Love & Hurt

Love & Hurt
Part 22: We (1)



Sejauh-jauhnya burung terbang meninggalkan sarangnya ia pasti akan kembali, senyaman-nyamannya tempat orang lain lebih nyaman tempat sendiri. Tapi ada kalanya burung itu tidak kembali karena sudah mendapatkan sarang baru yang lebih baik. Dan ada kalanya tempat sendiri tidak nyaman dibanding tempat lain.


...


Alice benar-benar menyesali keputusannya sudah menerima keinginan Alvern untuk bertahan selama satu minggu di rumah nenek Alvern, karena belum saja satu minggu Alvern selalu bersikap protektif bahkan lebih ke possesif. Dan itu membuat Alice gerah namun ada bagian kecil di hatinya yang merasa senang atas sikap Alvern, karena biar bagaimanapun ia seorang perempuan dewasa yang merasa nyaman jika diberikan perhatian oleh seorang laki-laki yang disukainya.


Sedangkan Alvern dengan alasan ingin dekat dengan neneknya juga ikut tinggal di rumah di mana neneknya berada dan tentu saja ada Alice di dalamnya. Apapun alasan Alvern itu hanyalah sebuah alasan bahkan beberapa alasan yang mempunyai satu tujuan yaitu mendekati Alice entah untuk menjaga atau lebih dari itu.


Alice baru saja tiba di rumah nenek Alvern pada pukul enam sore dan sudah disambut oleh senyuman hangat dari nenek Alvern, hal itu membuat Alice merasakan sebuah perasaan hangat menyelimuti hatinya yang selama ini hampir beku karena sikap keluarga lamanya. Alice menggelengkan kepalanya karena tidak ingin mengingat lagi kejadian-kejadian di masa lalunya.


“Selamat sore menjelang malam granny, aku akan mandi setelah itu akan membantumu,” ucap Alice dengan senyum terindahnya dan segera menuju kamarnya untuk membersihkan diri agar dapat membentu nenek Alvern menyiapkan makan malam. Alice sangat bersyukur saat mendapati jika nenek Alvern adalah sosok yang lembut dan perhatian, namun di balik sifat itu nenek Alvern adalah seorang yang penuh ketegasan, sehingga Alice sangat memahami jika nenek Alvern tidak ingin menjadi nenek tua yang hanya duduk merajut di sebuah kursi goyang. Alice berharap saat ia harus pergi, ia tidak akan menyakiti wanita tua yang sudah banyak memberikannya perhatian dan kasih sayang.


Setelah Alice membersihkan diri ia kembali ke dapur untuk membantu nenek Alvern menyiapkan makan malam dan ia mendapati Alvern sudah duduk di meja makan sambil memainkan ponselnya. Tanpa ada niat menegur Alvern, Alice berjalan langsung mendekati nenek Alvern yang sedang sibuk dengan sesuatu di dalam sebuah wajan besar.


‘Seperti bukan CEO,’ rutuk Alice dalam hatinya saat melalui Alvern.


“Granny, apakah ada yang bisa ku bantu,” ucap Alice saat sudah berada di samping nenek Alvern. Dan Alvern yang mendengar suara Alice langsung saja menghentikan aktivitasnya dan memandang Alice dengan lekat dimana Alice mengenakan celana pendek sepanjang paha berwarna coklat dan kaos oblong berwarna pink serta rambut yang diikat asal sehingga Alice semakin terlihat menggemaskan di mata Alvern.


“Oh…Alice jika kau tidak keberatan bantu granny menyiapkan alat makan saja ya setelah itu kita akan makan malam bersama,” ucap nenek Alvern sambil tersenyum pada Alice dan tanpa menunggu diminta dua kali Alice melaksanakan apa yang dikatakan oleh nenek Alvern.


Saat Alice menyusun peralatan makan mereka, Alvern menarik tangan Alice sehingga Alice memekik kaget dan berusaha melepaskan tangannya, namun bukan Alvern namanya jika dengan mudah melepaskan Alice.


“Kau harum, aku suka,” ucap Alvern singkat di telinga Alice dan setelah itu melepaskan Alice sebelum neneknya memergoki perbuatannya.


“Ahhh…Alicia kauuu…” tiba tiba Alvern memekik kesakitan saat Alice menginjak kakinya dengan keras dan berlalu begitu saja tanpa rasa bersalah sama sekali.


‘Rasakan itu,’ decak Alice dalam hatinya dengan puas dan tentu saja dengan bibir tersenyum lebar.


Sepanjang makan malam Alvern terus saja menatap wajah Alice, wajah yang lebih banyak termenung dan bersedih sudah mulai menampakkan keceriaannya dan mungkin Alvern sudah gila jika memang dengan Alice menginjak kakinya akan memberi sebuah senyum di wajah Alice ia akan dengan senang hati memberikan kakinya pada Alice untuk diinjak lagi. Saat sadar dengan pikirannya sendiri Alvern hanya tersenyum karena seorang gadis seperti Alice benar-benar sudah mengubah dunianya.


Sedangkan di tempat lain, di sebuah café yang terlihat sepi hanya beberapa orang pelanggan di dalamnya termasuk Barbara yang sedang menemui seorang laki-laki yang berperawakan tinggi dan mempunyai tato kepala ular di lehernya. Dengan perlahan Barbara memberikan sebuah amplop tebal kepada laki-laki yang ada dihadapannya.


“Ini uang muka untuk misi yang akan kau kerjakan, sisanya akan ada tiga kali lipat dari jumlah ini asalkan kau mengerjakannya dengan bersih dan tanpa jejak sama sekali. Jika tidak bukan hanya tidak mendapat bayaran, kau pun akan mati di tanganku. Apakah sudah jelas?” ucap Barbara sambil menatap jijik pada laki-laki yang ada di hadapannya.


“Kau tenang saja sayangku, aku akan membereskannya untukmu. Tidak kau bayarpun tidak masalah selama aku bisa menghabiskan satu malam bersamamu,” kata laki-laki itu sambil meraih tangan Barbara yang ada di atas meja.


“Jangan bermimpi Baron, dulu aku memang melakukan kesalahan saat jatuh ke rayuanmu tapi sekarang tidak akan ada kesalahan untuk kedua kalinya,” ucap Barbara dengan nada dinginnya dan menyentak tangannya sehingga terlepas dari genggaman Baron.


“Apakah dulu kau hamil Barbara, karena ku rasa kita melakukannya lebih dari satu kali?” tanya laki-laki yang bernama Baron itu dan pertanyaan itu sempat membuat tubuh Barbara menegang namun bukan Barbara jika tidak dapat mengendalikan emosinya.


“Tidak! Dan ingatlah Baron kau punya waktu tidak lebih dari satu minggu. Jika dalam satu minggu aku tidak mendapat kabar darimu maka ku anggap kau gagal dan jangan pernah menemuiku!” setelah itu Barbara meninggalkan laki-laki dari masa lalunya itu yang memiliki sepak terjang di dunia kegelapan bahkan sejak lama.


Baron adalah laki-laki yang penuh bujuk rayu sehingga seorang Barbara yang dulunya masih polos dan haus akan kasih sayang termakan oleh kata-kata manis seorang Baron, tanpa tau tentang Baron. Namun sayangnya Barbara mengetahui siapa Baron saat sudah ada jiwa lain yang tumbuh dalam rahimnya dan itulah titik terendah hidup seorang Barbara. Dan sampai matipun Barbara tidak akan pernah membuka mulutnya siapa ayah kandung putrinya. Barbara berhasil menutupi hal itu rapat-rapat karena tidak ingin Chloe tau jika ayahnya seorang penjahat kelas kakap yang jadi incaran semua kepolisian di beberapa negara. Dan kini Barbara mengabaikan semua resiko saat harus menghubungi Baron untuk menyingkirkan orang-orang yang mengusik rencananya.


‘Tinggal menunggu waktunya, sesuatu akan menghampiri kalian. Aku sudah tidak sabar melihat wajah anak dan suamiku yang bodoh itu menderita,’ keyakinan Barbara sangat besar dalam hatinya untuk meraih dua kekuasaan dalam genggamannya.


...


Drrttt…drrrttt…ponsel Alicia berbunyi.


“Selamat malam tuan Ramzes, apa yang bisa ku bantu?” sapa Alicia pada atasannya yang seperti tidak biasa menghubunginya pada malam hari dan jika itu terjadi pasti ada sesuatu yang tidak bisa ditunda lagi.


“Alice aku minta bantuanmu dengan sangat,bisakah?”


“Bantuan apa tuan, akan kuusahakan jika aku bisa,” ucap Alice dengan tenang karena tidak ingin memancing perhatian Alvern yang berada tidak jauh darinya saat ini.


“Apakah berkas-berkas perusahaan Z masih kau simpan? Aku sangat memerlukanya untuk besok pagi Alice dan sebelum pukul sembilan pagi.”


“Tentu saja masih ku simpan di apartemenku, besok akan ku bawa untukmu,”


“APAAA…!!!” karena teriakan Alice, Alvern mengalihkan pandangannya pada Alice yang masih menerima telpon dari atasannya.


“Tunggu dulu tuan Ramzes, kau terlalu mendadak sekali. Aku tidak bisa menjanjikan apa. Jika kau bisa memundurkan pertemuanmu setelah waktu makan siang mungkin aku bisa membantumu,” ucap Alice perlahan.


“Tolong kau usahakan dulu Alice, aku akan membicarakannya dengan pihak perusahaan Z terlebih dahulu. Ingat Alice aku minta tolong padamu. Itu saja yang ingin ku sampaikan, sampai bertemu besok pagi Alice dengan rencana yang baru.”


Setelah atasannya mengakhiri panggilannya, Alice langsung menuju kamarnya untuk bersiap karena jika ingin segera selesai, mala mini ia harus ke apartemennya untuk mengambil berkas yang diminta Ramzes padanya. Saat Alice keluar dari kamarnya ia sudah dihadang oleh Alvern yang menatapnya dari atas sampai ke bawah.


“Kau mau kemana? Apa tidak tahu ini pukul berapa?” tanya Alvern tanpa melepaskan pandangannya dari Alice.


“Astaga kau seperti security di gerbang sekolahku saja Al. Aku akan ke apartemenku malam ini karena ada yang harus kukerjakan. Dan tidak bisa menunggu sampai besok, kuharap kau mengerti. Aku pergi dulu,” jelas Alice pada Alvern yang seakan tak ingin bergerak dari posisinya di depan Alice. Dan belum saja Alice melangkah menjauh, Alvern sudah mencekal tangannya.


“Aku akan mengantarmu.”


“Tidak perlu Al, aku akan pergi sendiri,” ucap Alice yang menghentikan langkahnya dan menatap Alvern yang hendak mengikutinya pergi.


“Jangan membantah!" balas Alvern berjalan lebih dulu.


Dan Alice tau semua bantahannya hanya akan menabrak batu karang, sangat tak berguna. Sebelum pergi Alice berpamitan pada nenek Alvern jika akan ke apartemennya dan kemungkinan akan menginap di apartemennya untuk satu malam. Dan Alice juga mengatakan jika Alvern yang akan mengantarkannya.


Dan saat Alice akan masuk ke kursi penumpang di belakang ia terkejut karena Alvern menahannya dan membukakan pintu depan untuknya.


“Di depan Alicia, aku bukan supirmu,” ucap Alvern sambil menutup pintu mobil di samping Alice setelah ia memastikan Alice sudah memasang sabuk pengamannya.


...


...


...


...


...


kalo bantah kecup mending iya aja Al 😁😁


.


next part 23


masih dengan Alice dan Alvern


stay tune ges ..


.


Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁


Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍


.


Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤