Love & Hurt

Love & Hurt
Part 43: Family



Ada kalanya seseorang perlu waktu sendiri namun lebih baik jika selalu bersama, bersama keluarga.


...


Cahaya matahari perlahan-lahan mematahkan mantra kegelapan, sehingga gelap pun berubah menjadi terang. Terang yang lambat laun mengusik sepasang insan yang sedang jatuh cinta, setidaknya itu yang terlihat  saat mereka dalam keadaan saling berpelukan untuk mencari kehangatan dari satu sama lain.



“Selamat pagi sayang, bangun dan bersiaplah. Bukankah kau ingin menemui Chelsea?” bisik Alvern perlahan sambil mengusap lengan Alice yang tidak tertutup oleh selimut.


Awalnya Alice hanya melenguh dengan malas namun saat ia mendengar siapa yang membangunkannya Alice kontan saja langsung mengambil posisi duduk dan melupakan satu hal jika ia dalam keadaan polos tanpa busana.


Alvern menggeram perlahan saat disuguhkan dengan kondisi Alice seperti itu, apalagi rambut Alice yang terlihat acak-acakan semakin membuat Alvern mengeraskan rahangnya.


“Apa yang kau lakukan di kamarku Alvern????” pekik Alice saat melihat wajah Alvern sangat dekat dengannya.


“Jangan menggodaku sayang, aku hanya memastikan keamananmu di sini. cepat bangun dan bersihkan dirimu sebelum aku mengulangi kejadian tadi malam, dan jika itu terjadi maka akan kupastikan kau akan sulit untuk berjalan dan tidak akan bisa keluar dari kamar hotel ini,” bisik Alvern yang hampir menyerupai geraman.


Seketika Alice tersadar dan dengan cepat menutupi tubuhnya, beringsut perlahan ke tepi tempat tidur untuk menghindari kontak dengan Alvern. Dengan cepat Alice masuk ke dalam kamar mandi, namun ia tidak bisa menutup pintunya karena Alvern merangsek masuk dengan paksa yang membuat tubuh mungil Alice terdorong ke belakang.


“Ap…apa yang kau lakukan!! Keluar Alvern!!” Alice terlihat panik dengan wajah memerah sambil mencengkram kuat selimut yang masih menutupi tubuhnya.


“Kita mandi bersama untuk menghemat air Alicia.” Alvern mengunci pintu kamar mandi dan dengan tidak sabar mengikis jarak di antara mereka, meraih pinggang Alice agar mendekat padanya.


“Jangan panik sayang, aku hanya ingin memastikan benihku tertanam dengan baik di dalam sana. Untuk itu kita harus sering melalukannya.” Hanya dengan sekali sentakan selimut yang membelit tubuh Alice terlepas dan seringai di wajah Alvern pun terbit saat melihat pemandangan indah yang terpampang jelas di hadapannya.


Lebih dari satu jam mereka baru keluar dari kamar mandi dengan Alice dalam gendongan Alvern, karena Alice hampir tidak mempunyai tenaga bahkan untuk menopang dirinya sendiri.


“Kau sangat mesum Alvern!”


Cup…


Ciuman ringan Alvern mendarat di bibir mungil Alice dan tersenyum memandang perempuan yang sudah mengubah dunianya.


“Istirahatlah, sarapanmu sebentar lagi tiba. Aku akan ke kamarku sebentar, ingat Alicia jangan coba-coba pergi tanpa memberitahukan padaku!” tegas Alvern namun dengan tatapan yang lembut dan usapan perlahan di puncak kepala Alice.


“Kau tidak bisa terus mengaturku Alvern,” ucap Alice seraya beranjak dari tempat tidur untuk mengambil pakaiannya.


“Jangan terus menguji kesabaranku Alicia,” geram Alvern sambil terus menatap Alicia yang menjauh darinya.


Karena tidak ingin menimbulkan perdebatan di antara mereka, Alvern keluar dari dalam kamar tempat Alice menginap dan menuju ke kamarnya yang berada tepat di samping kamar Alice. Namun sebelum itu ia sudah menugaskan dua orang anak buahnya untuk mengawasi  Alice dari jauh karena ia tahu jika Alice tidak akan menuruti kata-katanya.


“Pastikan Nona kalian tidak terluka sedikitpun, bahkan jika hanya tergores kalian akan menerima akibatnya!” ucap Alvern dengan wajah dinginnya saat memberikan perintah pada anak buahnya untuk, mengawasi Alice jika urusannya dengan Joe memakan waktu lama.


“Baik Tuan!” Kedua anak buah Alvern membungkuk memberikan hormat kemudian berlalu untuk melaksanakan tugasnya, karena mereka tahu jika seorang Alvern tidak pernah ragu-ragu melakukan ucapannya.


Sedangkan Alice tengah bersiap-siap karena ingin menemui Chelsea sahabatanya dan juga mantan atasannya Tuan Ramzes dan tentu saja ia sama sekali tidak ada niat untuk mengatakan pada Alvern kemana ia akan pergi apalagi untuk minta ijin.


‘Huh…ingin mengaturku? Jangan mimpi!’gumam Alice dalam hatinya sambil mengambil memeriksa isi tas kecilnya, kemudian ia segera keluar dari kamar tempat ia menginap. Sampai depan hotel Alice segera masuk taxi yang sudah dipesannya melalui bagian resepsionist. Memang semua dimudahkan untuk Alice semenjak ia menyandang nama Smith, semua orang sangat menghormatinya apalagi kakaknya Fabian telah mengingatkan pihak hotel jika Alice adalah tamu VVIP dan juga merupakan adik kandungnya.


Alice tidak percaya jika ia akan menginjakkan kaki kembali di kantor lamanya dengan status yang berbeda. Jika dulu ia enggan menggunakan nama Brown di belakang namanya, sekarang ia sangat bangga mengatakan jika ia adalah seorang Smith dan terlebih lagi ia mempunyai keluarga kandung. Tanpa hambatan lift yang digunakan Alice telah mengantarkannya ke lantai tempat dimana sahabatnya berada.


“CHELSEAAAAAA…..!!!!!!” teriak Alice menyapa sahabatnya yang sedang konsentrasi penuh dengan setumpuk berkas di hadapannya.


Layaknya dua orang prajurit yang baru pulang dari medan perang dengan selamat, Alice dan Chelsea berpelukan dengan erat melepaskan kerinduan dan kelegaan bahwa mereka dapat bertemu kembali.


Kehebohan yang terjadi di antara mereka tak luput dari pendengaran atasannya. Tuan Ramzes yang mendengar ada keributan di luar ruangannya segera keluar meninggalkan meja kerjanya, dan ia sangat terkejut melihat dua orang yang saling berpelukan dengan linangan air mata.


“Alice?!” walaupun perlahan tapi suara Ramzes berhasil melerai pelukan antara Alice dan Chelsea.


“Tuan Ramzes, maaf jika mengganggu jam kerjamu,” gumam Alice dengan wajah bersalah karena sudah berkunjung di saat jam kerja.


Tidak ada balasan atas ucapan Alice, namun sebuah pelukan hangat dari mantan atasannya yang juga disertai dengan perasaan lega jika Alice baik-baik saja.


“Jangan merasa bersalah, aku senang kau masih mengingat kami Alice. Bagaimana kabarmu? Sekarang kau sudah bahagia karena berkumpul dengan keluarga kandungmu,” ucap Ramzes dengan mata yang berkaca-kaca tapi beraha ditahannya karena tidak ingin merusak saat bahagia bertemu kembali dengan salah satu orang kepercayaannya dan juga penyelamat keluarganya. 


“Aku bisa bernafas dengan lega Tuan, dan terima kasih atas perhatian kalian semua,” ucap Alice tertahan sambil menggenggam tangan Chelsea yang sedari tadi masih mengeluarkan air mata.


“Sudahlah Chelsea, kau seperti menangis di depan peti mati saja. sekarang kosongkan jadwalku karena kita akan makan siang bersama. Aku akan menghubungi istriku. Dan kau Alice, jangan berani-berani menolak. Tunggu sebentar, kita kan langsung berangkat setelah aku membereskan mejaku. Cepat Chelsea!”


Dengan buru-buru Chelsea melakukan perintah atasannya, ia kesal tapi juga senang karena ia akan menghabiskan waktu dengan Alice karena banyak pertanyaan yang ada di benaknya terkait hilangnya Chelsea dan nama baru Alice.


Dan disinilah Alice dan juga Chelsea, berkumpul bersama Ramzes dan juga keluarganya, menikmati makan siang disertai dengan canda tawa juga cerita. Tidak ada lagi beban di wajah Alice dan tidak ada lagi raut wajah kelam, yang ada hanya wajah bahagia karena telah menemukan sebuah kebahagiaan.


“Selamat siang semua, maaf jika aku menyela suasana bahagia yang terjadi di sini. Tapi aku harus menemui seseorang yang sangat keras kepala.”


Mendengar suara seseorang yang menyela suasana makan siang mereka, tubuh Alice tiba-tiba kaku karena ia sangat tahu sia yang datang dan sudah berdiri tepat di belakangnya.


“Oh… Hai Alvern, duduklah makan siang bersama kami, Daddy mengumpulkan kami karena anak hilangnya sudah kembali.” Aldo berucap seraya melemparkan pandangannya pada Alice yang sedari tadi tiba-tiba kehilangan kata-katanya.


“Terima kasih Aldo, Tuan Ramzes,” ucap Alvern sambil menarik kursi kosong tepat di samping Alice.


“Santai saja Tuan Alvern, dan selamat menikmati hidangan spesial kami. Aku hanya senang karena Alice sudah kembali,” ucap Ramzes sambil kembali menikmati makan siangnya.


Alice pun kembali menikmati makan siangnya walaupun kali ini ia hampir tidak bisa mengunyah makanannya dengan baik karena kehadiran Alvern di sampingnya.


“Ahhh…”


“Ada apa Alice?” Chelsea lebih dulu bertanya pada Alice karena terkejut dengan teriakan Alice.


“Mmmmm…tidak apa-apa Chels, bibirku hanya tergigit sedikit,” ucap Alice dengan senyum yang sangat dipaksakan.


Alice melemparkan tatapan dengan aura membunuhnya untuk Alvern, karena sudah membuatnya menjadi pusat perhatian. Alice sangat marah karena dengan berani Alvern meletakkan tangannya di paha Alice dan juga meremasnya perlahan sehingga membuat Alice memekik karena terkejut.


Selesai makan siang Alvern pamit pada Ramzes dan keluarganya dan tentu saja ia membawa Alice, karena sudah cukup Alice jauh darinya. Dan Chelsea hanya bisa menatap kepergian sahabatnya tanpa ingin menyela karena ia tahu seberapa besar perasaan Alvern pada Alice sahabatnya. Chelsea hanya berharap Alice dapat menyembuhkan rasa kecewanya dan mendapatkan seseorang yang tulus mencintainya.


...


next part 44


jangan lupa LIKE dan KOMEN nya yaaa


thanks for read and i love you 💕😍