Sebastian.”
“Apa maumu?” tanya Sebastian masih dengan tajam menatap Barbara yang berada di hadapannya.
“Kau sangat tidak sabaran Sebastian, bukankah kita sudah hidup bersama cukup lama?” ucap Barbara seraya mendudukkan dirinya di sofa yang ada dalam ruangan Sebastian.
“Kau yang paling tahu kenapa sampai sekarang aku bertahan dan membiarkanmu masih bernafas Barbara.”
“Kau ingin mengambil apa? Bukankah kau sudah tau kau siapa, apakah perlu ku berikan beberapa lembar kertas yang berisikan latar belakangmu huh?”
Wajah berbara tiba-tiba menegang saat mendengar perkataan Sebastian.
“Jangan memaksaku Sebastian, kau tidak akan suka dengan hasilnya. Kau tentunya tahu apayang bisa kuperbuat.”
“Pergilah dari sini Barbara, karena jika lebih lama kau di sini aku tidak yakin jika kau akan keluar dalam keadaan masih bernyawa. Karena sungguh sesuatu yang sudah lama dipendam tidak akan bagus jika langsung dikeluarkan,” ucap Sebastian dengan nada tidak suka atas perkataan Barbara yang sudah mengancamnya.
“Kau tahu Sebastian, hanya sampai pukul 5 sore ini kau ku beri waktu. Jika sampai waktunya nanti semua belum beralih ke tanganku, maka kau bisa menyalahkan dirimu sekali lagi karena terlambat menyelamatkan seseorang yang berarti untuk anakmu. Sekali lagi ku katakan padamu Sebastian Trevor, aku tidak pernah ragu-ragu dengan apa yang kulakukan,” ucap Barbara dengan yakin dan beranjak dari tempat ia duduk kemudian meniggalkan ruangan Sebastian.
Saat barbara sudah meninggalkan ruangannya Jack memberikan ponselna pada Sebastian yang masih terhubung dengan Alvern sejak Barbara masuk ke dalam ruangan Sebastian.
“Alvern, apakah ada kemajuan pencarian kalian sampai saat ini. Waktu kita tidak banyak son,” ucap Sebastian dengan sedikit kecemasan akan keberadaan Alice yang belum diketahui.
“Sedikit lagi dad dan bagaimana dengan uncle Calvin?”
“Ia dan putranya akan ikut bersama kita mencari Alice, jangan lama son. Dia mungkin tidak akan bertahan dengan wanita gila itu.” Dan Sebastian pun mengakhiri panggilan untuk Alvern.
Tidak berapa lama ponsel Sebastian berbunyi dan saat Sebastian melihatnya ia terperanjat kaget karena pesan yang diterimanya berisikan foto-foto Alicia yang tidak berdaya dan dalam keadaan yang terikat serta ada beberapa luka dan memar di wajahnya. Sebastian mengeratkan pegangannya pada ponselnya karena sangat marah atas tindakan Barbara.
“Jack, lihatlah! Alice benar-benar berada di tangan Barbara,” ucap Sebastian seraya menunjukkan ponselnya pada Jack.
“Apakah tidak sebaiknya memberitahuakan pada tuan muda Alvern?” tanya Jack.
“Tidak Jack, Alvern akan menjadi gila jika ia melihat foto Alice seperti ini. Aku akan menghubungi Calvin.”
Barbara yang sudah berputar-putar selama lebih dari satu jam untuk menghindari anak buah Alvern yang mengikutinya, akhirnya menyuruh supir pribadinya untuk berhenti di sebuah hotel mewah dan tanpa ragu-ragu Barbara masuk ke dalam hotel namun ia hanya melalui lobby dan langsung menuju ke basement tempat parker mobil penggantinya. Barbara sengaja menitipkan satu buah mobilnya di hotel tersebut karena ia tahu jika sejak awal ia sudah diikuti, dan sekarang dengan mudahnya ia keluar dari hotel itu dengan mobil yang berbeda dan melewati beberapa anak buah Alvern yang masih menunggu tidak jauh dari jalan masuk ke hotel tersebut.
‘Tidak semudah itu untuk mengikutiku.’
...
...
...
...
...
ya ya dirimu memang melebihi ular piton jengg heemm ...
go go go alverrnnnn....
.
next part 28
smakin seru ges
ayah dan kakaknya Alice bertindak
jadi apa dah si kecombrang bar bar hehe
.
okedeh pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁
Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍
.
Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤