Love & Hurt

Love & Hurt
Part 40: Surprised You



Air mata tidak hanya mengalir saat sedih tapi juga saat bahagia, itu hanyalah bukti jika seseorang masih mempunyai rasa. Hati memanglah kecil tapi mampu menampung semua rasa, karena hati memang seluas Samudra.


...


Dengan tergesa-gesa Alvern memasuki rumah sakit dan langsung menuju ke ruang ICU, ia sudah tidak lagi menghiraukan rasa lelah yang menderanya saat mendapatkan kabar jika neneknya sudah dangat lemah. Alvern mendapati ayahnya di depan tuang ICU ditemani oleh Jack asisten setianya.


“Daddy.”


“Alvern.”


Tidak banyak kata yang terucap karena mereka sudah sangat tahu ada cerita di balik tatapan mata, karena mereka adalah ayah dan anak yang sangat mengerti satu sama lain.


“Kita menunggu dokter yang memeriksa grannymu.”


Tak lama berselang seorang dokter keluar dari ruang ICU dan mereka langsung berdiri dan mendekatinya.


“Bagaimana keadaan ibu saya Dokter,” tanya Sebastian dengan nada cemas.


“Untuk sementara kondisi jantungnya stabil tapi beliau akan tetap di ruangan ini mengingat usia beliau yang sudah lanjut kami tidak bisa memprediksi kapan serangan berikutnya akan datang. Dan kami akan tetap memantau selama 24 jam penuh, berdoalah yang terbaik,” ucap dokter tersebut berusaha menenangkan Sebastian.


“Apakah tidak bisa dilakukan operasi?”


“Hal itu bisa dilakukan tapi mengingat usia ibu anda dan keadaannya yang naik turun maka tindakan operasi menjadi sangatlah beresiko.”


“Saya mengerti Dokter. Bisakah kami menemuinya?”


“Hanya untuk 1 orang dan tidak lebih dari 10 menit,” ucap dokter tersebut dengan nada suara yang tidak ingin dibantah.


“Tidak masalah dokter, sekali lagi terima kasih.”


“Sama-sama Tuan Sebastian, kalau begitu saya permisi dulu.”


Sebastian pun masuk ke dalam ruang ICU dan terlebih dahulu mengenakan pakaian khusus yang disediakan dalam ruangan tersebut. Sedangkan Alvern hanya menunggu dengan pikiran yang tidak menentu terlebih saat mengingat kembali sikap Alice padanya.


‘Semoga kau mau mengerti Alicia, jika itu semua semata-mata untuk menyelamatkanmu.’


******


Di kota Georgia.


Sudah seminggu sejak terakhir kali Alvern menemuinya, Alice tidak mendapatkan kabar apa-apa. ‘Kenapa aku harus memikirkannya?’


Sebenarnya Alice merasa terusik saat mendengarkan perkataan Alvern, namun semua memang sudah terjadi dan masa lalu tetaplah menjadi masa lalu tidak ada yang dapat dilakukan dengan hal itu.


“Aku tidak menyangka jika bukan hanya aku yang mengalami nasib yang menyedihkan, bahkan seorang yang kaya dan luar biasa sepertinya bisa bernasib hampir sama denganku. Wanita itu benar-benar wanita iblis.” Alice menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha tidak memasukkan sosok Alvern dalam pikirannya.


Alice buru-buru keluar dari kamarnya, tidak ingin lagi memikirkan hal-hal yang berkaitan dengan Alvern, ia harus bisa melupakannya…HARUS!


Saat Alice tiba di ruang makan, ia merasakan ada sesuatu yang kurang dan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya kemudian melihat ke arah pintu depan kediamannya.


“Jika kau mencari Alvern, ia tidak akan pernah menemuimu lagi Alice. Kau bisa tenang sekarang,” ucap Fabian saat melaluinya yang sejak tadi hanya berdiri terpaku.


‘Apaaa…tidak akan pernah menemuiku?’ hati Alice kali ini bertanya-tanya.


“Duduklah dulu Alice, apakah kau tidak akan sarapan huh?” tegur ayahnya saat melihat Alice tidak bergerak dari posisinya semula.


Saat Alice tasnya, Fabian menahan tangan Alice agar tetap duduk.


“Sebentar Alice, ada yang harus kakak sampaikan padamu dan ini tentang Alvern.”


Deggg…


Alice merasakan perasaan yang tidak nyaman saat mendengarkan ucapan kakaknya.


“Kau sekarang tidak usah khawatir dan takut jika Alvern akan mengganggu hari-harimu, karena ia tidak akan pernah lagi mengusikmu Alice. Malam itu setelah ia bicara padamu dan kau meninggalkannya, ia langsung kembali ke kota Midle. Penolakanmu disertai rasa bencimu padanya membuat Alvern tidak ingin memaksamu lagi Alice, ia tidak ingin melihat ekspresi terluka dan takut yang ada di wajahmu. Ia tidak menyerah dengan perasaannya padamu, tapi kau Alice yang menyerahkan perasaanmu pada rasa takutmu. Selain itu, ayahnya juga memintanya segera kembali karena neneknya dalam keadan kritis,” jelas Fabian sambil menatap manik mata coklat adiknya yang serupa dengan matanya. Dan Fabian sudah tahu apa jawaban dari pertanyaannya selama ini. Ia tahu jika adiknya juga mencintai Alvern.


“Apa??? Granny sakit?” pekik Alice dan menutup mulutnya seolah tidak percaya dengan yang didengarnya.


“Hmmm…dan menurut kata Daddy keadaannya sampai sekarang semakin lemah,” ucap Fabian dengan sedikit melebih-lebihkan ceritanya.


“Kakak…aku harus….”


“Pergilah, pesawat kita sudah disiapkan untuk keberangkatanmu 1 jam lagi ke kota Midle, perlengkapanmu sudah disiapkan semua oleh Mommy. Selesaikan semuanya sampai tuntas Alice,” ucap ayahnya sambil mengusap puncak kepala Alice


“Terima kasih Daddy. Aku pergi dulu.”


Alice mencium pipi kakaknya dan ayahnya bergantian, dan menghampiri ibunya yang berdiri dengan sebuah koper kecil berisi perlengkapannya.


“Mommy, terima kasih. Aku menyayangimu mom,” Alice memeluk ibunya dengan erat dan mencium kedua pipi ibunya dengan penuh kasih.


Namun sebelum ia mejauh, Alice menghentikan langkahnya dan berbalik menatap kakaknya dengan intens.


“Kak, maaf jika merepotkanmu mengurus kantorku. Dan jangan lupa kirimkan uang jajanku.” Dengan langkah yang ringan dan wajah tersenyum Alice keluar dari rumahnya dan masuk ke dalam mobil yang sejak tadi sudah menunggunya.


‘Semoga rasa itu masih ada untukku Alvern. Aku ingin kau mengatakannya lagi jika kau mencintaiku karena aku pun sama denganmu.’


Sedangkan di rumah sakit tempat nenek Alvern dirawat, Alvern dan ayahnya tengah menunggu di depan ruang ICU dengan wajah cemas setelah mendapatkan kabar jika neneknya kembali mengalami serangan jantung dan membuat kondisinya sangat menurun setelah sempat dinyatakan stabil oleh dokter yang menanganinya.


“Alvern!”


Alvern tersentak saat mendengar suara seseorang memanggilnya, namun ia menggeleng-gelengkan kepalanya mengangggap itu hanya halusinasi karena kepanikannya saat ini.


“Alvern!”


Kali ini bukan hanya suara tapi sebuah sentuhan di tangannya dan saat Alvern memalingkan wajahnya menatap seseorang yang sudah berdiri tepat di sampingnya ia tidak dapat berkata apa-apa lagi. Dengan cepat Alvern meraih dan memeluknya dengan erat.


“Kau tidak akan bisa pergi lagi Alicia. Tidak akan bisa! Aku mencintaimu.”


...


bersambung next part 41


jangan lupa LIKE dan komen


thanks for read n i love you 💋😍