
Sejatinya, kenyamanan ternikmt adalah bersama orang yang telah mengisi bahkan hendak memenuhi hati kita meskipun perlahan dan tak terbalaskan.
...
Hampir satu jam perjalanan, mereka akhirnya tiba di Apartemen Alice.
“Kau bisa langsung pulang Al, aku akan mengerjakan tugasku di sini saja, dan aku sudah mengatakan pada granny jika tidak akan kembali mala mini,” ucap Alice pada Alvern. Tapi bukan Alvern namanya jika menjadi seorang yang penurut, ia selalu punya pemikirannya sendiri. Karena malas berdebat, Alice hanya menghela nafas dan berjalan menuju unit apartemennya tentu saja diikuti oleh Alvern.
Tanpa ingin membuang waktu, setelah masuk ke apartemennya Alice mengambil semua berkas yang diminta Ramzes untuk di perbaiki dan meletakkannya di atas meja tamunya. Alvern pun hanya menjadi penonton setia karena ia ingin pekerjaan Alice cepat selesai dan mereka cepat kembali ke tempat neneknya. Namun pandangan Alvern terusik saat Alice mengikat rambutnya ke atas dan memamerkan leher mungilnya yang putih bersih seolah-olah menantang untuk di sentuh.
‘Sial…aku salah duduk di dekat gadis ini,’ umpat Alvern dalam hatinya namun tidak sedikitpun melepaskan pandangannya dari tubuh Alice. Sedangkan Alice tidak sadar apa yang sudah dilakukannya sangat mengusik seorang Alvern, walaupun itu hanya hal kecil.
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, Alice akhirnya menyelesaikan tugas yang sudah di delegasikan kepadanya, cukup cepat ia menyelesaikan pekerjaannya karena tidak ingin berlama-lama dekat dengan Alvern. Alice mengangkat tangannya ke atas melakukan peregangan karena merasakan penat setelah beberapa jam dalam posisi duduk. Tanpa disadarinya ada sepasang mata yang sedari tadi terus memandangnya seolah-olah ia adalah sesuatu yang sayang untuk dilewatkan.
Saat Alice berdiri Alice hampir jatuh jika Alvern tidak menahannya. “Hei Alicia kau tidak apa-apa?” seru Alvern dengan nada kuatir.
“Eh…oh…aku tidak apa-apa, ini sudah biasa jika aku langsung berdiri, nanti juga akan membaik dan terima kasih,” ucap Alice dan ingin melepaskan diri dari pelukan Alvern.
Namun entah apa yang terjadi, Alvern seolah-olah tidak mendengar perkataan Alice. Pandangannya terpusat pada bibir Alice yang mungil yang sangat ingin disentuhnya. Dan Alvern hanya mengikuti nalurinya sehingga dengan sangat sadar ia meraup bibir Alice dengan bibirnya, awalnya hanya sentuhan ringan namun lama kelamaan berubah menjadi lumatan-lumatan kecil dan semakin dalam lagi. Sedangkan Alice yang entah kenapa kali ini menjadi sangat penurut ia mengikuti alur permainan bibir Alvern, dan mengalungkan tangannya pada leher Alvern dan itu adalah sebuah lampu hijau utnuk Alvern sehingga terus melancarkan aksinya.
Dengan mudahnya Alvern mengangkat tubuh Alice dan kembali menyatukaan bibir mereka karena tidak ingin kehilangan moment penting menuju sebuah kenikmatan. Pintu kamar Alice yang sedikit terbuka memudahkan Alvern masuk ke dalam, dan menutup pintu dengan menggunakan kakinya. Alvern meletakkan Alice perlahan di atas tempat tidur berukuran queen size milik Alice dan dengan lembut menatap wajah mungil Alice, wajah yang sudah mengubah dunianya dan membuat perasaannya jungkir balik dalam waktu singkat.
“Aku menginginkanmu Alicia, sangat…” bisik Alvern di telinga Alice dan dengan perlahan mengecup leher putih yang menebarkan aroma harum yang sejak tadi sudah mengusik Alvern. Erangan kecil keluar dari mulut Alice saat Alvern mencumbu lehernya sehingga membuat jiwa liar Alvern semakin berontak keluar.
Alice tidak dapat berpikir dengan jernih akan hal baru yang dirasakannya dari sentuhan bibir dan tangan Alvern pada tubuhnya, pikirannya hanya memerintahkan mulutnya untuk mengeluarkan erangan-erangan yang dirinya sendiri tidak percaya jika mampu melakukan hal seperti itu.
Alvern tidak membiarkan Alice ragu bahkan berhenti, ia terus memberikan sentuhan-sentuhan di tubuh Alice tanpa ada yang tertinggal. Entah kapan terjadi, tapi tubuh mereka sudah sama-sama dalam keadaan polos tanpa ada sehelaipun yang melekat. Dannnnnn…hal itu pun terjadi….
“Ahhhhhh…sakittt Al…” teriakan Alice langsung di bungkam oleh Alvern untuk mengalihkan rasa sakit Alice karena pertahanannya selama 25 tahun sudah runtuh akibat serangan Alvern. Setelah Alvern merasakan tubuh Alice tidak menegang lagi ia pun melanjutkan aksinya, memberikan kenikmatan untuknya dan untuk Alice. Alvern memberikan hentakan-hentakan kuat yang membuat Alice semakin mengerang nikmat dan sampailah mereka pada puncaknya dengan bersama-sama mengerang melepaskan sesuatu yang sejak lama sudah tertahan.
Dengan tubuh yang sama-sama masih polos, mereka memandang satu sama lain. Alvern dengan lembut mengusap bibir Alice yang masih terlihat membengkak karena perbuatannya.
“Jangan pernah menyesal. Kau sudah menjadi milikku bahkan sudah sejak aku pertama kali mencium bibirmu dengan sengaja. Jangan pernah berpikir untuk menjauhiku Alicia, aku tidak akan membiarkannya,” Alvern merengkuh Alice dalam pelukannya saat melihat tatapan penyesalan dalam mata Alice dan Alvern tidak menyukai hal itu. Dengan penuh perasaan Alvern mengecup kening Alice dengan lembut dan semakin mengeratkan pelukannya seolah-olah Alice akan menghilang dari hadapannya.
‘Kau milikku Alicia, tidak ada yang bisa mengambilmu dariku bahkan iblis seperti Barbara,’ batin Alvern menyerukan sebuah janji, janji yang harus di tepatinya.
Setelah beberapa saat berada dalam pelukan Alvern, Alice pun terlelap berbantalkan lengan kokoh Alvern dan tak lama Alvern pun mengikuti jejak Alice terlelap dengan perasaan bahagia karena sudah mendapatkan Alice seutuhnya.
Keesokan paginya Alice membuka matanya dan merasakan ada sesuatu yang asing dekat dengan tubuhnya dan matanya terbuka lebar saat mendapati Alvern tertidur di sampingnya tubuh yang polos, dan semakin terkejut lagi bahkan hampir tidak percaya karena tidak hanya Alvern yang polos tapi dirinya juga. Ia sungguh tidak percaya jika ia akan melepaskan kesuciannya untuk seorang Alvern yang terbilang baru dikenalnya.
‘Astaga…apa yang sudah kulakukan? Alicia Serenity kau sungguh bodoh, kau sudah tidak gadis lagi sekarang, kau benar-benar perempuan murahan Alice,’ Alice memaki dirinya sendiri karena tidak dapat mengendalikan diri dan karena sudah terlena atas sentuhan-sentuhan Alvern pada dirinya. Menyesal? Tentu saja tapi tidak berguna, semuanya tidak akan kembali seperti semula. Ia tidak ingin memikirkan terlalu jauh apa yang akan terjadi di depan nanti karena semua yang telah terjadi memang tidak dapat disesali sekalipun ia menghancurkan dunia beserta isinya. Kenyataannya sekarang ia sudah menjadi seorang wanita bukan gadis lagi.
“Kau mau kemana hmm?” tanya Alvern tanpa melonggarkan pelukannya pada tubuh Alice.
“Lepaskan aku dulu Al, aku ingin ke kamar mandi. Semuanya terasa lengket di tubuhku,” ucap Alice perlahan.
“Apakah kau yakin bisa berjalan,” ucap Alvern sambil menyeringai.
Alvern memasang celana boxernya dan mendekati Alice perlahan, “Apakah masih sakit hmm?” Alice hanya memicingkan matanya menatap Alvern tanpa bersuara.
Belum saja Alice melangkah tubuhnya sudah terangkat, ternyata Alvern menggendongnya dan membawanya ke kamar mandi. Dengan perlahan Alvern meletakkan Alice dalam bath up dan mengisi airnya dengan air hangat.
“Kau akan terbiasa jika sering melakukannya bersamaku,” bisik Alvern di telinga Alice saat meletakkan Alice dalam bath up.
“Kau…tidak akan ada yang lain lagi,” ucap Alice perlahan namun masih didengar oleh Alvern. Sesaat Alice mengira jika Alvern akan meninggalkannya seorang diri tapi ia salah, ternyata Alvern ikut masuk ke dalam bath up dan mengambil posisi di belakang Alice dan Alvern membuat Alice bersandar padanya.
“Sudah ku katakan kau akan terbiasa dan aku akan membantumu agar kau terbiasa dan tidak sakit lagi,” sambil berbicara tangan Alvern tidak tinggal diam, ia membelai tubuh Alice yang polos dari atas sampai ke bawah dengan kecupan-kecupan di daerah yang dapat dijangkau oleh bibirnya. Awalnya Alice menunjukkan sikap menolak tapi karena semua penolakan itu terkikis begitu saja karena usapan-usapan lembut yang Alvern berikan padanya dan mereka kembali mengulang apa yang sudah mereka lakukan tadi malam namun di tempat yang berbeda.
...
...
...
...
...
Alice? Pecah sudah pertahananmu
Kenyataannya kau tidak bisa lari dari seorang Alvern 😊😊
.
Next part 24
Bagaimana kelanjutan hubungan mereka?
Bagaimana rencana Barbara nantinya?
Stay tune ges
.
Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁
Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍
.
Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤