Love & Hurt

Love & Hurt
Part 28: Hurt



Jika angka 1 sampai 10 terisi dengan kegagalan, hal itu bukanlah masalah besar karena di belakang angka 10 masih ada puluhan bahkan ratusan angka yang bisa diisi dengan keberhasilan dan kebahagiaan .


...


“Ahhhh…akhirnya kau sampai juga sayang. Aku sudah lama menunggumu, kau tidak tau apa yang sudah ku tahan dari tadi hmmm,” ucap Devid seraya menarik tangan seseorang menuju sebuah kamar  dan langsung menyerang perempuan itu dengan ciuman, lumatan bahkan remasan dimana tangannya berada. Dan lenguhan-lenguhan manja dan serak menjadi musik tersendiri dalam kamar itu.


Lebih 1 jam lamanya Devid bermain setelah ia tidak dapat menjamah Alice karena terganggu oleh bodyguard Barbara. Ia tidak lagi memperdulikan apa kata Barbara jika tau siapa yang sudah disuruhnya untuk mendatanginya saat mendapatkan tugas mengawasi Alice.


“Devid apakah mamaku tau jika kau memaksaku ke sini?”


“Tidak Chloe dan aku tidak perduli. Dan jika kau ingin tau aku sedang menjaga kekasih san CEO Alvern Trevor.”


Saat mendengar nama Alvern disebut, Chloe sempat terperanjat kaget, ia tidak menyangka jika ibunya sangat berambisi mendapatkan harta sampai bertindak sangat jauh. Sesaat setelah pertanyaan dan jawaban dari Devid hanya ada keheningan dan membuat Devid kembali berpikiran liar. Sekali lagi ia memasuki Chloe dan berkali-kali erangan-erangan kecil keluar dari mulut Chloe yang mendapatkan serangan dari Devid. Dan pada akhirnya mereka terbaring dengan peluh yang membanjiri tubuh mereka dan nafas yang terengah-engah setelah pergulatan Panjang demi sebuah kenikmatan dan kepuasan. Devid tertidur karena kelelahan, selain karena pertarungan fisik yang memabukkan, Devid juga baru tiba dari perjalanan panjang untuk menemui Barbara.


Perlahan-lahan Chloe turun dari tempat tidur yang menjadi saksi bisu pertempurannya dan Devid, Chloe mengambil pakaiannya yang berserakan dan mengenakannya. Dengan perlahan ia keluar dari kamar tersebut dan mencari tau apa sebernarnya yang sudah dilakukan ibunya.


Chloe berkeliling di lantai satu rumah tersebut dan tidak mendapati apa-apa, kemudian ia menaiki sebuah tangga dengan perlahan menyusurinya sehingga sampai di lantai dua yang berukuran cukup luas. Ada sebuah kamar yang dijaga oleh dua orang laki-laki berbadan tegap dengan wajah kaku dan cukup mengerikan.


 ‘Apakah kekasih Alvern di sekap di kamar itu? Apa yang harus ku lakukan? Mama, aku tidak menyangka jika langkahmu sudah terlalu jauh,’ Chloe berperang dengan batinnya sendiri seraya berbalik menjauhi lantai itu, ia tidak ingin melangkah terlalu jauh jika hanya akan menimbulkan masalah. Ia menuruni tangga dengan perlahan, dan baru saja kakinya menginjak anak tangga terakhir ia dikejutkan oleh suara seseorang yang sangat dikenalinya.


“CHLOE!! Apa yang kau lakukan di sini?”


“Mama, aku…”


“Nyonya Barbara, aku yang memintanya datang ke sini,” tiba-tiba Devid yang baru saja keluar dari sebuah kamar tidak jauh dari tempat Barbara dan Chloe berdiri menyela kata-kata Chloe.


“Kau ternyata bodoh Devid, aku memintamu bekerja tidak memintamu bermain dengan putriku! Dan kau Chloe masuk ke kamar, apapun yang terjadi jika mama tidk memintamu keluar maka kau tidak boleh keluar. Kau dengar???!!!” nada bicara Barbara terdengar naik karena Devid telah lancang meminta putrinya datang ke tempat yang sangat tidak boleh dikunjungi putrinya.


Tanpa bantahan Chloe pun masuk ke dalam kamar yang sudah di tunjuk oleh ibunya dan ia sempat melemparkan tatapan heran saat ibunya naik ke lantai dua dengan  tergesa-gesa.


Dengan amarah yang memuncak Barbara masuk ke ruangan tempat Alice berada dan langsung menjambak rambut Alice dengan keras.


“Arrgghhhh…apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!!”


Seketika tubuh Alice menegang saat melihat apa yang ada dalam genggaman Barbara.


“Tunggulah sebentar kau akan tau aku menghubungi siapa,” ucap Barbara dengan santai.


Barbara terlihat mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. Hanya satu kali terdengar nada tunggu, dan….


“Hallo Alvern sayang, apa yang sedang kau lakukan sekarang? Apakah kau tidak merindukan mommy?” ucap Barbara seolah penuh dengan kasih sayang yang ternyata adalah kepalsuan.


“Apa yang kau inginkan Barbara?”


Barbara sempat terkejut dan terdiam saat Alvern menyebutnya namanya langsung dan tidak menyebutnya mommy seperti biasa. ‘Apakah dia sudah tahu semua?’ ucap Barbara dalam hatinya.


“Barbara? Kenapa dengan kata mommy Alvern?”


“Kau sangat tidak pantas ku panggil mommy, jangan pernah lupakan asal usulmu Barbara! Sekarang katakan apa maumu?”


“Jika boleh ku tebak kau sudah tahu semua, sejak kapan?”


“Apakah itu penting untukmu?”


“Aku senang jika kau sudah tau semua, itu artinya aku tidak perlu repot-repot lagi dengan segala kepalsuan ini. Hampir saja aku lupa apakah ayahmu sudah memberikan foto seseorang untukmu? Tapi itu tidak penting lagi, sekarang asal kau tau Alvern jika kekasihmu ada padaku, dan karena aku sedang berbaik hati kau bisa membawanya jika semua harta warisan Dominic Baxter beralih atas namaku.”


Deg…


Bukan Barbara yang terkejut atas perkataan yang dilontarkan Alvern, namun Alice yang dalam keadaan lemah namun masih dapat mendengar pembicaraan antara Barbara dan Alvern, every single word dengan sangat jelas di dengar oleh Alice dalam ketidakberdayaannya.


“Benarkah yang kau katakan Alvern? Artinya tidak masalah jika gadis ini ku berikan untuk anak buahku sebagai mainan mereka dan mungkin ia tidak akan bersisa. Hahahahaha… Dan…” belum selesai Barbara berbicara, Alvern sudah memutuskan panggilannya. Karena merasa kesal dengan tindakan Alvern ia melampiaskannnya pada Alice, dan…


Plakk!!!


“Ugghhh…” lenguhan kecil keluar dari mulut Alice saat mendapat pukulan dari Barbara.


“Apakah sudah mendengar semua apa yang kami bicarakan huh? Ingatlah nona Alicia, kau tidak berharga utnuknya dan jika sampai pukul 5 nanti aku tidak mendapatkan apa yang ku inginkan, maka itu adalah akhir dari semua impianmu.” Usai memberikan bebrapa pukulan di tubuh Alice, Barbara pun pergi meninggalkan Alice seorang diri dengan kehancurannya.


Hanya tetesan-tetesan bening mengalir tanpa hambatan dari sudut mata Alice, tidak ada yang dapat dikatakannya karena ia tahu itu tidak lagi ada gunanya. Apapun yang akan terjadi padanya ia hanya dapat menerima, tapi satu hal yang bertambah dalam hidupnya bahwa ia sangat benci keluarga Trevor.  


Sedangkan di markas besar Alvern.


“Apakah kalian sudah dapat koordinatnya?” tanya Alvern pada tim IT di ruangan itu. Saat Alvern mendapat panggilan dari Barbara timnya langsung mencari titik koordinat di mana Barbara berada dan ia berusaha membuat panggilan itu lebih lama untuk memberikan waktu bagi timnya melacak posisi Barbara sebenarnya. Alvern sengaja memutuskan panggilan dari Barbara secara sepihak karena anak buahnya sudah memberikan kode jika mereka sudah mendapatkan posisi di mana keberadaan Barbara.


“Kita sudah mendapatkannya tuan dan sudah ku kirimkan ke ponselmu,” ucap salah satu tim IT yang ada di ruang itu.


“Joe, siapkan semua dalam waktu setengah jam kita akan berangkat. Aku akan menghubungi ayahku.”


Tanpa banyak bicara masing-masing mereka melakukan semua persiapan, entah kenapa seolah-olah yang akan diselamatkan adalah seorang tokoh penting dunia, tapi pada kenyataannya yang akan mereka selamatkan adalah seseorang yang penting untuk Alvern Trevor.


Wajah tegang Alvern tidak dapat lagi disembunyikannya lagi terlebih saat mendengar suara kesakitan Alice saat Barbara menghubunginya. ‘Kau akan menerima akibatnya Barbara, tidak akan kubiarkan lagi kau hidup lebih lama.’


...


...


...


...


...


saatnya gaes ..


.


next part 29


apakah Alice akan diselamatkan Alvern atau kedua keluarga Alice yang sebenarnya?


.


Okedeh pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁


Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍


.


Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤