
Sebuah usaha tidaklah cukup jika tidak diiringi dengan sebuah harapan, harapan akan sebuah keberhasilan meraih sebuah kebahagiaan.
...
Calvin dan Fabian masih menunggu di depan ruang tindakan darurat saat istri dan menantunya berjalan dengan cepat menghampiri mereka, Calvin pun berdiri dan merengkuh tubuh sang istri ke dalam pelukannya, hanya isakan lirih yang terdengar dari istri Calvin. Bahagia yang mereka rasakan ternyata tidak berlangsung lama karena kembali mereka harus diperhadapkan pada kenyataan jika putri kecil mereka sedang berjuang melawan maut. Sedangkan Fabian bersama istrinya hanya dapat menunggu dengan saling bergenggaman tangan menyalurkan kekuatan dan keyakinan jika adik kecil mereka akan selamat.
Sedangkan Alvern yang baru saja tiba melangkah dengan tergesa-gesa mendekati Calvin dan keluarganya yang terlihat menunggu di depan ruang tindakan dengan wajah sangat cemas. Alvern tidak mengukuti ayahnya ke kantor Polisi untuk memberikan keterangan, namun ia berjanji jika akan menyusul ayahnya ketika ia sudah tahu keadaan Alice.
“Uncle Calvin…aku..”
Buggghhh…
Alvern terhempas ke di dinding dengan bibir yang sedikit tergores dan mengeluarkan darah setelah menerima pukulan keras dari Fabian. Yah…Fabian yang menyadari kehadiran Alvern pertama kali tidak membiarkan Alvern menyelesaikan kalimatnya dan langsung melayangkan pukulan keras di wajah Alvern.
Fabian mencengkram kerah baju Alvern dengan tatapan yang menghunus tajam, dan dengan tenang Alvern memegang tangan Fabian yang menariknya dengan sangat keras.
Sedangkan istri Calvin dan menantunya menutup mulut dengan kedua tangan mereka karena terkejut melihat tindakan spontan yang dilakukan Fabian pada Alvern.
“Kau tidak diinginkan di sini tuan Alvern yang terhormat!” geram Fabian tepat di depan wajah Alvern.
Alvern berusaha mengendalikan dirinya, karena ia tahu jika ialah penyebab Alice terluka, dan dengan sekali hentak ia melepaskan cengraman tangan Fabian dari kerah bajunya.
“Fabian cukup!” Calvin yang sedari tadi diam akhirnya buka suara saat ia melihat keaadan yang terjadi antara putranya dan putra sahabatnya semakin memanas.
“Apa yang kau lakukan di sini Alvern?” tanya Calvin dengan wajah yang dingin.
“Aku ingin menemui Alicia!” ucap Alvern dengan yakin.
“Pulanglah dan selesaikan urusanmu dengan Daddymu, Alice belum bisa ditemui. Dan ingatlah ia sekarang mempunyai kami keluarga kandungnya yang akan melakukan apa saja untuk melindunginya. Pulanglah, jangan menambah semuanya semakin sulit."
“Aku hanya ingin tahu keadaan Alicia, dan aku akan pulang setelah tahu semua. Maaf uncle, jangan memaksaku pulang tanpa mengetahui keadaan Alicia,” tegas Alvern dan duduk di kursi yang tidak jauh dari ruangan tempat Alice mendapatkan penanganan medis.
Tak lama, beberapa orang dokter dan perawat yang menangai Alice keluar dari ruang tindakan dengan sebuah brankar yang di atasnya terbaring tubuh mungil Alice yang masih tidak sadarkan diri dengan beberapa alat bantu pernafasan yang terpasang di tubuhnya. Calvin dan keluarganya tergesa-gesa mengikuti dokter dan perawat yang membawa tubuh putri mereka menuju ruang operasi. Sedangkan Alvern masuk ke ruangan perawatan tempat Alice menerima penanganan pertama kali.
“Permisi dokter, aku ingin menanyakan hasil pemeriksaan pasien yang bernama Alicia Serenity,” tanya Alvern pada dokter jaga yang berada di ruang gawat darurat.
“Anda?”
“Saya tunangannya!”
Seketika dunia Alvern seakan runtuh setelah mendengar bagaimana kondisi Alice. Ia tidak menyangka jika Alice terluka dengan sangat parah terlebih Alice hamil. Anaknya! Semakin besar rasa bersalah Alvern terhadap Alice, sekarang Alvern benar-benar menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang menimpa Alice. wanita iblis itu sudah membuat Alice terluka bahkan mereka harus kehilangan calon anak mereka. Bahkan luka di bibirnya tidaklah berarti apa-apa dibanding luka yang dirasakan Alice saat ini.
‘Maaf…maafkan aku sayang. Aku berjanji akan menebus semuanya.’
Dengan tatapan kosong Alvern berjalan menjauhi ruangan perawatan darurat itu, pergi meninggalkan rumah sakit tempat Alice dirawat. Ia tidak akan menemui Calvin dan keluarganya untuk sementara ini, karena ia tidak ingin menambah kesusahan mereka.
‘Aku pasti akan menemuimu sayang, apapun akan ku hadapi untuk bisa bersamamu. Maafkan aku! Sungguh aku mencintaimu Alicia.’
Alvern meninggalkan rumah sakit dengan persaan yang sangat berat seolah ada sebuah batu besar di pundaknya. Sungguh ia ingin menunggu selama Alice menjalani operasi namun ia tidak ingin membuat semuanya semakin rumit.
Jika memang ingin memaksakan keinginannya, Alvern sebenarnya bisa bahkan tidak sulit namun ia hanya ingin menghargai perasaan Calvin dan keluarganya, tapi ia memastikan satu hal, jika ia tidak akan berdiam diri saja, ia pasti akan datang kembali menemui Alice dan saat itu terjadi tidak akan ada yang bisa menghalanginya bahkan Calvin sekalipun selaku ayah kandung Alice.
Alvern kembali bergabung dengan ayahnya di kantor Polisi untuk memberikan keterangan atas semua kejadian yang sudah terjadi di hunian Barbara tentu saja denag bebrapa orang pengacara yang mendampingi Alvern dan ayahnya. Mereka tidak datang dengan tangan kosong melainkan dengan membawa bukti-bukti yang kuat tentang seorang Barbara dan Kaki tangannya.
Setelah memberikan keterangan lengkap, Alvern dan ayahnya menyerahkan semua urusan kepada tim pengacara mereka untuk menyekesaikan semua urusan berkaitan dengan Barbara.
Saat berada di depan kantor Polisi, Alvern menghentikan ayahnya.
“Dad, bisakah aku minta tolong padamu satu hal?” tanyah Alven sambil memegang lengan ayahnya dan itu membuat Sebastian tersentak putranya yang terkenal arogan mengucapkan kata tolongdengan wajah khawatir.
“Katakan.”
“Aku ingin ayah menemui uncle Calvin di rumah sakit untuk menanyakan keaadaan Alicia. Aku tadi sudah menemui mereka namun saat Alice masuk ruang operasi aku lagi-lagi meninggalkannya., aku hanya tidak ingin menambah masalah Dad.”
“Apakah wajah birumu hasil dari kau datang ke sana?” pertanyaan itu hanya diangguki Alvern.
“Bisakah?”
Mereka pun akhirnya meninggalkan kantor Polisi dengan pikiran masing-masing. Terlebih Alvern, urusannya dengan Barbara telah selesai saat Barbara mati di tangannya, namun perihal Alice menjadi satu hal yang tidak akan mudah diselesaikannya. Ia harus menghadapi keluarga Alice setelah semua yang sudah terjadi. Ia akan berusaha, bahkan akan melakukan apa saja demi mendapatkan kembali Alice dalam pelukannya. Alvern mengusap wajahnya dengan kasar mengingat apa yang sudah dilalui oleh Alice semata-mata karena dirinya, dan kehamilan Alice yang tidak diketahuinya membuat ia semakin jatuh terpuruk dalam rasa bersalah.
‘Apakah kau mau memaafkanku setelah semua yang kau alami Alicia?’
Di rumah sakit tempat di mana Alice menjalani perawatan.
Operasi yang berlangsung selama lebih dari 2 jam akhirnya berakhir dan tubuh Alice yang terbaring di atas brankar di bawa menuju ruang ICU untuk dilakukan perawatan dan pengawasan secara intensif setelah melakukan operasi.
Gurat kesedihan dan kekhawatiran masih terlukis di wajah Calvin dan istrinya saat hanya dapat meliihat tubuh putrinya dibawa masuk ke ruang steril yang tidak semua orang diperkenankan masuk. Mereka hanya dapat berharap supaya Alice cepat pulih untuk berkumpul bersama mereka.
“Calvin.”
Calvin mendongakkan kepalanya melihat siapa yang sudah memanggilnya.
“Sebastian, apa yang membawamu ke sini?” tanya Calvin dengan enggan.
“Maaf Cal jika aku mengganggu kalian. Aku hanya ingin menanyakan kabar Alice,” ucap Sebastian perlahan.
“Alice sudah masuk ruang perawatan intensif setelah menerima operasi untuk memperbaiki luka pada hatinya akibat tusukan wanita gila itu,” nada bicara calvin terdengar dipenuhi dengan amarah dan Sebastian sangat memahami hal itu .
“Ternyata separah itu akibat perbuatan Barbara,” gumam Sebastian.
“Dan apa kau tau Sebastian? Jika putriku ternyata hamil walaupun belum genap berusia 1 bulan tapi ia hamil Sebastian. Dan kau pasti tahu itu ulah siapa,” ucap Calvin terdengar sangat getir saat mengatakan keadaan putrinya pada Sebastian.
“APAAAAA????!!!!” Ponsel Sebastian terlepas dari tangannya saat mendengar perkataan Calvin, seperti ada ribuan jarum menusuk tubuhnya setelah mendengar perkataan Calvin sahabatnya.
‘Oh Tuhan, Alvern apa yang sudah kau lakukan son?’ ucap Sebastian dalam hatinya. Mulut Sebastian terkatup rapat dan tangannya mengepal dengan kuat menahan gejolak amarah bahkan rasa malu atas apa yang sudah diperbuat putaranya pada Alice.
“Calvin, aku…”
“Sudahlah Sebastian jangan lagi kalian mengucapkan kata maaf atau apapun juga. Aku hanya ingin agar putriku dapat selamat dan kembali bersama kami. Kuharap kau bisa mengerti sebagai seorang sahabat, aku tidak mengharapkan apa-apa, apalagi sebuah pertanggung jawaban terhadap putriku. Hanya kami yang akan merawatnya, tidak perlu orang lain,” ucapan Calvin membuat Sebastian sangat tertohok, perasaan bersalah membuat seorang Sebastian tidak dapat berkata-kata selain kata maaf itu pun tidak diinginkan oleh Calvin.
Sebastian dapat menerima sikap Calvin dan keluarganya yang sedikit banyak menyalahkan Sebastian dan Alvern, namun apakah Alvern dapat menerima begitu saja jika diminta untuk menjauhi Alice terlebih Alice sempat mengandung benih yang ditanamkan oleh Alvern.
...
...
...
...
...
penuh sudah kelopak mataku 😭😭
.
next part 31
bagaimana usaha Alvern kali ini?
akankah berhasil?
.
Okedeh pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁
Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍
.
Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤