
Sepuluh alasan menjauh dan membenci namun karena perasaan cinta yang kuat maka akan ada seribu alasan untuk mendekat bahkan memiliki.
...
Kurang dari satu jam alvern dan bebrapa anak buahnya sudah berada tidak jauh dari tempat persembunyian Barbara, dan tidak lama terlihat juga Sebastian, Calvin dan putranya Fabian tiba dan bergabung bersama Alvern dan Joe yang tengah bersiap masauk ke markas Barbara.
“Aku tidak menyangka dia sudah banyak menimbun harta sehingga dapat mempunyai sayap yang cukup lebar,” gumam Sebastian saat menatap rumah Barbara.
“Daddy dan uncle Calvin tunggulah di sini sambil menunggu pihak kepolisian setempat, aku akan ke dalam bersama Joe,” ucap Calvin sambil bersiap dengan segala senjata dan amunisi yang sudah mereka bawa.
“Aku akan bersamamu,” ucap Fabian dan diangguki oleh Alvern.
“Pastikan tidak ada satu orangpun orang-orang Barbara yang keluar dari rumah itu,” ucap Alvern seraya melangkah mendekati gerbang dengan kewaspadaan penuh.
‘Aku datang Alicia.’
Mereka membuat dua tim untuk masuk ke markas Barbara, gerbang depan akan diatasi oleh Alvern dan Fabian sedangkan pintu masuk sisi belakang akan ditangani oleh Joe. Dan penyerangan pun di mulai, kali ini tidak akan ada kemudahan untuk seorang Barbaraapalagi sebuah ampunan.
Tidak lama terdengar suara tembakan dari bagian depan dan belakang hunian Barbara yang menandakan jika perlawanan dari pihak Barbara tidaklah mudah. Alvern dan Fabian berusaha merangsek masuk ke dalam menerobos pintu utama, sedangkan anak buah mereka membereskan beberapa anak buah Barbara yang masih melakukan perlawanan.
Alvern dan Fabian berusaha menembus lapisan pertahanan yang sudah di bangun Barbara namun itu tidaklah meruntuhkan tekad seorang Alvern untuk menyelamatkan Alice.
Segala ruangan telah mereka kuasai sampai pada sebuah kamar yang tertutup, dan saat anak buah mendobraknya tampak seorang gadis meringkuk di sudut ruangan denga tubuh yang gemetar.
“Dimana Alicia?” tanya Alvern pada Chloe, bukan kebetulan Alvern tahu jika gadis itu adalah Chloe karena semua yang berkaitan dengan Barbara sudah diketahui Alvern seluruhnya.
“Alvern, k…kau Alvern?” tanya Chloe terbata-bata.
“CEPAT KATAKAN DIMANA ALICIA!!!”
“Lan…lantai2 tepat di kamar paling ujung sisi sebelah kanan,” akhirnya Chloe mengatakannya.
“Bawa dia keluar,” perintah Alvern pada salah satu anak buahnya dan ia pun berlalu dengan satu tujuan menghabisi Barbara dan membawa pergi Alice bersamanya.
Sampai di lantai 2 Alvern kembali menjatuhkan beberapa penjaga sewaan Barbara dan tanpa kesuitan semua tumbang dengan tak bernyawa.
‘Tidak ada yang dapat menghalangiku untuk mendapatkanmu Alicia. Tidak ada!’
Sampailah Alvern di depan sebuah kamar yang tertutup dan dengan sekali tendangan pintu itu pun terlepas dari engselnya dan menimbulkan suara yang keras. Namun apa yang diperhadapkan padanya bukanlah sesuatu yang indah untuk pandangan Alvern,
“Akhirnya kau datang juga, seperti dugaanku,” ucap wanita paruh baya yang tidak lain adalah Barbara.
“Lepaskan adikku!” geram Fabian.
“Apa? Adik? Rupanya ada fakta baru tentang hidup gadis ini,” decak Barbara.
“Lepaskan dia Barbara!” Alvern melangkah mendekati Barbara yang menempelkan sebuah pisau tepat di leher Alicia.
“Majulah Alvern, dan kupastikan leher putihnya ini akan berubah menjadi merah,” ancam Barbara dan menekan mata pisaunya ke leher Alice sehingga membuat Alice meringis kesakitan.
“KAU!!!” Alvern dan Fabian secara bersamaan maju ke depan saat melihat darah mengalir dari luka tusukkan di leher Alice.
“JANGAN MENDEKAT!!!” Teriak Barbara, sehingga membuat Alvern maupun Fabian menghentikan langkahnya, mereka hampir saja lupa jika Barbara wanita yang gila.
Ketegangan yang terjadi di antara Alvern, Fabian dan Barbara tidak dapat dihindari lagi terlebih atas kenekatan Barbara yang menyandera Alice.
“MAMA CUKUP!!” Chloe merangsek masuk dan diikuti oleh Sebastian membuat Barbara mengalihkan pandangannya.
“CHLOE… apa yang kau lakukan di sini??”
Kelengahan Barbara karena kehadiran Chloe yang secara tiba-tiba dimanfaatkan Alvern yang langsung melepaskan tembakan ke arah kaki Barbara dan tepat bersarang di paha Barbara sehingga membuat wanita itu menjerit kesakitan.
“ARRGGHHHHH…!!!” Barbara tersungkur sambil memeganag pahanya yang terkena tembakan oleh Alvern. Dan Fabian dengan cepat mendekati Alice yang terjatuh bersama dengan Barbara. Yah…Alice yang dalam konsisi lemah hampir tidak dapat bergerak bahkan hanya menjadi sosok yang lemah di tengah-tengah drama pembebasan dirinya.
Namun belum saja Fabian meraih Alice, Barbara dengan kuat menusukkan pisau yang masih digenggamnya tepat di punggung Alice. Dan….
“ARRGGGHHH…”
“ALICIAAAA….”
“FIOOOO….”
Alvern dan Fabian secara bersamaan meneriakkan nama Alice saat melihat Barbara menghujamkan pisaunya di punggung Alice, sehingga membuat Alice menjerit kesakitan dan tidak sdarkan diri.
DORR!!
Begitulah nasib seorang Barbara. Untung tak dapat diraih rugi tak dapat ditolak. Barbara harus meregang nyawa setelah sebutir timah panas menembus tubuhnya tepat bersarang di jantungnya. Barbara pun tumbang bersimbah darah dan tak bergerak lagi bahkan tidak bernafas. Bersamaan dengan Berakhirnya hidup Barbara maka berakhir pula pembalasan seorang Alvern Trevor.
“MAMAAAAA….!!!” Chloe yang sejak tadi dipegang oleh Sebastian berlari menghampiri ibunya yang sudah tak bernyawa dengan bersimbah darah.sebuah penebusan yang tragis bagi seorang Barbara.
“Biarkan aku membawa Alicia bersamaku Fabian,” ucap Alvern ingin maraih tubuh Alice dalam gendongan Fabian.
“Selesaikan urusanmu Alvern, aku yang akan mengurus adikku!” Fabian menatap tajam Alvern kemudian segera berlari keluar dari ruangan yang menjadi saksi penderitaan Alice dan kematian seorang Barbara.
“Arrrgghhh…sialannnnn… ALICIAAA!!!!” teriakan Alvern membuat Sebastian menghampiri putranya. Ia sangat tahu apa yang dirasakan oleh Alvern.
“Alvern…son…kita harus membereskan kekacauan di sini sebelum kita menemui Alice. Polisi sudah menuju kemari dan Alice pasti ditangani sangat baik oleh ayah dan kakaknya. Ia pasti bertahan son, tenangkan dirimu,” ucap Sebastian berusaha menenangkan Alvern, karena walau bagaimanapun semua yang sudah terjadi harus segera dituntaskan.
Sedangkan kondisi Alice yang tidak sadarkan diri setelah menerima tusukan di punggungnya di bawa ke rumah sakit pusat di kota Midle oleh Calvin dan Fabian. Dan saat tiba di Instalasi Gawat Darurat sudah menunggu langsung direktur rumah sakit tersebut yang juga sahabat Calvin denganbebrapa orang dokter dan perawat. Karena sebelumnya Calvin sudah menghubungi sahabatnya Benigno untuk menolongnya menyelamatkan putrinya.
Kepanikan mewarnai suasana di unit darurat saat Alice dibawa keluar dari mobil dalam kondisi bersimbah darah dan wajah seputih kapas karena banyaknya darah yang keluar dari luka di punggungnya walaupun Fabian sudah menekannya untuk mengurangi pendarahan dari luka Alice.
“Maafkan aku Benigno jika seklai lagi kau harus turun tangan mengatasi ini, tapi aku mohon selamatkanlah putriku, aku tidak sanggup jika harus melihatnya pergi seperti ini,” mohon Calvin pada sahabatnya.
“Tenangkan dirimu, aku sudah meminta semua dokter terbaik di rumah sakitku untuk menangani putrimu. Sekarang kau dan putramu bisa menunggu di sini selama tim dokter menangani putrimu,” ucap Benigno seraya menuntun Calvin ke kursi Panjang yang ada tidak jauh dari ruang tindakan yang ada di unit darurat tersebut.
“Apakah istrimu sudah dihubungi Calvin?”
“Fabian mungkin sedang menghubungi istrinya, mungkin sebentar lagi mereka akan tiba,” ucap Calvin perlahan dengan mata yang masih menatap ke pintu ruangan dimana putrinya berada.
Seorang dokter keluar dari ruang tindakan dan dengan tergesa-gesa menuju atasannya yang juga sedang bersama dengan Calvin.
“Maaf Pak Direktur, saya perlu bicara dengan keluarga pasien,” ucap dokter tersebut dan Benigno pung mengarahkannya pada Calvin ayah Alice, kemudian Benigno pamit pada Calvin karena ia masih akan mengikuti pertemuan di kantor pemerintahan.
“Bagaimana keadaan putri saya dokter?” tanya Calvin dengan wajah yang cemas.
“Maaf tuan Calvin, setelah melihat hasil CT Scan putri anda harus menjalani operasi karena ada sedikit kerusakan pada hati akibat tusukan yang diterimanya. Selain itu pasien juga mengalami dehidrasi berat karena kekurangan nutrisi. Hmmm…. Satu lagi tuan kami sangat minta maaf, karena calon janin putri anda tidak dapat kami selamatkan mengingat usianya belum berumur satu bulan dan juga diakibat trauma yang dialaminya sangat berat pada bagian perutnya, karena itu kami harus melakukan tindakan secepatnya tuan. Saya kira itu saja untuk sementara ini yang bisa saya sampaikan,” Dokter itu pun berbalik dan meninggalkakn Calvin yang masih berdiri terpaku setelah mendengar penjelasan dari dokter yang menangani Alice.
“Dad, ada apa? Apa yang terjadi?” Fabian menghampiri ayahnya yang masih berdiri terpaku di depan ruang tindakan.
“Fabian, Fio akan menjalani operasi untuk memperbaiki kerusakan hatinya. Dan…adikmu hamil Fabian, belum berusia satu bulan,” ucap Calvin lirih.
“APAA!!! Alvern sialan!!!” geram Fabian penuh amarah.
“Semoga adikmu bisa bertahan.”
...
...
...
...
...
hati ngilu ges 😭😭
.
next part 30
apakah Alvern mengetahui semua tentang Alice atau Fio?
apakah Fabian akan membiarkan Alvern?
.
rekomendasi novel teen teen bau bau remaja yang menyegarkan mengingatkan masa masa sekolah antara Yoora dan Michael mampir gaes dengan judul:
-- LOYALTY IN LOVE --
by Bernadeth Sacitha
dijamin nostalgia abiiss 😍😍
.
Pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁
Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍
.
Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤