Love & Hurt

Love & Hurt
Part 24: Dissapointed



Terkadang sebuah rasa kecewa dan rasa sakit dapat mengajarkan seseorang agar tidak mudah percaya pada orang lain dan agar lebih menjadi lebih tegar jika sebuah badai kehidupan menerjang.


...


Apa yang diharapkan seorang Alice setelah menyerahkan segalanya pada Alvern, laki-laki pertama untuknya. Pertama membuatnya jatuh cinta dan pertama memilikinya. Alice hanya mendapati jika dirinya sekali lagi dikecewakan dengan sangat luar biasa bahkan ia merasa sudah tidak lagi berharga.


Flash back on


Malam itu adalah hari keenam Alice tinggal di rumah nenek alvern dan ia sedang mengemasi semua barang-barangnya karena besok ia akan kembali ke apartemennya. Sebaik apapun nenek Alvern padanya ia tetap merasa tidak nyaman jika harus tinggal lebih lama apalagi ia tidak memiliki status yang jelas dengan Alvern, bahkan setelah penyerahan dirinya secara menyeluruh untuk Alvern.


Saat Alice selesai mengemasi semua barangnya waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Dengan perlahan Alice keluar kamarnya karena ingin mengambil air minum, namun langkahnya terhenti saat melalui ruang kerja Alvern dan mendengar pembicaraan Alvern dan asisternnya Joe.


“Joe, apakah sudah ada pergerakan Barbara?”


“Untuk sementara ini kita harus menunggu tuan karena nyonya Barbara sudah tau jika nyonya Victoria tidak ada di Eze, namun semua sudah siap jika ia menjalankan rencananya. Dan tuan Alvern, bolehkan aku menanyakan sesuatu?”


“Ada apa Joe, kau terlihat khawatir.”


“Tentang nona Alice, sampai kapan tuan akan memanfaatkannya. Bukankah lebih baik jika nona Alice kembali ke apartemennya?”


“Tidak Joe aku masih memerlukannya…”


Deg…


Alice tidak sanggup lagi mendengarkan pembicaraan yang terjadi antara Alvern dan Joe asistennya, dengan perlahan ia kembali ke dalam kamarnya dan menguncinya.


´Memanfaatkanku? Kenapa? Apakah kejadian waktu itu bagian dari rencananya? Aku benar-benar bodoh sampai tidak sadar jika sudah menjadi tumbal. Tapi apa masalah Alvern sampai harus melibatkanku apalagi memanfaatkanku? Arrrggghhh…Alicia kau sungguh bodoh, kau harus pergi dari sini dan membuang jauh-jauh perasaanmu jika tidak ingin menjadi seonggok sampah tidak berguna,’ banyak pertanyaan di benak Alice yang satupun tidak dapat di jawabnya.  


Flash back off


Keesokan paginya Alice kembali memasang wajah dingin dan datar yang selama ini menjadi tamengnya saat menjalani hidup seorang diri. Dan sikap Alice itu disadari oleh nenek Alvern saat Alice sudah berada di meja makan.


“Apakah ada sesuatu yang terjadi Alice?” tanya nenek Alvern dengan lembut namun sarat rasa ingin tau saat melihat raut wajah Alice.


“Oh…aku tidak apa-apa granny hanya kurang tidur karena mengemasi barang-barangku,” jawab Alice dan berusaha menutupi perasaan sakit hatinya pada Alvern.


“Barang-barangmu? Apakah kau akan kembali ke apartemenmu?”


“Iya granny, maafkan aku karena tidak bisa menemanimu lebih lama di sini tapi aku akan mengunjungimu saat akhir pekan jika tidak ada pekerjaan tambahan dari atasanku,” ucap Alice memaksakan tersenyum pada nenek Alvern.


“Akan ku ingat janjimu pada nenek tua ini Alice, datanglah walaupun itu bukan akhir pekan. Kau tau jika granny sudah sangat menyayangimu,” ucap nenek Alvern sambil mengusap tangan Alice dengan lembut.


“Terima kasih granny, aku juga menyayangimu,” ucap Alice sambil menggenggam tangan nenek Alvern perlahan dan memandang dengan penuh kasih wajah wanita yang selama beberapa hari ini sudah memberikannya perhatian dan kasih sayang yang tulus.


“Selamat pagi granny!”


“Selamat pagi sayang, duduklah dan makan sarapanmu sebelum kau bekerja,” ucap nenek Alvern pada cucunya.


“Apakah kau tau jika Alice akan kembali ke apartmennya hari ini Alvern?” tanya nenek Alvern dan kontas saja membuat Alvern menghentikan kegiatan sarapannya dan menatap Alice dengan tajam.


“Maafkan aku tuan Alvern, jika saja kau lupa ini sudah satu minggu aku berada di sini dan seperti yang sudah kita bicarakan aku hanya akan berada di sini selama satu minggu saja,” Alice tidak perduli lagi jika nenek Alver masih berada bersama mereka di meja makan karena sesuai tekadnya ia akan berusaha menjauhi Alvern sekalipun itu sangat sulit karena sudah begitu dalam perasaannya terlebih ia sudah menyerahkan mahkota kesuciannya pada Alvern.


“Granny, sepertinya aku akan pergi sekarang, maafkan aku jika meninggalkanmu. Terima kasih atas semua kasih sayang dan perhatianmu padaku selama aku menumpang di tempatmu. Dan terima kasih juga untuk tuan Alvern karena sudah banyak membantuku,” Alice beranjak dari tempat duduknya dan memeluk nenek Alvern dengan penuh kasih dan dibalas dengan usapan lembut dari nenek Alvern di punggungnya.


“Ingatlah Alice, granny selalu menunggu kunjunganmu kemari,” ucap nenek Alvern seraya melerai pelukannya dari Alice.


“Aku akan mengantarmu,” ucap Alvern dengan nada datar dan terus menatap Alice dengan tajam.


“Tidak, terima kasih. Mobil jemputanku sudah menunggu di depan. Aku memanggil taxi online karena ingin langsung ke kantorku. Aku pergi granny, semoga kau sehat selalu dan kita bisa bertemu lagi. Sekali lagi, terima kasih granny,” Alice pun meninggalkan Alvern dan neneknya yang masih bertahan di meja makan dengan suasana yang hening tanpa ada seorang pun yang bicara di antara mereka.


“Kau tidak mengejarnya?”


“Granny…”


“Kau tau Alvern, Alice bukanlah gadis yang mudah kau kendalikan dan bukan juga gadis yang pantas kau sakiti. Ia keras karena latar belakangnya memang sulit. Jika kau tidak ingin menyesal, susullah dia namun pastikan bagaimana perasaanmu padanya,” ucap nenek Alvern dengan bijaksana, karena selama Alice tinggal bersamanya sedikit banyak ia mengetahui garis besar kehidupan Alice.


Karena tidak ingin berdebat dengan neneknya dan karena neneknya sangat benar, Alvern pergi meninggalkan rumah neneknya dan pergi untuk menghadiri pertemuan di kantornya. Saat tiba di luar Joe dan supirnya sudah bersiap untuk berangkat bersama.


“Tuan, apakah akan tetap mengawasi nona Alice?” tanya Joe pada Alvern yang menampakkan wajah dinginnya sejak kepergian Alice.


“Selama aku tidak meminta menghentikannya maka Alicia tetap prioritas untuk dijaga dan diawasi selain granny. Dan sesekali jangan melonggarkan pengawasan kalian,” kata Alvern dengan nada dinginnya dan semakin mengeluarkan aura yang membuat Joe dan supir di samping Joe tidak berani bicara lagi.


Di tempat lain di ruang kerja seorang Sebastian.


Sebastian terlihat bersiap keluar setelah menerima telpon dari seseorang.


“Jack, ikut denganku,” ucap Sebastian singkat dan memerintahkan sekertarisnya untuk menunda agendanya hari ini. Sebastian keluar dari gedung kantornya dan tergesa-gesa memasuki mobil yang sudah menunggunya. Sebastian memerintahkan supirnya menuju rumah sakit pusat dan tentu saja membuat Jack tercengang karena masih tidak mengetahui apa niat atasannya itu.


“Maaf tuan, apakah ada yang sakit?” akhirnya Jack memberanikan diri bertanya.


“Tidak Jack, aku sudah ditunggu Calvin karena hasil pemeriksaan itu sudah keluar dan mereka ingin aku hadir bersama mereka,” jelas Sebastian.


Setelah hampir tiga puluh menit perjalanan, akhirnya mereka tiba di rumah sakit pusat kota Midle dan sudah ada Calvin dan Fiolla istrinya juga Fabian dan Natalie yang merupakan anak dan menantu Calvin.


Sama halnya dengan wajah Sebastian, wajah Calvin dan keluarganya pun tampak cemas saat dihubungi langsung oleh direktur rumah sakit itu jika hasil tes DNA sudah keluar.


Setelah saling berjabat tangan satu sama lain mereka langsung menuju ke resepsionist mengatakan jka sudah sudah ada janji temu dengan direktur rumah sakit. Merekapun langsung diantarkan oleh salah satu petugas keamanan langsung menuju ruang direktur.


Sesampainya di depan ruang direktur mereka langsung disambut oleh seorang sekertaris yang sudah siap di depan pintu ruang direktur dan membukakan pintu untuk mereka. 


Saat di dalam mereka sudah ditunggu oleh seorang pria paruh baya dengan wajah yang tenang dan sedikit senyum di bibirnya. Laki-laki yang bernama Benigno Olan menyambut mereka dengan ramah dan mempersilahkan mereka utnuk duduk.


“Apa kabar kalian Bastian, Calvin. Kalian menemuiku jika ingin minta tolong saja hah…” ucap Benigno dengan nada bergurau karena ia melihat ketegangan di wajah para tamunya kali ini.


“Terima kasih karena kau mau langsung turun tangan agar hasil tes DNA bisa lebih cepat keluar, mungkin lain kali kita akan berkumpul bersama seperti dulu dengan keluarga yang lengkap,” kata Sebastian menanggapi ucapan temannya itu.


Setelah beberapa saat berbincang, Benigno beranjak dari kursinya dan mengambil sebuah amplop besar dari dalam laci mejanya, dan setelah itu ia ke tempat duduknya semula dan memberikan amplop itu pada Calvin yang berada di sampingnya.


“Ini Cal, aku sangat tau kau mengaharapkan ini. Asal kau tau amplop itu diantarkan langsung oleh kepala laboratorium kami, amplop itu masih tersegel artinya aku tidak tau apa isinya. Bukalah, semoga itu hasil terbaik dan terakhir untukmu dan keluargamu,” ucap Benigno karena sangat tau perjuangan Calvin demi mencari keberadaan putrinya.


Dengan wajah cemas Calvin membuka amplop yang sudah bereda di tangannya dan menarik 2 lembar kertas yang ada di dalam amplop tersebut dengan perlahan ia langsung mengangkat lembar kedua dan membacanya.


**Pihak A dan pihak B memiliki 99,9% kesamaan dan dinyatakan jika pihak A adalah ayah kandung pihak B**


Terlepaslah selembar kertas itu dari tangan Calvin dan ia meraih istrinya dalam pelukannya. “Finally, we found her. We find our daughter,” dan isakan pun keluar dari istri Calvin saat mendengar kata-kata suaminya, begitu pula putra Calvin dan istrinya terlihat saling berpelukan. Perjuangan mereka akhirnya telah sampai garis akhir, berakhir sudah pencarian mereka selama puluhan tahun demi mendapatkan keberadaan putri bungsunya. Perjuangan, pengorbanan bahkan kesabaran mereka akhirnya terbayar dengan manis.


Setelah beberapa saat menenangkan diri, mereka berpamitan pada direktur rumah sakit dan mengucapkan terima kasih atas bantuannya dan atas waktunya sudah menerima mereka terkait dengan pemeriksaan DNA Calvin dan Alice. Saat mereka sudah keluar dari ruangan direktur, Calvin menghentikan Sebastian.


“Bastian, terima kasih atas kepekaanmu sehingga kami bisa menemukan putri kami dan bisakah kau menolongku untuk mempertemukanku dan putriku?” kata Calvin dengan wajah yang cerah sambil menjabat tangan Sebastian dengan erat.


“Aku hanya melihat jika Alicia memiliki mata serupa dengan matamu terlebih saat dia marah. Dan supaya kau tenang aku akan menghubungi putraku Alvern, karena setahuku putrimu Alicia bekerja sama membangun proyek milik putraku Alvern,” jelasa Sebastian.


“Alicia? Apakah selama ini dia memakai nama Alicia? Oh Tuhan, banyak yang sudah kulewatkan selama puluhan tahun ini,” ucap Calvin dengan wajah yang penuh dengan penyesalan karena tidak bisa menjaga putrinya.


“Tenanglah Cal, aku akan melakukan apapun untuk mempertemukanmu dan putrimu. Sekarang kembalilah ke hotel dan istirahatlah. Secepatnya aku akan memberikan kabar padamu,” ucap Sebastian meyakinkan Calvin sahabatnya.


Dan akhirnya Sebastian dan Calvin berpisah di depan lobby rumah sakit untuk Kembali ke tempat mereka masing-masing.


“Jack, kita ke kantor Alvern sekarang!” perintah Sebastian dan diangguki oleh Jack asistennya.


Sementara itu Alice yang sedang dalam perjalanan kembali ke apartemennya yang berjarak cukup jauh karena rumah nenek Alvern dapat dikatakan berada hampir di luar kota, dan akan memakan waktu lama jika ada kemacetan saat akhir pekan. Saat alice hampir memejamkan matanya tiba-tiba ia tersentak kaget saat mobil yang ditumpanginya berhenti secara mendadak, untung saja Alice memakai sabuk pengaman sehingga tidak terpental dari tempat duduknya.


“Apa yang terjadi, kenapa tiba-tiba berhenti?” tanya Alice pada supir yang membawanya.


“Kunci pintumu nona, aku sudah mengirim sinyal darurat dan semoga kita bisa bertahan,” ucap supir taxi itu dengan panik. Karena mereka di daerah yang tidak ada penduduknya dan hanya dipenuhi dengan pepohonan di kiri kanan jalan.


Saat Alice ingin bertanya lagi tiba-tiba jendela di sampingnya dipecahkan oleh seseorang.


PRANGGGG!!!!!


Kaca mobil di samping Alice dipecahkan dari luar dan pintu dibuka dengan paksa. Dan dengan cepat seseorang merangsek masuk ke samping Alice dan menyergapnya menempelkan sesuatu di wajah Alice. Seketika tubuh Alice yang berontak dan hentak berteriak terkulai lemah dan dengan mudahnya di bawa oleh orang yang sudah membius Alice. Sedangkan supir taxi yang hendak menyelamatkan Alice tidak dapat berbuat banyak, karena baru saja ia keluar dari dalam mobilnya seseorang sudah menghantam kepalanya dengan sebuah tongkat kayu dan membuat supir itu tersungkur dengan bersimbah darah.


...


...


...


...


...


waduhh 😔😔


.


next part 25


apa yang terjadi ada Alice?


apakah Alvern dengan cepat menyelamatkannya?


.


Okedeh pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁


Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍


.


Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤