
Lari dari permasalahan bukan sebuah penyelesaian secara permanen, hadapilah walaupun dengan perasaan yang sakit bahkan dengan air mata yang tumpah membasahi wajah.
...
Alice masih setia dengan tidur panjangnya, beberapa alat bantu penunjang kehidupan sudah dilepaskan. Hanya sebuah jarum infus yang masih terpasang di tangan dan selang untuk memasukkan makanan yang masuk melalui hidungnya langsung ke lambung Alice. Miris memang saat melihat pemandangan tersebut, bahkan ibu Alice selalu mengeluarkan air mata tiap kali ia menghampiri puttri kecilnya.
Dan hari itu tepat satu bulan Alice terbaring dan bersamaan itu pula Alice berulang tahun ke 26, sungguh suasana mengharukan terjadi di ruang perawatan Alice. Tatkala yang berulang tahun tidak mengetahui sukacita seperti apa yang sedang menantinya, sebuah keluarga tanpa kepalsuan sedang menantinya namun ia tetap enggan membuka mata. Sampai sebuah tangan kecil mengusap pipi Alice dan mengecup keningnya dengan bibirnya yang basah karena dipenuhi dengan air liur, Jordan anak Fabian dan Natalie bersama orang tua dan Kakek neneknya berkumpul bersama di rumah sakit dimana Alice dirawat.
Entah kekuatan apa yang dimiliki anak berusia 1 tahun itu, awalnya hanya jari Alice yang bergerak namun lama kelamaan kelopak mata Alice perlahan-lahan terbuka. Tidak ada yang menyadarinya kecuali Jordan kecil yang mengeluarkan suara tidak jelas dari mulutnya.
“Tatatatata….tatatataata….” ucap Jordan dan ia terus saja berusaha menggapai Alice melalui tubuh ayahnya yang sedang menggendongnya. Fabian menolehkan kepalanya melihat apa yang ingin di raih oleh anaknya dan ia tersentak saat melihat Alice mulai mengerjabkan matanya.
Dengan cepat Fabian menekan tombol di sisi tempat tidur Alice untuk memanggil dokter yang bertugas, dan melihat kepanikan Fabian, ayah ibunya dan juga istrinya menghampirinya dan mereka sama terkejutnya dengan Fabian saat melihat Alice yang mulai membuka matanya.
Tidak lama seorang dokter dan juga beberapa orang perawat masuk ke ruangan Alice dan langsung melakukan beberapa pemeriksaan termasuk melepaskan selang untuk memasukkan makanan ke tubuh Alice. Alice meringis menahan sakit, saat selang yang dimasukkan melalui hidungnya perlahan-lahan ditarik untuk dikeluarkan. Sedangkan ibunya hanya menangis dan menutup mulut dengan kedua tangannya seakan ikut merasakan kesakitan yang dirasakan oleh putrinya.
Setengah jam lamanya dokter melakukan pemeriksaan terhadap Alice dan saat selesai dokter tersebut menjelaskan pada Calvin jika sekali lagi akan dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh untuk memastikan kondisi Alice terlebih organ hatinya setelah dilakukan operasi, dan setelah hasilnya keluar barulah akan dipastikan berapa lama lagi Alice akan meneriman perawatan. Setelah menjelaskan beberapa hal pada Calvin, dokter dan juga perawat yang menangani Alice keluar dari ruang perawatan.
Calvin dan istrinya langsung menghambur mendekati Alice dan memberikan pelukan dan ciuman untuk Alice. Alice hanya terpana, ia berusaha mengingat semua yang terjadi dan pertanyaannya ia dimana, dan siapa yang sedang bersamanya sekarang?
“Aku dimana dan kalian siapa?”
Di tengah-tengah kebingungan Alice yang baru sadar dari tidur panjangnya, Alvern di kota Midle menjadi sosok yang semakin dingin dan tak terbantahkan. Sampai-sampai setiap karyawan yang berpapasan dengannya tidak berani menatapnya hanya menundukkan kepala.
Alvern hanya tidak menyangka jika Calvin akan menutup semua akses keluarganya tanpa terkecuali, bahkan anak perusahaannya yang belum lama diresmikan sudah dialihkan pada orang lain. Sekuat apapun Alvern berusaha bahkan harus menggunakan cara-cara illegal tetap saja ia tidak bisa mendapatkan informasi apapun tentang Calvin bahkan tentang Alice.
Ayahnya pun sempat menyerah menasehati Alvern yang mengabaikan perusahaannya sampai ayahnya harus meminta bantuan pada ibu mertuanya yang tak lain adalah nenek Alvern.
Semenjak kehilangan Alice, Alvern seolah-olah menjadi orang lain. Ia hanya melakukan pekerjaan yang berkaitan dengan pencarian Alice, bahkan ia jarang pulang ke apartemennya dan hanya tinggal di markas besarnya demi mencari Alice.
“Joe, apakah sudah mencari ke Greenville?”
“Sudah tuan, tidak ada apa-apa di sana tuan seolah-olah tuan Calvin dan keluarganya tidak pernah tinggal di Greenville,” jelas Joe dengan ragu-ragu.
“Sialan, mereka benar-benar menutupi jejak bahkan sampai hal terkecil,” geram Alvern karena masih belum mendapat titik terang tentang keberadaan Alice. Bahkan ayahnya pun tidak dapat menghubungi Calvin.
“Tetap cari Joe, bahkan jika harus mengerahkan orang-orang dari dunia gelap aku tidak perduli. Aku hanya ingin tahu dimana Alicia sekarang! APA KAU MENGERTI? AKU INGIN ALICIA!!!!” Alvern tidak dapat lagi mengendalikan emosinya. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa, semuanya terasa menyakitkan saat kehilangan jejak Alice, bahkan lebih menyakitkan dari mengetahui jika Barbara yang membunuh ibu kandungnya.
Tanpa bicara lagi Joe segera keluar dari ruangan atasannya yang semakin membuat nyalinya menciut.
‘Dimana kau Alicia???’
Alice sudah berada di rumah baru dengan keluarga yang sebenarnya, keluarga kandungnya. Awalnya Alice hampir tidak percaya dengan kenyataan yang terhampar di hadapannnya, namun ia kembali mengingat perkataan Martha yang pernah menjadi ibunya jika ia adalah anak pungut yang terpaksa mereka asuh karena perbuatan adik ipar Martha.
Perlahan-lahan Alice mulai menerima ayah, ibu dan Kakak kandungnya masuk dalam kehidupannya, dan karena kesabaran mereka yang luar biasa menjelaskan sedikit demi sedikit pada Alice tentang semua yang sudah menimpanya.
Dan saat ia mendengar sebuah kenyataan jika ia sempat mengandung janin yang belum genap berumur 1 bulan bahkan harus kehilangan, Alice tak kuasa menahan air matanya, tubuhnya bergetar hebat karena tidak percaya jika saat ia belum mengetahui keberadaan sosok lain dalam rahimnya ia harus kehilangan bahkan dengan cara yang mengerikan.
Dan sekarang satu tahun telah berlalu, Alice berusaha menata kehidupannya kembali. Ia bertekad menata perasaannya yang sudah hancur berkeping-keping, entah sampai kapan ia sanggup tapi ia akan terus mencoba untuk menjadi sosok yang baru lepas dari bayangan masa lalu. Walaupun demikian ia sangat bersyukur karena ayahnya menjauhkan dirinya dari kota yang dipenuhi dengan kenangan menyakitkan, dan ia bersyukur atas kasih sayang yang diterimanya dari keluarga kandungnya.
Kakaknya Fabian dengan yakin menyerahkan perusahaan yang dipegangnya pada Alice karena Kakaknya akan mengambil alih perusahaan induk yang awalnya dipegang oleh ayah mereka. Calvin, ayah Alice dan Fabian memutuskan mengambil pensiun lebih awal karena ia ingin memiliki banyak waktu dengan keluarganya. Awalnya ibu Alice menentang jika Alice harus bekerja namun atas penjelasan dari Fabian dan istrinya mau tidak mau ibu Alice menerima keputusan jika Alice kembali bekerja. Dan satu hal lagi, Alice tetap menggunakan nama lamanya kaerna ia hanya ingin mengingat semua yang terjadi dalam kehidupannya, hanya nama Smith yang ditambahkan pada akhir nama Alice menjadi Alicia Serenity Smith.
Tok tok tok….
Suara ketukan di pintu ruangannya membuat lamunan Alice buyar dan kembali ke dunia nyata di mana ia berada. Dan sosok yang sangat dikenalnya yang sudah menjadi pelindungnya muncul dari balik pintu, dengan senyum lebar Alice bangkit dari kursi kebesarannya dan menghampiri tamu tak diundang tersebut.
“Kak Fabian kenapa di sini? Bukankan waktunya makan siang” tanya Alice pada Kakaknya.
“Karena waktunya makan siang makanya Kakak ke sini. Mommy mengirimkan makan siang dan kita makan bersama di sini. Sekarang kau siapkan, karena Kakak sudah membawanya jauh-jauh sampai ke ruanganmu,” ucap Fabian smbil mengusap puncak kepala Alice.
“Ck…kau perhitungan sekali Kak, dan jangan mengusap kepalaku lagi, aku bukan anak kecil!” wah Alice tertekuk namun ia masih menyiapkan makan siang yang sudah dikirimkan oleh ibunya.
“Besok-besok tidak usah seperti ini Kak, kau hanya membuang-buang waktu makan siangmu. Bukankan jarak kantor kita cukup jauh? Besok aku akan minta pada Mommy tempat bekal berbeda supaya kau tidak bolak-balik seperti ini,”ucap Alice sambil menikmati makan siangnya tanpa memandang wajah Kakaknya.
Ctakkk..
“Auwww…kenapa menyentil dahiku Kak. Sakit!”
“Kau tahu Alice, 25 tahun waktu terbuang tanpamu bersama kami…dan sekarang walaupun Kakak berusaha menutupi waktu yang selama puluhan tahun itu tidak akan bisa mengembalikan semua, bahkan kita tidak punya kenangan masa kecil bersama Alice. Ingatlah Alice tidak ada waktu terbuang jika untukmu,” ucap Fabian dan meraih Alice dalam pelukannya, mengecup puncak kepala adik tercintanya. Hilang sudah batu besar di pundaknya sejak Alice membuka mata pertama kali terbangun dari tidur panjangnya. Alice terdiam, hanya membalas pelukan Kakaknya.
‘Aku adalah Alicia Serenity Smith.’
...
...
...
...
...
yes its you alice !! 😍😍
.
next part 33
welcome to the new world, Alice 😁😁
.
Okedeh pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁
Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍
.
Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤