Love & Hurt

Love & Hurt
Part 38: Answer



Jika tidak mencari maka tidak aka nada sebuah jawaban atas semua persoalan, jika tidak ada sebuah masalah maka tidak perlu ada penyelesaian. Semua hanyalah sebab akibat.


...


“Alicia, tolong jangan menundukkan kepalamu. Kau tahu apa tujuaanku bertahan di kota ini? Dan apakah kau tahu tujuanku membawamu kemari? Aku ingin kau mengetahui semua tentangku, sejak awal. Dan asal kau tahu Alicia, sejak aku jatuh cinta padamu kau adalah tujuanku untuk hidup, bisakah aku menjadi tujuanmu Alicia? Lihat aku!” Tidak ada lagi keinginan Alvern untuk menutupi perasaannya dari Alice, semua harus diungkapkannya ke permukaan supaya tidak ada lagi kata-kata penyesalan.


“Tidak…jangan bicara lagi. Antar aku kembali. Sungguh jangan memaksaku, aku belum siap,” tanpa disadarinya tangannya gemetar dan air matanya menetes keluar tanpa bisa ditahannya. Akhirnya Alice tidak dapat lagi menahan rasa takut dan gelisahnya bahkan setelah ia berusaha sekuat yang ia bisa, ia tetap tidak bisa lebih lama berada dekat dengan seorang Alvern yang sudah membuat dunianya berantakan bahkan hancur berkeping-keping.


Alvern terdiam sesaat kemudian menghela nafasnya perlahan.


“Maafkan aku jika terkesan aku memaksamu. Kau boleh membenciku sekuatmu, tapi tolong jangan takut padaku Alicia. Kau membuatku terluka  jika kau terus saja takut padaku. Sekarang aku akan mengantarkanmu kembali.” ucap Alvern dengan lembut pada Alice. Entah kapan Alvern bisa mengungkapkan semua kisahnya pada Alice jika Alice terus saja takut padanya.


Setelah Alice sudah bisa mengendalikan emosinya, mereka keluar dari ruangan tersebut dengan Alice yang berjalan di depan Alvern. Ingin sekali, bahkan sangat ingin Alvern berjalan beiringan dengan Alice bahkan jika perlu  berjalan sambil merangkul Alice dekat dengannya, tapi semua perlu waktu. Perlahan-lahan, itulah yang dijanjikan Alvern pada orang tua Alice dan ia tidak ingin mengingkarinya


Saat tiba di kantor Alice, tanpa menoleh Alice keluar dari mobil Alvern bahkan tanpa berkata apa-apa meninggalkan Alvern seorang diri dalam mobilnya. Alvern hanya memandang kepergian Alice tanpa ada niat untuk mencegah sama sekali. Bukan tidak ingin, namun Alvern hanya ingin memberikan waktu untuk Alice supaya dapat memahami apa yang sudah dikatakannya tadi, walaupun itu belum semuanya.


Sedangkan Alice dengan langkah tergesa-gesa tidak melihat jika Kakaknya sudah berdiri tegap menjulang menghadangnya didepan lift dan…


Dug…


“Awww…”


“Kau selalu ceroboh, lihat ke depan jika berjalan Alicia Serenity Smith.”


Mendengar namanya diucapkan dengan lengkap Alice mendongakkan kepalanya dan ia emndapati  kakaknya berdiri di hadapannya dengan dahi yang mengkerut melihat penampilannya.


“Kak, aku mau pulang.” Alice menenggelamkan kepalanya ke dalam pelukan kakaknya dan dengan tubuh bergetar ia terus terisak.


Tanpa bicara satu patah pun Fabian menuntun Alice keluar dari kantor Alice dan membawa Alice masuk ke dalam mobil. Supir pribadi Fabian segera melajukan mobil segera setelah mendapat perintah dari Fabian.


Sampai di kediaman mereka, Alice tetap diam dalam pelukan Fabian karena ia tertidur. Dengan perlahan Fabian mengangkat tubuh mungil membawa Alice masuk ke dalam rumah mereka. Sesampainya di dalam rumah ibu mereka Fiolla menutup mulutnya terkejut saat melihat Fabian yang membawa Alice dalam keadaan tertidur.


Fabian hanya menggelengkan kepala memberikan penjelasan jika Alice tidak apa-apa.


Setelah meletakkan Alice di tempat tidur dan menyelimutinya, Fabian keluar dari kamar Alice dan bergabung bersama ornag tuanya di taman belakang rumah mereka.


Dan belum saja Fabian duduk, ayahnya sudah lebih dulu bertanya.


“Ada apa dengan Fio?” dan Fabian tahu jika ayahnya sudah mengucapkan nama Fio itu berarti rasa kuatir sudah sangatlah besar.


Sebelum bicara, Fabian menghela nafasnya dengan keras.


“Tadi pagi Alvern menemuiku dan ia meminta ijinku untuk membawa Alice makan siang. Awalnya aku tidak mengijinkannya Dad, namun aku tahu niat Alvern hanya ingin menjelaskan semua pada Alice, dan akhirnya aku mengijinkannya. Dan jika Daddy dan Mommy bertanya apa yang mereka bicarakan, jawabannya aku tidak tahu karena tidak ikut bersama mereka. Saat aku menunggu Alice di kantornya, ia sudah terlihat gelisah bahkan ia tidak melihatku yang berdiri di depannya,” Fabian menceritakan semua pada kedua orang tuanya sambil menatap air mancur kecil yang tidak jauh dari mereka.


“Sudahkah kau bicara pada Alvern?”


“Hanya saat dia menemui tadi pagi Dad, mungkin nanti aku akan menghubunginya. Dan jika ku lihat tidak akan cukup sekali untuk Alvern mendekati Alice, karena Alice masih menolakknya,” ucapan Fabian hanya ditanggapi dengan anggukan dari ayahnya.


“Berikan mereka waktu untuk menyelesaikan semuanya, karena hanya dengan cara itu Alice dapat pulih dari ketakutannya.”


“Mungkin mommymu benar, kita hanya perlu memberikan waktu pada mereka, Alice memang harus bisa melawan ketakutannya.” ucap Calvin tidak hanya meyakinkan Fabian tapi lebih kepada meyakinkan dirinya sendiri, dengan harapan jika putrinya akan pulih dari ketakutan akan masa lalunya.


Setelah itu hanya keheningan di antara Fabian dan kedua orang tuanya, mereka mempuyai pikiran yang berbeda, namun mempunyai satu tujuan yaitu menjaga Alice agar tidak kembali terluka dan tersakiti.


********


Hari ini ia akan kembali menemui Alice namun bukan untuk makan siang tetapi ia akan menjemput Alice dan mengantarnya bekerja. Semua waktu yang ada akan dimanfaatkannya sebaik mungkin, ia tidak ingin lagi berlama-lama dan tidak ingin memberikan kesempatan pada orang lain mendekati Alice dan tidak ingin memberikan kesempatan pada Alice untuk mengenal pria lain, ia tidak akan rela karena Alice hanyalah miliknya!


Saat Alvern sudah berada di depan rumah Alice, senyum di wajah Alvern terbit saat melihat siapa yang membukakan pintu untuknya.


“Selamat pagi sayang, kuharap kau tidur nyenyak. Aku akan mengantarmu ke kantor pagi ini dan bolehkah aku masuk? Aku ingin meminta ijin pada orang tua dan kakakmu,” ucap Alvern sambil memajukan tubuhnya ingin memberi ciuman pada Alice namun hal itu urung saat manik matanya menangkap sosok yang hadir di belakang Alice melangkah mendekati mereka.


“Selamat pagi Alvern, masuklah sarapan bersama kami. Alice, ajak Alvern masuk,” Ucap ibu Alice dengan lembut selembut wajahnya yang selalu membawa keteduhan bagi suami dan anak-anaknya.


“Selamat pagi Aunty Fiolla dan terima kasih atas tawarannya,” dan dibalas dengan senyuman dan anggukan ramah dari ibu Alice. Demi Alice, Alvern menjadi orang yang lebih banyak bicara, hanya demi Alice.


Dengan enggan dan wajah tertekuk Alice memberikan jalan untuk Alvern supaya masuk ke dalam, tidak disia-siakan Alvern begitu saja kedekatan mereka. Dengan cepat Alvern mendaratkan kecupannya di kening Alice dan membuat tubuh Alice menegang dan mata yang membesar menatap Alvern yang berada sangat dekat dengannya.


“Jangan terlalu lama berdiri di situ Alice, aku sudah lapar. Tidak enak jika mereka harus menunggu kita kan?” bisik Alvern di telinga Alice dan mebuat Alice langsung memberikan tatapan tajam untuk Alvern.


Dengan seringai di wajahnya, Alvern mengikuti Alice ke ruang makan dan ini pertama kalinya Alvern sarapan bersama dengan keluarga Alice, ada sebuah rasa yang mengusik perasaannya, sebuah kerinduan untuk bisa memiliki sebuah keluarga yang utuh.


“Selamat pagi semuanya!”


“Selamat pagi Alvern, duduklah. Ku harap kau belum sarapan saat datang kemari,” ucap Calvin namun masih dengan wajah yang datar, dan Alvern memahami itu.


“Terima kasih Uncle.”


Sedangkan Fabian bersikap biasa saja karena memang tidak menginginkan kehadiran Alvern di kediaman mereka, namun ia akan berusaha bersikap baik demi orang tuanya dan tentu saja adiknya.


Tidak terlalu banyak yang dibicarakan mereka saat sarapan bersama, namun hal itu tidak menjadi masalah bagi Alvern karena itu pencapaian tebesar baginya dibanding dengan saat pertama kali ingin menemui Alice saat berada di rumah sakit.


Setelah selesai sarapan Alvern membuka suara terlebih dahulu.


“Maaf uncle Calvin, pagi ini aku yang meminta ijinmu untuk mengantar Alice bekerja,” ucap Alvern sambil menatap Calvin tanpa sedikitpun berkedip.


“Jika Alice tidak keberatan, aku tidak akan melarangnya.”


“Alice akan pergi bersamaku, karena memang seperti itu sejak pertama kali ia mulai bekerja,” sela Fabian dengan nada tidak suka atas permintaan Alvern yang ingin mengantarkan Alice bekerja.


“Hmm…sayang, apa kau lupa jika kau harus mengantarkanku ke tempat seminar pagi ini?” ucap istri Fabian sambil menyentuh tangan suaminya.


“Apa? Benarkah?” tanya Fabian pada istrinya dan berusaha mengingat janjinya walaupun itu sia-sia karena memang sebenarnya tidak ada janji sama sekali dengan istrinya. Fabian tidak menyadari jika itu upaya istrinya agar Alvern mendapat kesempatan lebih banyak untuk bicara pada Alice.


“Tidak, hari ini aku tidak bekerja. Aku akan ke kamar dulu terima kasih sarapannya Mom,” dan Alice pun berlalu meninggalkan perdebatan kecil yang terjadi antara Alvern dan Fabian, hanya untuk mengantarkan dirinya bekerja.


Semua yang ada di meja makan hanya menatap kepergian Alice dengan pikiran masing-masing dan mereka berusaha untuk mengerti.


‘Kau berusaha menghindariku Alicia, sampai kapan?’


...


next


jangan lupa like dan komen


thanks for read and i love you 😍