
Banyak ketidakbahagian hadir dari kebingungan karena sesuatu yang sulit diungkapkan dan ada keyakinan yang terlahir dari sebuah kejujuran.
...
Di kota Greenville Sebastian masih berurusan dengan pihak Bank tempat di mana kotak deposit (save deposit) milik ayah mertuanya berada. Masih ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi Sebastian dan Jack tentu saja masih setia mengawal Sebastian dengan segala urusannya. Sesekali mereka akan menghubungi pengacara keluarga Baxter jika memang ada hal yang berkaitan legalitas surat menyurat maupun akte sebagai salah satu syarat untuk membuka kotak deposit ayah mertuanya.
“Jack, apakah ada perkembangan tentang Barbara,” tanya Sebastian di sela-sela mereka menunggu approval dari pihak Bank.
“Sepertinya nyonya Barbara sudah mengetahui hilangnya nyonya Victoria tuan, dan ada sesuatu yang lebih penting tuan Sebastian. Sepertinya Devid merencanakan sesuatu yang tidak baik di proyek milik tuan Alvern. Karena anak buah kita di sana melaporkan jika Devid meminta ada beberapa perubahan bahan bangunan dan tempat pembelian bahan bangunan yang berubah tempat tuan,” jelas Jack pada Sebastian.
“Apakah Alvern sudah mengetahuinya?”
“Tuan Alvern sudah mengetahuinya tuan.”
“Jika Alvern sudah mengetahui hal itu kita hanya dapat memantau saja Jack, karena Alvern selalu punya solusi untuk hal kecil seperti itu,” kata Sebastian dengan senyum bangga pada putranya.
Tak lama pihak Bank memanggil Sebastian dan mengatakan jika semua persyaratan sudah dipenuhi dan mereka akan dibawa ke ruangan pribadi untuk membuka kotak deposit milik mertuanya. Mereka tiba di sebuah ruangan yang hampir dikatakan kosong karena hanya terdapat sebuah meja dan dua buah kursi.
Setelah beberapa menit menunggu, masuklah empat orang memasuki ruangan tersebut, dua di antaranya adalah petugas keamanan dan dua lagi adalah manager dan staff bagian khusus penyimpanan. Mereka meletakkan sebuah kotak tepat di meja yang ada di hadapan Sebastian dan Jack.
“Silahkan tuan Sebastian, kami akan meninggalkan anda selama anda membuka kotak deposit ini dan jika perlu bantuan petugas kami ada di luar tepat di depan pintu ini,” ucap manager itu dengan lugas dan meninggalkan Sebastian bersama Jack di ruangan itu.
Sebastian mengeluarkan cincin milik mendiang istrinya dan melihat bentuk unik cincin itu.
Ia melihat cincin di tangannya yang menyerupai sebuah tiara dan menyadari jika ada ukiran di baliknya dengan tulisan @tinn@, dan ia ingat jika ibu mertuanya mengatakan jika sandinya dibaca dari belakang maka akan menjadi nama istrinya Annita. Perlahan namun pasti Sebastian memasukkan cincin itu di lubang kunci kotak deposit yang ada di hadapannya, awalnya Sebastian mengalami kesulitan, namun setelah ia berhasil mencocokkan cincin dan lubang kunci akhirnya ia berhasil membukanya. Jack yang sedari tadi menahan nafasnya akhirnya bisa bernafas dengan lega karena kotak deposit itu sudah terbuka.
“Benar-benar kotak dengan desain khusus,” gumam Sebastian saat menatap kotak deposit yang terbuka di hadapannya.
Sebastian dan Jack sama-sama melihat apa isi kotak deposit itu, di dalamnya terdapat bebrapa akte yang sudah disahkan oleh pihak notaris dan ada selembar surat wasiat lengkap dengan tanda tangan dan cap milik Dominic Baxter ayah mertua Sebastian.
“Sepertinya tuan besar Dominic sudah tau sejak lama sifat nyonya Barbara sehingga ia menyiapkan sedetil mungkin mengamankan semua asetnya,” ucap Jack perlahan dan diangguki oleh Sebastian yang masih melihat beberapa lembar kertas di tangannya.
Setelah menyimpan semua surat meyurat dalam sebuah amplop besar dan memasukkannya dalam tas koper, Sebastian dan Jack menemui manager bagian penyimpanan untuk berterima kasih atas semua bantuan yang sudah mereka dapatkan.
Tidak ingin membuang-buang waktu, Sebastian dan Jack langsung menuju ke kantor pengacara keluarga Baxter untuk melakukan pengesahan secara hukum tentang pengalihan saham, perusahaan dan semua aset harta kekayaan Dominic Baxter ke nama Alvern Baxter Trevor. Supaya tidak ada lagi pihak-pihak yang berusaha mengambil alih kekuasaan Baxter, terlebih orang seperti Barbara.
Dan pada akhirnya tampuk kekuasaan Baxter beralih ke tangan Alvern Baxter Trevor, yah nama Baxter harus di sematkan pada nama Alvern karena itu salah satu syarat yang harus dipenuhi untuk pengambil alihan harta kekayaan Baxter, dan Sebastian tidak keberatan akan hal itu, biar bagaimanapun Alvern adalah pewaris tunggal keluarga Baxter.
“Besok pagi kita akan kembali ke Midle, siapkan semua Jack dan saat surat resmi kepemilikan perusahaan sudah keluar kita akan mengadakan conferensi pers untuk mempublikasikan kerja sama antara Baxter dan Trevor. Karena perusahaan ayah mertuaku kurang baik keadaannya, dan aku tidak akan membiarkannya hancur,” tegas Sebastian.
Keesokan harinya mentari menyapa lebih cepat dari biasanya dan membuat tubuh mungil seorang Alice menggeliat perlahan, ia membuka matanya dan meraih jam yang ada di atas nakas di samping tempat tidurnya dan meletakkannya lagi. Dengan enggan ia bangun dan berjalan menuju kamar mandi yang ada dalam kamarnya. Saat memandang cermin besar di kamar mandi itu, Alice menatap wajahnya dengan perasaan bingung. Semenjak ia mengenal Alvern segalanya seolah berubah seratus delapan puluh derajat, apa yang harus dilakukannya jika ia hanya berdidam diri dan memupuk salah paham perasaannya akan sikap Alvern belakangan ini? Alice sungguh tidak mengerti dengan yang dihadapinya.
Alice hanya merasakan jika tindakan Alvern padanya sungguh akan membuatnya sakit jika ternyata apa yang disimpulkannya salah. Apakah mungkin seorang Alvern menyukainya, itu tidak mungkin. Alvern langit dan ia bumi, dari awal semua mustahil. Alice menekan titik di antara matanya utnuk membuang rasa sakit yang sebenarnya tidak ada, ia hanya ingin memastikan jika ia akan tersakiti jika terus dekat dengan seorang Alvern, walaupun sebenarnya nama Alvern sudah ada dalam hatinya.
‘Aku harus pergi!’ucap Alice dengan yakin dalam hatinya.
Satu jam lamanya Alice berada dalam kamar mandi dan ia pun keluar dengan hanya melilitkan handuk di tubuhnya. Alice terkejut bahkan sangat terkejut saat mendapati Alvern sudah berada dalam kamarnya dan ia segera berbalik akan masuk lagi ke dalam kamar mandi. Namun semua itu sangat terlambat karena Alvern sudah meraihnya dan menahan tangan alice yang berada di pegangan pintu kamar mandi.
Setelah selesai bersiap dan membawa beberapa berkas laporan Alice keluar dari kamarnya dan terkesiap kaget saat mendapati Alvern bersandar di dekat pintu kamarnya. Alice tidak memperdulikan keberadaan Alvern, karena ia sudah bertekad tidak akan banyak berinteraksi dengan Alvern jika ia masih berada satu atap dengan Alvern.
Melihat tingkah Alice yang mengabaikannya begitu saja, rahang Alvern mengeras dan dengan cepat meraih tubuh Alice ke dalam pelukannya, karena perbuatan Alvern semua barang yang dibawa Alice berserakan dimana-mana dan dengan geream Alice mendongakkan kepalanya menatap Alvern ingin mengumpat Alvern dengan segala tenaga yang dimilikinya.
“Alvern, kau sangat…” tidak ada lagi lanjutan kalimat yang akan dikeluarkan Alice karena bibirnya terkunci oleh bibir Alvern yang memberikan kecupan dengan sangat lembut sehingga Alice memejamkan matanya meresapi perbuatan Alvern yang dilakukan secara tiba-tiba dan dengan sengaja.
“Aku hanya ingin mengambil sesuatu Alicia, berbaliklah,” pinta Alvern berbisik di telinga Alice dan tubuh Alice menegang namun tetap tidak ingin berbalik menghadap Alvern apalagi dengan hanya mengenakan handuk.
Alvern tetaplah seorang yang tidak sabar, ia menahan kepala Alice dan perlahan memalingkan wajah Alice menghadapnya…cuppp…dengan cepat Alvern
“Morning kiss, sekarang bersiaplah ku tunggu di meja makan setelah itu kita berangkat,” dan Alvern meninggalkan Alice dengan tubuh masih terpaku di depan pintu kamar mandi dan….
“ALVERNNNNN… SIALANNNN!!!!” Senyum Alvern mengembang saat mendengar teriakan Alice.
Saat Alice sampai di meja makan, sudah ada nenek Alvern yang duduk bersisian dengan Alvern.
“Duduklah Alice dan kenapa kau berteriak, apa yang dilakukan Alvern padamu?” tanya nenek Alvern seraya menatap Alvern yang ada di sampingnya.
“Hmmm…granny, ada yang ingin ku bicarakan,” ucap Alice dengan ragu-ragu.
“Apakah kau tidak ingin tinggal di sini Alice? “ tanya nenek Alvern langsung pada Alice dan membuat Alice mengangkat kepalanya dengan tiba-tiba.
“Aku mengerti sayang, kau pasti merasa tidak nyaman karena kau bukanlah seorang gadis yang dengan mudahnya tinggal seatap dengan seorang laki-laki yang tidak ada hubungan apa-apa denganmu,” kata nenek Alvern dengan sengaja ingin memancing reaksi cucunya, dan itu berbuah manis.
“Tidak granny, Alicia harus di sini sementara waktu sampai aku…tidakkkah granny mengerti apa yang harus ku selesaikan?” ucap Alvern tidak ingin terlalu Panjang bicara karena ia tidak mau jika Alice mengetahui semuanya setidakknya tidak untuk sekarang.
“Al, kau tidak bisa menahan Alice di sini. Jika kau kekasihnya mungkin bisa,” goda nenek Alice.
“Maafkan aku granny, tapi kantorku terlalu jauh dari sini dan aku tidak ingin merepotkan tuan Alvern jika selalu mengantar jemput diriku,” ucapan Alice dibalas dengan tatapan tajam dari Alvern dan Alice berusaha mengabaikannya dengan sekuat tenaga.
“Granny akan ke taman belakang dulu, kalian berdua selesaikan saja sarapan dan urusan kalian berdua,” dengan perlahan nenek Alvern menjauhi dua orang yang memiliki sifat yang saling bertolak belakang namun jika didekatkan akan saling mengisi satu sama lain.
Alvern terus menatap tajam Alice karena tidak senang dengan keinginan Alice yang ingin kembali ke apartemennya dan karena ia tidak senang jika harus berjauhan dari Alice. Jika Alice berada di rumah neneknya setidaknya ia tidak perlu alasan jika ingin menemui Alice. Apa yang harus dilakukannya jika sampai Alice dibawa Barbara? Alvern memejamkan matanya saat memikirkan kemungkinan terburuk yang akan menimpa Alice karena sudah dekat dengannya. Ia tidak akan sanggup jika hal buruk terjadi pada Alice, tapi kenapa? Bukankah ia dan Alice tidak ada hubungan apa?
Lain halnya dengan Alice, ia berusaha sekuat tenaga menolak perasaannya sendiri yang mulai menyukai Alvern bahkan lebih, namun karena Alice sosok yang sangat tau diri ia terus menekan perasaannya supaya tidak berkembang lebih jauh, apalagi dengan sikap Alvern padanya sudah membuat Alice tidak dapat mengendalikan perasaannya sendiri. Ditambah lagi ia tinggal bersama dengan nenek Alvern, masih ada hal yang ingin dilakukan Alice dan jika ia selalu berdekatan dengan Alvern ia tidak akan bisa melakukan apa-apa, salah satunya ia harus mulai memncari tau tentang orang tuanya.
“Alicia Serenity…lihat aku!” suara Alvern mengurai lamunan Alice yang sedari tadi hanya menatap kosong gelas yang ada dalam genggamannya. Perlahan Alice mengalihkan pandangannya ke Alvern dan mendapati jika Alvern menatapnya dengan ekspresi lembut dan itu sangat mengusik perasaan Alice.
“Tinggallah di sini selama satu minggu Alicia, sementara aku memastikan sesuatu. Setelah satu minggu kau bisa kembali ke apartemenmu. Bisakah?” ucap Alvern sambil terus menatap Alice.
“Huh…hanya satu minggu Alvern, tidak lebih. Dan tolong jangan menyentuhku,” tegas Alice pada Alvern. Entah apa yang dipikirkan Alice, setelah selesai menjawab perkataan Alvern ia langsung menyesalinya dan Alice hanya dapat menghela nafas memasrahkan semua pada nasib akan hari-hari yang harus dilaluinya selama satu minggu ke depan.
“Kita berangkat sekarang, aku akan berpamitan pada granny. Tunggulah di mobil, supir sudah bersiap sejak tadi,” kata Alvern tanpa ada niat menanggapi ucapan Alice. Alvern beranjak dari tempat duduknya untuk berpamitan pada neneknya yang berada di taman belakang.
‘Aku tidak berjanji untuk tidak menyentuhmu Alicia dan aku juga tidak berjanji untuk menjauhimu. Jika kau pergi aku akan ada dimana kau ada,’ ucap Alvern dalam hatinya sambil tersenyum dengan pasti jika Alice tidak akan bisa pergi jauh darinya. Bahkan jika Alice bersembunyi sekalipun ia pasti akan menemukannya.
...
...
...
...
...
oke vern, aku percaya kamu kok , lho kok aku? haha berasa alice aku 😊😊
.
next part 21
kapan Alvern akan mencurahkan cintanya yang sebenarnya pada Alice?
apa Alice dapat lepas dari incaran Barbara?
be Hero Alvern pliss 😁😁
.
Beb, rekomen Novel Baper romance dari ku nii judulnya:
----- LOVE IN FRIENDSHIP -----
ketika sebuah persahabatan akan dikorbankan atau cinta yang dikorbankan untuk semuanya berjalan dengan baik?? cus diintip ya 😁
.
pada akhirnya Jangan lupa LIKE DAN KOMEN nyaa karna akan menambah semangat penulis untuk trus UP haha
jika berkenan silahkan kasih RATE DAN VOTE di depan profil novel ya😍😍
.
Thanks for read .. happy read and i love youu 💕
.