
Seseorang tidak akan kemana-mana jika tidak memiliki tujuan, bagaimanapun ia berusaha jika ia tidak memiliki tujuan, ia hanya akan jalan di tempat. Begitupun dengan cinta, selalu ada tujuan akhir untuk sebuah pembuktian.
...
Tepat pukul 11.30 Alvern sudah menginjakkan kaki di kantor Alice, ia akan membawa Alice makan siang bersamanya. Dengan tubuh tegap dan gagah Alvern berjalan melewati lobby yang berukuran besar, melewati 2 orang resepsionis yang seolah terhipnotis oleh kehadirannya sampai mereka melupakan jika tamu harus datang kepada mereka terlebih dahaulu.
Alvern mangabaikan tatapan semua orang yang ditujukan padanya, yang ia inginkan sekarang adalah menemui kekasih hatinya. Not yet, but will soon be Mrs. Trevor. Seringai di wajah Alvern terbit saat benaknya mengucapkan nama Alice yang menyandang nama keluarganya.
Tiba di depan ruangan Alice, Alvern mengetuk terlebih dahulu dan setelah mendengar suara dari dalam yang menyuruhnya masuk barulah ia membuka pintu besar itu perlahan-lahan. Beruntung baginya karena asisten Alice tidak berada di mejanya jika tidak maka akan dipastikan seratus alasan didengarnya supaya ia tidak bisa menemui Alice.
“Kau…mau apa lagi kau kemari?”
“Tenanglah Alicia, aku hanya ingin mengajakmu makan siang bersamaku,” ucap Alvern dengan santai dan duduk di sofa yang berada tidak jauh dari meja kerja Alice. Alvern senagaja duduk di single sofa yang menghadap langsung ke meja kerja Alice, ia sengaja ingin membuat Alice terusik dengan kehadirannya.
“Pergilah Tuan Alvern jangan menggangguku,” desis Alice saat melihat Alvern masih berada dalam ruangannya bahkan duduk menghadapnya dengan tenang, Alice tidak suka menyukainya.
“Bagian mana dari kata-kataku yang tidak kau mengerti Alicia? Aku hanya ingin makan siang bersamamu,” ucap Alvern sambil memberikan senyum terbaiknya untuk gadis yang sedang memasang tembok tingggi yang kasat mata untuk melindungi dirinya sendiri.
“Pergilah, kakakku tidak akan suka jika melihatmu berada di sini dan sebentar lagi ia akan tiba.”
“Tenanglah, kakakmu tidak akan datang. Sebelum aku ke sini, aku sudah mendatanginya untuk meminta ijin mengajakmu makan siang bersamaku. Dan jangan memasang wajah tidak percaya seperti itu Alicia, jika kau tidak percaya kau bisa menghubunginya,” ucap Alvern saat melihat raut wajah Alicia berubah tidak percaya saat ia mengatakan jika sudah meminta ijin pada Fabian hanya untuk sekedar mengajak Alice makan siang.
“Alicia, sekali lagi kau memintaku pergi maka kau akan ku gendong keluar dari ruang kerjamu ini dan bisakah kau minta asistenmu untuk keluar? Apakah ingin mempublikasikan hubungan kita? Aku sangat tidak keberatan jika kau ingin demikian.” Alice mengalihkan pandangannya pada asistennya yang ternyata masih berada di samping meja kerjanya dengan wajah yang sangat tidak nyaman dan terus menundukkan kepalanya.
“Pergilah makan siang,” tanpa diminta dua kali aistennya langsung keluar dari ruangan Alice sesudah memberi hormat pada Alice dan Alvern.
“Bersiaplah Alicia.” Tanpa Alice sadari Alvern sudah berada di sisi meja kerjanya dengan tatapan yang tidak ingin dibantah sama sekali.
“KAUUU…”
“Dan jangan lupakan hukumanmu saat menyebut namaku dengan kata Tuan huh,” Alice tersadar, ia kembali teringat semua ciuman yang didapatkannya karena memanggil Alvern dengan sebutan Tuan.
“Ku artikan kau sudah mengingatnya Alicia, wajahmu selalu tidak bisa menyembunyikan perasaanmu.” Alvern mengambil tas Alice dan memegan tangn Alice membawanya berdiri dari kursi kebesarannya.
“Ap…apa maumu? Lepaskan tanganmu Alvern!”
“Hanya makan siang Alicia, tidak lebih. Tapi jika kau ingin lebih aku akan sangat menyukainya.” Sebelum membuka pintu ruangan, Alvern mencuri satu kecupan dari bibir Alice dan setelahnya ia tersenyum puas.
“Aku benci padamu!”
“Itu hanya hukuman kecil dariku sayang,” Alvern terkekeh senang melihat kekesalan Alice padanya, setidaknya rasa takut Alice sudah mulai berkurang.
Ia sudah tahu semua apa yang terjadi pada Alice pasca kejadian yang menimpanya, semua sudah diceritakan Fabian saat Alvern menemuinya. Dan tidak mudah membuat seorang Fabian membuka mulutnya, sebuah janji diucapkan Alvern demi Alice.
‘Kau boleh membenciku tapi jangan pernah takut padaku Alicia.’
“Ke mana kau akan membawaku?”
“Kau ingin ku bawa ke mana huh?” goda Alvern.
“Jika kau macam-macam aku akan melompat dari mobil ini dan jangan pernah meragukan niatku.” Rahang Alvern mengeras mendengar ucapan Alice yang mengancamnya dan ia kembali teringat ketika Alice menusuk lehernya menggunakan pisau kertas untuk mengusirnya.
“Jangan pernah berpikir macam-macam Alicia. Kau tidak akan bisa keluar dari dalam mobil ini jika aku tidak menginginkannya. Kita hanya makan siang, ingat?!” geram Alvern bukan marah pada sikap Alice padanya tapi lebih kepada menyalahkan dirinya sendiri karena begitu kuat pengaruh kebiadaban Barbara pada kehidupan Alice.
“Kau yang jangan macam-macam Alvern.” Ucap Alice tanpa mau memandang ke arah Alvern.
“Hmmmm…” hanya gumaman yang keluar dari mulut Alvern.
Setengah jam mereka berkendara akhirnya sampai juga di sebuah restoran dengan konsep modern namun tidak menghilangkan area terbuka hijau, saat masuk lebih dalam lagi maka akan ada sebuah pohon besar di tengah restoran itu dengan atap pergola mengelilinginya, dan beberapa seating area di sekitarnya membuat suasana yang sejuk dan tenang. Dan untuk Alice yang menyukai dunia desain interior, sekali lagi ia terperangah kagum dengan konsep yang disajikan untuk memanjakan mata pengunjung restoran tersebut.
“Alicia…hei…ada apa denganmu?” ucap Alvern perlahan saat melihat Alice terpaku memandang dekorasi restoran tersebut.
“Sudahlah, aku lapar!”
Alvern kemudian membawa Alice menuju areal yang terletak di bagian sudut, bukan ruang tertutup namun hanya dibatasi dengan dua buah partisi yang terbuat dari kayu dan dikombinasikan dengan pot-pot mgnil yang diletakkan di rongga-rongga partisi tersebut.
“Aku tahu jika kau ingikan duduk di bawah pohon besar itu, tapi sekarang kita perlu makan dan setelah itu kita bicara,” ucap Alvern seraya mendudukkan Alice di sebuah kursi dan Alvern mengambil tempat duduk yang berhadapan dengan Alice.
Tidak lama beberapa orang pelayan masuk untuk membawa beberapa sajian makan siang untuk mereka.
“Maaf jika aku tidak menanyakan menu makan siang padamu. Sekarang makanlah, dan jangan takut terlambat karena semua sudah di tangani oleh asistenmu dan tolong jangan bertanya apa-apa Alicia karena aku sangat lapar,” Alvern mematahkan niat Alice yang ingin melayangkan protesnya karena keberanian Alvern memberikan perintah pada asistennya.
Hening, itulah suasana makan siang Alice dan Alvern, hanya bunyi dentingan sendok dan garpu yang mengenai permukaan piring santap siang mereka. Hampir setengah jam mereka tidak bicara, dan keheningan mereka berakhir dengan ucapan Alice yang mengatakan ia sudah sangat kenyang.
Alvern tersenyum dengan lembut pada Alice dan membuat Alice menundukkan kepalanya karena tidak ingin memperlihatkan perasaannya pada Alvern.
“Alicia, tolong jangan menundukkan kepalamu. Kau tahu apa tujuaanku bertahan di kota ini? Dan apakah kau tahu tujuanku membawamu kemari? Aku ingin kau mengetahui semua tentangku, sejak awal. Dan asal kau tahu Alicia, sejak aku jatuh cinta padamu kau adalah tujuanku untuk hidup, bisakah aku menjadi tujuanmu Alicia? Lihat aku!” Tidak ada lagi keinginan Alvern untuk menutupi perasaannya dari Alice, semua harus diungkapkannya ke permukaan supaya tidak ada lagi kata-kata penyesalan.
...
bersambung,
jangan lupa LIKE dan KOMEN nya yaaa 😊
thanks for read and i love you 💕💕