Love & Hurt

Love & Hurt
Part 35: Believe



Sebuah kepercayaan tidak akan dapat dipulihkan jika sudah ternoda oleh sebuah kebohongan, ibarat sebuah kertas yang sudah ditorehkan tidak akan kembali bersih seperti sedia kala walaupun sudah dihapus berkali-kali.


...


“Joe sampai mana perkembangan kerja sama dengan Perusahaan ZZ?”


“Karena masih tahap awal, sekarang masih pengajuan perencanaan dan perancangan Tuan. Jika sudah ada persetujuan dari kita baru akan dijalankan,” jelas Joe pada Alvern.


“Buatlah janji temu dengan Direktur Smith, katakan jika aku akan langsung melihat draft perencanaan mereka dan katakan juga akan kita akan langsung melakukan penandatanganan rencana kerja setelah selesai pemaparan dari pihak mereka.”


“Baiklah Tuan.”


Setelah kepergian Joe, Alvern menyeringai lebar, entah apa yang ada di pikirannya tapi ia akan melakukan segala cara supaya Alice mau menemuinya bahkan jika ia beruntung Alice mau menjadi kekasihnya…ah tidak…menjadi istrinya.


‘Kita akan bertemu lagi sayang. Ku pastikan itu, dan kali ini tanpa penolakan!’


Lamunan Alvern buyar saat ponselnya berbunyi dan ayahnya yang menghubunginya.


“Hai Dad, apa kabarmu?”


“Seharusnya Daddy yang menanyakan kabarmu? Kapan kau Kembali Son?”


“Sepertinya akan lebih lama, lebih dari waktu yang kurencakan di awal Dad. Karena aku memnemukannya.”


“Siapa?”


“Alicia, aku menemukannya Dad. Dan akan kuperbaiki semua.”


“Lakukan dengan benar Son, perlahan saja. Daddy hanya ingin mengatakan jika grannymu tidak terlalu baik keadaannya dan ia tidak ingin dibawa ke rumah sakit. Karena itu Daddy menugaskan seorang dokter dan perawat untuk mengawasinya.”


“Apa, Granny sakit? Aku akan pulang Dad.”


“Tidak, semua bisa diatasi di sini Alvern. Selesaikan urusanmu dan sampaikan salamku untuk Calvin. Baiklah Son, Daddy akan menghubungimu lagi jikak memang keadaan grannymu memburuk. Jaga kesehatanmu, sampai bertemu lagi Son.”


“Bye Dad.”


Alvern tidak menyangka jika neneknya akan jatuh sakit bahkan saat ia tidak berada di kota Midle, ia hanya berharap jika neneknya akan bertahan sampai ia membawa Alice menemui neneknya. Dan saat ini Alvern menjadi tidak yakin dengan apa yang akan dikatakannya saat nanti bertemu lagi dengan pemilik sepasang mata teduh yang sudah membawa hatinya sampai tak bersisa.


Setelah Joe memberitahukan jika janji temu dengan Direktur Smith akan dilaksanakan setelah makan siang, Alvern segera bersiap dan meraih sebuah benda dari lacinya dan menyimpannya di saku jasnya. Benda yang sudah sangat lama menemaninya semenjak ia kehilangan Alicia.


“Tuan apakah kita akan langsung ke kantor Perusahaan Smith atau Tuan ingin makan siang terlebih dahulu?” tanya Joe walaupun ia sebenarnya tidak yakin jika Alvern mendengarnya.


“Aku mendengarmu Joe. Kita makan siang dulu.”


Karena Alvern berniat lebih lama di kota Geogia demi misinya mendekati Alice, maka ia membeli sebuah Kondominium mewah yang tentu saja dengan fasilitas yang lengkap. Alvern  mengajak Joe tinggal bersamanya karena sambil mengurus proyek baru mereka di kota Georgia. 


Tepat pukul 1 siang Alvern dan Joe menginjakkan  kakinya di Perusahaan Smith dan langsung diantarkan ke ruang pertemuan. Saat baru memasuki ruaung pertemuan tersebut tatapan Alvern langsung mengunci sosok yang sangat dirindukannya bahkan jika tidak mengingat pertemuan terakhir mereka mungkin Alvern akan mengusir semua orang yang ada di ruangan tersebut demi bersama Alice.


‘Ia berbeda dari kemarin saat terakhir aku menemuinya, ada sesuatu yang sudah kulewatkan.’ Gumam Alvern dalam hatinya namun matanya tidak beralih dari sosok Alice yang duduk dengan anggun didampingi asistennya.


Degg….


Saat menyadari sosok Alvern yang masuk ke ruang pertemuan jantung Alice berdetak cepat seolah-olah sedang mengikuti lomba lari marathon. Ia mengepalkan tangannya dengan kuat berharap dapat mengumpulkan kekuatan dan keberanian menyelesaikan pertemuannya hari ini. Sesaat Alice menundukkan kepalanya karena masih belum yakin akan bertatap muka  langsung dengan Alvern, namun asistennya memanggilnya karena Alvern sudah berdiri tepat di sampingnya dan ia tidak menyadari hal itu.


Karena gugup dan juga terkejut, Alice yang tiba-tiba berdiri agak oleng namun denga sigap Alvern meraih pinggangnya, bukannya langsung melepaskan pegangan tangannya tapi Alvern malah menarik Alice lebih dekat dengannya.


“Kau masih ceroboh Alicia dan aku merindukan kecerobohanmu,” bisik Alvern yang hanya Alice bisa mendengarnya.


Sebelum Alice sempat mengajukan protesnya, Alvern sudah melepaskan pegangannya pada pinggang Alice dan membantu Alice berdiri dengan benar.


“Dengan senang hati Nona Alicia,” ucap Alvern kembali ke wajah tanpa ekspresi yang menjadi andalannya setiap kali jika ia mengikuti sebuah pertemuan.


Jika tidak ada sosok Alvern yang hadir di ruangan itu mungkin akan menjadi pertemuan biasa bagi Alice tapi ia tidak dapat membohongi penglihatannya jika Alvern memang hadir di sana tepat di hadapannya. Alice berusaha mengendalikan rasa gugup dan rasa cemasnya, berharap pertemuan itu cepat berlalu dan berakhir dengan Alvern yang membubuhkan tanda tangannya pada perjanjian kerjasama mereka, yah setidaknya Alice memiliki harapan untuk menguatkan dirinya kali ini.


Sedangkan Alvern menjadi sosok yang lain dari biasanya. Ia tidak perduli apa yang dipaparkan di hadapannya saat ini, yang ia perdulikan hanya sosok mungil yang sejak awal ia masuk sudah mencuri perhatiannya 100% dan sungguh ia tidak ingin pertemuan ini cepat berlalu.


Dua jam berlalu akhirnya pertemuan tersebut selesai juga dan Alice terlihat menghela nafasnya dengan lega karena semua sudah berakhir dan sudah mencapai kesepakatan dengan beberapa syarat yang diajukan dari kedua belah pihak. Alvern selalu menatap Alice dengan tatapan yang memiliki berjuta makna yang salah satunya ia tidak menyukai saat Alice terlihat senagn ketika pertemuan mereka berakhir. Dan seringai di wajah Alvern pun terbit, siapapun yang melihatnya tidak akan suka temasuk Alice yang menyadari hal tersebut.


“Terima kasih atas kerjasamanya Tuan Alvern, semoga semuanya dapat berjalan dengan lancar,” ucap Alice pada Alvern.


“Dengan senang hati Nona Alicia,” Alvern menjabat tangan Alice namun hal di luar dugaan terjadi, Alvern mengecup punggung tangan Alice dengan lembut, dan membuat Alice menahan nafasnya karena terkejut.


“Bernafaslah Alicia dan tunggu aku nanti malam di rumahmu.” Setelah itu Alvern meninggalkan Alice seorang diri dengan wajah yang menegang dan perasaan yang tidak karuan karena perbuatan Alvern.


Alice terpaku dengan tatapan kosong sampai tidak menyadari jika hanya dirinya yang berada di ruangan itu, sedangkan asistennya sejak menyadari ada sesuatu antara Alice dan Alvern, lebih memilih menunggu Alice di luar ruangan setelah pertemuan berakhir karena ia tidak ingin menjadi seorang pengganggu.


‘Apa? Tunggu dulu, apa maksudnya dengan nanti malam? Dia sudah gila, apa yang dipikirkannya, ia akan hancur karena Kak Fabian dan Daddy.’ Alice menggumam dalam hatinya sat mengingat kembali perkataan Alven yang ingin menemuinya.


‘Tidak, aku tidak akan menemuinya. Biar nanti Kak Fabian yang akan membereskannya,’ dengan semua yang ada dalam pikirannya Alice keluar dari ruang pertemuan dan mendapati asistennya duduk seorang diri di depan ruangan itu.


Hanya sekilas Alice menatap asistennya dan berlalu melangkah menuju ruang kerjanya diikuti asistenya yang dengan wajah penuh rasa penasaran.


...


...


...


...


...


nah lho


stay tune aja lice kek kita nunggu novel up wakakak


.


next part 36


apa yang akan dilakukan Alvern?


.


jangan lupa LIKE, KOMEN, FAVORITE, VOTE dan RATE yaa :)


thanks for read and i love you ..