Love & Hurt

Love & Hurt
Part 25: Disappear



Dunia itu tidaklah rumit tapi manusia yang mendiaminya yang penuh kerumitan dengan segala keinginan dan segala kebutuhan yang berbeda satu sama lain.


...


Alvern sedang dalam perjalanan ke kantornya dan memang saat di rumah neneknya tadi ia berangkat setelah Alice karena Alice menolak berangkat bersamanya.


“Ada apa?” terlihat Joe menerima panggilan dari seseorang melalui ponselnya, dan seketika wajah Joe tiba-tiba memucat setetlah menerima panggilan yang ternyata dari anak buahnya yang mengawasi Alice.


“Baiklah, kalian tetap pantau dan lacak bagaimanapun caranya,” ucap Joe dan memutuskan panggilan di ponselnya.


Dengan ragu dan sedikit panik Joe berbalik menatap Alvern di kursi penumpang pada bagian belakang.


“Maaf tuan Al, baru saja anak buah kita yang mengawal nona Alice mandapat serangan dan taxi yang digunakan nona Alice pun diserang. Mereka tidak menemukan nona Alice di tempat kejadian tuan,” ucap Joe dengan wajah yang semakin menampakkan kekuatirannya.


“APAAAAAA!!!! KENAPA BISA JOE??” teriak Alvern yang masih berada dalam mobilnya.


“Kita akan mengetahui saat tiba di lokasi tuan dan sebentar lagi kita akan sampai di tempat kejadian tuan, karena kita hanya selisih setengah jam dengan nona Alice saat berangkat tadi,” jelas Joe dan kembali berbalik menatap ke depan.


“Lakukan apa saja Joe, kerahkan semua orang bahkan jika harus meraratakan tempat Barbara atau bahkan harus membunuhnya. Aku tidak mau tau, Alicia harus ditemukan!!!” ucap Alvern dengan wajah tegang setelah mengetahui apa yang menimpa Alice.


‘Sialllllll…seharusnya aku menyeretmu ikut bersamaku Aliciaaaa!’ ucap Alvern dalam hatinya.


Saat Alvern tiba di lokasi kejadian sudah ada beberapa mobil Polisi dan satu mobil Ambulance. Alvern langsung menghampiri salah satu Polisi yang sedang bertugas saat itu.


“Apa yang sudah terjadi?” Alvern langsung saja bertanya dengan tidak sabar pada salah satu petugas polisi yang sedang melakukan pemeriksaan.


“Tuan Alvern,” petugas yang menyadari kehadiran Alvern menganggukkan kepala memberi hormat pada orang yang sangat disegani di kota Midle bahkan di jajaran kepolisian.


“Ada apa dengan mobil itu dan siapa yang dibawa dengan ambulance?” tanya Alvern lagi.


“Sepertinya terjadi Tindakan penculikan tuan dan yang dibawa itu adalah supir mobil ini yang mengalami cidera kepala yang cukup parah,” jelas petugas polisi itu dengan singkat.


“Dan sepertinya penumpang dengan nama Alicia Serenity yang sudah menjadi korban penculikan.”


Setelah mengucapkan terima kasih pada petugas polisi tersebut Alvern berbalik dan menuju mobilnya sambil mengepalkan tangannya dengan erat dan wajah yang menegang karena menahan amarahnya.


“Joe, ke markas utama dan pastikan semua orang sudah di sana! Dan perketat penjagaan di rumah granny, jangan sampai ada kelengahan sedikitpun, jika tidak nyawa kalian taruhannya!”


“Siap tuan,” ucap Joe singkat.


Alvern menekan titik di antara matanya berharap dapat mengurai rasa cemas dan panik yang sedang melandanya saat mengetahui jika Alice sudah menjadi korban penculikan, bahkan tanpa bertanya ia sudah sangat mengetahui siapa pelakunya.


Di tempat lain yang berjarak puluhan kilometer dari tempat Alvern, tepatnya di luar kota Midle di sebuah rumah yang berukuran cukup besar namun terlihat kosong terjadi pertikaian antara serang laki-laki dan wanita paruh baya.


“Apa kau sudah gila Baron? Kenapa harus pagi hari? Apakah kau tau kejadian hilangnya tunangan seorang CEO Trevor Grup sudah jadi berita utama di semua media?? Kau bisa menghancurkan rencanaku Baron.”


“Tolong perbaiki kata-kataku jika salah Barbara, bukankah kau yang mengubah rencanamu sendiri? Jika kau memintaku langsung menghabisi gadis itu dimana aku menemukannya, tidak akan ada berita yang luar biasa. Tapi kau, kau yang tiba-tiba memintaku cepat bergerak menculik gadis itu dan memintaku membawanya ke sini. Dimana bagianku yang salah huh??!!”


Mereka adalah Barbara dan Baron mantan sepasang kekasih di masa lalu yang bertemu dalam sebuah konspirasi jahat yang diotaki oleh Barbara demi sebuah keserakahan. Barbara yang mendesak Baron untuk menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat ternyata sudah membuat ruang gerak Barbara semakin sempit karena Baron melakukan aksinya di pagi hari dan meninggalkan seorang saksi mata yang saat ini dalam pengawasasn ketat pihak kepolisian, belum lagi hampir di setiap sudut kota Midle tersebat anak buah Alvern yang bergerak mencari keberadaan Alice. Awalnya Barbara memang meminta Baron untuk langsung menghabisi Alice tapi saat ia mengingat jika ibu angkatnya tidak lagi berada di tangannya maka Barbara dengan cepat mengubah rencananya untuk menjadikan Alice sandranya menggantikan ibu angkatnya.


“Urusanku sudah selesai denganmu Barbara, aku akan pergi dan tentang sisa pembayarannya aku tidak perduli lagi. Rencanamu itu sudah membuat aku sulit bergerak Barbara,” setelah mengeluarkan kekesalannya Baron meninggalkan Barbara dengan wajah yang dipenuhi dengan amarah,


‘Kau tidak akan bisa pergi Baron, liahatlah kejutanku untukmu. Aku tidak bodoh sepertimu yang meninggalkan saksi mata,’ seringai mengerikan tergambar di wajah Barbara sambil mentap kepergian seorang Baron.


Dengan langkah yang tenang Barbara masuk ke dalam rumahnya, rumah yang tidak diketahui oleh siapapun, rumah tempat dimana ia menyekap Alice.


Barbara menyewa berapa orang bodyguard yang berjaga di luar dan di depan kamar dimana Alice barada, saat melihat Barbara mendekat salah satu bodyguard membukakan pintu untuknya.


Kamar itu tidak bisa dikatakan sebuah kamar karena tidak memiliki jendela hanya beberapa lubang ventilasi udara yang ada di dinding bagian atas itupun ukurannya sangat kecil, sampai kamar itu minim pencahayaan dan terasa sangat pengab dan lembab.


Dengan penuh kebencian Barbara mendekati tubuh yang terikat di sebuah kursi kayu dengan wajah tertunduk dan ditutupi oleh rambut yang menjuntai. Dan….


PLAKK!!!


Dengan kebencican yang besar Barbara memukul wajah gadis itu sehingga membuat sebuah lenguhan kesakitan keluar dari mulut gadis yang ternyata adalah Alice.


PLAKK!!!


Kembali Barbara melayangkan pukulan di wajah Alice yang terdongak ke atas setelah pukulan pertamanya tadi. Barbara seolah-olah menjadikan Alice pelampiasan amarah dan kebenciannya selama ini, ia bahkan tidak perduli lagi jika Alice adalah orang asing dalam hidupnya, yang ia tau adalah jika Alice adalah kekasih Alvern yang harus dihancurkannya.


“Akhirnya kau bangun juga nona Alicia Serenity.”


Alice mencari siapa yang sudah menyebutkan namanya dan tatapannya berhenti pada sosok wanita paruh baya yang berada tidak jauh darinya. Berkali-kali Alice mencoba mengingat siapa wanita yang sekarang berada satu ruangan dengannya namun Alice tidak menemukan jawabannya. Ia tidak mengenal wanita itu, dan kenapa ia bisa berada di tempat asing dengan kondisi terikat? Berbagai pertanyaan di kepala Alice membuat ia meringis kesakitan dan memejamkan matanya sesaat. Dan dengan perlahan Alice membuka matanya langsung menjatuhkan tatapan tajamnya pada sosok yang saat ini sudah berdiri di hadapannya.


“Apa maumu?” tanya Alice dengan lantang dan mengangkat wajahnya seolah menantang Barbara yang ada di hadapannya.


“Kau sungguh berani, apakah kau tidak ingin tau aku siapa?” Tanya Barbara sambil mencengram dagu Alice dengan kuat sehingga Alice meringis saat kuku Barbara menembus kulit wajahnya.


“Sungguh nyonya aku tidak perlu tau siapa kau, yang kuinginkan hanya kau melepaskanku sekarang,” ucap Alice berusaha terlihat tangguh dan menyentak wajahnya sehingga terlepas dari tangan Barbara.


“Kau sungguh berani nona Alice, tidak salah Alvern memilihmu,” saat Barbara menyebutkan nama Alvern, alice tersentak dan matanya membuka lebar karena terkejut.


‘Apa hubungan wanita ini dengan Alvern?’


“Sepertinya sekarang kau sangat ingin tau siapa aku,” ucap Barbara dengan senyum yang terlukis di bibirnya dan Alice hanya diam tanpa berkata apa-apa hanya terus menatap Barbara dengan tatapan tajamnya.


“Aku akan menceritakan sedikit tentang aku, Alvern dan Sebastian suamiku. Seperti yang kau dengar jika aku adalah ibu Alvern Trevor, istri dari Sebastian Trevor. Kau tau nona Alice, bukan tanpa alasan kau berada di sini, aku hanya ingin kau membantuku mengambil apa yang sudah seharusnya menjadi milikku. Dan kau, jika masih ingin bernafas, bekerjasamalah denganku!” ucap Barbara dengan nada penuh penekanan di setiap perkataannya.


“Aku sekarang tau siapa kau,” ucap Alice menatap Barbara dengan sinis.


“Benarkah?”


“Yah, kau adalah wanita yang sakit dan kau harus berobat ke dokter kejiwaan sekarang.”


Mendengar kata-kata yang dilontarkan Alice padanya Barbara menjadi geram dan mengambil sebuah kayu tidak jauh darinya. Dan….


Bukkk bukk bukk bukkk!!!


Berkali-kali Barbara menjatuhkan pukulan ke tubuh Alice menggunakaan sebuah kayu sehinggan membuat alice tersungkur bersama kursi yang masih terikat di tubuhnya. Belum juga puas berbara melempar kayu yang digunakannya untuk memukul Alice dan berjongkok menarik rambut Alice supaya melihat kepadanya. Hanya terdengar rintihan yang keluar dari mulut Alice karena mendapatkan pukulan bertubi-tubi dari Barbara.


Plakk!!!


Kembali sebuah tamparan mendarat di wajah Alice yang sudah membiru dan bibir yang robek karena dua pukulan Barbara sebelumnya. Alice hanya dapat merintih saat Barbara memukul wajahnya lagi dan lagi.


“Sakit katamu huh? Kau rasakan sakitmu nona, jika kau belum merasakan sakit aku dengan senang hati akan memeberikan pelajaran padamu apa arti kata sakit itu sebenarnya,” ucap Barbara dan berdiri sambil memandang Alice dengan kebencian yang semakin besar.


“Bertahanlah pada posisi itu, posemu sangat bagus untuk ku kirimkan pada anakku Alvern. Ia pasti akan senang. Hahahahaha….” Beberapa kali Barbara mengambil foto alice yang tersungkur dan melipat kakinya mendekati tubuhnya karena kesakitan, hal itu menjadi pemandangan yang indah untuk seorang Barbara.


“Tinggallah di sini dulu nona Alicia, aku akan kembali dengan kabar baik dan anggaplah rumah sendiri. Jika semua lancar akan ku pertimbangkan untuk melepaskanmu, dan jika sebaliknya mungkin kau harus mengucapkan selamat tinggal pada dunia ini,” kata Barbara dengan seringai mengerikan di wajahnya. Dan ruangan itu Kembali hening karena yang menghuninya tidak sadarkan diri karen tidak dapat lagi menanggung rasa sakit di tubuhnya.


...


...


...


...


...


sadess!! acting mu luar biasa bar!!😈😈


.


next part 26


apa yang akan diperbuat Alvern?


apa dia akan langsung membuat perhitungan atau yang lainnya?


.


okelah ya jangan lupa LIKE, RATE, KOMEN DAN VOTE 😁😁


THANKS FOR READ AND I LOVE YOU ..


.