Love & Hurt

Love & Hurt
Part 44: Happines



Bukan hanya pelajaran yang diuji, tapi juga kesabaran dan kesetiaan. Jika dua hal itu lulus dengan memuaskan maka bisa dipastikan jika kau adalah orang yang berpendirian teguh terhadap perasaanmu dan juga kehidupanmu.


...


Satu bulan berlalu sejak Alice menemui Alvern di Midle, dan sekarang ia telah kembali ke rutinitasnya sebagai seorang CEO di anak perusahaan keluarganya. Alice benar-benar diuji kesabarannya saat Alvern bersikeras ikut dengannya ke kota Georgia dengan alasan ingin menjaga Alice. Jika saja Calvin ayah Alice tidak memberikan ancaman, mungkin Alvern akan terus berada di Georgia dan mengabaikan perusahaannya.


Flash back on


“Pulanglah Alvern, aku ingin istirahat. Besok aku akan kembali ke Georgia.”


Alvern tidak memperdulikan ucapan Alice padanya, ia menahan pintu kamar hotel Alice dan mendorongnya bersama dengan tubuh Alice yang ikut masuk ke dalam. Dengan segera Alvern menutup pintu dan menguncinya.


“Istirahatlah, aku akan bekerja sebentar sebelum kita kembali ke Georgia.”


“Apaaaaaa…kau gila Alvern, kenapa kau harus ke Georgia?”


“Tentu saja karena kau akan menjadi istriku setelah aku memintamu pada orang tuamu. Jangan banyak berpikir Alicia, bersihkan dirimu dan istirahatnya.” Alvern menuntun Alice masuk ke dalam kamarnya dan memberikan sebuah ciuman singkat di bibir Alice kemudian meninggalkan Alice yang terpaku memikirkan semua perkataan Alvern padanya.


‘Apa yang dipikirkannya? Istri? Siapkah aku?’ senyum terlukis di wajah Alice jika mengingat ucapan Alvern padanya, namun senyum itu memudar jika mengingat kerumitan dalam hubungan mereka.


Flash back off


Walaupun secara resmi Alvern sudah menemui orang tua Alice bersama dengan ayahnya tapi Alice meminta waktu untuk memberikan jawaban karena bagi Alice semua itu tidak dapat diputuskan secara tiba-tiba.


“Alice, sudah adakah jawaban atas pertanyaan Alven? Jika saja kau lupa, ini sudah lebih dari 1 bulan. Jika kau menolak maka beritahukan padanya, bahkan daddymu akan bicara pada ayah Alvern. Kau hanya memberikan harapan palsu jika berlarut-larut,” ucap ibu Alice sambil menatap putrinya penuh kasih. Karena ia sangat mengerti kebimbangan Alice dalam mengambil keputusan.


“Hmmm…aku akan mengatakan keputusanku nanti Mom. Sekarang aku akan pergi, karena sudah ada janji dengan pihak rekanan untuk melanjutkan proyek yang sudah tertunda selama kepergianku,” ucap Alice seraya tersenyum pada ibu dan ayahnya.


Namun saat Alice berdiri ia hampir terjatuh, jika saja Fabian tidak menahannya mungkin ia akan terbentur meja makan.


“Fiooo…kau tidak apa-apa?” tanya Fabian dengan wajah khawatir. Alice hanya mampu mengerjabkan matanya setelah itu semua menjadi gelap gulita, ia tidak sadarkan diri.


Dengan sigap Fabian menggotong tubuh adiknya menuju mobil yang sudah disiapkan, mereka semua langsung bergegas membawa Alice ke rumah sakit terdekat supaya Alice segera mendapat penanganan.


Panik dan juga cemas jelas tergambar di wajah kedua orang tua Alice, bahkan Fabian sejak Alice di bawa masuk ke ruang tindakan hanya berdiri tepat di depan pintu ruangan. Istrinya yang memintanya duduk tidak didengarkan oleh Fabian, matanya hanya terus menatap ke arah pintu yang tertutup dimana adiknya di balik pintu itu.


Sedangkan di tempat Alvern jauh dari Georgia dan jauh dari Alice.


“Ada apa?” tanpa sapaan Alvern dengan dingin menerima panggilan yang masuk ke ponselnya.


 “APAAAAA? Terus berikan kabar padaku, jika aku belum tiba di sana jangan pernah kau berani beranjak dari tempatmu, kau mengerti??” ucap Alvern setengah berteriak dan mengakhiri panggilan di ponselnya dengan segera.


“Joe, dalam waktu setengah jam siapkan pesawat pribadiku untuk berangkat ke Georgia. sekarang Joe!!”


Alvern tidak perduli lagi dengan keadaan meja kerjanya yang berantakan, yang ada di pikirannya hanya Alice. Anak buah alvern yang ditugaskan menjaga Alice mengabarkan padanya jika Alice tidak sadarkan diri dan dilarikan ke rumah sakit terdekat namun masih belum ada kejelasan apa yang sudah terjadi pada Alice.


Dalam waktu setengah jam, Alvern sudah berada di pesawat pribadinya bertolak ke kota Georgia. Ia tidak ingin menjadi orang yang tidak tahu apa-apa terlebih itu menyangkut Alice kekasihnya. Benarkah sudah menjadi kekasihnya? Alvern tidak perduli, yang ia tahu Alice adalah calon istrinya.


“Apa yang terjadi Joe?” tanya Alvern dengan raut wajah yang tidak terbaca.


“Pelayan yang bekerja di kediaman Tuan Calvin mengatakan jika Nona Alice tiba-tiba saja pingsan setelah sarapan pagi ini Tuan.”


Setelah mendengarkan penjelasan Joe, Alvern hanya diam tidak ingin bicara apa-apa lagi. ‘Tunggu aku sayang, sebentar lagi aku akan menemuimu.’


Sesampainya di rumah sakit, Alvern melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa didampingi oleh anak buahnya yang sejak memberikan kabar untuk Alvern tidak pernah meninggalkan rumah sakit tempat Alice mendapatkan penanganan.


“Nona Alice sudah dipindahkan ke ruang perawatan VVIP, kamar dengan nama Rose yang terdapat di lantai 5 rumah sakit ini Tuan.


Dengan tergesa-gesa Alvern menuju ruang rawat Alice sesuai yang dikatakan anak buahnya. Perlahan Alvern membuka pintu kamar rawat inap yang ditrmpati ALice dengan perasaan cemas. Namun sesuatu yang tidak ia duga menyambutnya.


Buggghhh…


Sebuah tamparan mendarat dengan mulus tepat di wajahnya membuat Alvern mundur sampai mengenai pintu yang baru saja ditutupnya.


“Heiii…Fabian, apa yang kau lakukan?” hardik Alvern pada Fabian yang sebentar lagi akan menjadi kakak iparnya.


“Apa yang ku lakukan huh? Belum puas kau menyakiti adikku?”


“Fabian cukup, bicara baik-baik! Jangan selalu menggunakan tanganmu untuk menyelesaikan semua,” tegur Calvin dengan tegas karena ia tidak ingin mengusik ketenangan putrinya yang masih belum sadarkan diri.


“Tapi Dad…”


“Natalie, ajak suamimu yang luar biasa ini keluar. Tidak ada yang bisa bicara jika ia masih disini,” ucap Calvin dan diangguki oleh menantunya yang terlihat masih sangat terkejut atas tindakan Fabian suaminya terhadap Alvern.


“Ayo sayang, sepertinya kita perlu membeli kopi untuk semua termasuk kau,” ucap Natalie sambil menggandeng lengan suaminya. Mau tidak mau Fabian mengikuti istrinya, walapun ia masih sangat ingin memberi pelajaran keras untuk Alvern, tapi Fabian tau jika Alvern dan Alice sudah sama-sama dewasa. ia hanya marah kaerna Alvern sekali lagi melakukan kesalahan dengan menghamili adiknya tanpa sebuah ikatan.


“Duduklah Alvern, uncle ingin bicara padamu,” ucap Calvin setelah anak dan menantunya meninggalkan mereka.


“Sebentar uncle, aku ingin melihat Alicia.” Tanpa menunggu persetujuan dari Calvin, Alvern mendekati tempat Alice terbaring lemah.


“Sayang bangunlah, aku merindukanmu,” ucap Alvern dengan lirih, semua kenangan buruknya bangkit kembali saat melihat Alice yang terbaring lemah. Alvern mengecup kening Alice perlahan seolah Alice adalah sebuah kaca yang mudah pecah jika hanya disentuh.


“Alvern, Alice tidak apa-apa. Duduklah Alvern, kita harus bicara,” ucap Calvin perlahan namun terdengar tidak ingin dibantah. Dengan enggan Alvern duduk di sofa yang berada di hadapan Calvin.


“Apa yang terjadi dengan Alicia?” tanya Alvern tidak sabar namun pandangannya masih tidak lepas dari Alice yang masih belum juga sadarkan diri.


“Alice hamil!”


“Hmmm…” Alvern hanya mengguman perlahan saat mendengar ucapan Calvin namun ia langsung berdiri saat alam bawah sadarnya seolah menamparnya dengan keras.


“APAAAA!!!???” Alvern sangat terkejut saat otaknya benar-benar sudah dapat mencerna kata-kata Calvin.


“Tenanglah Alvern, kau bisa membuat Alice syok dengan suaramu,” ucap Calvin dengan raut wajah kesal dengan keterkejutan Alvern.


“Janin itu milikku, dia anakku!” wajah terkejut Alvern tergantikan dengan senyuman lebarnya dan ia kembali mendekati Alice dan mencium wajah Alice beberapa kali sambil menggenggam tangan Alice perlahan.


“Bangunlah sayang, ada seseorang yang menunggu belaianmu. Jangan terlalu lama terlelap Alicia, dia menunggu…ah tidak…kami menunggumu. Aku dan anak kita, tidakkah kau ingin melihatnya huh?” Alvern terus saja bicara, bahkan ciuman juga usapan pada perut dan wajah Alice tidak pernah berhenti.


Walaupun berat namun Calvin dan juga istrinya dapat bernafas dengan lega karena anak-anak mereka akhirnya dapat saling melepaskan rasa takut yang mereka alami sejak lama, bukan hanya Alice namun juga Alvern. Walaupun mereka memulainya dengan sebuah kesalahan namun semua itu akan terbayar dengan kehadiran seorang malaikat kecil yang akan mempersatukan mereka lebih erat lagi.


...


2 episod menjelang tamat y ges


jangan lupa LIKE dan KOMEN


thanks for read and i love you 💕