
Menjadi seorang pemimpi itu bukanlah hal yang salah namun akan ada sebuah pertanyan, keputusan seperti apa yang akan dipilih? Apakah hanya tetap bermimpi, apakah akan tersadar dari mimpi sehingga bisa berjuang untuk mewujudkan mimpi? Percayalah, keputusan itu ada di tangan masing-masing tanpa campur tangan orang lain.
...
Awan mendung bergelayut manja di langit yang biru, seolah mengerti akan duka yang dirasakan Alvern dan ayahnya Sebastian.
Pemakaman Victoria Baxter berlangsung dengan lancar yang dihadiri kerabat dan kolega dari pihak Trevor maupun Baxter.
Calvin dan Fabian juga turut hadir dalam pemakaman nenek Alvern, karena hubungan antara Sebastian dan Calvin yang sudah terjalin sangat lama sehingga sudah seperti saudara.
Walaupun ayah dan kakak Alice menghadiri pemakaman nenek Alvern, Alice tetap saja sulit mendekati mereka kecuali Alvern ikut bersamanya barulah ia dapat menemui kakak dan juga ayahnya.
“Alice, apakah kau akan kembali bersama Daddy?” tanya Calvin pada Alice yang tentu saja ada Alvern di sampingnya.
“Hmmm…sepertinya tidak Dad, aku ingin menemui Chelsea dan Tuan Ramzes baru aku kembali ke Georgia.”
“Baiklah, Daddy dan kakakmu akan langsung kembali ke Georgia setelah pemakaman Nyonya Victoria. Jaga dirimu, segera hubungi kami jika ada apa-apa. Dan kau Alvern, aku akan mencarimu jika putriku sampai terluka bahkan jika hanya tergores,” ucap Calvin dengan tegas sebelum ia mendekati Sebastian untuk berpamitan karena akan segera bertolak ke Georgia.
Entah apa yang terjadi pada Alice setelah selesai semua prosesi pemakaman nenek Alvern, karena sedikitpun Alvern tidak membiarkan Alice jauh darinya. Bahkan dengan sebuah ancamanpun Alvern tidak beranjak meninggalkan Alice, karena Alvern tidak ingin lagi menjadi orang yang ditinggalkan.
Satu persatu tamu yang hadir pun pergi meninggalkan areal pemakaman setelah menemui Alvern dan ayahnya untuk menyampaikan bela sungkawa atas kepergian Victoria Baxter.
Ada sebuah pertikaian kecil di antara Alice dan Alvern setelah pemakaman Victoria.
“Kau akan ikut ke apartemenku selama kau di kota ini Alicia,” ucap Alvern dengan geram saat mendengar jika Alice akan menginap di hotel yang sudah disiapkan oleh kakaknya.
“Terus saja kau seperti itu Alvern karena aku akan tetap pergi. Jika sampai nanti malam aku tidak berada di sana, aku yakin kakakku akan kembali dengan segala kemurkaannya. Jika kau tidak ingin dibenci oleh kakakku tolong jangan menimbulkan masalah baru Alvern. Mengertilah!”
“Hmmm… terserah jika itu maumu.” Tapi Alice tidak percaya begitu saja dengan ucapan Alvern karena ia menangkap sebuah seringai licik tergambar di wajah Alvern saat mengatakannya.
Dan benar saja apa yang dicurigai Alice menjadi sebuah kenyataan. Ia memang tidak ke apartemen Alvern tapi Alvernlah yang mengikutinya ke hotel yang sudah disiapkan oleh kakaknya dan itu membuat Alice sangat marah pada Alvern.
“Sungguh Alvern, kau sangat bahkan teramat sangat menjengkelkan! Kau mengganggu privacyku!” ucap Alice dengan ketus pada Alvern.
“Privacy? Sejak kau jadi milikku kau tidak mempunyai privacy Alicia,” ucap Alvern seraya melangkah mendekati Alice yang berdiri tidak jauh darinya. Dan melihat Alvern yang mendekat, insting Alice berubah ke mode waspada sehingga secara tidak sadar ia melangkah mundur namun tidak cukup jauh untuk menghindari jangkauan seorang Alvern.
“Aku akan membersihkan diri,” Alice segera berlari masuk ke dalam kamar mandi dan dengan cepat menguncinya.
“SAAT AKU KELUAR KAU HARUS SUDAH PERGI ALVERN!!!” teriak Alice dari dalam kamar mandi dan tentu saja tidak mendapatkan tanggapan apa-apa dari Alvern.
“Aku tidak akan pernah pergi darimu Alicia dan kau tidak akan pernah kubiarkan pergi,” gumam Alvern lebih kepada dirinya sendiri.
Bukannya langsung melakukan ritual bersih-bersih, Alice hanya duduk di atas kloset yang tertutup. ia hanya mengulur waktu berharap saat ia keluar dari kamar mandi Alvern sudah pergi dari kamarnya.
‘Apa yang akan terjadi sekarang? Ini terlalu cepat, bukan seperti ini yang ku inginkan! Ternyata aku salah sudah menemuinya terlebih dahulu. Arrrggghhhhh ini tidak benarrrr!!!’ Alice seolah-olah bertarung dengan dirinya sendiri, menyalahkan dirinya bahkan sudah menyesal karena memutuskan datang menemui Alvern walaupun dengan alasan menengok nenek Alvern.
‘Granny, maafkan aku yang beralasan menemuimu!’ gumam Alice kemudian mulai membersihkan dirinya.
Hampir 1 jam Alice berada dalam kamar mandi dan entah apa yang membuat ia yakin jika Alvern sudah meninggalkan kamarnya sehingga dengan berani ia langsung membuka pintu kamar mandi dan hanya menggunakan bathrobe dan sebuah handuk yang menutupi rambutnya yang basah. Namun Alice melupakan satu hal jika Alvern adalah orang yang sangat gigih dalam berusaha mendapatkan keinginannya.
“Aromamu tidak pernah berubah sejak dulu.”
Tubuh Alice tiba-tiba menegang saat tangan kokoh Alvern bertengger di pinggangnya dan bibir Alvern berada tepat di leher Alice.
“Le…lepaskan tanganmu dari tubuhku Alvern!!” desis Alice di tengah kegugupannya karena begitu dekat dengan Alvern.
“Permintaan ditolak!”
Dan dengan cepat Alvern membalikkan tubuh Alice dan mencium bibirnya dengan semua kerinduan yang sudah tertahan sejak lama, sejak Alice menghilang dari kehidupannya.
Dekapan yang semakin erat bercampur dengan perasaan rindu yang membuncah membuat Alvern tidak dapat berpikir dengan akal sehatnya. Ciumannya yang semakin dalam membuat Alice tidak dapat berbuat apa-apa. Benarkah? Tidak, sepertinya Alice memang menikmati momen itu dimana Alvern mengeluarkan semua perasaan rindu dan menyesal yang menjadi satu dalam sebuah ciuman yang panjang, dan mereka sama-sama enggan mengakhirinya.
Setelah cukup lama akhirnya Alvern melepaskan bibir Alice yang sudah terlihat membengkak karena ciuman yang terlahir dari kerinduan dan gairah yang terpancing keluar dari dalam diri mereka masing-masing.
“Sungguh Alicia, ini tidaklah cukup untukku. Aku menginginkanmu sekarang!” bisikan Alvern di telinga Alice dengan suara yang berat karena gairahnya yang hampir tak terbendung membuat bell peringatan berbunyi dengan nyaring di kepala Alice, dan dengan cepat ia mendorong Alvern menjauh darinya.
“Cukup Alvern, sudah cukup! Kau selalu seenaknya tidak mau mendengarkan kata orang lain. Apa maumu hah?”
“Tidak!” pekik Alice tertahan sambil berusaha lepas dari pelukan Alvern.
“Kau tidak bisa lagi menolakku Alicia, sejak kau menghampiriku, kau tidak bisa lagi menolakku! Dan kali ini akan ku pastikan jika akan ada Alvern Junior di dalam sini,” ucap Alvern sambil mengusap perut rata Alice dan itu membuat tubuh Alice semakin menegang. Dengan mudahnya Alvern menggendong Alice dan membawa Alice ke tempat tidur, meletakkannya perlahan namun tidak meninggalkannya. Alvern menahan kedua tangan Alice di sisi kepalanya dan langsung melakukan keinginannya yang sejak tadi tertahan karena adu argument antara dirinya dan Alice.
“Al…”
Tidak ada kesempatan lagi untuk Alice bicara apalagi menolak. Sekarang Alvern menunjukkan jika ia yang berkuasa atas Alice bukan yang lain. Alvern hanya ingin Alice jadi miliknya, dan itu menjadi hal yang tidak terbantahkan.
Teriakan tertahan dari mulut Alice terdengar saat Alvern sekali lagi berhasil memasuki dirinya.
“Ahhh….”
“Aku selalu merindukan suara itu Alicia…uggghhhh…kau membuatku gila sayang. Maafkan aku jika menyakitimu lagi.”
Hentakan-hentakan dari perlahan sampai keras dilakukan Alvern dan berkali-kali Alice memekik tertahan saat milik Alvern menyentuh bagian terdalam dirinya. Mereka tidak lagi berkata-kata, hanya saling menyentuh satu sama lain dengan penuh rasa kerinduan.
Sampai Alvern dan Alice sama-sama meraih puncak kebersamaan mereka, terbitlah kata-kata yang menjadi rahasia mereka selama ini.
“Aku mencintaimu!”
Entah siapa yang mengatakannya, namun kata-kata ajaib itu mampu membuat sebuah pelepasan yang luar biasa indah dalam hubungan Alice dan Alvern. Kata-kata yang lahir dari sebuah perasaan, perasaan takut akan ditinggalkan dan perasaan egois yang hanya ingin memiliki untuk diri sendiri.
Dengan senyum terkembang di wajahnya, Alvern meraih Alice mendekapnya dengan erat karena ingin memastikan jika yang sudah terjadi di antara mereka adalah nyata bukan mimpi.
“Apa keputusanmu Alicia?” tanya Alvern namun tangan dan bibirnya tidak pernah mau meninggalkan tubuh polos Alice yang berada dalam pelukannya.
“Aku lelah Alvern,” jawab Alice dengan suara seraknya setelah terlalu banyak mengerang karena serangan Alvern.
“Jangan menggodaku Alicia dan aku tidak menerima penolakan. Sekarang tidurlah, aku akan memesan makan malam untuk kita,” sebuah kecupan mendarat di kening Alice sebelum Alvern melepaskan pelukannya. Jika mengikuti nalurinya maka ia tidak akan membiarkan Alice istirahat sedikitpun, namun ia tahu jika Alice sangat lelah karena saat tiba ia langsung menemani Alvern di setiap proses pemakaman neneknya.
Setelah Alvern membersihkan dirinya, ia keluar dari kamar Alice untuk memesan makanan sekaligus menghubungi ayahnya.
“Hallo Dad, kapan Daddy memiliki waktu luang?”
“Apa yang kau inginkan Son?”
“Bisakah Daddy ke kota Georgia untuk menemui uncle Calvin?”
“Apakah Alice sudah menerimamu? Apakah ia sudah memaafkanmu?”
“Lain waktu akan ku ceritakan Dad.”
“Mungkin 2 atau 3 hari lagi Daddy memiliki waktu luang son”
“Baiklah kabari aku jika Daddy sudah memiliki waktu luang.”
“Daddy akan mengabarimu.”
“Terima kasih Dad, sampai bertemu lagi.”
Tidak tahu apa yang sebenarnya akan terjadi yang pasti Alvern hanya ingin supaya Alice terus berada di sisinya dengan mengikat Alice, dan tentu saja mengikat Alice dalam sebuah pernikahan sakral. Tiba-tiba Alvern tersenyum dengan ide briliantnya.
‘Kau milikku Alicia, hanya milikku!’
...
ada bau bau tamat ga? hehehe
heemmm alvern buatku nelangsa 😜😜
jangan lupa LIKE dan KOMEN gaes
thanks for read and i love you 😍😍
.