Love & Hurt

Love & Hurt
Part 34: Struggle



Tidak akan ada hasil jika tidak diperjuangkan, tidak akan ada air mata jika tidak ada tangisan. Bukan hanya menerima tapi akan ada memberi, jangan hanya ingin rasa bahagia tapi tidak ingin belajar apa itu rasa sakit. Semua harus dirasakan supaya tahu benar apa arti sebuah kehidupan.


...


Dengan wajah yang menegang Alvern meninggalkan gedung di mana Alice berada, ia tidak ingin memaksa Alice lebih jauh lagi bahkan di saat Alice benar-benar menyakiti dirinya sendiri. Alvern terkejut saat Alice bahkan tidak percaya jika selama 2 tahun ini Alice sangat berubah, ada sorot ketakutan dari pancaran mata Alice saat pertama kali Alvern menatapnya, dan sekarang ia harus secepatnya mengetahui apa yang terjadi pada Alice selama ini.


“Joe, apakah sudah kau dapatkan yang kuminta?” tanya Alvern pada orang kepercayaannya.


“Sudah ku kirimkan ke ponselmu Tuan,” jelas Joe dan diangguki oleh Alvern.


“Besok aku akan ke sana, kau bereskan pekerjaan kita Joe.”


“Tapi Tuan, apakah tidak sebaiknya aku bersamamu jika kau ingin ke sana?”


“Tidak apa Joe, aku akan pergi sendiri.”


Alvern bertekad jika ia tidak akan kembali ke kota Midle sebelum Alice mengetahui semua cerita di balik penculikannya bahkan percobaan pembunuhan terhadapnya.


‘Aku menemukanmu Alicia sayang dan aku pasti akan mendapatkanmu kembali. Tidak ada yang dapat menghalangiku, ku pastikan itu,’ janji alvern dalam hatinya.


Sedangkan Alice yang sudah mulai bisa menguasai emosi dan perasaannya perlahan ia berbenah diri, mengganti kemejanya dan membuangnya ke tempat sampah setelah memasukkannya ke dalam plastik. Ia tidak ingin membuat keluarganya kuatir lagi, sudah cukup apa yang mereka rasakan, sekarang ia yang harus membuat orang tuanya bahagia dengan menyelesaikan masalahnya sendiri karena ia tidak ingin tenggelam dalam ketakutan akan masa lalunya.


Luka di lehernya telah ditutupnya dengan plester dan ia pun sudah menyiapkan alasan jika nanti saat pulang ia ditanyakan perihal plester yang menempel di lehernya.


‘Aku tidak boleh kalah oleh orang sudah mati, aku harus menyelesaikan ini semua.’ Alice sungguh berusaha meyakinkan dirinya sendiri untuk dapat menyelesaikan urusannya dengan Alvern terlebih saat ia mengingat kesehatan ibunya yang lemah sejak kehilangan dirinya.


Dan benar saja, belum Alice menginjakkan kakinya di anak tangga pertama ia melihat ibunya berjalan mendekatinya dengan senyum lembut yanga selalu diberikannya untuk Alice namun wajah yang dipenuhi senyuman itu tiba-tiba berganti dengan wajah kuatir saat melihat penampilan Alice yang berbeda dari tadi pagi saat berangkat ke kantornya.


“Sayang, apa yang terjadi dengan pakaianmu? Seingat Mommy kau tidak mengenakan kemeja ini saat berangkat tadi pagi dan apa yang terjadi dengan lehermu Fio?” Alice tidak menyangka jika ibunya adalah orang yang menyadari penampilannya yang berbeda dengan saat berangkat tadi pagi, dan ada sedikit nada kuatir dalam suara ibunya saat menanyakan tentang luka di lehernya yang telah ditutupinya dengan plester. Nama lamanya akan keluar dari mulut ibunya saat ibunya merasa kuatir akan dirinya. Alice mulai mengenal dan memahami sosok yang sudah mencurahkan kasih sayang padanya sejak ia bangun dari tidur panjangnya.


“Tidak apa-apa Mom, bajuku hanya terkena tumpahan air teh saja dan leher ini sedikit tergores terkena kukuku saat aku akan mengikat rambutku dan kupastikan aku tidak akan memanjangkan kukuku lagi,” jelas Alice pada ibunya, dan ia merasa lega saat raut wajah khawatir itu berangsur-angsur lenyap di wajah ibunya.


“Mommy aku sudah sangat lapar, aku akan mandi dan akan menyusul Mommy ke meja makan,” ucap Alice seraya memberikan kecupan di pipi ibunya.


“Baiklah sayang, Daddy dan kakak iparmu juga keponakanmu sudah menunggu untuk makan malam. Jangan terlalu lama hmmm,” ucap ibunya seraya meninggalkannya Kembali ke ruang makan.


Waktu sudah menunjukkan pikul 7 malam saat Alice bergabung dengan keluarganya untuk makan malam bersama.


“Selamat malam Dad, Mom, Kak Natalie dan Jordan kesayangan Aunty,” sapa Alice pada ayah dan kakak iparnya, sedangkan dengan keponakan kecilnya ia langsung memeluk dan menciuminya dengan gemas dan mendapatkan pukulan kecil dari kakak iparnya.


“Kau akan membuatnya menangis Aunty Alice,” tegur kakak iparnya namun sambil terkekeh melihat kelakuan Alice yang sangat gemas tiap kali dekat dengan Jordan kesil.


“Baiklah sayang, Aunty akan makan dulu supaya kuat bermain denganmu,” namun sebelum ke tempat duduknya Alice kembali mencium pipi bulat keponakannya.


“Hei…Alice ada apa dengan lehermu?” tanya kakak iparnya saat baru menyadari sebuah plester yang melekat di leher Alice dan kontan saja sang ayah langsung menatap leher putrinya dan mengerutkan dahinya pertanda ia ingin jawaban segera dari pertanyaan yang dilontarkan oleh menantunya.


“Oh ini, hanya tergores karena kukuku saja Kak saat akan mengikat rambutku. Dan lihat aku sudah memotong habis semua kukuku,” jelas Alice sambil tersenyum dan menunjukkan jari jemarinya pada kakak iparnya berharap ia dapat membohongi seorang psikolog ternama yang ada di hadapannya.


“Ku kira kau sudah mempunya seorang kekasih,” goda kakak iparnya dengan suara yang pelan namun masih didengar oleh Alice.


“Kak Natalie…”


“Ada apa ini? Ramai sekali? Apakah masih ada yang makanan tersisa untukku?” tanya Fabian yang baru bergabung dengan keluarganya. Fabian menghampiri istri juga putranya dan memberikan masing-masing satu kecupan untuk orang-orang yang disayanginya.


Melihat pemandangan itu Alice tersenyum ikut merasakan kebahagian Kakaknya beserta keluarga kecilnya.


“O iya Alice, bisakah kau membantu kakakmu ini nanti? Ada sebuah ruangan yang perlu sentuhanmu untuk ditata, kecil saja.” ucap kakak ipar Alice di sela-sela makan malam mereka.


“Tidak masalah Kak selama bayarannya bagus. Hehehehe…” ucap alice sambil tertawa kecil memandang kakak iparnya.


“Tenang saja, kita bertiga momy besok akan berbelanja dan uangnya akan kita minta dari kakakmu yang tampan ini,” ucap Natalie sambil menyenggol lenan suaminya dengan manja.


“Benarkah?? Mommy juga ikut?” tanya Alice antusias sambil menatap kakak iparnya dan ibunya secara bergantian.


“Benar sayang, apa kau senang?” tanya ibunya.


“Tentu saja aku senang Mom, kapan lagi aku bisa menguras rekening Kak Fabian? Tapi bagaimana dengan Jordan?” ucap Alice sambil tersenyum cerah.


“Alice, ikut denganku sebentar, jangan bilang kau sudah melupakan permintaanku tadi huh,” ucap kakak ipar Alice seraya mangajak Alice masuk ke ruang kerja Fabian suaminya.


“Perlihatkan padaku hal apa yang memerlukan sentuhan spesialku,” ucap Alice dengan senyum usil di wajahnya.


“Duduklah dulu Alice. Nah, sekarang jawab dulu pertanyaanku. Apa yang sudah membuatmu berbohong tentang luka dilehermu?” Natalie langsung bertanya kakrena terlalu penasaran dengan tingkah polah Alice yang berusaha menyembunyikan sesuatu.


Alice menundukkan kepala dan kedua tangannya ameremas dengan erat ujung pakaiannya, tubuhnya mulai bergetar dan beberapa kali ia terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya. Natalie yang melihat hal tersebut mendekati Alice dan menegakkan kepala Alice perlahan.


“Hei…tenanglah Alice kau tidak akan apa-apa. Kau sudah aman sekarang, ada kami brsamamu,” Natalie berusaha menenangkan Alice supaya ia bisa membantu Alice mengatasi kepanikannya.


Dan berkali-kali Alice menghela nafas berusaha mengumpulkan keberaniannya utnuk menceritakan semua pada kakak iparnya.


“Dia menemukanku.”


“Siapa yang menemukanmu Alice?”


“Alvern.”


Mendengar Alice menyebutkan nama Alvern dengan ragu-ragu, Natalie tahu jika trauma Alice belumlah hilang sepenuhnya. Dan untuk membuang trauma itu hanya Alice yang bisa dan mungkin juga dengan andil seorang Alvern.


“Tapi kenapa kau harus menyakiti dirimu sendiri Alice? Itu tidak ada gunanya, kau hanya merugikan dirimu. Apa yang dikatakannya padamu?”


“Entahlah, aku tidak lagi dapat mendengar apa yang dikatakannya. Aku… aku hanya ingin ia segera pergi menjauh dariku,” ucap Alice sambil menatap wajah Natalie berharap ia akan mendapatkan bantuan untuk mengatasi rasa cemasnya.


“Lihat aku Alice dan dengarkan aku! Bukan aku yang bisa membuang semua ketakutanmu tapi kau Alice, hanya kau. Karena pikiran dan hatimu bukan aku yang mengendalikannya tapi kau,” Natalie meletakkan ujung jari telunjuknya di dada Alice, menegaskan bahwa Alice mempunyai kendali penuh atas dirinya sendiri.


“Entahlah Kak… aku….”


“Kau tersakiti Alice dengan sangat tapi apakah kau yakin hanya kau yang menjadi korban keganasan wanita itu? Pernahkah kau menanyakan pada Daddy cerita sebenarnya? Atau mencari tahu bagaimana keadaan Alvern saat itu?” tanya Natalie pada Alice dan kali ini Natalie tidak akan menyaring kata-katanya, ia hanya ingin supaya Alice lebih membuka pikirannya lagi agar tidak terlalu fokus dengan rasa takutnya. Suka tidak suka sudah saatnya Alice membuka hati dan pikirannya atas semua kemungkinan yang bisa saja terjadi akibat masa lalunya.


Rentetan pertanyaan Natalie hanya mendapatkan sebuah gelengan kepala dari Alice. Natalie tersenyum dan mengusap puncak kepala Alice perlahan.


“Alicia Serenity Smith, jika kau ingin kebahagiaan tanpa terusik kisah masa lalu ataupun ketakutanmu kau harus berjuang untuk itu Alice. Kalahkan rasa takutmu, dan kau tahu harus apa. Aku yakin itu! Sekalipun seluruh dunia ini diberikan untukmu, aku yakin kau belum tentu bahagia. Ingatlah kata-kata kakak iparmu ini hmmmm…”


Alice memeluk kakak iparnya dengan erat, “Terima kasih Kak.”


...


...


...


...


...


Fighting Alice 😇


.


next part 35


apa Alice akan kembali bertemu dengan Alvern?


.


jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁


Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍


.


Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤