
Dalam cinta tidak ada yang tidak layak untuk diperjuangkan sekalipun ada sebuah keraguan, tapi percayalah dengan alasan cinta dan sayang semuanya pantas untuk mendapatkan yang terbaik.
Alvern tidak pernah main-main dengan kata-katanya, di sinilah ia berada tepat di ruang tamu kediaman orang tua Alice dan mendapat tatapan tajam dari ayah dan kakak Alice yang memang tidak mengharapkan kedatangannya. Alvern sempat berpikir jika ia sudah gila dengan mendatangi kediaman oran tua Alice yang jelas-jelas masih menyalahkannya atas apa yang menimpa Alice. Namun jika Alvern sudah bertekad jika ia harus menjelaskan semua dan harus mendapatkan maaf dari Alice dan keluarganya walaupun pada kenyataannya mereka berada di pihak yang sama sebagai korban ketamakan Barbara.
“Uncle Calvin, maaf jika kalian tidak mengharapkan kedatanganku malam ini. Tapi ada yang harus kubicarakan langsung dengan kalian, setelah aku mengatakan semua maka terserah kalian mau seperti apa. Tapi satu hal yang paling utama dari kedatanganku kemari, bahwa aku ingin menjelaskan semua pada Alicia dan meminta maaf darinya.”
“Kau…jangan harap jika….”
“Alvern, ikut uncle ke ruang kerja. Fabian, kendalikan dirimu. Sekalipun kau membuatnya tewas semua tidak akan kembali seperti yang kau mau Fabian.” Calvin berusaha menekan kemarahannya saat Alvern datang ke kediamannya, namun ia harus bisa menjadi orang tua yang sebenarnya untuk putrinya. Terlebih lagi ia harus mengetahui semua alasan dibalik penculikan dan percobaan pembunuhan terhadap Alice putri kandungnya. Ia akan memberikan kesempatan kepada Alvern untuk menjelaskan mengingat Alvern sudah menyelamatkan nyawa Alice.
“Baik Uncle,” tanpa mamandang Fabian, Alvern mengikuti Calvin ke ruang kerjanya dan tanpa sengaja ia berpapasan dengan Alice yang baru keluar dari kamarnya ingin menuju ke ruang keluarga menyusul ibu dan keponakannya.
Alice yang baru keluar dari kamarnya tidak menyadiri jika Alvern berada didepannya karena ia masih berkirim pesan dengan asistennya.
Bukkkk…
“Awww…” Alice mengusap dahinya setelah menabrak dada bidang Alvern dan tentu saja Alvern terkekeh dengan kecerobohan Alice yang tidak pernah berkurang ssedikitpun.
“Kau…mau apa kau di sini Alvern?” tanya Alice dengan krtus sambil mengusap dahinya.
Alvern maju selangkah mengikis jarak antara dirinya dan Alice, “Kau tahu Alicia, aku tidak pernah main-main dengan kata-kataku.”
Setelah itu Alvern berbalik namun sebelum ia menjah dari Alice, Alvern meberikan sebuah ciuman tepat di sudut bibir Alice sehingga membuat mata Alice terbuka lebar karena tidak menyangka jika Alvern akan menciumnya.
“Aku akan menemui ayahmu.”
Alice tidak sempat berkata apa-apa, ia terpana dan merona akibat perbuatan Alvern padanya. bahkan ketakutan yang dirasakannya setiap kali Alvern mendekatinya tidak sempat dirasakannya. Alice hanya terdiam dengan tatapan kosong dan wajah yang merona, sampai seseorang menepuk bahunya perlahan.
“Alice…hei…Fio…apa yang terjadi padamu?”
Alice tersadar dan melihat jika kakak iparnya yang sudah menyadarkannya dan membawanya kembali ke dunia nyata, Alicehanya tersenyum pada kakak iparnya.
“Aku…aku tidak apa-apa Kak.”
“Hmmm…benarkah? Bukankah kau baru saja bertemu dengannya huh? Dan wahamu merah Alice, jangan membohongiku dan jangan lupa apa pekerjaanku,” goda kakak iparnya karena melihat wajah Alice semakin memerah karena berusaha menyembunyikan perasaannya.
“Aku lapar, bukankah Mommy sudah menunggu?”
“Terus saja kau sembunyikan perasaanmu, karena itu tidak akan lama. Sekarang kau hanya cukup melihat perjuangannya Alice, sampai mana ia berusaha untuk mendapatkanmu. Karena jika ku lihat ia berani menerjang badai topan demi dirimu, ia akan melakukan apa saja Alice, apa saja. salah satunya menaklukkan kakakmu yang protektif itu, lihatlah,” Natalie menunjuk dengan dagunya ke arah suaminya yang masih memasang wajah garang seolah ingin menghabisi seseorang.
Alice hanya menggelengkan kepalanya dan berjalan mendahului kakak iparnya yang masih saja memasang wajah usilnya dan Natalie menghampiri suaminya karena ia harus menenangkan sebuah badai sebelum menyapu bersih sekitarnya dengan tak bersisa.
“Selamat malam Mom!”
“Selamat malam sayang, duduklah. Kita akan menunggu daddymu sebentar, dan sepertinya tamu kita akan makan bersama kita malam ini,” ucap mommynya sambil menyiapkan makan malam. Tubuh Alice tiba-tiba menegang saat mendengar perkataan ibunya, karena ia tahu betul siapa tamu yang dimaksudkan oleh ibunya.
“Sebentar, Mommy akan memanggil Daddymu. Ah…sepertinya tidak jadi,” ucap ibu Alice ketika melihat suaminya yang sudah berjalan mendekati ruang makan.
“Sayang, kenapa sendiri? Mana tamu yang mau makan malam bersama kita?” tanya ibu Alice saat suaminya hanya seorang diri.
Mendengar ucapan ayahnya, Alice menghela nafas lega karena ia tidak harus repot-repot memasang wajah ramah jika Alvern makan malam bersama mereka, dan satu hal Alice belum siap jika dalam satu hari harus bertemu dengan Alvern lebih dari sekali.
Ia tidak menyadiri helaan nafasnya terdengar oleh keluarganya sehinggga menimbulkan pertanyaan dari sang ayah.
“Ada apa Alice, apakah kau sakit?” tanya ayah Alice padanya.
“Eh…tidak Dad, aku tidak apa-apa. Aku hanya lapar,” jawab Alice singkat.
Lain hal dengan Alice, lain lagi dengan Alvern. Setelah menceritakan semua pada Calvin, Alvern memutuskan menolak dengan sopan ajakan untuk makan malam bersama, karena ia tahu jika kehadirannya hanya akan mengganggu kenyamanan Calvin dan keluarganya terlebih Alice. Tapi ada sebuah kesempatan yang diberikan Calvin padanya walaupun itu diucapkan secara tidak langsung.
Flash back on
“Duduklah Alvern,” ucap Calvin Ketika Alvern.
“Katakan apa yang kau inginkan sehingga berani manampakkan wajahmu di kediamanku? Sekalipun kau anak Sebastian aku tidak akan segan-segan menyingkirkanmu demi melindungi putriku!”
Alvern tidak terpengaruh dengan ucapan tajam disertai dengan wajah dingin dari Calvin sahabat ayahnya, selama ia bisa masuk dan bicara itu hanyalah hal kecil baginya.
“Aku hanya ingin meminta ijin Uncle untuk dekat dengan Alicia!”
Brakkk!!!
“Beraninya kau! Setelah yang kau lakukan kau tidak pantas mengucapkannya!”
“Kau tidak akan mengerti Uncle, aku mencintai Alicia sejak lama, aku berusaha menjauhinya tapi tidak bisa. Terserah jika kau melihat jika aku memanfaatkan Alicia untuk memancing Barbara, tapi asal Uncle tahu sejak aku mendekati Alicia ia dijaga anak buahku selama 24 jam. Kejadian penculikannya terjadi tidak dapat lagi dihindari karena semua sudah direncanakan Barbara dengan matang, bahkan ia memakai jasa seseorang dari dunia gelap untuk menculik Alicia,”
“Sepertinya, sekarang adalah waktu yang tepat aku menceritakan semua kisahku padamu Uncle,” dan Alvern pun menceritakan semua, diawali dengan kematian Kakek dan Ibu kandungnya yang dibunuh oleh Barbara.
Sepanjang Alvern menceritakan semua, Calvin hanya bungkam. Ia tidak menyangka jika sahabatnya Sebastian sudah menanggung sesuatu yang sangat berat. Tidak hanya Sebastian namun juga Alvern, kesalahannya hanya satu yaitu jatuh hati pada putrinya, sehingga tak ayal membawa Alice terseret masuk dalam lingkaran dendam dan ketamakan Barbara.
“Aku sudah menceritakan semuanya padamu uncle, dan aku hanya meminta diberikan kesempatan untuk menjelaskan semuanya pada Alicia. Dan jika ia sudah tahu semua dan tetap menolakku, aku berjanji akan menjauhinya bahkan tidak akan menampakkan wajahku di hadapannya lagi,” ucap Alvern dengan rahang yang keras dan tangan tangan yang mengepal kuat karena apa yang diucapkannya tidaklah sama dengan yang ada dalam hatinya.
“Aku menyerahkan semua pada Alice putriku. Kesempatan yang kau inginkan bukanlah hakku memberikannya, semua ada pada Alice. Aku tidak akan melarangmu Alvern, tapi saat putriku menolakmu maka aku akan memastikan sendiri jika kau tidak akan bisa menemuinya lagi,” tegas Calvin.
“Aku mengerti Uncle.”
“Makan malamlah bersama kami, auntymu sudah menyiapkan semuanya.”
“Tolong sampaikan maafku pada Aunty Fiolla. Aku hanya tidak ingin membuat Alice tidak nyaman, aku ingin semua ini berjalan dengan perlahan-lahan, karena aku sangat tahu jika ia masih takut jika aku mendekatinya. Selamat malam uncle, aku pergi dulu!”
Flash back off
...
bersambung next part 37
jangan lupa LIKE dan KOMEN nya yaaa 😊
thanks for read and i love you 💕